Lagi, salah kaprah di bursa saham

Pertama, investor percaya, return rata-rata investasi saham tercermin dari pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Jika return portofolio saham di atas pertumbuhan IHSG, kinerja portofolio tersebut dikatakan bagus karena sukses mengalahkan pasar.

Pandangan ini salah, karena IHSG hanya menggambarkan komponen capital gain (kenaikan harga). Sementara itu, return investasi terdiri atas dividen dan capital gain. Karenanya, return acuan untuk kinerja pasar (atau rata-rata) seharusnya adalah perubahan IHSG + dividend yield yang besarnya sekitar 2%. Jika IHSG tahun lalu naik 22,3%, maka return patokan portofolio seharusnya adalah 24,3% (22,3%+2%).

Kedua, masih berkait dengan yang pertama. Untuk mengukur kinerja sebuah reksadana saham mengalahkan pasar atau tidak, kita dapat membandingkan return reksadana itu dengan perubahan IHSG periode yang sama. Jika IHSG tumbuh hingga 106,2% lima tahun terakhir, yaitu dari awal tahun 2010 hingga akhir tahun 2014, reksadana yang memberikan return lebih baik dari angka tersebut umumnya langsung menyebutkan diri mereka hebat, karena mengungguli pasar.

Bahkan ada yang hanya naik di atas rata-rata reksadana saham lain juga mengklaim mengalahkan pasar. Investor awam umumnya percaya .

Pandangan itu keliru karena return rata-rata reksadana saham lima tahun terakhir 84,2% dengan median 81,7%. Kinerja reksadana saham ternyata lebih dekat dengan pertumbuhan indeks LQ-45, yang hampir selalu di bawah IHSG tujuh tahun terakhir kecuali tahun lalu.

Ini lantaran di reksadana saham hampir pasti adalah saham-saham likuid dan kapitalisasi besar atau masuk LQ-45. Yang membedakan satu reksadana saham dengan yang lain hanya bobot saham LQ-45 itu dalam portofolio mereka.

Lima tahun terakhir indeks LQ-45 ternyata tumbuh jauh di bawah IHSG, hanya 80,3% berbanding 106,2%. Dengan menggunakan acuan 106%, hanya ssebelas dari 52 reksadana saham berumur lima tahun atau lebih yang benar-benar mengalahkan IHSG.

Jika dividend yield IHSG yang sebesar 2% setahun diperhitungkan, tersisa empat reksadana saja yang dapat menyebut lebih hebat dari pasar. Sisanya, sebanyak 48 reksadana saham dalam rupiah kalah dari kinerja pasar.

Ketiga, berhubungan dengan strategi investasi. Banyak yang menganggap, strategi aktif mampu mengalahkan yang pasif. Bukankah keuntungan harian yang hanya 0,5% menjadi 100% lebih setahun?

Para trader percaya jika keuntungan bulanan 3% menjadi 42,6% setahun dengan menggunakan konsep bunga majemuk. Masalahnya, siapa yang memastikan return harian 0,5% atau bulanan 3% itu? Untung belum pasti, tapi biaya transaksi tetap harus dibayar.

Dengan sering bertransaksi, Anda akan disukai banyak pihak. Mulai dari broker dan perusahaan sekuritas Anda hingga self-regulatory organization (SRO), seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Anda memperbesar keuntungan mereka, tapi belum tentu untuk diri Anda sendiri.

Salah kaprah ini juga menjelaskan mengapa hanya segelintir manajer investasi pengelola reksadana saham berkinerja bagus, sementara yang lain biasa-biasa saja dan melempem. Ini karena mereka menerapkan strategi aktif dengan mengandalkan analisis momentum dan teknikal. Akibat strategi dan pendekatan ini, mereka sering bertransaksi sehingga biaya transaksi besar.

