PERTUMBUHAN SEKTOR JASA AS MELOMPAT PADA JULI

Washington – Kegiatan di sektor jasa Amerika Serikat, penggerak ekonomi terbesar dunia, naik lebih dari yang diperkirakan pada Juli, data menunjukkan pada Selasa (5/8/2014).

Lembaga riset Institute for Supply Management (ISM) mengatakan indeks pembelian manajer (PMI) non-manufaktur naik menjadi 58,7 pada bulan lalu.

Itu merupakan peningkatan 2,7 persentase poin dibandingkan dengan Juni, sementara analis telah memproyeksikan kenaikan hanya 0,5 poin.

Indeks ini mengukur aktivitas di 17 industri, termasuk konstruksi, real estat, perdagangan ritel, jasa akomodasi dan makanan, serta manajemen perusahaan-perusahaan. Satu-satunya sektor yang mengalami kontraksi pada Juli adalah utilitas.

“Komentar-komentar para responden menunjukkan bahwa stabilisasi dan/atau peningkatan kondisi-kondisi pasar telah secara positif mempengaruhi sebagian besar industri dan bisnis masing-masing,” kata ISM.

Angka di atas 50 menunjukkan pertumbuhan, sementara angka di bawah tingkat itu sinyal kontraksi.

Laporan Juli menandai bulan ke-54 berturut-turut laporan ISM menunjukkan ekspansi.

Laporan menunjukkan pertumbuhan dalam aktivitas bisnis, pesanan baru dan pekerjaan. Namun, indeks harga turun 0,3 poin dari tingkat Juni menjadi 60,9.

Jim O’Sullivan, kepala ekonom High Frequency Economics, menandai laporan sebagai “lebih kuat dari yang diharapkan, menambah daftar data yang menunjukkan kenaikan bersih pada tren pertumbuhan tahun ini.

PMI MANUFAKTUR ZONA EURO MELAMBAT DI BULAN JUNI

Analisa Trading  – Sebuah data resmi yang dirilis pada hari Selasa(01/07) menunjukan bahwa PMI manufaktur zona euro telah alami penurunan di bulan Juni.

Menurut data yang telah dikumpulkan oleh Markit, PMI Manufaktur zona euro telah turun menjadi 51.8, dari 51.9 di bulan sebelumnya.

Analis telah memperkirakan PMI manufaktur Zona Euro untuk tetap stabil di 51.9.

Paska dirilisnya data tersebut, EURUSD diperdagangkan melemah 0.02% di level 1.3691. (FC)

DOLAR AUSSIE TERPANTAU MELEMAH MENJELANG DATA EKONOMI

Pada perdagangan valuta asing di hari Senin(02/06) dolar Aussie terpantau lebih rendah di sesi pagi Asia, meskipun data manufaktur dari Tiongkok mendukung permintaan dolar Aussie.

Di wilayah Australia, Manufaktur AIG akan untuk bulan Mei akan dirilis pada hari ini pukul 06.30 waktu Jakarta, dan berada di 44.8 di bulan April, dan diikuti oleh data persetujuan bangunan yang akan dirilis pada pukul 08.30 waktu Jakarta.

Selama berlangsungnya perdagangan, AUDUSD diperdagangkan melemah 0.04% di level 0.9306, menjelang data.

Belanja modal di Jepang juga diperkirakan  akan naik 5.7%,  Belanja modal Jepang akan dirilis pada pukul 06.50.

Menjelang data, USDJPY diperdagangkan menguat 0.06% di level 101.83.

Pada akhir pekan, Federasi Logistik dan Pembelian mengatakan bahwa PMI untuk bulan Mei naik ke  level tertinggi lima bulan menjadi 50.8 , mengalahkan ekspektasi kenaikan 50,6 dari 50,4 pada bulan April .

Pekan lalu , dolar bergerak melemah terhadap euro , tapi keuntungan masih tertahan terhadap mata uang tunggal di tengah harapan luas untuk pelonggaran moneter oleh Bank Sentral Eropa pada pertemuan kebijakan mendatang .

Data pada hari Jumat menunjukkan bahwa inflasi tahunan di Italia dan Spanyol melambat pada Mei menggarisbawahi harapan bahwa ECB akan mengambil langkah-langkah untuk mengatasi pertumbuhan harga konsumen yang rendah , yang mengancam pemulihan yang rapuh di zona euro .

Dolar melemah pada hari Jumat setelah data menunjukkan bahwa belanja konsumen AS turun 0,1 % pada bulan April dari bulan sebelumnya.

