Harga Nikel LME Langsung Melejit Pasca Anjlok Pekan Lalu

Analisa Trading – Harga nikel di Bursa LME pada perdagangan Senin 21 Juli 2014 terpantau ditutup menguat signifikan. Penguatan harga nikel di Bursa LME dipicu oleh aksi beli para investor pasca terperosoknya harga nikel pada perdagangan pekan lalu.

Pergerakan harga nikel yang melemah hingga lebih dari 2% pada pekan lalu terpantau mulai memicu aksi beli oleh para investor di LME. Anjloknya harga nikel LME ke level $18.610/ton atau 2,35% secara agregat sepekan, dianggap telah terlalu rendah sehingga menumbuhkan efek koreksi pada pergerakan harga nikel.

Pelemahan pada harga nikel sendiri dipicu oleh lonjakan stok nikel di gudang LME yang terus memecahkan rekor tertinggi baru hingga level 311.000 ton pada akhir pekan lalu. Imbas dari tingginya persediaan nikel di LME tersebut, harga nikel terus tergerus akibat sentimen negatif dari tekanan tumpukan supply nikel yang menghapus kekhawatiran akan potensi defisit supply dari kebijakan pelarangan ekspor biji mentah Indonesia.

Pada perdagangan Senin 21 Juli 2014 di Bursa LME, harga nikel terpantau ditutup menguat signifikan. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan naik 1,56% ke tingkat harga $18.900/ton atau menguat $290/ton.

Analis memprediksi harga nikel akan cenderung untuk bergerak kembali melemah pada perdagangan hari ini di LME. Hal tersebut dilandasi oleh potensi penguatan sentimen negatif dari tingginya persediaan nikel LME. Terkait pergerakan harga nikel, range normal diprediksi akan berada di kisaran $18.600-$19.250. (VN)

Melemah Dalam 3 Sesi , Nikel Tetap Positif Dalam Sepekan

Analisa Trading – Harga nikel di Bursa LME pada perdagangan pekan lalu terpantau mengalami penguatan secara agregat sepekan. Penguatan harga nikel pada perdagangan pekan lalu dipicu oleh kenaikan signifikan harga nikel akibat kembali memanasnya konflik Rusia-Ukraina.

Pergerakan harga nikel pada pekan lalu, berhasil ditutup menguat secara agregat sepekan meskipun 3 dari 5 sesi perdagangan diwarnai oleh pelemahan pada nikel LME. Pada pekan lalu, baik pergerakan menguat maupun melemah, didasari oleh potensi serta realisasi kondisi persediaan nikel global serta gudang LME.

Pada awal pekan, harga nikel terdorong untuk naik tajam akibat adanya potensi gangguan supply nikel dari Rusia. Konflik antara Rusia dan Ukraina yang kembali memanas, menjadi pemicu kembalinya kekhawatiran akan sanksi terhadap Rusia. Kembali memanasnya konflik Ukraina-Rusia pada pekan lalu pasca tewasnya beberapa tentara Ukraina akibat penembakan helikopter oleh kelompok Pro-Rusia. Akibat peristiwa tersebut, nikel terpantau berhasil menguat pada dua hari perdagangan awal pekan hingga kembali menembus level $19.000/ton.

Namun, harga nikel LME langsung anjlok pada pertengahan pekan lalu akibat data persediaan nikel LME. Persediaan gudang nikel LME yang pada pertengahan pekan naik hingga 6,7% ke level 305.970 ton langsung memicu harga nikel untuk terjun bebas di Bursa LME. Persediaan yang melonjak tajam tersebut, terpantau merupakan rekor persediaan tertinggi LME sepanjang masa dan menjadi indikasi, nikel olahan masih berada dalam kondisi supply yang relatif baik karena Indonesia hanya melakukan pelarangan ekspor pada biji nikel mentah.

Pada perdagangan pekan lalu di Bursa LME, harga nikel terpantau ditutup dengan penguatan secara agregat sepekan. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan naik 2,10% ke tingkat harga $18.480/ton atau menguat $380/ton.

