Struktur ekonomi nasional rapuh dan keropos

 Struktur ekonomi nasional dinilai masih rapuh meski pertumbuhan ekonomi konsisten di kisaran 5-6 persen dan Indonesia tercatat sebagai salah sati dari 10 negara ekonomi terbesar dunia.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati menjelaskan, kerapuhan ekonomi ditandai dengan terpinggirkannya sektor yang banyak menyerap tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan.

“Kita punya struktur ekonomi rapuh, walaupun pertumbuhan ekonomi tinggi 6 persen, bahkan negara maju lainya tidak pernah tumbuh di atas 4 persen,” kata Enny dalam diskusi bertajuk “Revolusi Mental Sektor Pertanian sebagai Landasan Kemandirian Ekonomi” yang digelar FA-IPB dan Jokowi Center di Jakarta

Sektor yang menghasilkan barang yakni pertanian, terdegradasi. Akibatnya, sektor ini bukan menyerap tenaga kerja justru mendepak tenaga kerja.

“Yang bekerja di sektor pertanian terpaksa terkena dampak ini luar biasa, yang terjadi dampak ini multidimensi. Industri kita sangat rapuh, industri yang kita kembangkan bahan baku impor, mestinya sektor pertanian memasok industri,” katanya.

Enny mengingatkan, rapuhnya struktur ekonomi membuat angka pengangguran dan kemiskinan tinggi. “Mereka hanya bergeser dari pengangguran yang benar-benar tidak punya pekerjaan atau pengangguran terselubung,” katanya.

Dalam pandangannya, sektor peternakan juga perlu terus ditumbuhkan agar industri dan tenaga kerja terserap. Terlebih, industri berbasis peternakan sapi memiliki tingkat konsumsi besar. Sayangnya, selama ini mereka mengandalkan bahan baku dari negara lain dan tidak bisa dipenuhi dari dalam negeri.

“Ini momentum yang hilang selama dekade kepemimpinan dua periode ini. Jadi itulah yang menyebabkan struktur ekonomi kita rapuh menyebabkan angka pengangguran lambat, kemiskinan lambat, jadi nggak pengaruh anggaran Rp 10 triliun tapi yang menghilang hanya 1 juta,”jelasnya.