Strategi Berinvestasi Secara Cermat

NASIHAT investasi yang umum berlaku biasanya berbunyi: Teliti sebelum membeli. Nasihat ini  masih tetap berlaku sampai saat ini. Artinya, sebelum mengambil keputusan untuk menempatkan dana pada satu instrumen investasi, Anda harus sudah mempelajari peluang atau potensinya, tak terkecuali risiko yang melekat pada instrumen investasi yang dipilih.

Prinsip ini berlaku ketika seseorang membeli produk investasi di bidang keuangan seperti saham, reksa dana, maupun obligasi. Misalnya dalam hal membeli saham suatu perusahaan, hal yang perlu diteliti tentu saja berkaitan dengan jenis atau sektor usaha, prospek bisnis ke depan, kekuatan kinerjanya fundamental dalam beberapa tahun terakhir, tingkat likuiditas, pemegang saham, serta manajemen pengelola.

investasiKinerja fundamental maupun teknikal yang berkaitan dengan tingkat likuiditas akan cukup jelas tercermin di pasar. Seperti halnya prinsip jual beli, harga suatu saham ditentukan oleh besar kecilnya tingkat penawaran maupun permintaan (supply-demand). Semakin besar permintaan beli, tentu saja harga saham akan naik. Sebaliknya, jika yang terbanyak merupakan keinginan untuk menjual, maka harga saham tersebut akan turun.

Besar atau kecilnya permintaan jual atau beli ini sangat ditentukan oleh kekuatan kinerja keuangan, prospek bisnis, maupun rekam jejak perusahaan bersangkutan. Semakin bagus kinerja dan prospeknya, peluang untuk harga sahamnya naik semakin besar. Tetapi perlu diingat juga bahwa peluang naik juga ditentukan apakah saham tersebut sudah mencapai harga wajar atau belum. Harga wajar adalah harga saham yang mencerminkan kondisi keuangan dan prospeknya. Jika harga sahamnya masih tergolong murah dibandingkan dengan kinerja keuangannya, maka peluang naik untuk harga saham tersebut akan terbuka.

Jika Anda kesulitan membuat perhitungan untuk menemukan harga suatu saham apakah sudah tergolong mahal, murah, atau sudah mencapai kondisi riil, Anda bisa memanfaatkan hasil perhitungan para analis di perusahaan efek tempat Anda bertransaksi. Analisa fundamental mengerucut pada perhitungan nilai perusahaan dikaitkan dengan kondisi fundamental ekonomi, kondisi sektoral, dan kekuatan perusahaan. Melalui analisa fundamental, maka akan diperoleh harga wajar dari suatu saham. Informasi sederhana ini dapat pula diminta dari broker masing-masing investor, karena termasuk fasilitas standar yang disediakan broker.

Harga wajar suatu saham dapat tercermin di pasar dalam kondisi normal. Namun, harga di pasar bisa saja lebih tinggi karena ekspektasi berlebihan akan prospek saham bersangkutan. Tetapi harga suatu sahamnya bisa jadi terlalu murah, yang juga berarti ada peluang membeli, jika kondisi fundamental mendukung, dan prospeknya memang menjanjikan.

Perlu diingat bahwa harga suatu saham tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja fundamental karena  sentimen yang berkembang di pasar ikut mempengaruhi harga saham. Misalnya, karena sektor usaha dari emiten bersangkutan mendapat isu positif terkait kebijakan pemerintah yang mendukung, atau karena faktor politik yang kondusif.

Biasanya, setelah sentimen pasar mulai melemah, pasar akan bersikap realistis dan mulai mengevaluasi harga saham yang tercermin di pasar. Jika harga saham sudah terlalu mahal, maka ada risiko terkoreksi. Namun, jika Anda berinvestasi untuk jangka panjang, peluang harga saham untuk naik lagi tetap terbuka, terutama jika laporan keuangan kuartal, semester, atau laporan tahunan ternyata tumbuh positif.

Sebaliknya, harga saham akan terkoreksi, jika kinerja fundamental tidak tumbuh positif. Untuk keamanan investasi, seorang investor perlu mengutamakan analisis fundamental dan jangan terjebak pada tren transaksi yang tidak mengacu pada kekuatan fundamental maupun prospek saham bersangkutan

LELANG OBLIGASI NEGARA SERAP DANA RP8,1 TRILIUN

Pemerintah menyerap dana sebesar Rp8,1 triliun dalam lelang lima seri obligasi atau Surat Utang Negara pada Senin dari total penawaran yang masuk sebesar Rp15,11 triliun.

Keterangan tertulis Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan di Jakarta, Senin, menyebutkan jumlah yang dimenangkan untuk seri SPN12150305 sebesar Rp1,35 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,35 persen, imbal hasil tertinggi dimenangkan 6,40 persen dan akan jatuh tempo 5 Maret 2015.

