Draghi: ECB Akan Pertahankan Kebijakan Longgar Untuk Waktu Yang Lama

Analisa Trading – Presiden Bank Sentral Eropa, Mario Draghi mengatakan bahwa Sentral Eropa akan mempertahankan kebijakan moneter yang longgar selama waktu yang dibutuhkan untuk mendorong inflasi sangat rendah di zona euro.

Dengan data yang menunjukkan ekonomi masih di wilayah positif pada kuartal kedua, Draghi mengatakan juga pada radio Prancis, bahwa ECB akan melakukan semua dalam kekuasaannya untuk merangsang pertumbuhan, dan menegaskan kembali bahwa negara-negara zona euro masih membutuhkan kebijakan moneter yang longgar untuk membuat ekonomi mereka lebih bugar.

“Kebijakan moneter akan tetap akomodatif untuk waktu yang lama dan saya dapat memberitahu Anda bahwa Dewan Pemerintahan bank sentral sepakat dalam penggunaan alat stimulus yang ada untuk membawa inflasi kembali menjadi hanya di bawah dua persen,” Draghi, berbicara melalui interpreter, mengatakan radio Europe 1.

Mengacu pada tanda-tanda pertumbuhan di tempat lain dalam perekonomian dunia, ia mengatakan kebijakan ECB akan tetap akomodatif bahkan “sementara kebijakan moneter negara-negara lain secara bertahap mengakui pemulihan berlangsung”.

Eurostat kantor statistik Uni Eropa mengatakan pekan lalu, bahwa Inflasi konsumen di 18 negara zona euro telah alami peningkatan menjadi 0.1%.

Inflasi jatuh terus sejak akhir tahun 2011, mencerminkan ekonomi zona euro yang lemah dan hampir mencapai rekor pengangguran dan pertumbuhan ekonomi terhenti pada kuartal kedua dan Italia telah tergelincir kembali ke dalam resesi ketiga sejak 2008. (FC)

Produksi Industri Zona Euro Melonjak Di Bulan Mei

Analisa Trading – Sebuah data resmi yang dirilis pada hari Kamis(12/06) menunjukan bahwa hasil produksi industri Zona Euro untuk bulan Mei telah mengalami peningkatan yang lebih dari perkiraan ekonom.

Menurut data yang telah dikumpulkan oleh Eurostat, hasil produksi industri Zona Euro telah alami peningkatan menjadi 0.8% yang di sesuaikan secara musiman, dari -0.3% di bulan sebelumnya.

Analis telah memperkirakan produksi industri Zona Euro untuk naik menjadi 0.5%.

Paska dirilisnya data tersebut, EURUSD diperdagangkan di level 1.3531. (FC)

European Central Bank (ECB)

Bank sentral negara-negara mata uang utama perlu diketahui para trader forex karena kebijakannya sangat mempengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang negara tersebut. Jika kebijakan bank sentral suatu negara mendukung penguatan mata uangnya maka akan banyak investor yang tertarik untuk membeli mata uang negara tersebut dan sebaliknya. Bank sentral negara mata uang utama yang paling muda adalah milik negara-negara Uni Eropa yaitu European Central Bank (ECB), dengan anggota negara-negara Uni Eropa yang menggunakan mata uang Euro atau lazim disebut dengan kawasan Euro (Euro Zone).

Untuk mengetahui pengaruh bank sentral dalam pasar forex, pertama kita perlu tahu tugas utama bank sentral tersebut dan besaran ekonomi yang dianggap penting, kedua: mengetahui jadwal meetingnya sebagai antisipasi dalam rencana trading kita, dan ketiga: mengetahui tindakan apa saja yang biasanya dilakukan bank sentral sehingga bisa mempengaruhi nilai tukar mata uang negara tersebut.

Latar belakang ECB
Aspek yang unik dari kawasan Euro adalah bahwa negara-negara anggota tersebut sepakat untuk mengelola kebijakan moneternya dengan membentuk sebuah bank sentral. Kawasan Euro saat ini terdiri atas 18 negara dimana Latvia masuk sebagai anggota sejak 1 Januari 2014. Berikut map kawasan Euro dimana tidak semua negara yang tergabung dalam Uni Eropa menjadi bagian dari ECB.