Secara terpisah , pembacaan akhir dari sentimen konsumen untuk bulan Mei berada di 81.9 , naik sedikit dari pembacaan awal 81.8.

Pekan ini, investor fokus menunggu data US nonfarm payrolls hari Jumat untuk bulan Mei yang akan mengindikasi lebih lanjut tentang kekuatan pasar tenaga kerja , sementara laporan inflasi zona euro Selasa juga akan menjadi fokus , menjelang pertemuan kebijakan ECB dan konferensi pers Kamis.

Tanda Pemulihan Perekonomian Mulai Terlihat, Iklim Investasi Jepang Dinilai Positif

pemerintah Jepang menyatakan bahwa saat ini perekonomian Jepang terutama dari sisi investasi sedang mengalami peningkatan. Perekonomian Jepang saat ini sedang berada pada tren pemulihan yang moderat, sementara beberapa indikator ekonomi yang terlihat melemah di kuartal pertama lalu merupakan reaksi atas tingginya permintaan sebelum sebelum kenaikan pajak konsumsi diberlakukan.

Bisnis investasi di Jepang saat ini memang tercatat meningkat, namun tetap output yang diperoleh lebih rendah dari bisnis di sektor industri. The Bank of Japan (BOJ) pada pekan ini meningkatkan penilaiannya terhadap segi belanja modal sebagai efek dari keuntungan perusahaan yang meningkat.

Pada indikator ekonomi lainnya, PMI Manufaktur Jepang untuk bulan Mei ini menunjukkan level tertingginya dalam 2 bulan terakhir yaitu pada 49,9, setelah sebelumnya pada April lalu tercatat pada 49,4.

Hal ini juga menunjukkan suatu indikasi positif atas perekonomian Jepang dimana sektor manufaktur mulai menunjukkan kestabilannya setelah terjadi penurunan tajam pada April lalu.

Meskipun memang tidak dapat dipastikan dengan tepat kapan perekonomian Jepang akan kembali pulih dan stabil. Namun optimisme pasar hingga saat ini masih memberikan aura positif terhadap pemulihan ekonomi negara tersebut, salah satunya adalah dengan rilis data beberapa indikator ekonomi Jepang yang berhasil menunjukkan hasil positif ditengah kontraksi ekonomi.

Rubel Melemah Gila-gilaan, Ekonomi Rusia Berkontraksi

MOSCOW – Industri manufaktur Rusia mengalami kontraksi selama enam bulan berturut-turut karena terus melemahnya rubel dan mendorong inflasi. Pelemahan terjadi karena ketegangan internasional atas kekerasan di Ukraina semakin mengancam perekonomian dari sanksi oleh Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Manufacturing Purchasing Managers Indeks (PMI) Rusia naik menjadi 48,5 pada April dari 48,3 bulan sebelumnya, dengan komponen utama, termasuk output barang pesanan baru dan lapangan kerja menurun. HSBC Holdings Plc mengatakan dalam sebuah pernyataan, angka itu lebih tinggi dari estimasi median 48.

rusia2“Kabar buruk dari survei PMI Manufacturing April yang dilakukan HSBC, adalah bukti bahwa kontraksi output dan memburuknya kondisi ekonomi. Kabar baiknya adalah tren downside tidak dipercepat,” kata ekonom HSBC, Alexander Morozov, seperti dilansir Bloomberg, Rabu (7/5/2014).

Kebuntuan antara Rusia dengan Amerika Serikat serta Uni Eropa atas krisis di Ukraina, telah memicu aksi jual rubel dan pelarian modal asing, yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Rusia menjadi lebih lambat.

International Moneter Fund (IMF) mengatakan, negara dengan Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) sebesar USD2 triliun ini menunjukkan tanda-tanda resesi teknis, setelah ekonominya melambat selama dua kuartal berturut-turut. Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Rusia tahun ini bisa turun di bawah 0,5 persen atau bahkan berhenti.

Hari ini, Rubel menguat 0,1 persen menjadi 35,8250 per USD, setelah melemah sekitar 8,2 persen terhadap dolar AS tahun ini, kinerja terburuk kedua setelah peso Argentina di antara 24 mata uang pasar berkembang. Benchmark Micex Indeks saham 50 turun 1,1 persen, memperpanjang penurunan tahun ini menjadi 14 persen.