Penawaran masuk untuk seri itu sebesar Rp3,78 triliun dengan imbal hasil tertinggi masuk 7,0 persen dan terendah 6,30 persen.

Jumlah dimenangkan untuk seri FR0069 sebesar Rp2 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 7,67 persen, imbal hasil tertinggi dimenangkan 7,72 persen. SUN ini akan jatuh tempo 15 April 2029.

Penawaran masuk untuk SUN ini sebesar Rp2,49 triliun dengan imbal hasil tertinggi masuk 8,53 persen dan terendah 7,62 persen.

Jumlah dimenangkan untuk seri FR0071 sebesar Rp4 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 8,53 persen, imbal hasil tertinggi dimenangkan 8,57 persen. SUN ini jatuh tempo15 Maret 2029.

Penawaran masuk untuk SUN ini sebesar Rp5,35 triliun dengan imbal hasil tertinggi masuk 8,70 persen dan terendah 8,48 persen.

Cara OJK Ajak Perusahaan Agar Menerbitkan Obligasi

Menyusul sukses seri pertama pada 2013, round table Asiamoney-CIMB ASEAN Domestic Bond Markets Round Table series kedua yang kali ini berlangsung di Indonesia, mengambil tema “Broadening Issuer and Investor Base of Indonesian Bond Market”.

Rangkaian konferensi tersebut merupakan ajang yang diselenggarakan bersama oleh CIMB Group dan Asiamoney di seluruh wilayah ASEAN. Dari ajang tersebut pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ingin meningkatkan pasar Obligasi.

“OJK akan mengupayakan kondisi pasar yang ideal sehingga perusahaan tertarik untuk menerbitkan obligasi,” ujar Wakil Komisioner Bidang pengawasan pasar modal OJK Sarjito dalam keterangan tertulis,

Prioritas OJK adalah menyederhanakan proses penawaran umum yang sekarang ini mewajibkan emiten untuk menyampaikan kembali dokumen registrasi setiap kali menerbitkan obligasi. OJK juga akan menerapkan skema shelf registration untuk penerbitan efek. “Dengan skema tersebut, emiten cukup menyampaikan surat pendaftaran satu kali untuk beberapa kali emisi untuk jangka waktu tertentu,” ujarnya.

Ditambahkannya bahwa OJK telah menetapkan SMO-PMO proyek pasar obligasi untuk 2014 hingga 2016, yang melibatkan lembaga lain seperti Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Direktorat Jenderal Pajak, Badan Kebijakan Fiskal, badan regulasi mandiri atau SRO (self-regulatory organization) dan Penilai Harga Efek Indonesia atau IBPA (Indonesia Bond Pricing Agency).

Di bawah proyek tersebut akan dijalankan lima program pokok, di antaranya pengembangan platform perdagangan elektronik, harmonisasi peraturan, pengawasan dan kebijakan perpajakan.

“Selain itu, perjanjian Global Master Repo Agreement (GMRA) yang berlaku di seluruh dunia juga akan diterapkan di Indonesia. OJK telah membentuk tim khusus untuk mempersiapkan GMRA Indonesia Annexes, dan ketentuan yang tercakup dalam aneks ini dapat mengakomodasi semua produk efek selain obligasi pemerintah. OJK juga akan menetapkan regulasi mandiri dengan merujuk kepada GMRA Indonesia Annexes,” jelasnya mengakhiri sambutan.

Dalam acara itu, Harry Supoyo, Country Head, PT CIMB Securities Indonesia, menyampaikan bahwa pasar obligasi di Indonesia akan berkembang pesat karena ditunjang kuatnya likuiditas dalam negeri maupun kesinambungan permintaan dari lembaga pendanaan dalam negeri dan regional.

“Tingginya permintaan dari investor membuat kami yakin bahwa perusahaan di Indonesia akan menerbitkan lebih banyak obligasi rupiah tahun ini, dan mereka pun bisa menarik masuk dana dari pasar obligasi dengan mata uang setempat di negara-negara ASEAN dengan dukungan kuat active cross-currency interest rate swap market di kawasan ini,” tambahnya

OJK MENDORONG PEMDA MENERBITKAN OBLIGASI

 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong pemerintah daerah (pemda) untuk bisa dan berani mengambil keputusan melakukan penerbitan obligasi. Sebab, peraturan mengenai penerbitan obligasi bagi pemda sudah mempunyai dasar hukum, yakni Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 111/PMK.07/2012 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penerbitan dan Pertanggungjawaban Obligasi Daerah.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida mengatakan bahwa hingga sekarang belum ada pemda yang akan menerbitkan obligasi.

