Rubel Melemah Gila-gilaan, Ekonomi Rusia Berkontraksi

MOSCOW – Industri manufaktur Rusia mengalami kontraksi selama enam bulan berturut-turut karena terus melemahnya rubel dan mendorong inflasi. Pelemahan terjadi karena ketegangan internasional atas kekerasan di Ukraina semakin mengancam perekonomian dari sanksi oleh Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Manufacturing Purchasing Managers Indeks (PMI) Rusia naik menjadi 48,5 pada April dari 48,3 bulan sebelumnya, dengan komponen utama, termasuk output barang pesanan baru dan lapangan kerja menurun. HSBC Holdings Plc mengatakan dalam sebuah pernyataan, angka itu lebih tinggi dari estimasi median 48.

rusia2“Kabar buruk dari survei PMI Manufacturing April yang dilakukan HSBC, adalah bukti bahwa kontraksi output dan memburuknya kondisi ekonomi. Kabar baiknya adalah tren downside tidak dipercepat,” kata ekonom HSBC, Alexander Morozov, seperti dilansir Bloomberg, Rabu (7/5/2014).

Kebuntuan antara Rusia dengan Amerika Serikat serta Uni Eropa atas krisis di Ukraina, telah memicu aksi jual rubel dan pelarian modal asing, yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Rusia menjadi lebih lambat.

International Moneter Fund (IMF) mengatakan, negara dengan Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) sebesar USD2 triliun ini menunjukkan tanda-tanda resesi teknis, setelah ekonominya melambat selama dua kuartal berturut-turut. Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Rusia tahun ini bisa turun di bawah 0,5 persen atau bahkan berhenti.

Hari ini, Rubel menguat 0,1 persen menjadi 35,8250 per USD, setelah melemah sekitar 8,2 persen terhadap dolar AS tahun ini, kinerja terburuk kedua setelah peso Argentina di antara 24 mata uang pasar berkembang. Benchmark Micex Indeks saham 50 turun 1,1 persen, memperpanjang penurunan tahun ini menjadi 14 persen.

HSCBC mencatat, inflasi di Rusia pada April mencapai tingkat tertinggi dalam tiga tahun terakhir dan tekanan tajam pada inflasi, sangat terkait dengan melemahnya nilai tukar rubel. Harga-harga konsumen akan naik 7,3 persen pada April.

“Kami prihatin, karena manufaktur Rusia tampaknya mulai terbiasa menghadapi lingkungan yang berisiko, dan ini menjadi kebiasaan baru,” kata Morozov