Minyak Masih Lemah Seiring Rusia Ikuti Langkah OPEC

Analisa Trading – Minyak di New York di perdagangkan di dekat level terendah dalam lima tahun seiring Rusia menegaskan bahwa mereka akan tetap mempertahankan stabilitas produksi minyak mentah mereka pada tahun depan, mengikuti startegi OPEC untuk menahan diri dari pembatasan suplai untuk meredam surplus minyak global.

19minyak

Kontrak berjangka turun sebanyak 2.4% setelah kemarin tergelincir ke bawah $54 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei 2009. Menteri Energi Rusia, Alexander Novak mengatakan bahwa Output dari Rusia, yang merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia, akan sama dengan tahun ini di kisaran 10.6 juta barel perhari. Iran mengatakan bahwa mereka menawarkan diskon terbesar untuk pengiriman ke Asia dalam 14 tahun terakhir, mereka mengikuti langkah Arab Saudi yang melakukan pengurangan harga.

Minyak telah merosot sebesar 43% pada tahun ini seiring melonjaknya pengeboran minyak shale yang meningkatkan produksi minyak AS ke laju tercepat dalam tiga dekade di tengah melambatnya pertumbuhan permintaan global. Para anggota utama OPEC seperti Arab Saudi telah menolak seruan dari pada produsen yang lebih kecil yang termasuk Venezuela dan Ekuador untuk mengurangi kuota produksi untuk meredam penurunan harga.

“OPEC tidak akan membuat pergerakan, kecuali AS mengurangi terlebih dahulu produksinya, dan untuk saat ini tampaknya permainan ini kemungkinan akan terus berlanjut sampai tahun depan,” kata Kang Yoo Jin, analis komoditas di Woori Investment & Securities Co. di Seoul. “Seiring anjloknya harga minyak, tampaknya keputusan strategi dari negara-negara produsen yang termasuk OPEC dan Rusia akan tetap mempertahankan level output mereka tidak berubah.

Minyak WTI Januari tergelincir sebanyak $1.32 menjadi $54.61 per barel di dalam perdagangan elektronik di Nymex dan saat ini bergerak di kisaran $54.95 pada pukul 16.44 wib. Harga minyak saat ini berada di jalur penurunan tahunan terbesar sejak tahun 2008.

sumber: monexnews.com

Ekonomi Rusia Tak Perlu Lagi Tindakan Khusus

Gubernur Bank Central Rusia menyatakan perekonomian negara tidak perlu lagi diberikan tindakan khusus meskipun tanda-tanda perlambatan masih terlihat.

Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina mengatakan, negara tidak membutuhkan bantuan International. “Instrumen kebijakan moneter yang Rusia memiliki kemampuan dan dikembangkan cukup baik,” kata Nabiullina mengutip dari CNBC, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Dirinya berjanji untuk mengurangi inflasi yang mencapai 7,3 persen pada April, menjadi 6 persen pada akhir tahun ini.

Bank sentral baru-baru ini harus turun tangan untuk membuat mata uangnya rubel yang kurang stabil, setelah nilai mata uang jatuh terhadap dolar akibat krisis di Ukraina dan perlambatan pertumbuhan di Rusia.

Hal ini juga menaikkan suku bunga menjadi 7,5 persen, dari 5,5 persen sebelum krisis dimulai pada akhir Februari.

Para ekonom telah memangkas perkiraan mereka untuk pertumbuhan Rusia tahun ini, dan perekonomian diperkirakan akan mengalami resesi ringan pada semester pertama 2014, sebagai sanksi sebagai akibat dari krisis Ukraina, dan kegelisahan internasional dan domestik, mempengaruhi perekonomian.

Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov telah mengesampingkan stimulus ekonominya, yang memiliki substansial derasnya dana, tapi sedang menghadapi meningkatnya kekhawatiran bahwa hal itu tidak cukup terdiversifikasi dari pendapatan minyak dan gas.