Pakar investasi sekelas Warren Buffett dan Benjamin Graham menyarankan agar para investor menghindari reksadana aktif dan hanya mengoleksi reksadana pasif, terutama reksadana indeks. Ini senada dengan hasil penelitian Barber dan Odean yang dipublikasikan di jurnal keuangan paling bergengsi, yaitu Journal of Finance dengan judul provokatif, yaitu Trading is Hazardous to Your Wealth (2000).

Pengamatan saya, tak banyak investor kita yang menyadari kalau strategi aktif apalagi ikut-ikutan pasar, berbahaya bagi kekayaan mereka.

Keempat, banyak investor domestik percaya, jika investor asing dengan dana besarnya menguasai sekitar 65% saham free-float mempunyai kemampuan analisa lebih baik. Sehingga akan memperoleh return lebih besar daripada investor dalam negeri. Terbukti, IHSG umumnya naik jika terjadi net buyasing dan sebaliknya.

Penelitian Dvorak dalam Journal of Finance (2005) berkesimpulan sebaliknya. Investor saham domestik yang nasabah sekuritas asing, memperoleh keuntungan lebih besar dan lebih unggul dalam informasi. Sejatinya, investor bermodal besar di bursa berkapitalisasi kecil seperti di BEI juga mengalami kesulitan, yaitu market impact.

Saham apapun yang dibeli akan naik dan yang dijual akan turun. Sementara itu,  investor dengan dana ngepas lebih fleksibel karena dapat keluar-masuk tanpa berdampak ke pasar

Wall Street Naik Dipicu Harapan Kesepakatan Utang Yunani

NEW YORK – Indeks saham di Wall Street pada Senin waktu setempat berakhir naik tajam dipicu oleh harapan kesepakatan utang Yunani dan meningkatnya saham energi karena harga minyak.

Menteri Keuangan Yunanai Yanis Varoufakis mengatakan, pemerintah baru Yunani telah mengusulkan untuk mengakhiri kebuntuan dengan kreditor internasional melalui negosiasi utang baru.

Saham sektor energi di indeks S&P 500 (SPNY) menguat 3%, dengan naiknya minyak mentah Amerika Serikat (AS) sebesar 2,8% menjadi USD49,57 per barel, meski terjadi pemogokan di kilang AS yang bisa memengaruhi pasokan minyak mentah.

“Pasar menemukan beberapa kenyamanan setelah dialog utang Yunani dari pada rencana keluarnya Yunani dari Uni Eropa. Itu memengaruhi pasar saham, bukan hanya di AS tapi secara global,” kata Kepala Pasar Strategi di Clearpool Group Peter Kenny seperti dilansir dari Reuters, Selasa (3/2/2015).

Kenaikan indeks S&P 500 terjadi mendekati akhir sesi perdagangan setelah berulang kali berfluktuasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 196,09 poin atau 1,14% ke 17.361,04; indeks S&P 500 naik 25,86 poin atau 1,3% ke 2.020,85; dan Nasdaq Composite bertambah 41,45 poin atau 0,89% ke 4.676,69.

Sekitar 7,7 miliar saham ditransaksikan  di bursa AS. Volume tersebut di atas rata-rata selama lima sesi perdagangan terakhir sebanyak 7,4 miliar lembar saham.

Saham-saham Energi Rebound, Wall Street Positif

New York -Pasar saham Wall Street hanya naik tipis didorong oleh menguatnya saham-saham energi. Investor masih khawatir akan kemungkinan Yunani keluar dari Uni Eropa.

Pasalnya, partai sayap kiri Yunani berhasil memenangkan pemilu yang diprediksi bisa menimbulkan krisis baru di Uni Eropa. Partai pemenang itu sejak awal sudah menolak program penyelamatan.

Negeri Paman Sam tidak akan terimbas terlalu besar dari rencana Yunani tersebut, tapi beberapa perusahaan multinasional yang selama ini berdagang ke Eropa kemungkinan kena imbas.