kawasan euro

Tugas ECB
ECB adalah bank sentral yang mempunyai satu tugas yaitu menjaga tingkat inflasi. Oleh karena itu ketika data Consumer Price Index (CPI) kawasan tidak seperti yang diharapkan seperti terjadi pada Oktober 2013 maka para pelaku pasar mulai menjual Euro dengan asumsi ECB akan mengambil tindakan yang akan berakibat pada melemahnya nilai tukar Euro.
Berikut data inflasi kawasan Euro antara tahun 2006 hingga 2014 dan ekspektasi untuk tahun 2015:

inflasi euro

Pada tahun 2006 tingkat inflasi kawasan berkisar antara 2.0%. Dalam keterangan pada website ECB tertulis bahwa fokus bank sentral adalah kestabilan harga, yang sangat dipengaruhi oleh tingkat inflasi. Target inflasi yang diharapkan ECB dalam jangka menengah adalah sekitar 2.0%. Jika tingkat inflasi kawasan ternyata jauh lebih rendah atau jauh lebih tinggi dari angka target maka ECB akan bertindak dengan mengambil kebijakan moneter tertentu. Seperti yang terjadi pada tahun 2009 hingga 2011 ketika inflasi naik, ECB dengan presidennya Jean Claude Trichet waktu itu menaikkan tingkat suku bunga hingga membuat nilai tukar mata uang Euro menguat.

Namun demikian ECB harus kembali menurunkan suku bunganya ketika terjadi krisis hutang yang dialami sebagian anggotanya. Krisis hutang kawasan mulai terjadi pada akhir tahun 2008 yang menimpa Yunani, Spanyol, Portugal, Irlandia dan Italia. Yield bond negara-negara tersebut sangat rendah untuk kembali memperpanjang hutangnya sehingga ECB mesti turun tangan memberikan bantuan dana (bail out).

Kenaikan suku bunga membuat Euro menguat seperti tampak pada chart EUR/USD diatas, dan ketika terjadi tekanan ekonomi global dimana nilai tukar mata uang yang kuat tidak menguntungkan sektor perdagangan (terutama ekspor), maka ECB kembali menurunkan tingkat suku bunganya sehingga EUR kembali melemah.

Selain itu ECB juga pernah menaikkan stock mata uang Euro-nya sebagai cadangan devisa bank sentral negara-negara lain seperti tampak pada gambar chart diatas yang mengakibatkan naiknya nilai tukar EUR terhadap USD. Untuk menjaga agar mata uang Euro tidak terlalu mahal, tampaknya saat ini ECB membuat patokan nilai tukar EUR/USD maksimal pada level 1.4000, dan jika melebihi nilai tersebut maka ECB akan bertindak untuk memperlemah EUR agar tetap kompetitif.

Uni Eropa Tekan Perancis Untuk Penuhi Target Defisit

Perancis sedang berada di bawah tekanan untuk memangkas defisitanggarannya, setelah Komisi Eropamemperkirakan negara perekonomian terbesar kedua di zona euro tersebut tidak dapat mencapai target pemangkasan defisit tahun 2015. Defisit anggaran Perancis diperkirakan akan berada pada 3.9% dari gross domestic product (GDP) di tahun 2014 dan 3.4% di tahun 2015, di atas target Uni Eropa sebesar 3%. Uni Eropa telah bersikap longgar terhadap Perancis dan memperpanjang batas waktu untuk mencapai target defisit sebanyak dua tahun hingga 2015. Namun Perancis akan menghadapi denda jika tidak dapat memenuhi persyaratan hingga tahun 2015, di bawah kekuasaan baru yang diberikan pada Komisi Eropa, divisi eksekutif Uni Eropa.

euro2

Bulan lalu, cabinet yang baru dirombak oleh Presiden Francois Hollande mengumumkan paket reformasi yagn bertujuan menghemat sebesar 50 milyar euro (69 milyar dollar) dan akan dijalankan dalam 3 tahun kedepan. Pemerintah Perancis yakin bahwa pemangkasan tersebut akan membuat Perancis dapat mencapai target 3% dan tetap kompetitif, saat dipasangkan dengan paket reformasi pro-bisnis yang dikenal sebagai “pakta tanggung jawab dan solidaritas”.

“Pemeirntah kembali menegaskan determinasinya untuk memberlakukan Responsibility and Solidarity Pact dan merealisasikan penghematan sebesar 50 milyar euro untuk menurunkan defisit hingga 3% dari GDP di tahun 2015 dan kemajuan pada tingkat belanja publik sejalan dengan inflasi,” menurut pernyataan Michel Sapin, Menteri Keuangan Perancis. Proyeksi dari Komisi Eropa pada hari Senin tidak mengikutsertakan proposal penghematan yang dijakukan pemerintah Perancis, dan itu mungkin menjadi alasan pesimisme Komisi Eropa terhadap Perancis.