“Peraturannya sudah lama. Secara resmi belum ada, tetapi sudah ada yang mulai bicara dan menjajaki untuk menerbitkan obligasi daerah,” katanya saat ditemui dalam acara OJK Dialog Series II di Pullman Hotel, Jakarta.

Lebih jauh, Nurhaida mengungkapkan bahwa hingga saat ini masih ada beberapa isu yang menggantung untuk diselesaikan. Di antaranya, penentuan profesional yang akan mengisi prospektus. Selain itu, ada ketentuan dari sisi auditor dan kewajiban sebagai anggota di pasar modal.

“Ada beberapa hal atau isu yang masih menggantung yang belum terselesaikan dalam artian ada ketentuan tentang, misalnya, profesional yang mengisi prospektus. Kemudian, bisa dari sisi auditor, dari sisi profesional pasar modal lainnya. Nah, ini sebetulnya hal yang perlu dibahas lebih lanjut kemudian dicari solusinya. Karena pada dasarnya UU tentang obligasi daerah sudah ada. Jadi, pada dasarnya kita ingin mulai atau ada pencetak pertama obligasi daerah. Nah, ini sedang kita bahas terhadap penerbitan obligasi daerah,” jelasnya.

bursa

Penggunaan obligasi, jelas Nurhaida, sangat baik untuk menjadi salah satu metode pembiayaan proyek daerah. Ia mencontohkan pemda bisa mengeluarkan obligasi untuk pembiayaan infrastruktur seperti pembangunan jalan tol. Pasalnya, keuntungan dari penerbitan obligasi ini bisa digunakan untuk pembayaran bunga maupun pembayaran obligasi pada saat jatuh tempo.

“Jadi, pada dasarnya, kalau ada proyek yang visible bisa didanai oleh obligasi daerah karena nanti diharapkan return dari proyek tersebut akan digunakan untuk pembayaran kupon atau pembayaran obligasi pada saat jatuh tempo. Hanya memang betul bahwa pada saat terjadi default itu memang jatuhnya harus ke APBD atau dalam hal ini mungkin ke APBN,” pungkasnya.

Obligasi daerah sendiri merupakan hal yang menjadi perhatian OJK karena selama ini tidak ada produk dari obligasi yang dikeluarkan Pemda. Padahal, dana ini dapat digunakan untuk infrastruktur pembangunan desa.

“Karena itu, kami fokus memperbaiki infrastruktur keuangan dan cara yang kami lakukan adalah dengan memperbaiki kemudahan dan memberikan sosialisasi mengenai manfaat instrumen keuangan tersebut bagi pembangunan daerah,” sambung Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Rahmat Waluyanto dalam kesempatan yang sama.

Adira Finance Kembali Terbitkan Obligasi, Saham Masih Belum Diminati

Analisa Trading-Manajemen PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) menyampaikan rencana mereka untuk menerbitkan obligasi umum berkelanjutan II tahap III. Dari obligasi tersebut, manajemen menargetkan dana sebesar Rp1,5 triliun. Obligasi tersebut terdiri dari tiga seri dan diterbitkan tanpa wakaf.

Berikut rincian dari obligasi tersebut, seri A ditawarkan sebesar Rp687 miliar, dengan bunga obligasi sebesar 9,6 persen per tahun. Tenor obligasi ini, adalah 370 hari. Seri B, ditawarkan sebesar Rp363 miliar, dengan bunga obligasi sebesar 10,5 persen per tahun. Tenor obligasi ini, adalah tiga tahun, dan seri C ditawarkan sebesar Rp450 miliar, dengan bunga obligasi sebesar 10,75 persen, dengan tenor 60 bulan.

Obligasi ini, rencananya akan ditawarkan pada 9 Mei 2014 mendatang, dengan masa penjatahan 12 Mei 2014, dan dicatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 Mei 2014. Adapun dana tersebut akan digunakan Adira Financing untuk kegiatan pembiayaan kendaraan bermotor.

Dalam hal ini yang akan bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek, adalah PT Danareksa Sekuritas, PT DBS Vickers Securities Indonesia, PT Indo Premier Securities, dan PT Standard Chartered Securities. Sedangkan Wali amanat adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Menyambut kabar tersebut, dari bursa saham menjelang penutupan sesi I hari ini (28/4), terlihat bahwa saham ADMF tercatat pada posisi 9525 atau turun 0,78 persen dari saat pembukaannya tadi pagi. Hingga saat ini terlihat saham ADMF masih belum diminati investor, baru sekitar 25 lot saham yang berhasil diperdagangkan.

Dari segi teknikal, terlihat indikator MA 5 mulai bergerak menurun berusaha menembus garis BB tengah. Indikator RSI sideways di area 50% dan stochastic anjlok hampir menyentuh area 10%. Level resistence berada pada 9830 basis poin sedangkan level support berada pada 9357 basis poin.(VN)