“Banyak ketidakpastian di pasar soal pemilu di Yunani. Tapi kabar dari OPEC memberikan berita baik,” kata Robert Francello, kepala perdagangan saham dari Apex Capital di San Francisco, seperti dikutip Reuters, Selasa (27/1/2015).

Saham-saham energi memimpin penguatan setelah Sekjen OPEC Abdulla al-Badri, mengatakan bahwa harga minyak sebentar lagi menyentuh titik terendah setelah itu segera rebound.

Pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat, Indeks Dow Jones naik tipis 6,1 poin (0,03%) ke level 17.678,7, Indeks S&P 500 bertambah 5,27 poin (0,26%) ke level 2.057,09 dan Indeks Komposit Nasdaq menguat 13,88 poin (0,29%) ke level 4.771,76.

Harga Minyak Naik, Saham AS Menurun Pada Selasa Pagi

Analisa Trading – Penurunan harga minyak mendorong saham AS turun secara luas pada hari Selasa, memperpanjang penurunan minggu kedua. Saham Eropa juga jatuh, dan mata uang rubel Rusia jatuh ke rekor terendah terhadap dolar karena runtuhnya harga minyak bergema melalui pasar keuangan global.

art_128968

Sebuah reli singkat setelah perdagangan dibuka di AS lenyap minyak mentah terus slide enam bulan yang telah memangkas harga hampir setengah. Permintaan global untuk minyak telah berkurang seperti persediaan menjadi lebih berlimpah.

Kerugian saham di AS yang sederhana, namun pasar di Jerman dan Perancis turun lebih dari 2 persen. Rusia rubel jatuh.

The Standard & Poor 500 turun 12,70 poin, atau 0,6 persen, ke 1,989.63. 10 sektor industri dalam indeks turun. Kerugian diikuti penurunan 3,5 persen di S & P 500 minggu lalu, penurunan terbesar sejak Mei 2012.

Sebuah laporan yang solid pada produsen AS dan beberapa berita merger membantu pasar sentakan yang lebih tinggi setelah terbuka, tetapi keuntungan menguap setelah satu jam karena harga minyak mentah turun. Penurunan minyak mengkhawatirkan investor karena palu keuntungan pengebor dan perusahaan minyak lainnya yang merupakan komponen besar dalam indeks saham. Investor juga khawatir mungkin sinyal perlambatan ekonomi global lebih dalam dari yang diharapkan.

Dow Jones Industrial Average turun 99,99 poin, atau 0,6 persen, ke 17,180.84. Indeks komposit Nasdaq kehilangan 48,44 poin, atau 1 persen, ke 4,605.16.

Rubel tenggelam 13 persen menjadi 65,83 terhadap dolar. Mata uang Rusia mulai tahun pada 32,85 terhadap dolar. Penurunan harga minyak mentah telah menyakiti Rusia sejak negara itu menjadi eksportir minyak utama dan sangat tergantung pada minyak untuk penerimaan pajak.

Beberapa komentator telah mencatat bahwa harga minyak terjun akhirnya bisa membantu saham AS karena mendorong turun harga gas, membebaskan uang bagi orang Amerika untuk menghabiskan di toko-toko.

Doug Cote, kepala strategi pasar di Voya Investment Management, mengatakan investor telah bereaksi berlebihan dengan penurunan minyak dan bahwa ia mengharapkan saham naik.

Investor bisa mendapatkan rasa yang lebih baik dari seberapa banyak minyak membantu konsumen ketika Federal Reserve menyimpulkan pertemuan dua hari pada Rabu.

sumber: analisatoday.com

Jelang Penutupan, Bursa Eropa Terpantau Turun

Analisa Trading – Perdagangan saham di bursa Eropa hari Kamis(11/9), index utama masih terpantau diperdagangkan lebih rendah dengan bergerak menuju penutupan selama 5 hari beruntun.