Ada juga telah pelarian modal besar ke luar negeri , yang Nabuillina dijelaskan sebagai terutama disebabkan oleh investor menukar rubel mereka untuk dolar.

“Masalahnya bukan pergerakan modal, masalahnya adalah tentang fakta orang tidak merasa nyaman berinvestasi modal di negeri ini,” ujar ketua perbankan, Citi Rusia & CIS Irackly Mtibelishvily

Rubel Melemah Gila-gilaan, Ekonomi Rusia Berkontraksi

MOSCOW – Industri manufaktur Rusia mengalami kontraksi selama enam bulan berturut-turut karena terus melemahnya rubel dan mendorong inflasi. Pelemahan terjadi karena ketegangan internasional atas kekerasan di Ukraina semakin mengancam perekonomian dari sanksi oleh Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Manufacturing Purchasing Managers Indeks (PMI) Rusia naik menjadi 48,5 pada April dari 48,3 bulan sebelumnya, dengan komponen utama, termasuk output barang pesanan baru dan lapangan kerja menurun. HSBC Holdings Plc mengatakan dalam sebuah pernyataan, angka itu lebih tinggi dari estimasi median 48.

rusia2“Kabar buruk dari survei PMI Manufacturing April yang dilakukan HSBC, adalah bukti bahwa kontraksi output dan memburuknya kondisi ekonomi. Kabar baiknya adalah tren downside tidak dipercepat,” kata ekonom HSBC, Alexander Morozov, seperti dilansir Bloomberg, Rabu (7/5/2014).

Kebuntuan antara Rusia dengan Amerika Serikat serta Uni Eropa atas krisis di Ukraina, telah memicu aksi jual rubel dan pelarian modal asing, yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Rusia menjadi lebih lambat.

International Moneter Fund (IMF) mengatakan, negara dengan Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) sebesar USD2 triliun ini menunjukkan tanda-tanda resesi teknis, setelah ekonominya melambat selama dua kuartal berturut-turut. Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Rusia tahun ini bisa turun di bawah 0,5 persen atau bahkan berhenti.

Hari ini, Rubel menguat 0,1 persen menjadi 35,8250 per USD, setelah melemah sekitar 8,2 persen terhadap dolar AS tahun ini, kinerja terburuk kedua setelah peso Argentina di antara 24 mata uang pasar berkembang. Benchmark Micex Indeks saham 50 turun 1,1 persen, memperpanjang penurunan tahun ini menjadi 14 persen.

HSCBC mencatat, inflasi di Rusia pada April mencapai tingkat tertinggi dalam tiga tahun terakhir dan tekanan tajam pada inflasi, sangat terkait dengan melemahnya nilai tukar rubel. Harga-harga konsumen akan naik 7,3 persen pada April.

“Kami prihatin, karena manufaktur Rusia tampaknya mulai terbiasa menghadapi lingkungan yang berisiko, dan ini menjadi kebiasaan baru,” kata Morozov

CEO Perusahaan AS Dilarang Hadiri Forum Ekonomi di Rusia

Kekesalan Amerika Serikat ke Rusia semakin memuncak. Bahkan Gedung Putih melarang para CEO perusahaan asal AS hadiri The St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF)  yang bakal digelar pada 22 Mei mendatang.

Dilansir dari CNN, Senin (4/5/2014), dibuka langsung oleh Presiden Vladimir Putin di St Petersburg -bekas ibukota kekaisaran Rusia- biasanya acara tahunan ini menjadi ajang penting bagi 100 CEO global untuk membangun relasi dengan para pejabat Rusia.

The St Petersburg International Economic Forum, yang berlangsung selama tiga hari, diramalkan bakal lebih sepi jika dibandingkan dengan Forum Ekonomi Dunia di Davos yang digelar pada Januari silam.

