Permendag No.70 tahun 2013 Picu Keresahan Para Pengusaha Bisnis Ritel

Analisa Trading – Baru-baru ini telah keluar Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.70 tahun 2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern. Keluarnya peraturan ini cukup membuat resah para pebisnis ritel di Indonesia.

Salah sat pasal yang cukup disoroti adalah pasal 22 yang mengatur ketentuan bahwa pusat perbelanjaan dan toko modern wajib menyediakan barang dagangan produksi dalam negeri paling sedikit 80 persen dari jumlah dan jenis barang yang diperdagangkan.

Dengan munculnya peraturan ini maka dikhawatirkan produk impor yang selama ini cukup laku di pasar ritel akan tertutup sehingga akan merugikan para pengusaha dalam jangka waktu dekat pasca diberlakukannya peraturan terbaru ini. Harus diakui bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa ada konsumen yang membutuhkan barang yang tidak bisa diproduksi di Indonesia.

Dengan ketentuan 80 persen produk dalam negeri harus mendominasi pusat perbelanjaan, secara tidak langsung telah dilakukan pembatasan terhadap dagangan impor, yang artinya hanya memiliki porsi 20 persen di pasar ritel Indonesia.

Menurut beberapa pengusaha, keberatan mereka terhadap dikeluarkannya peraturan ini bukan karena mereka tidak mencintai produk Indonesia, tapi soal apakah industry dalam negeri sudah mampu atau belum dalam memenuhi kebutuhan masyarakat luas. Jika memang belum mampu dan dipaksakan justru akan memperburuk iklim bisnis di pasar ritel Indonesia yang cukup maju ini.

Dari sisi ekonomi, pembatasan impor yang tidak disesuaikan terlebih dahulu dengan melihat kondisi pasar justru dapat mengakibatkan lonjakan harga, sebagai dampak dari tingginya permintaan pasar namun sedikitnya barang yang ditawarkan. Dalam jangka pendek tentu hal ini berpotensi menimbulkan inflasi.

Jikapun memang ingin dilakukan pembatasan kuota impor maka sebaiknya dilakukan bertahap agar tidak menimbulkan shock pada pasar. Hal ini perlu diantisipasi pemerintah dan kementrian terkait misalnya dengan mengkaji ulang peraturan ini, agar nantinya tidak merugikan banyak pihak.

Beralih ke pasar modal, beberapa saham yang bergerak di bisnis peritel seperti Ace Hardware (ACES), Matahari Dept. Store (MPPA), Hero (HERO), dan Electronic City (ECII) pergerakan semua sahamnya masih relatif normal dan belum terpangaruh dengan sentimen negatif dari faktor eksternal. Namun memang dari semua saham tersebut, saham HERO hingga hari Rabu (20/8)  terlihat cukup anjlok namun penurunan ini sudah menjadi tren di pekan ini sehingga diprediksi bukan karena sentimen negatif rilisnya peraturan ini. (VN)

Penjualan Ritel di Inggris Alami Penurunan Pada Bulan Mei

Analisa Trading – Sebuah laporan resmi yang dirilis pada hari Kamis(19/6), menunjukkan bahwa penjualan ritel di wilayah AS telah mengalami penurunan dalam 4 bulan terakhir hingga bulan Mei 2014.

Biro Statistik Nasional Inggris telah mengatakan bahwa penjualan ritel di Inggris, yang temasuk dengan penjualan bahan bakar otomotif, telah turun sebesar 0.5% di bulan Mei. Sedangkan pada penjualan barang ritel khusus pangan di Inggris, terpantau turun sebesar 2.4% setelah mengalami lonjakan kenaikan selama libur Paskah.

Survei ekonom telah memperkirakan bahwa penjualan ritel di Inggris akan mengalami penurunan sebesar 0.5% di bulan Mei.

Paska dirilisnya data tersebut, pasangan EUR/GBP diperdagangkan di level 0.8013, GBP/USD diperdagangkan di level 1.7014, dan GBP/JPY diperdagangkan di level 173.13. (FC)

Penjualan Ritel Jepang Menurun Tajam, Effect Kenaikan Pajak Bersifat Sementara

Analisa Trading – Penjualan ritel di Jepang mengalami kontraksi 4,4 persen pada setahun di bulan April, demikian  Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri mengatakan pada hari Kamis (29/5). Penurunan ini merupakan penurunan tercepat yang pernah terjadi setelah peristiwa gempa bumi dna tsunami pada Maret 2011.

jepang2

Hal ini sebenarnya jauh dari perkiraan yaitu 3,3 persen setelah lonjakan 11,0 persen pada bulan sebelumnya yang terjadi sebagai response para konsumen atas diberlakukannya kenaikan pajak penjualan pada awal April. Setelah kenaikan pajak penjualan maka penjualan ritel pun turun dengan tajam.

