suku bunga

Analisa Trading – Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Narayana Kocherlakota, pada hari Kamis memberikan pendapatnya terkait langkah bank sentral AS yang berniat menaikkan suku bunga jangka pendek tahun ini. Mengingat bahwa inflasi telah dan akan tetap untuk beberapa waktu ke depan di bawah 2% target the Fed, “menaikkan tingkat suku bunga the fed di tahun kalender ini akan menjadi tidak pantas, karena tindakan seperti itu akan berfungsi menunda kembalinya inflasi ke level yang ditargetkan, “katanya.

Mr Kocherlakota juga mengatakan Fed bisa lebih membantu memperbaiki pasar tenaga kerja dengan menahan diri agar tidak meningkatkan tingkat suku bunga tahun ini. Dia berbicara di sebuah pertemuan balai kota yang diselenggarakan oleh bank yang dia pimpin di Missoula, Mont. Mr Kocherlakota adalah salah satu lawan utama kebijakan the Fed yang telah berniat menaikkan suku bunga jangka pendek. Dia berbicara karena Fed telah merayap mendekati langkah untuk bertindak. Sejumlah pejabat Fed, serta pelaku pasar, sedang mencari sinyal terkait pertemuan Fed pertengahan September ini.

Mr Kocherlakota mengamati bahwa “dunia sudah banyak berubah” dan The Fed ” harus menjaga suku bunga rendah untuk alasan itu.” Sebaliknya, iklim umum suku bunga rendah dan kebijakan Fed telah beroperasi dengan baik di lingkungan seperti itu. Ia mengatakan peristiwa pasar dan apa yang telah terjadi di Tiongkok, serta penurunan ekonomi di Kanada, tidak mungkin memiliki banyak dampak pada prospek ekonomi AS. Dia mengatakan “Saya tidak melihat apa-apa di volatilitas baru-baru ini yang membuat saya prihatin” tentang apa yang ada di depan (FC)

 

Happy Trading!

Bank Sentral Amerika  Serikan (Fed) Diprediksikan Menunda Kenaikan Suku Bunga

Analisa Trading – Bank Sentral Amerika Serikat (Fed) kembali menggelar pertemuan selama dua hari pekan ini. Sejumlah analis memprediksi  Fed akan menunda agak lama keputusannya untuk menaikkan suku bunga setelah pasar-pasar keuangan mengalami volatilitas cukup parah.

Mengutip laman Reuters, Selasa (28/10/2014), volatilitas tersebut menggiring perkiraan pelaku pasar bahwa tingkat inflasi akan merosot.

Meski begitu, para pelaku pasar masih sangat menanti kepastian  Fed mengenai akhir dari penarikan dana stimulus yang semula bernilai US$ 85 miliar per bulan. Para analis menilai pengumuman itu akan diberikan setelah pertemuan selama dua hari digelar Fed.

Dengan pelemahan inflasi AS, perekonomian Eropa yang tersandung dan nilai tukar dolar semakin naik, pertanyaan terbesar adalah sejauh mana The Fed memahami berbagai risiko perekonomian yang Anda.

Termasuk bagaimana ekonomi AS akan terus menguat dan membiarkan  Fed menaikkan suku bunga sekitar tahun depan.

“Keseluruhan hasil rapat akan dikomunikasikan secara tersirat mengingat Fed mengambil keputusannya di tengah penguatan dolar dan perlambatan ekonomi global serta berbagai impuls disinflasi,” terang Ekonom TD Securities Millan Mulraine.

Fed direncanakan mengeluarkan pernyataan mengenai kebijakan moneternya pada pukul 14:00 waktu setempat, Rabu (29/10/2014). Pernyataan tersebut kabarnya bukan mengenai prediksi ekonomi atau proyeksi suku bunga.