HSCBC mencatat, inflasi di Rusia pada April mencapai tingkat tertinggi dalam tiga tahun terakhir dan tekanan tajam pada inflasi, sangat terkait dengan melemahnya nilai tukar rubel. Harga-harga konsumen akan naik 7,3 persen pada April.

“Kami prihatin, karena manufaktur Rusia tampaknya mulai terbiasa menghadapi lingkungan yang berisiko, dan ini menjadi kebiasaan baru,” kata Morozov

DOLAR NAIK TIPIS JELANG LAPORAN KETENAGAKERJAAN AS

New York – Kurs dolar AS pulih terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Kamis (Jumat pagi WIB, 2/5/2014), di tengah serangkaian data ekonomi AS bervariasi karena investor masih menunggu laporan ketenagakerjaan April.

Indeks pembelian manajer (PMI) AS untuk April tercatat 54,9, naik dari angka Maret 53,7, menunjukkan ekspansi di bidang manufaktur untuk 11-bulan berturut-turut, menurut Institute for Supply Management (ISM). Jumlah tersebut melampaui perkiraan parfa analis dan mendukung dolar.

Dalam laporan terpisah, jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran dalam pekan yang berakhir 26 April naik 14.000 ke disesuaikan secara musiman 344.000, tingkat tertinggi sejak Februari, Departemen Tenaga Kerja mengatakan sebelum bel pembukaan.

dolar 1

Sementara itu, pendapatan pribadi AS meningkat 0,5 persen pada Maret, kenaikan terkuat sejak Agustus lalu. Sementara pengeluaran konsumsi pribadi naik 0,9 persen, laju tercepat dalam lebih dari empat setengah tahun, menurut Departemen Perdagangan.

Pound Inggris naik mendekati tertinggi lima tahun terhadap dolar, terus didorong oleh data pertumbuhan kuat dari Inggris untuk kuartal pertama.

Pada sesi sebelumnya, dolar AS melemah setelah data menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih lambat pada kuartal pertama.

PDB riil meningkat pada tingkat tahunan sebesar 0,1 persen pada kuartal pertama, laju paling lambat sejak kuartal keempat 2012, sesuai dengan perkiraan “pendahuluan” yang dirilis oleh Departemen Perdagangan.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,3865 dolar dari 1,3872 dolar pada sesi sebelumnya dan pound Inggris naik menjadi 1,6895 dolar dari 1,6887 dolar. Dolar Australia merosot menjadi 0,9272 dolar dari 0,9296 dolar.Para pembuat kebijakan Federal Reserve mengatakan pada Rabu bahwa mereka akan menjaga tingkat suku bunga ultra-rendah untuk “waktu yang cukup” ketika program pembelian obligasi berakhir. Setelah pertemuan kebijakan moneter dua hari, The Fed mengurangi pembelian obligasi bulanan lagi 10 miliar dolar AS menjadi 45 miliar dolar AS.

Dolar dibeli 102,30 yen Jepang, lebih tinggi dari 102,11 yen pada sesi sebelumnya. Greenback bergerak turun menjadi 0,8792 franc Swiss dari 0,8799 franc Swiss dan naik menjadi 1,0967 dolar Kanada dari 1,0947 dolar Kanada pada sesi sebelumnya.

Volatilitas Kembali, Berikut 5 Risiko Yang Perlu Diamati

Volatilitas pasar minggu ini diprediksi naik seiring dengan banyaknya rilis berita dari berbagai penjuru dunia. Akhir minggu lalu, konflik di Ukraina kembali menjadi perhatian karena minimnya berita fundamental dan rendahnya fluktuasi harga di pasar. Minggu ini, isu tersebut bisa jadi sedikit dikesampingkan pasar berhubung banyak publikasi data yang bisa jadi lebih relevan dan berdampak signifikan di pasar global.

Berikut ini merupakan lima titik pusat risiko yang secara fundamental diperkirakan akan mempengaruhi pergerakan harga minggu ini:

1. Aksi Bersenjata Separatis Pro-Rusia Di Ukraina

Pamor safe haven kembali mencuat setelah pejabat Amerika Serikat dan Eropa kembali terpancing untuk mengkritisi Rusia mengenai konflik di Ukraina. Rusia dianggap telah nyata melanggar perjanjian yang dibuat di Jenewa minggu lalu, dan sanksi baru atas Rusia sedang dipersiapkan. Sekelompok pengamat militer Eropa telah disandera oleh kelompok separatis bersenjata, dan selusin kantor penting diambil alih.