Selama berlangsungnya perdagangan di sesi AS, index Stoxx Europe 600 telah diperdagangkan lebih rendah 0.1% di level 344.33, sedangkan index utama yang lebih spesifik lainnya di wilayah Eropa, dengan index DAX 30 telah diperdagangkan lebih rendah 0.2% di level 9.677.80, index CAC 40 telah diperdagangkan lebih rendah 0.4% di level 4.432.12, dan index FTSE 100 telah diperdagangkan lebih rendah 0.4% di level 6.801.50.

Pada pergerakan saham di wilayah Eropa malam ini, perusahaan Royal Bank of Scotland Group PLC terpantau mengalami kenaikan sebesar 1.3% dan Lloyds Banking Group PLC yang terpantau mengalami kenaikan sebesar 1.3% setelah kedua perusahaan perbankan tersebut mengatakan akan merelokasikan induk perusahaan ke Inggris, jika Skotlandia menyatakan untuk berdiri sendiri.

WALL STREET JATUH DIDORONG KETAKUTAN KOREKSI DAN KONFLIK UKRAINA

New York – Saham-saham AS berakhir turun tajam pada Selasa (Rabu pagi WIB, 6/8/2014), menyusul aksi jual yang para analis kaitkan dengan kecemasan tentang koreksi Wall Street dan kekhawatiran bahwa konflik di Ukraina bisa kian memburuk.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 139,81 poin (0,84 persen) menjadi ditutup pada 16.429,47.

Indeks berbasis luas S&P 500 turun 18,78 poin (0,97 persen) menjadi berakhir pada 1.920,21, sedangkan indeks komposit teknologi Nasdaq merosot 31,05 poin (0,71 persen) menjadi 4.352,84.

Mace Blicksilver, direktur di Marblehead Asset Management, mengatakan kerugian didorong oleh sentimen negatif yang sama yang mendorong penurunan besar saham-saham di AS pada pekan lalu.

Lebih lanjut para pakar telah memperkirakan penurunan kemungkinan mencapai 10 persen atau lebih di saham-saham, katanya. Saham-saham AS telah menghindari koreksi pada skala ini dalam lebih dari dua tahun terakhir.

“Ini melanjutkan tren minggu lalu,” kata Blicksilver, menambahkan bahwa volume perdagangan yang rendah telah menekan pergerakan.

Para analis juga menyebutkan komentar Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski yang dilaporkan oleh Bloomberg News dan media lainnya yang mengatakan Rusia telah meningkatkan kehadiran militernya di perbatasan Ukraina, menunjukkan kemungkinan eskalasi dalam konflik.

Saham-saham AS turun lebih lanjut karena komentar Sikorski.

Analis juga menyebutkan laba perusahaan-perusahaan yang mengecewakan dan data ekonomi lesu dari Tiongkok menambah tekanan di pasar.

Saham Target jatuh 4,4 persen karena mengumumkan 148 juta dolar AS biaya baru terkait dengan pelanggaran data raksasa yang diderita pada musim dingin lalu. Ini termasuk biaya klaim dari jaringan kartu pembayaran untuk pelanggan yang data keuangannya dicuri.

Target juga mengatakan kinerjanya dirusak oleh penjualan lemah di Amerika Serikat dan Kanada.

Saham perusahaan minyak turun karena harga minyak jatuh ke tingkat terendah dalam enam bulan di tengah kekhawatiran tentang permintaan bensin yang lemah di AS. Anggota Dow, ExxonMobil dan Chevron masing-masing turun 1,9 persen dan 2,5 persen.

Jaringan toko obat Walgreens kehilangan 4,2 persen karena laporan perusahaan tidak akan berusaha untuk merelokasi kantor pusatnya di luar negeri guna menghemat pajak miliaran dolar.

Peritel diskon Dollar General naik 3,4 persen didoroang laporan bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan tawaran untuk Family Dollar Stores yang akan menantang Dollar Trees mengambilalih Dollar Family. Dollar Family naik 2,0 persen, sementara Dollar Tree jatuh 2,2 persen.