Selain itu, Gubernur Fed Janet Yellen juga tidak dijadwalkan berbicara dengan media. Dengan begitu, para investor diprediksi harus kembali menjelajahi arah kebijakannya.(LP)

Australia Antisipasi Resiko Kredit Perbankan Ditengah Rendahnya Suku Bunga

Para pembuat kebijakan perbankan Australia mendesak para pemberi pinjaman hipotek untuk mempertahankan standar mereka sebagai antisipasi atas naiknya risiko pinjaman dan melonjaknya harga rumah di tengah suku bunga rendah saat ini.

The Australian Prudential Regulation Authority menyatakan bahwa saat ini mereka melihat bahwa telah terjadi peningkatan yang cukup tajam atas karakteristik peminjam yang tergolong dalam kategori “high risk” dan hal ini harus ditekan agar tidak terus berlanjut.

Seperti kita ketahui, saat ini The Reserve Bank of Australia (RBA) masih mempertahankan suku bunga rendahnya sebesar 2,5 persen sejak Agustus 2013 lalu. Dimana hal ini mengakibatkan bangkitnya kinerja sektor perumahan.

Sebagai antisipasi atas meningkatnya high risk karakteristik saat ini maka draft pedoman APRA segera dirilis hari ini dimana isinya menyatakan bahwa setiap bank harus teratur melakukan tes stres dengan berbagai skenario untuk memastikan bahwa portofolio mereka tidak berdampak negatif ditengah ketidakstablian perekonomian global saat ini.

Ketika broker atau pihak ketiga lainnya juga ikut terlibat maka pihak pemberi pinjaman harus bertanggung jawab untuk memastikan peminjam bisa membayar pinjaman, sesuai dengan pedoman yang berlaku.

Saat ini perekonomian Australia memang terlihat kurang begitu baik. Berdasarkan beberapa rilis data negara ini dapat dilihat bahwa jumlah pengangguran meningkat dan prediksi inflasi kembali naik. Oleh karena itu RBA dan jajaran lembaga keuangan harus mengantisipasi ketidakstabilan yang terjadi saat ini, terutama dalam hal pemberian pinjaman untuk sektor perumahan.

Dolar AS Terpuruk, Berharap Peningkatan Suku Bunga

SINGAPURA – Dolar Amerika Serikat (AS) masih mengalami pelemahan, menyusul penurunan mingguan terhadap mata uang utama. Investor menanti keputusan Gubernur the Federal Reserve Janet Yellen Chair, di tengah spekulasi bank sentral AS akan

mempertahankan suku bunga mendekati nol persen.

Para pedagang melihat adanya peluang Komite Pasar Terbuka Federal akan menaikkan suku bunga pinjaman pada Desember. Dolar AS sedikit menguat pada akhir pekan kemarin, setelah data pemerintah menunjukkan tingkat pengangguran jatuh pada April.

“Saya berharap data tetap relatif lemah dalam waktu dekat. Atmosfer yang ada sudah tidak lagi menunjukkan tren bullish, sampai anda melihat adanya sinyal kenaikan suku bunga dari FOMC, saya tidak yakin dolar AS akan menguat,” jelas managing director Rochford Capital, Thomas Averill, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (5/4/2014).

nilai dolar turunThe Bloomberg Dollar Spot Index, yang memantau dolar AS terhadap 10 mata uang utama, berada di 1.007,39, turun 0,3 persen dari pekan lalu di kisaran 1.007,72.

Dolar AS sedikit berubah pada USD102,09 per yen Jepang dan USD1,3866 terhadap euro. Sementara euro terhadap yen, berada di 141,55 per euro dari 141,77 per euro.

Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan bahwa para pekerja naik 288.000 pada April, terbesar sejak Januari 2012. Pengangguran turun menjadi 6,3 persen, tingkat terendah sejak September 2008.

Yellen mengatakan pada 16 April bahwa kenaikan upah tetap dengan kecepatan yang lambat dengan sedikit tanda-tanda percepatan. Dia akan berbicara pada kongres pada 7 Mei.