Analis  memprediksi harga nikel akan cenderung melemah pada perdagangan pekan ini. Hal tersebut dilandasi oleh masih tingginya persediaan nikel di gudang LME yang berada di kisaran 300.000 ton. Terkait pergerakan harga nikel LME pada pekan ini, diprediksi nikel akan bergerak di kisaran $17.800-$19.200. (VN)

Ukraina Kembali Memanas, Nikel Sentuh Level $19.000

Analisa Trading – Harga nikel di Bursa LME pada perdagangan Selasa 17 Juni 2014 terpantau mengalami kenaikan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari sebelumnya. Penguatan harga nikel di Bursa LME dipicu oleh kembalinya perhatian para investor ke konflik Ukraina-Rusia yang sebelumnya sempat mendingin pasca terpilihnya Poroshenko sebagai Presiden baru Ukraina.

Serangan udara kelompok separatis Rusia serta aksi pemberhentian ekspor gas Rusia ke Ukraina terpantau memicu harga nikel untuk kembali bergerak menguat dalam perdagangan di Bursa LME. Posisi Rusia selaku salah satu penghasil nikel terbesar dunia, menumbuhkan kekhawatiran akan terganggunya supply asal Rusia akibat konflik yang kembali memanas.

Konflik antara Rusia-Ukraina kembali memanas pasca Rusia menghentikan kiriman gas ke Ukraina dengan alasan belum dibayarkannya utang Ukraina sebesar $1,95 miliar. Selain dari adanya konflik terkait penghentian aliran supply gas Rusia, konflik Rusia-Ukraina juga sempat kembali menarik perhatian global pasca ditembaknya pesawat pengangkut militer Ukraina yang menewaskan hingga 49 tentara Ukraina.

Pada perdagangan Selasa 17 Juni 2014 di Bursa LME, harga nikel ditutup dengan mengalami penguatan. Harga nikel LME untuk pengiriman tiga bulan kedepan naik hingga 3,53% ke tingkat harga $19.050/ton atau menguat $650/ton.

Analis memprediksi harga nikel masih akan cenderung mengalami penguatan pada perdagangan hari ini. Hal tersebut dilandasi oleh kembali meningkatnya perhatian investor ke perkembangan konflik Ukraina-Rusia yang berpotensi memanas. Terkait pergerakan harga nikel LME pada hari ini, nikel diprediksi akan bergerak di kisaran $18.850-$19.200.(VN)

Persediaan Gudang Meningkat, Nikel LME Terperosok

Analisa Trading – Harga nikel pada perdagangan Selasa 10 Juni 2014 di Bursa LME terpantau ditutup melemah. Pelemahan harga nikel LME dipicu oleh pergerakan persediaan nikel di gudang LME yang meningkat hingga mendekati rekor kedua tertinggi sejak awal tahun ini.

Persediaan nikel LME yang meningkat hingga rekor tertinggi kedua tahun ini berimbas pada pelemahan harga nikel pada perdagangan Selasa lalu. Hampir pecahnya rekor tertinggi yang sebelumnya terjadi pada 27 Maret 2014 memicu pelemahan sentimen positif dari potensi defisit supply nikel global akibat larangan ekspor biji mentah Indonesia. Sebelumnya, nikel sempat menguat pasca Joko Widodo selaku calon presiden Indonesia berwacana akan tetap melanjutkan kebijakan larangan ekspor biji mentah.

Pada perdagangan Selasa 10 Juni 2014, harga nikel di Bursa LME ditutup melemah signifikan. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan turun 1,51% ke tingkat harga $18.550/ton atau melemah $285/ton.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memprediksi harga nikel berpotensi akan kembali menguat pada perdagangan hari ini. Hal tersebut dilandasi oleh masih adanya sentimen positif dari potensi kuat keberlanjutan kebijakan larangan ekspor Indonesia. Terkait pergerakan harga, nikel diprediksi akan bergerak di kisaran $18.200-$18.800. (VN)

Potensi Demand Tiongkok Picu Nikel LME Lanjutkan Penguatan

Analisa Trading – Harga nikel di Bursa LME pada perdagangan Senin 2 Juni 2014 kembali ditutup menguat melanjutkan penguatan pada akhir Mei lalu. Penguatan harga nikel masih dipicu oleh data Tiongkok yang memperkuat sentimen positif dari larangan expor biji mentah Indonesia.