Masalah utama dalam konflik Ukraina, selain ambisi Rusia, adalah keengganan Amerika Serikat dan Eropa untuk mengambil tindakan tegas. Banyak yang berspekulasi bahwa mereka mengkhawatirkan efek samping sanksi ekonomi terhadap Rusia terhadap wilayah mereka sendiri dalam konteks perdagangan internasional. Namun, kondisi saat ini berada pada titik dimana pihak-pihak yang berkepentingan harus memutuskan di posisi mana mereka akan berdiri. Barat diharapkan tidak menutup mata atas aksi separatis pro-Rusia di Ukraina seperti yang diinginkan oleh propaganda Rusia. Oleh karena itu, sanksi yang lebih tegas terhadap Rusia mungkin sudah didepan mata, dan inilah yang menjadikan pasar prihatin.

kurs2. Pencapaian Target Ekonomi Inggris

Tiga data berdampak tinggi dari Inggris yang akan dipublikasikan minggu ini adalah data preliminary GDP, indeks PMI Manufaktur, dan PMI sektor Konstruksi. Ketiga data ini akan memberi penerangan mengenai seberapa mungkin atau tidak mungkin target pertumbuhan ekonomi Inggris tercapai, serta mengukur sentimen iklim bisnis Inggris.

Saat ini, posisi GBP/USD berada di level tertinggi sejak pembukaan awal tahun. Namun, sebelumnya, kami telah memaparkan bahwa ada sejumlah kerapuhan dalam ekonomi Inggris yang bisa jadi menumbangkan kejayaan GBP. Dalam konteks ini, data GDP dan PMI tersebut penting dalam mengkonfirmasikan langkah bank sentral Inggris selanjutnya. Angka-angka yang menguat tentunya akan meningkatkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan dinaikkan .

3. Penurunan Inflasi Zona Euro

Kelesuan data inflasi Zona Euro bukan lagi hal baru. Awal bulan ini, bank sentral Eropa mengatakan bahwa pertumbuhan masih berjalan moderat dan angka inflasi pasca Paskah akan meningkat. Hari Selasa dan Rabu besok kita akan melihat bukti dari optimisme ini.

Konsensus analis mengestimasikan peningkatan tipis inflasi Jerman dari 1% ke 1,3%, dan inflasi zona Euro ke 0,7% dari 0,5%. Berhubung pasar masih menantikan ECB untuk serius menyikapi inflasi, maka pergerakan Euro yang tak menentu dan amat fluktuatif bisa jadi terus berlanjut.

4. Spekulasi Suku Bunga The Fed

Seperti biasa, event yang paling mengundang volatilitas adalah event terkait bank sentral Amerika Serikat dan kebijakannya. Minggu ini ada sederetan publikasi penting dari negeri paman Sam, termasuk pengumuman suku bunga dan pidato gubernur bank sentral Amerika, Janet Yellen.

Tidak banyak yang bisa dikatakan lagi mengenai spekulasi suku bunga The Fed. Yang perlu diperhatikan adalah jika Yellen kembali mengecilkan prospek kenaikan suku bunga di tahun 2015, maka reversal di sejumlah pair major mungkin terjadi.

5. Depresi Ekonomi China

Tak kalah kritisnya adalah indeks PMI Manufaktur China yang akan rilis hari Kamis, beberapa jam sebelum pidato Yellen di Amerika Serikat. Sejak tahun 2013, indeks PMI Manufaktur China berada diambang kontraksi pada kisaran 50 koma sekian. Kelemahan PMI yang signifikan bisa mempengaruhi pergerakan AUD dan NZD, karena ekspor Australia dan New Zealand diserap oleh industri di China.

Perlu dicatat bahwa beberapa hari yang lalu pemerintah China sudah menjanjikan untuk segera melancarkan stimulus dengan menjual obligasi untuk mendanai proyek-proyek baru. China Daily melansir ada 80 proyek baru akan diluncurkan, termasuk pembangunan jalur kereta dan pelabuhan, proyek energi terbarukan, dan modernisasi industri migas dan kimia. Peluang ikut andil akan dibuka bagi perusahaan domestik dan asing di sejumlah sektor industri yang sebelumnya didominasi perusahaan yang dikontrol pemerintah. Prospek investasi baru ini diharapkan mampu membangkitkan gairah bisnis yang melesu dan mengangkat tekanan pada perekonomian China. Jika memang demikian, tentunya ini akan berpengaruh baik pula bagi perekonomian negara partner dagang China seperti Australia dan New Zealand.