AS telah memberlakukan sanksi terhadap puluhan pejabat Rusia atas krisis yang terjadi di Ukraina, termasuk beberapa anggota lingkaran dalam Putin.

Negeri Paman Sam itu juga bakal memberi sanksi kepada 18 perusahaan Rusia, dan memperingatkan tindakan lebih keras yang ditujukan untuk sektor-sektor penting ekonomi Rusia jika Rusia tak mengurangi kekerasan separatis di timur Ukraina .

Juru bicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan, pemerintahan AS dalam percakapan dengan perusahaan-perusahaan Amerika, mengingatkan kepada para CEO perusahaan bahwa perjalanan ke St Petersburg merupakan hal yang tidak pantas untuk dilakukan.

Senada dengan Carney, juru bicara Dewan Keamanan Nasional, Laura Lucas Magnuson mengatakan,  kehadiran para CEO di forum tersebut memberi pesan yang tidak pantas, mengingat perilaku Rusia ke Ukraina.

Tidak seperti tahun lalu, CEO General Electric, Jeff Immelt menyatakan tidak akan menghadiri forum tersebut. Seorang juru bicara mengatakan hal ini karena Immelt harus memberikan sebuah pidato di Florida pada awal pekan itu .

CEO Citigroup Michael Corbat, yang juga pergi tahun lalu, membatalkan rencananya untuk pergi. “Sementara CEO kami tidak dapat menghadiri SPIEF tahun ini , Citi akan memiliki beberapa perwakilan di forum tersebut, ” kata juru bicara Citigroup Mark Costiglio.

Demikian pula, CEO Alcoa Klaus Kleinfeld juga telah membatalkan rencana untuk menghadiri forum tahunan tersebut, tetapi perusahaan akan tetap berpartisipasi.

“Mengingat kebutuhan pemerintah AS, Alcoa telah menyesuaikan kehadirannya di St Petersburg International Forum dan akan berpartisipasi melalui eksekutif paling senior di Rusia ,” kata juru bicara Alcoa Monica Orbe.

Menurut daftar peserta di situs forum SPIEF, CEO Goldman Sachs dan Morgan Stanley masih berencana untuk pergi. Manajemen kedua bank itu menolak memberikan komentar. Tapi sumber menyebutkan CEO Goldman Sachs tidak mungkin hadir

“Kami menyesalkan penolakan oleh para CEO dari beberapa perusahaan Amerika untuk berpartisipasi. Tekanan ini belum pernah terjadi sebelumnya, kini pemerintah AS sedang mengerahkan (serangan) pada bisnis, ” kata Wakil Menteri Pembangunan Ekonomi Sergey Belyakov, yang juga salah satu penyelenggara forum ini .

Caterpillar dan Boston Consulting Group mengatakan CEO mereka akan pergi tetapi perusahaan sedang memantau situasi dengan seksama.

Beberapa CEO perusahaan AS mungkin mengurungkan niatnya untuk hadir dalam acara tersebut, tetapi para petinggi perusahaan Eropa belum siap untuk melewatkan forum ekonomi di pasar yang penting bagi pertumbuhan ekspor mereka.

Putin

CEO perusahaan energi Jerman E.ON dijadwalkan hadir, begitupun petinggi perusahaan Prancis Alstom ( ALSMY ) dan perusahaan elektronik Belanda Philips juga bakal datang ke forum tersebut.

“Dialog dengan para stakeholder dan konsumen di seluruh dunia sangat penting. Disamping itu, Philips telah aktif di pasar Rusia sejak akhir abad ke-19, ” kata juru bicara Philips Eeva Raaijmakers.

Perusahaan bir asal Denmark Carlsberg berencana mengirim CEO-nya, ungkap juru bicara perusahaan saat dikonfirmasi .

– See more at: http://bisnis.liputan6.com/read/2045393/ceo-perusahaan-as-dilarang-hadiri-forum-ekonomi-di-rusia#sthash.av4NtlPv.dpuf

Bukti Ekonomi Rusia Mengalami Resesi!