Harga obligasi naik. Imbal hasil pada obligasi 10-tahun pemerintah AS merosot menjadi 2,48 persen dari 2,49 persen pada Senin, sementara pada obligasi 30-tahun merosot menjadi 3,28 persen dari 3,30 persen.

Strategi Berinvestasi Secara Cermat

NASIHAT investasi yang umum berlaku biasanya berbunyi: Teliti sebelum membeli. Nasihat ini  masih tetap berlaku sampai saat ini. Artinya, sebelum mengambil keputusan untuk menempatkan dana pada satu instrumen investasi, Anda harus sudah mempelajari peluang atau potensinya, tak terkecuali risiko yang melekat pada instrumen investasi yang dipilih.

Prinsip ini berlaku ketika seseorang membeli produk investasi di bidang keuangan seperti saham, reksa dana, maupun obligasi. Misalnya dalam hal membeli saham suatu perusahaan, hal yang perlu diteliti tentu saja berkaitan dengan jenis atau sektor usaha, prospek bisnis ke depan, kekuatan kinerjanya fundamental dalam beberapa tahun terakhir, tingkat likuiditas, pemegang saham, serta manajemen pengelola.

investasiKinerja fundamental maupun teknikal yang berkaitan dengan tingkat likuiditas akan cukup jelas tercermin di pasar. Seperti halnya prinsip jual beli, harga suatu saham ditentukan oleh besar kecilnya tingkat penawaran maupun permintaan (supply-demand). Semakin besar permintaan beli, tentu saja harga saham akan naik. Sebaliknya, jika yang terbanyak merupakan keinginan untuk menjual, maka harga saham tersebut akan turun.

Besar atau kecilnya permintaan jual atau beli ini sangat ditentukan oleh kekuatan kinerja keuangan, prospek bisnis, maupun rekam jejak perusahaan bersangkutan. Semakin bagus kinerja dan prospeknya, peluang untuk harga sahamnya naik semakin besar. Tetapi perlu diingat juga bahwa peluang naik juga ditentukan apakah saham tersebut sudah mencapai harga wajar atau belum. Harga wajar adalah harga saham yang mencerminkan kondisi keuangan dan prospeknya. Jika harga sahamnya masih tergolong murah dibandingkan dengan kinerja keuangannya, maka peluang naik untuk harga saham tersebut akan terbuka.

Jika Anda kesulitan membuat perhitungan untuk menemukan harga suatu saham apakah sudah tergolong mahal, murah, atau sudah mencapai kondisi riil, Anda bisa memanfaatkan hasil perhitungan para analis di perusahaan efek tempat Anda bertransaksi. Analisa fundamental mengerucut pada perhitungan nilai perusahaan dikaitkan dengan kondisi fundamental ekonomi, kondisi sektoral, dan kekuatan perusahaan. Melalui analisa fundamental, maka akan diperoleh harga wajar dari suatu saham. Informasi sederhana ini dapat pula diminta dari broker masing-masing investor, karena termasuk fasilitas standar yang disediakan broker.

Harga wajar suatu saham dapat tercermin di pasar dalam kondisi normal. Namun, harga di pasar bisa saja lebih tinggi karena ekspektasi berlebihan akan prospek saham bersangkutan. Tetapi harga suatu sahamnya bisa jadi terlalu murah, yang juga berarti ada peluang membeli, jika kondisi fundamental mendukung, dan prospeknya memang menjanjikan.

Perlu diingat bahwa harga suatu saham tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja fundamental karena  sentimen yang berkembang di pasar ikut mempengaruhi harga saham. Misalnya, karena sektor usaha dari emiten bersangkutan mendapat isu positif terkait kebijakan pemerintah yang mendukung, atau karena faktor politik yang kondusif.