Penjualan dari pengecer besar turun 6,8 persen pada setahun ke ¥ 1,467 triliun – melampaui ekspektasi sebelumnya di 7,1 persen menyusul lonjakan 16,1 persen bulan sebelumnya.

Penjualan komersial turun 3,9 persen pada setahun ke ¥ 36,821 triliun, setelah melompat 8,5 persen pada bulan sebelumnya.

Grosir penjualan merosot 3,7 persen setahun menjadi 25,810 triliun yen – turun tajam dari lompatan 7,5 persen pada bulan sebelumnya.

Pada basis bulanan, penjualan ritel anjlok 13,7 persen – sedangkan perkiraan sebelumnya adalah 11,7 persen setelah sebelumnya terjadi kenaikan 6,4 persen pada bulan Maret (prediksi awal 6,3 persen).

Namun demikian, pejabat bank sentral mengatakan bahwa dampak negatif dari kenaikan pajak akan bersifat sementara dan bahwa perekonomian akan terus berkembang. Ada beberapa tanda-tanda positif bulan ini yang menunjukkan bahwa ekonomi terbesar ketiga di dunia ini akan dapat mengatasi dampak kenaikan pajak. (VN)

WALL STREET TURUN KARENA LABA EMITEN RITEL LEMAH

New York – Wall Street berakhir turun pada Selasa (Rabu pagi WIB, 21/5/2014), karena sejumlah laba emiten ritel sebagian besar mengecewakan dan setelah seorang pejabat Federal Reserve AS mendukung kenaikan suku bunga acuan lebih cepat dari beberapa perkiraan.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 137,55 poin (0,83 persen) menjadi ditutup pada 16.374,55.

Indeks berbasis luas S& P 500 turun 12,25 poin (0,65 persen) menjadi berakhir pada 1.872,83, sedangkan indeks komposit teknologi Nasdaq kehilangan 28,92 poin (0,70 persen) menjadi 4.096,89.

Kerugian terjadi menyusul rentetan laporan laba dari para pengecer, yang sebagian besar mengecewakan. Di antara perusahaan yang jatuh terutama adalah Dick’s Sporting Goods turun 18,0 persen dan Urban Outfitters merosot 8,8 persen.

Art Hogan, kepala strategi pasar di Wunderlich Securities, juga mengutip komentar dari Charles Plosser, Presiden Federal Reserve Bank of Philadelphia, yang mengatakan kondisi bisnis bisa mendorong bank sentral untuk menaikkan suku “lebih awal daripada yang diperkirakan.” Hogan mengatakan Plosser dianggap sebagai anggota Fed yang “hawkish”, tetapi pernyataannya itu mendorong saham lebih rendah pada hari yang “kurang katalis”.

Anggota Dow Home Depot mengatakan cuaca dingin membatasi penjualan pada kuartal pertama sekalipun pihaknya menaikkan perkiraan laba setahun penuh. Saham komponen Dow ini naik 1,9 persen.

Staples anjlok 12,6 persen setelah setelah melaporkan laba kuartal pertamanya 18 sen per saham, tiga sen di bawah ekspektasi analis. Sebagian dari pelemahan ini disebabkan penutupan toko-toko di Amerika Utara selama 12 bulan terakhir yang membantu mendorong penjualan 2,8 persen lebih rendah dari tingkat tahun lalu.

Perusahaan TJX, yang memiliki jaringan ritel TJ Maxx, Marshall, dan lain-lain, turun 7,6 persen karena laba dan pendapatan kuartal pertamanya meleset dari ekspektasi akibat kurs valuta asing yang tidak menguntungkan dan penjualan mengecewakan.

General Motors mengumumkan penarikan 2,4 juta lebih kendaraan di AS, karena raksasa produsen mobil itu terus berupaya mengatasi masalah keamanan di tengah skandal penarikan akibat kerusakan sistem pengapian.

Penarikan terbaru akan melipatgandakan biaya tambahan perusahaan menjadi 400 juta dolar AS, sebuah rekor untuk biaya penarikan. Saham GM merosot 3,5 persen.

Komponen Dow, Caterpillar, melaporkan bahwa penjualan mesin pada April anjlok 13 persen. Bank of America Merrill Lynch menilai statistik itu sebagai “mengecewakan tetapi tidak sepenuhnya mengejutkan” mengingat pelemahan dalam sektor pertambangan. Saham Caterpillar turun 3,6 persen.

Harga obligasi bervariasi. Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS berjangka 10-tahun turun menjadi 2,51 persen dari 2,54 persen pada Senin, sementara pada obligasi 30-tahun tetap stabil di 3,38 persen. Harga dan imbal hasil obligasi bergerak terbalik