MOSCOW – International Monetary Fund (IMF) menyatakan jika ekonomi Rusia sudah memasuki tahap resesi. Di mana sebelumnya negara pecahan Uni Soviet ini dikenakan sanksi embargo.rusia

Ekonomi Rusia mengalami penurunan 0,5 persen pada kuartal pertama tahun ini. Tren pelemahan ekonomi ini juga berlanjut ke depannya.

Demikian disampaikan Pimpinan IMF untu Rusia, Antonio Spilimbergo seperti dilansir dari AP, Jumat (2/5/2015).

“Jika Anda mendefinisikan resesi terjadi jika ekonomi sebuah negara melemah selama dua kuartal, berarti Rusia sudah masuk ke dalam resesi sekarang ini,” kata dia.

Rusia juga telah mengalami pelemahan ekonomi sejak tahun 2013. Tahun lalu, ekonomi negara ini cuma naik 1,3 persen. Ini adalah performa terburuk Rusia dalam 13 tahun terakhir.

Investor juga terus memperhatikan sanksi dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa atas Rusia atas kebijakannya atas Ukraina. Di mana Rusia telah mengambilalih Crimea dari Ukraina.

Akibatnya, investor sudah membawa keluar modalnya (capital outflow) senilai USD60 miliar dari Rusia pada kuartal I. IMF memperkirakan modal keluar dari Rusia sepanjang tahun ini bisa mencapai USD100 miliar.

Lembaga pemeringkat S&P juga telah memangkas peringkat utang Rusia untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir

Ancaman Sanksi ke Rusia Lambungkan Saham Walstreet

Saham-saham di Wall Street sebagian besar berakhir lebih tinggi pada Selasa (29/4) pagi WIB, karena investor meresapi sanksi baru terhadap Rusia dan menunggu pekan yang sibuk dengan berita ekonomi dan laporan laba perusahaan.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 87,28 poin (0,53 persen) menjadi ditutup pada 16.448,74.

Indeks berbasis luas S&P 500 bertambah 6,03 poin (0,32 persen) menjadi berakhir pada 1.869,43, sedangkan indeks komposit teknologi Nasdaq merosot 1,16 poin (0,03 persen) menjadi ditutup pada 4.074,40.

Para analis mengatakan volume perdagangan yang ringan memulai minggu yang mencakup sebuah pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve pada Rabu (30/1) dan laporan pekerjaan bulanan pada Jumat (2/5).

Saham-saham sebagian besar pulih dari pingsan pada pertengahan sore hari, tetapi investor masih berhati-hati setelah AS dan Eropa menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia yang gagal menghentikan meningkatnya ketegangan di Ukraina.

“Beberapa berita ekonomi tidak buruk, tetapi ada banyak kekhawatiran,” kata Mace Blicksilver, direktur Marblehead Asset Management.

2

Selain Rusia, Blicksilver mengutip berlanjutnya pelemahan pada banyak saham teknologi terkemuka serta pengumuman Bank of America (BofA) yang menangguhkan pembayaran dividen dan program pembelian kembali sahamnya setelah menemukan kesalahan dalam menghitung kekuatan modal.

BofA merosot 6,3 persen setelah Federal Reserve memerintahkan penghentian rencananya untuk meningkatkan dividen dan pembelian kembali sahamnya. BofA mengatakan akan mengirimkan kembali data modalnya dan diharapkan mereka bisa memotong distribusinya.

Investor bereaksi antusias terhadap pengumuman Pfizer yang berharap untuk memperoleh raksasa obat AstraZeneca Inggris senilai sekitar 100 miliar dolar AS. AstraZeneca sejauh ini menolak kesepakatan, yang akan menggabungkan dua perusahaan obat itu dan memangkas tarif pajak Pfizer.