Biasanya, setelah sentimen pasar mulai melemah, pasar akan bersikap realistis dan mulai mengevaluasi harga saham yang tercermin di pasar. Jika harga saham sudah terlalu mahal, maka ada risiko terkoreksi. Namun, jika Anda berinvestasi untuk jangka panjang, peluang harga saham untuk naik lagi tetap terbuka, terutama jika laporan keuangan kuartal, semester, atau laporan tahunan ternyata tumbuh positif.

Sebaliknya, harga saham akan terkoreksi, jika kinerja fundamental tidak tumbuh positif. Untuk keamanan investasi, seorang investor perlu mengutamakan analisis fundamental dan jangan terjebak pada tren transaksi yang tidak mengacu pada kekuatan fundamental maupun prospek saham bersangkutan

ANALIS: IHSG BERPOTENSI REBOUND

Jakarta- Positifnya laju bursa saham AS ternyata tidak membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona hijau, yang malah marak terjadi aksi jual. Hal ini menyebabkan IHSG terpelanting ke zona merah.

“Mulai menahan dirinya sikap pelaku pasar di akhir bulan terutama jelang rilis data-data ekonomi di awal pekan yang merupakan awal bulan Juni membuat IHSG cenderung tertekan. Pelaku pasar pun memanfaatkan kenaikan di hari perdagangan sebelumnya untuk bersih-bersih barang,” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Jakarta, Senin (2/6/2014).

Reza melanjutkan, kondisi ini berbeda dengan laju pergerakan Rupiah dan bursa saham Asia yang cenderung menguat tipis. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4998,09 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4893,91 (level terendahnya) di mid sesi 2 dan berakhir di level 4893,91.

“Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell,” lanjutnya.

Pada perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 4871-4888 dan resisten 4900-4938. Black marubozu sentuh middle bollinger band (MBB ). MACD kembali turun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, Stochastic, dan William’s %R berbalik turun. IHSG sempat melewati target resisten (4993-4997) namun, tidak bertahan lama menuju target support (4950-4972) seiring aksi profit taking masif.

“Tentunya laju IHSG akan dipengaruhi oleh rilis data-data ekonomi, terutama dari dalam negeri. Bila sesuai harapan laju IHSG akan mengalami rebound dan begitupun sebaliknya,” sebutnya.

Sementara itu, menurut Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Surya wijaya, tekanan terhadap IHSG sifatnya masih wajar, dan dalam pergerakannya IHSG telah berhasil melampaui resistance 4994, menunjukkan bahwa koreksi yang terjadi adalah sehat.

“IHSG masih tetap kokoh berada pada uptrend channel, kondisi koreksi pada saat perjalanan naik adalah wajar demikian pula sebaliknya, resistance tujuan terdekat saat ini berada pada 5002 yang wajib digapai sehingga bisa memperkuat pondasi kenaikan IHSG selanjutnya,” ujarnya.

Support berada pada level 4865, akan terjaga cukup kuat karena jika dijebol maka IHSG akan berpindah ke dalam area konsolidasi. “Terlihat akan ada potensi technical rebound pada IHSG untuk pekan depan,” tukasnya.

SAHAM-SAHAM PILIHAN DI AWAL PEKAN

Jakarta- Pada perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan berada pada rentang support 4871-4888 dan resisten 4900-4938. Black marubozu sentuh middle bollinger band (MBB ). MACD kembali turun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, Stochastic, dan William’s %R berbalik turun.

IHSG sempat melewati target resisten (4993-4997) namun, tidak bertahan lama menuju target support (4950-4972) seiring aksi profit taking masif.

“Tentunya laju IHSG akan dipengaruhi oleh rilis data-data ekonomi, terutama dari dalam negeri. Bila sesuai harapan laju IHSG akan mengalami rebound dan begitupun sebaliknya,” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Jakarta (2/6/2014).

