TD Valas Bank Syariah Berpotensi Tambah Cadangan Devisa

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkirakan instrumen term deposit valuta asing (TD valas) yang diperuntukkan bagi perbankan syariah, akan menambah cadangan devisa sekitar US$ 250-300 juta.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menuturkan, selama ini setiap ada kelebihan likuiditas valas di perbankan syariah selalu ditempatkan di luar negeri. Dengan adanya instrumen valas baru untuk perbankan syariah yang dikeluarkan BI tersebut, menurut Mirza, diharapkan dapat memberikan pilihan bagi perbankan syariah untuk menempatkan dananya di dalam negeri.

“Selama ini, bank syariah menempatkan dananya di luar negeri, karena itu BI menyediakan instrumen agar dananya lebih baik masuk ke sistem perbankan kita dan ditempatkan di BI,” ujar Mirza di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Mirza, BI lebih bersifat pasif dalam penyediaan instrumen penempatan berjangka syariah tersebut. Pasalnya, bank syariah selama ini kesulitan untuk menempatkan dananya di bank komersial dalam negeri. “BI di sini bersifat pasif saja menerima. Selama ini, mereka (bank syariah) menempatkan dana valas di bank komersial juga sulit. Karena itu, kami membuat instrumen syariah, potensinya mungkin tidak terlalu besar, karena pangsa pasarnya juga masih kurang dari 5%, kemungkinan akan menambah cadangan devisa sekitar US$ 250-300 juta,” ungkap dia.

PT Bank Sahabat Sampoerna Masih Menunda Mendirikan Unit Usaha Syariah

Analisa Trading – PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) menunda rencana pendirian unit usaha syariah (UUS) yang telah digadang-gadang sejak 2012.

Kepala Divisi Corporate Affairs Bank Sampoerna mengatakan penundaan tersebut dilakukan karena masih ada beberapa hal yang perlu dibereskan dan dimatangkan lagi.

Manajemen perseroan telah memasukkan rencana pendirian UUS tersebut dalam rencana bisnis bank (RBB) 2014 meskipun di situ disebutkan bahwa rencana tersebut baru dalam tahap persiapan.

Manajemen juga telah menyampaikan business plan berisi strategi pengembangan bisnis unit usaha syariah tersebut kepada OJK. Akan tetapi, rupanya regulator belum dapat diyakinkan dengan seluruh strategi yang disampaikan.

Ada beberapa hal yang perlu disamakan persepsinya dengan regulator sehingga sementara mundur dulu.

Di antara faktor terpenting yang menyebabkan tertundanya rencana tersebut adalah faktor permodalan.

Saat ini, kondisi permodalan Bank Sampoerna belum memungkinkan untuk mendirikan UUS yang dapat diproyeksikan dapat spin off dalam rentang waktu pendek.

Hingga Desember 2013, Bank Sampoerna masih masuk ke dalam kategori BUKU 1 dengan modal inti sebesar Rp420 miliar. (FC)

Kebutuhan Konsultan Perbankan Syariah Masih Banyak Dibutuhkan Indonesia

Analisa Trading – Beberapa tahun terakhir di Indonesia banyak bermunculan layanan bank syariah di industri perbankan. Namun, konsultan bank syariah untuk menjembatani antara nasabah dan bank dinilai sangat kurang.

Masih banyak kekurangan konsultan bank syariah, yang benar-benar paham dengan apa itu bank syariah, termasuk mengerti dengan hukum dan cara menjalaninya, demikian ungkap Rektor Institut Perbanas Prof. Marsudi Wahyu Kisworo, seusai mewisuda ratusan mahasiswanya di Jakarta.

Menurut Marsudi, konsultan khusus bidang perbankan syariah sangat diperlukan, agar nasabah atau pihak bank sendiri jadi paham, dan tenang dalam melakukan transaksi.

Untuk mengisi kebutuhan tersebut, katanya, Institut Perbanas sedang menyiapkan program khusus perbankan syariah. “Insya Allah pada Agustus tahun ini sudah siap, dan ada mahasiswanya,” ujar Marsudi.

Dia menuturkan di kampusnya itu nanti akan berdiri Pusat Perbankan dan Keuangan Syariah. Sedangkan bahan ajar untuk perbankan biasan dengan perbankan syariah berbeda. Oleh karena itu perlu dibentuk program tersendiri.

Dalam program perbankan dan keuangan syariah nanti, lanjutnya, jurusan spesialnya juga ada beberapa pilihan. Diantaranya akuntansi syariah, perpajakan syariah, perbankan syariah, dan lainnya.

Dia mengatakan nanti para sarjana perbankan dan keuangan syariah ini bisa menjadi pakar di bidang pengelolaan zakat secara syariah. Dana zakat yang tekumpul bisa dikelola dengan baik secara syariah.

“Mereka juga bisa menjadi mediator antara nasabah dan bank. Juga memberi pelatihan pada nasabah bagaimana mengelola pinjaman dari bank secara syariah,” ungkapnya. (FC)