Anggota Dow Pfizer naik 4,2 persen sementara saham AstraZeneca yang diperdagangkan di pasar AS melesat 12,2 persen lebih tinggi.

General Electric naik 0,7 persen karena kepala eksekutif Jeffrey Immelt bertemu dengan Presiden Prancis Francois Hollande untuk mencoba mendapat persetujuan potensi kesepakatan untuk membeli bisnis energi Alstom. Pemerintah Prancis juga telah menyatakan keprihatinannya tentang kehilangan pekerjaan dan pengaruh perusahaan jika terjadi transaksi.

Beberapa saham teknologi trendi mengalami penurunan, termasuk Amazon jatuh 2,4 persen, Facebook merosot 2,7 persen dan Netflix melemah 2,4 persen.

Namun Apple naik 3,9 persen, bersama dengan komponen Dow Microsoft yang bertambah 2,4 persen serta IBM dan Procter & Gamble keduanya naik 1,9 persen.

Harga obligasi bervariasi. Imbal hasil pada obligasi 10-tahun pemerintah AS naik menjadi 2,68 persen dari 2,67 persen pada Jumat, sementara pada obligasi 30-tahun tetap stabil di 3,46 persen. Harga dan imbal hasil obligasi bergerak terbalik

Rusia Potong Modal Syarat Demi Menarik Broker-Broker Forex

Peristiwa-peristiwa yang cukup krusial belakangan ini kerap datang dari Rusia. Sebut saja, setelah menerbitkan peraturan pajak bagi broker-broker lokalnya yang berekspansi di luar negeri, kali ini Bank Sentral Rusia menerbitkan peraturan baru yang masih terkait dengan broker forex: instruksi pemotongan modal syarat.

Rusia
Seperti yang jamak diketahui, setiap broker yang ingin mendirikan perusahaan di suatu negara harus menyediakan sejumlah deposit untuk keperluan penarikan tunai yang akan dilakukan oleh nasabahnya serta untuk keperluan lisensi resmi. Dalam instruksi yang diterbitkan tersebut, disebutkan bahwa “Kepemilikan dana oleh partisipan-partisipan profesional di pasar sekuritas dan manajemen perusahaan-perusahaan dana investasi seperti dana investasi mutual dan dana pensiun swasta” belum berlaku jika belum mendapatkan persetujuan di atas kertas dari bank sentral.

Selama ini, Rusia telah menerapkan persyaratan modal cukup tinggi, yaitu sebesar 35 Juta Rubel atau setara dengan 1 Juta Dolar AS. Dan peraturan baru ini menerapkan “diskon” untuk modal syarat sebesar 71.43%. Sehingga, jumlah modal syarat setelah pemotongan menjadi tinggal $280,000. Tentu saja, jumlah tersebut sangat menarik jika dibandingkan dengan modal syarat yang diterapkan oleh negara-negara lain. Siprus saja mengharuskan broker untuk deposit dana sebesar $1 juta, sedangkan AS lebih besar lagi, $20 juta.

Akan tetapi, sesuatu yang murah pada umumnya akan dibebankan pada biaya yang lain. Nah, pemerintah Rusia menganut paham tersebut. Setiap broker di Rusia harus teregistrasi dengan self-regulatory organization atau yang dikenal dengan SRO. Dan untuk mendaftar dan menjadi anggota SRO ini, sebuah broker yang ingin terlisensi resmi harus membayar iuran sebesar 7.2 juta Rubel per tahun. Bank sentral juga telah menyusun serangkaian persyaratan lain terkait hal ini, namun masih belum terlalu mendetail.

Ada dua broker di Rusia yang tercatat telah memenuhi persyaratan: Alpari dan Forex Club. Selain itu, tercatat sepuluh broker lainnya masih antri untuk kepengurusan lisensi ini. Kita tunggu saja kapan instruksi ini akan disahkan menjadi undang-undang. Jadwalnya adalah tanggal 23 April 2014, namun mungkin juga bisa diundur.