Hal yang sama juga disampaikan oleh Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Surya wijaya, tekanan terhadap IHSG sifatnya masih wajar, dan dalam pergerakannya IHSG telah berhasil melampaui resistance 4994, menunjukkan bahwa koreksi yang terjadi adalah sehat.

“IHSG masih tetap kokoh berada pada uptrend channel, kondisi koreksi pada saat perjalanan naik adalah wajar demikian pula sebaliknya, resistance tujuan terdekat saat ini berada pada 5002 yang wajib digapai sehingga bisa memperkuat pondasi kenaikan IHSG selanjutnya,” ujarnya.

Support berada pada level 4865, akan terjaga cukup kuat karena jika dijebol maka IHSG akan berpindah ke dalam area konsolidasi. Terlihat akan ada potensi technical rebound pada IHSG untuk pekan depan.

Berikut merupakan saham-saham rekomendasi Reza Priyambada untuk hari ini:

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) 2410-2610, berpola hammer dekati Upper Bollinger Band (UBB ). Stochastic masih bergerak naik diikuti peningkatan volume, maintained buy selam di atas 2550.

PT Elnusa Tbk (ELSA) 530-600, berpola three white soldier bertahan di sekitar UBB. RSI & MFI masih bergerak naik, maintained buy selama di atas 565.

PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) 113-123, berpola spinning di bawah MBB. MFI & RoC cenderung turun diikuti kenaikan volume jual, trad sell jika 115 gagal bertahan.

PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) 2675-2875, berpola hammer dekati UBB. Stochastic & MACD bergerak naik, maintained buy selama di atas 2820.

PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) 2955-3025, berpola gravestone doji di atas MBB. Volume masih naik diikuti peningkatan William’s %R & MFI, maintained buy selama di atas 2960.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) 825-865, berpola shooting star di atas MBB. RSI & William’s %R melanjutkan kenaikan, maintained buy selama di ataas 835.

PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) 1320-1375, berpola hanging man dekati UBB. Volume masih bergerakn naik dibarengi dengan peningkatan MFI & Stochastic, maintained buy selama di atas 1350.

Sedangkan ini, merupakan saham-saham pilihan menurut William Wijaya untuk perdagangan hari ini:

– PT Kimia Farma Tbk (KAEF)

– PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI)

– PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)

– PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA)

– PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)

– PT United Tractors Tbk (UNTR)

– PT Unilver Indonesia Tbk (UNVR)

– PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI)

– PT Bank Panin Syariah Tbk (PNBS)

Wall Street Rebound Respon Pertemuan The Fed

Saham-saham di Amerika Serikat (AS) berakhir berhasil rebound, setelah merespon pertemuan the Fed yang telah membahas pengetatan kebijakan moneter.

Notulen rapat tersebut menunjukkan beberapa pendekatan untuk menaikkan suku bunga dalam jangka pendek, tetapi rapat tersebut hanya perencanaan dan bukan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

“Investor berpikir akan melihat rebound dalam pertumbuhan tetapi tidak ke titik di mana ekonomi terlihat terlalu kuat,”kata kepala strategi pasar Banyan Partners LLC  Robert Pavlik seperti dilansir Reuters, Kamis, (22/5/2014).

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1 persen, ini merupakan kenaikan harian terbesar sejak pertengahan April. Goldman Sachs adalah mencatat kenaikan terbesar yakni 1,9 persen pada ke USD59,35.

Selain itu, indeks S&P 500 naik untuk sesi ketiga, namun kenaikannya masih terbatas, dan belum mengalahkan rekor intraday pada 13 Mei.

Indeks Dow Jones Industrial Average DJI naik 158,75 poin atau 0,97 persen ke 16.533.06, indeks S&P 500 SPX naik 15,2 poin atau 0,81 persen ke 1.888.03 dan Nasdaq Composite IXIC naik 34,65 poin atau 0,85 persen ke 4.131.54