Kenaikan Pajak Beri Dampak Negatif, GDP Jepang Kuartal Kedua Anjlok

Analisa Trading – Ekonomi Jepang tercatat alami kontraksi terbesar sejak gempa tiga tahun lalu sebagai dampak dari konsumsi dan investasi yang anjlok setelah kenaikan pajak penjualan pada April lalu dimana kenaikan pajak itu dilakukan untuk membatasi beban utang negara yang saat ini menjadi yang terbesar di dunia. Sementara PDB Jepang juga menyusut menjadi sebesar 6,8 persen (yoy) di sepanjang kuartal kedua tahun ini:

Japan Gdp Growth Annualized

Namun demikian Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe masih mengharapkan terjadinya rebound yang lebih cepat dalam ekonomi Jepang, padahal tingkat output negara ini telah jatuh ke level terbesarnya sejak Maret 2011 lalu. Melihat hal ini, Menteri Ekonomi Jepang, Akira Amari mengatakan bahwa mereka akan mengambil tindakan fleksibel yang dirasa perlu diambil agar tidak membuat Jepang semakin terpuruk.

Kontraksi di sepanjang kuartal kedua lalu diikuti lonjakan pertumbuhan pada kuartal pertama ketika konsumen dan perusahaan berburu untuk melakukan pembelian barang sebelum pajak naik tanggal 1 April.

Data tambahan menunjukkan bahwa tingkat konsumsi rumah tangga anjlok pada laju tahunan 19,2 persen jika dibandingkan dari kuartal sebelumnya, sementara investasi swasta tenggelam 9,7 persen. Harga konsumen naik 3,6 persen pada Juni lalu dari tahun sebelumnya – sembilan kali kenaikan total pendapatan kas – dan harga pangan naik 5,1 persen.

Yang terjadi di Jepang saat ini adalah lesunya perdagangan sebagian besar disebabkan oleh jatuhnya volume impor sebagai akibat dari permintaan domestik yang lebih lemah, sementara kegiatan ekspor juga menunjukkan penurunan baru. Impor jatuh sebesar 20,5 persen sementara ekspor turun 1,8 persen.

Ekonomi Jepang diperkirakan akan tumbuh sebesar 2,9 persen (yoy) di sepanjang kuartal ketiga mendatang. Untuk mendongkrak perekonomian Jepang kedepannya, pemerintah berencana meningkatkan pajak penjualan menjadi 10 persen pada Oktober 2015 dari 8 persen sekarang. Abe akan memutuskan apakah akan melanjutkan dengan rencana pada akhir tahun, berdasarkan kekuatan ekonomi. (VN)

Pajak Baru Dinaikkan , BOJ Tidak Mengubah Kebijakan Moneternya

Analisa Trading – Dewan kebijakan Bank sentral Jepang mengadakan pertemuan sehari untuk menilai status pemulihan ekonomi negara tersebut setelah  kebijakan pemerintah menaikkan pajak penjualan untuk menghindari deflasi . Dan hasil dari pertemuan tersebut bahwa BOJ tidak mengubah kebijakan moneternya.

Selain itu sembilan anggota Dewan Kebijakan bank sentral tersebut  memutuskan dengan suara bulat untuk tetap utuh kebijakan saat ini dua kali lipat basis moneter dengan meningkatkan pada laju tahunan sekitar 60 -70 Triliun yen dengan pembelian obligasi pemerintah dan aset keuangan lainnya .

Kebijakan ini diambil setelah data bualanan yang menunjukkan produksi  industri dan juga pertumbuhan upah masih  jauh dari harapan. Pemerintah mengatakan produksi industri naik 0,3 persen pada Maret dari bulan sebelumnya , lebih baik daripada penurunan 2,3 persen pada bulan Februari tapi masih sedikit mengingat lonjakan penjualan ritel sebelum kenaikan pajak mulai berlaku.

Demikian juga dengan upah dasar turun 0,4 persen dari tahun sebelumnya , meskipun pembayaran bonus besar mendorong pendapatan kas naik 0,7 persen pada bulan Maret dari tahun sebelumnya.

Sebenarnya pasar tidak mengharapkan suatu kebijakan BOJ untuk melonggarkan kebijakan moneternya karena baru saja kebijakan menaikkan pajak diterapkan bulan ini, namun suatu tindakan lebih lanjut untuk  membangun kembali setelah  tanda-tanda pemulihan ekonomi yang lemah dari yang diharapkan menjelang kenaikan pajak.

 

Happy Trading !