PASCA FOMC: MINYAK MENTAH TURUN, EMAS MENDATAR

Minyak terjatuh ke bawah $ 100 per barel pada hari Rabu, terpicu oleh angka persediaan minyak mentah Amerika yang mencapai rekor dan sedikit kelegaan bahwa sanksi baru terhadap Rusia akan tidak akan mengganggu persediaan minyak global.

Minyak mentah jatuh $ 1,54 , atau 1,5 %, dan ditutup di $ 99,74 per barel di New York Mercantile Exchange setelah sempat berada di $99,35. Minyak mentah diperdagangkan di sekitar $ 99,50 sebelum data pasokan dirilis.

13

Harga minyak mentah tampaknya tidak menunjukkan banyak reaksi setelah keputusan Federal Reserve yang akan terus melakukan tapering sebesar $ 10 miliar per bulan, seperti yang diharapkan pelaku pasar.  Keputusan tersebut dirilis sekitar setengah jam sebelum penutupan sesi Nymex.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mengatakan stok minyak mentah naik 1,7 juta barel untuk pekan yang berakhir 25 April, di bawah angka yang diperkirakankan pasar yaitu 2,1 juta barel. Tapi kenaikan itu mengangkat persediaan minyak mentah komersial untuk 399,4 juta barel, menurut EIA , yang menjadi total mingguan terbesar setidaknya sejak akhir Agustus 1982.

Sebelumnya, harga minyak tetap rendah setelah data menunjukkan kuartal pertama produk domestik bruto Amerika tumbuh pada tingkat tahunan hanya 0,1 %. Juga, ukuran pertumbuhan penggajian sektor swasta mem

perkirakan bahwa perusahaan-perusahaan AS menambahkan 220.000 pekerjaan pada bulan April.

Sementara itu emas turun lagi di perdagangan elektronik setelah Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan pemangkasan program tapering sebesar $ 10 miliar per bulan, sesuai ekspektasi pasar.

Bank sentral Amerika memangkas angka pembelian obligasi $ 10 miliar, menjadi $ 45 miliar. Ini adalah pertemuan keempat beruntun dengan hasil yang sama yaitu secara bertahap mengurangi program pembelian aset.

Emas turun 40 sen dan ditutup di $ 1,295.90 per ounce di divisi Comex New York Mercantile Exch

ange, menjelang pengumuman kebijakan bank sentral Amerika. Namun untuk sesi bulan April harga emas naik sekitar 1 % untuk bulan, dengan dorongan yang timbul dari permintaan safe haven di tengah ketegangan seputar Ukraina.

Para pelaku perdagangan tampaknya masih percaya ini menyiratkan tapering akan berakhir pada bulan Oktober/November dengan kecepatan pengurangan yang saat ini terjadi dengan perkiraan sekitar enam bulan sebelum perubahan pada suku bunga yang ditargetkan. Implikasi untuk emas tidak berubah pada saat ini,  kemungkinan emas bisa mengalami beberapa penurunan jangka pendek tetapi kisaran pergerakan di $ 1250 – $ 1325 tampaknya masih akan tetap bertahan.

Kini perhatian pasar akan kembali ke Nonfarm Payroll yang akan dirilis besok. Pergerakan hari ini tampaknya akan tetap mendatar dan data Consumer Confidence Amerika bisa menjadi faktor yang memicu pergerakan intraday harga emas.

Hal-Hal Yang Dipertimbangkan The Fed Untuk Lanjutkan Tapering

Para pembuatan kebijakan di The Fed pada pekan ini akan bersiap untuk kembali mengambil keputusan terkait program pemotongan pembelian stimulus secara masif atau yang dikenal dengan tapering. Kendati tak ada perdebatan berarti yang terjadi dalam pengambilan suara atas kelanjutan tapering bulan lalu, untuk FOMC bulan ini, diperkirakan Yellen dan kawan-kawan akan menemui sedikit kesulitan dalam mengambil keputusan.
the fed

Kurangnya Peningkatan Sektor Tenaga Kerja

Satu isu utama yang pernah dikemukakan oleh Yellen beberapa minggu lalu, yaitu masih kurangnya peningkatan dalam pasar tenaga kerja, memang menjadi hambatan tersendiri bagi pemulihan ekonomi. Meskipun, tingkat inflasi Amerika Serikat mulai menunjukkan kenaikan menuju target 2%.

Selain itu, masalah tenaga kerja juga menjadi salah satu pertimbangan untuk menaikkan suku bunga acuan. Para pejabat The Fed masih menggodok masak-masak rencana kenaikan suku bunga, dengan pertimbangan kondisi perekonomian secara keseluruhan. Penyusutan neraca, kenaikan biaya pinjaman, serta gelembung aset yang kemungkinan terjadi tak luput dari pertimbangan Bank Sentral AS tersebut.

Dampak Negatif Pemberhentian QE

Menurut seorang pengamat Ekonomi yang diwawancarai oleh CNBC, Michael Pento, jika The Fed menghentikan program pembelian aset bulanan maka ada kemungkinan bahwa harga aset akan runtuh, atau bahkan resesi. Singkatnya, berakhirnya QE juga akan menjadi akhir dari “efek kesejahteraan”. Karena, QE diketahui juga membantu mendorong kepercayaan dan menggerakkan roda aktivitas ekonomi.

Jatuhnya harga properti serta saham juga menjadi salah satu risiko yang dihadapi The Fed jika menghentikan program QE. Meski demikian, konsensus tetap yakin dan memperkirakan bahwa efek dampak tersebut memang ada, namun tak besar.