Pengaruh larangan expor biji mentah Indonesia yang seakan telah menjadi fondasi kuat pada penguatan harga nikel sepanjang tahun ini kembali diperkuat oleh data Tiongkok. Data PMI Tiongkok yang terpantau melebihi ekspektasi pada Mei lalu, memperkuat sentimen positif terhadap harga nikel melalui prospek peningkatan permintaan. Imbas dari data tersebut, harga nikel kembali ditutup menguat di Bursa LME.

Pada perdagangan Senin 2 Juni 2014, Harga nikel LME ditutup menguat di Bursa LME. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan ditutup naik 0,80% ke tingkat harga $19.435/ton atau menguat $155/ton.

Analis memprediksi harga nikel masih akan berada dalam trend menguat pada perdagangan hari ini. Hal tersebut dilandasi oleh penguatan indeks PMI yang juga terjadi di AS. Diperkirakan pada perdagangan hari ini di Bursa LME nikel akan bergerak dikisaran $18.950-$19.780. (VN)

Dapat Sentimen Baru, Nikel Rebound Setelah Turun 2 Hari Berturut

Analisa Trading – Harga nikel terpantau mengalami rebound pada penutupan Bursa LME Kamis 22 Mei 2014. Penguatan harga nikel yang sempat melemah pasca posisi sangsi investor terkait defisit supply didorong oleh rilis data perekonomian Tiongkok.

Rilis data HSBC Flash Manufacturing PMI berdampak pada peningkatan harga nikel pada perdagangan Kamis 22 Mei 2014. Indikasi peningkatan sektor manufactur Tiongkok tersebut, menjadi sentimen positif dari sisi demand yang cukup kuat untuk mendongkrak posisi nikel yang mulai melemah dalam beberapa hari terakhir.

Sebelumnya, terpantau nikel sempat melemah dalam dua hari berturut-turut. Pelemahan tersebut disebabkan oleh posisi investor masih belum yakin terhadap tingkat defisit supply nikel imbas larangan expor nikel Indonesia. Selain itu, tingkat persediaan nikel di Bursa LME juga turut menambah keraguan para investor karena persediaan justru naik 7% dibandingkan data awal tahun.

Pada perdagangan Kamis 22 Mei 2014, harga nikel LME ditutup menguat. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan naik 0,95% ke tingkat harga $19.660/ton atau menguat $185/ton.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memprediksi nikel akan kembali mengalami penguatan pada perdagangan hari ini. Hal tersebut dilandasi oleh dorongan sentimen positif cukup kuat dari sisi demand imbas data HSBC Flash Manufacturing PMI. Terkait pergerakan harga nikel, pada hari ini diperkirakan nikel akan bergerak pada interval $19.143-$20.083. (VN)

Tingkat Persediaan Gudang LME Picu Pelemahan Harga Nikel

Analisa Trading – Harga nikel Bursa LME ditutup melemah pada perdagangan Rabu 20 Mei 2014. Pelemahan harga nikel diduga dipicu oleh level persediaan gudang LME yang pada perdagangan kemarin terpantau cukup tinggi.

Level persediaan nikel di Bursa LME terpantau berada pada posisi yang sedikit menekan penguatan harga nikel. Nikel yang hampir sepanjang tahun ini menguat akibat kebijakan larangan expor biji tambang mentah Indonesia, tertahan oleh level persediaan yang justru meningkat sepanjang tahun ini. Terpantau pada perdagangan Bursa LME kemarin persediaan nikel justru naik 7% dibandingkan persediaan di awal tahun ke level 280.020. Imbas dari data tersebut, harga nikel kembali melemah pada perdagangan Rabu.

Walaupun demikian, Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memprediksi nikel masih akan berada dalam trend kuat. Hal tersebut dilandasi oleh tingginya tingkat ketidakpastian akan perubahan kebijakan larangan expor biji tambang mentah Indonesia. Diprediksikan nikel LME masih akan bergerak pada kisaran harga $19.000-$20.075.

Pada penutupan perdagangan Rabu, harga nikel LME ditutup melemah. Nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan turun 0,89% ke tingkat harga $19.475/ton atau melemah $175/ton. (VN)