Apakah Yen Akan Kehilangan Status “Safe Haven” nya?

Status Yen Jepang sebagai Safe Haven kemungkinan sedang dalam bahaya dengan kenaikan biaya impor terus membenani sektor ekspor negara Jepang dan mempengaruhi “current account” nya kata para analis.

“Dengan kondisi current account Jepang terus memburuk, fungsi yen sebagai pelabuhan safe- haven  menjadi tanda tanya,” kata Boris Schlossberg, analis matauang di BK Asset Management.

Matauang suatu negara bisa mendapatkan status safe-haven jika negara tersebut memiliki surplus current account, dimana ekspor lebih besar daripada impor. Dengan orang-orang diluarnegeri membayar ekspor dengan matauang negara pengekspor, permintaan yang lebih besar akan matauang ini membuat nilainya terangkat naik.

David Forrester, senior vice president di Macquarie mengatakan pada CNBC bahwa yen secara bertahap kehilangan status safe-havennya karena memburuknya neraca perdagangan disamping melemahnya yen.

yen

Jepang membukukan defisit neraca perdagangan untuk bulan yang ke 21 minggu ini ditengah kenaikan biaya impor energi menyusul penutupan beberapa pabrik nuklir setelah tsunami Tohoku di tahun 2011. Impor naik 18.1 persen setahun dibulan Maret, sementara ekspor hanya naik 1.8 persen.

Sementara depresiasi yen sebesar 21 persen terhadap dolar AS pada tahun lalu yang disebabkan oleh rencana reformasi ekonomi yang radikal dari PM Shinzo Abe seharusnya mendorong permintaan yang lebih besar terhadap barang-barang Jepang, kenyataannya kenaikan permintaan tersebut tidak cukup untuk mengatasi kenaikan biaya impor.

David Forrester, Senior Vice President dari G10 Strategi FX di Macquarie mengharapkan BoJ menggelontorkan lebih banyak stimulus kedepannya, yang akan mendorong pelemahan yen lebih jauh.

Selain itu, kenaikan baru-baru ini didalam Impor digerakkan sebagian oleh pembelian menit-menit terakhir sebelum kenaikan pajak penjualan Jepang menjadi 8 persen dari sebelumnya hanya 5 persen pada tanggal 1 April. Dan inipun kemungkinan akan berkurang setelah efek pajak penjualan mulai terasa.

Dan meskipun ada potensi akan berlanjutnya surplus current account di dalam waktu jangka pendek ini, hal ini tidak dapat terjadi dengan mudah.

Faktor demografis juga memegang peranan dalam hilangnya status yen sebagai matauan safe-haven. Jepang adalah negara yang pertumbuhan orang tuanya paling cepat di dunia, dengan seperempat dari populasi penduduknya berusia 65 tahun keatas.BoJ sendiri menurunkan pandangan mengenai sektor ekspornya setelah pertemuan kebijakan bulan Maret, memberikan catatan bahwa ekspor telah turun ditengah perlambatan ekonomi Asia. Padahal sebelumnya dikatakan ekspor sedang ada pada jalur pemulihan.

Kelemahan demografis adalah angin sakal yang besar bagi prospek pertumbuhan dimasa yang akan datang, Forrester berkata, para orang tua cenderung menarik tabungan luarnegerinya, yang mana akan melemahkan yen lebih jauh.

“Faktor demografis akan membuat status yen sebagai safe-haven lenyap pada akhirnya, kata Forrester.

Ferli/ Senior Analyst Economic Research at Vibiz Research