PT Garuda Indonesia Siap Bayar Utang 320 Juta Dollar AS

Analisa Trading-PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) berencana melakukan pembayaran utang senilai total US$320 juta hingga akhir tahun ini.

Direktur Keuangan Garuda menjelaskan pada kuartal I/2014 lalu perseroan telah melakukan pembayaran utang sebesar US$210 juta.

Berarti, tinggal sekitar US$110 juta lagi yang akan dibayar hingga akhir tahun. Itu dibayar rutin setiap bulan.

Pembayaran berasal dari kombinasi antara dana internal dengan pinjaman dari sejumlah perbankan. Selain itu, Garuda juga baru memperoleh dana rights issue sebesar Rp1,48 triliun beberapa waktu lalu.

Pekan lalu, Garuda memperoleh kredit dari Indonesia Eximbank senilai Rp500 miliar. Sebelum itu, Garuda juga meraih pinjaman senilai US$100 juta dari PT Bank Internasional Indonesia Tbk. (BNII) pada 21 Maret 2014, dengan tingkat suku bunga LIBOR 3 bulan + 4% dengan jangka waktu 36 bulan.

Selain itu, Garuda menandatangani perjanjian ketentuan umum (common terms agreement) dan perjanjian fasilitas (facility agreement) dengan total komitmen US$200 juta pada 15 April 2014, yang diperuntukkan memenuhi kebutuhan umum.

Common terms dibuat antara Garuda sebagai debitur dengan Standard Chartered Bank Singapore Branch dan Emirates NBD Capital sebagai joint arranger dan bookrunner, Standard Chartered Bank (Hong Kong) Limited sebagai intercreditor dan facility agent, serta Standard Chartered Bank sebagai security agent.

Pendanaan tahun ini udah clear. Semua kebutuhan, terutama belanja modal, sudah terpenuhi. Belum ada rencana aksi korporasi lain. (FR)

Berencana Jual Citilink, Saham Garuda Masih Belum Bergerak

Analisa Trading-Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., (GIAA) Emirsyah Satar, menyampaikan bahwa perseroan berencana melepas 40 persen saham yang ada di maskapai berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC) Citilink. Beliau juga menyampaikan bahwa saat ini ada dua investor airlines yang kredibel yang sudah meminati pembelian saham Garuda Indonesia di Citilink.

Pasalnya, keberadaan Citilink saat ini hanya membebani keuangan Garuda. Seperti kita ketahui bahwa selama ini Citilink terus merugi. Ditambah lagi kondisi keuangan Garuda sendiri tidak terlalu bagus sata ini. Pada kuartal I 2014, Garuda telah mencatatkan kerugian sebesar US$ 163,9 juta atau setara Rp 1,89 triliun. Kerugian perseroan meningkat dari sebelumnya, US$ 33,7 juta, pada kuartal I 2013.

Melihat kondisi tersebut, manajemen Garuda sebagai induk usaha memang harus memikirkan strategi baru guna mendongkrak kinerja keuangan konsolidasi agar menghasilkan return yang maksimal. Belum dapat dipastikan apakah ini merupakan langkah yang baik bagi kedua entitas perusahaan tersebut dengan melihat iklim bisnis dalam negeri yang belum stabil.

Dari lantai bursa hari ini (7/5), terlihat bahwa GIAA dibuka tidak bergerak dari posisi penutupannya yaitu sebesar 460 poin, hingga saat ini terlihat saham GIAA berada di zona negatif dengan jumlah transaksi saham tercatat lebih dari 1.100 lot saham.

Secara teknikal, terlihat bahwa indikator MA 5 masih berada dibawah BB tengah dengan pola mendatar. Indikator lain seperti ADX, juga menunjukkan bahwa garis -DI diatas+DI juga dengan pola melebar, sedangkan RSI masih flat pada level 49%. Level resistence berada pada 474,4  dan level suport pada 451,3 poin. (VN)