Jelang Sore, Minyak Cendrung Stagnan

minyak

Analisatrading – Harga minyak mentah hampir tidak bergerak di perdagangan Asia pada sesi Selasa, dengan perdagangan yang diharapkan sebagian dalam keadaan tenang menjelang liburan Tahun Baru. Di New York Mercantile Exchange, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Februari diperdagangkan pada level $ 36,88 per barel, naik $ 0,07 pada sesi elektronik Globex. Februari Brent di bursa ICE Futures London menambahkan $ 0,04 ke level $ 36,66 per barel. Semalam, baik Nymex dan Brent turun lebih dari 3% setelah produksi industri Jepang turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan pada bulan November sebesar 1%, memicu kekhawatiran permintaan minyak mentah memudarnya di wilayah tersebut.

anjungan minyak

Analisa Trading – Harga minyak turun pada Jumat siang dikarenakan para investor fokus ke dirilisnya laporan pekerjaan AS yang diperkirakan akan berpengaruh atas keputusan Federal Reserve dalam menaikkan suku bunga AS.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun 58 sen ke $ 50,10 per barel setelah mengakhiri sesi sebelumnya 18 sen lebih tinggi. Brent naik setinggi $ 50,87 per barel pada awal sesi Jumat.

Minyak mentah AS untuk pengiriman Oktober, yang juga dikenal sebagai West Texas Intermediate, turun 66 sen ke $ 46,09 per barel. Minyak ditutup naik 50 sen pada sesi Kamis.

Pembuat kebijakan AS cenderung menggunakan data pekerjaan bulan Agustus yang akan dirilis nanti, sebagai bagian dari penilaian mereka apakah akan menaikkan suku bunga tahun ini pada pertemuan berikutnya tanggal 16-17 September atau tidak.

Para investor juga mengawasi data rig minyak AS untuk petunjuk seberapa besar pasokan sekarang. Setiap penurunan angka rig bisa meningkatkan prospek harga minyak. (FC)

Raja Baru, Kebijakan Minyak Saudi Tidak Berubah

Perubahan takhta di Riyadh kemungkinan besar tidak akan mengubah kebijakan perminyakan Arab Saudi, menurut para pakar. Kerajaan itu telah menegaskan posisi jangka panjang mereka, yakni menekan harga minyak dan mempertahankan pangsa besar di pasar global.

Setelah Raja Abdullah mangkat, seperti yang diumumkan Jumat, Arab Saudi tampaknya akan tetap mempertahankan tingkat produksi minyak mentah, meski pasokan minyak global kini membanjir. Harga minyak dunia telah terperosok lebih dari 55% sejak Juni lalu.

Ketika daerah Timur Tengah masih diliputi gejolak dan ketidakpastian, Arab Saudi mempertahankan diri dengan mengeksploitasi keunggulannya: cadangan minyak raksasa dan produksi berongkos rendah, kata Sarah Emerson dari ESAI Energy, Amerika Serikat.

“Mereka harus memastikan ada pangsa yang cukup, bukan hanya untuk besok, tetapi sampai 2040, 2060, dan seterusnya,” ujar Emerson. Strategi Arab Saudi itu merupakan reaksi terhadap lonjakan produksi minyak Amerika Serikat (AS), dan status quo baru tersebut tidak akan berubah di bawah raja baru, tambahnya.

Meski demikian, dalam jangka pendek pelaku pasar mungkin sedikit gelisah terkait pengangkatan putra mahkota Pangeran Salman sebagai Raja Arab Saudi. Gejolak di pasar minyak global pun mungkin terjadi.

Kontrak berjangka minyak mentah di pasar Asia naik pada Jumat pagi ke level $47,10 per barel, setelah harga di New York Mercantile Exchange pada Kamis ditutup pada $46,31 per barel. Di bursa ICE Futures London, minyak mentah Brent naik 84 sen ke $49,36 per barel.

Strategi perminyakan Arab Saudi mendapat sokongan dari menteri perminyakan Ali al-Naimi, yang memiliki kekuasaan besar. Pelaku pasar dan pemodal akan mengawasi kemungkinan pergantian jajaran di kementerian perminyakan.

Arab Saudi mengendalikan lebih dari 15% cadangan minyak dunia. Kerajaan itu bersaing dengan Rusia dan AS untuk memperebutkan gelar produsen minyak terbesar dunia. Setelah harga minyak mulai tergelincir dari level tiga digit pada akhir Juni, pelaku pasar memperkirakan Arab Saudi akan memangkas produksi untuk mempertahankan harga minyak, seperti yang pernah terjadi tahun 1980-an. Namun pada November, Organisasi Negara Pengekspor Minyak atau OPEC memutuskan untuk tidak mengubah level produksi.

Kebijakan OPEC itu tampaknya tak akan berubah dalam waktu dekat, kata Amy Myers Jaffe, pengamat energi di University of California Davis. Ia mencatat bahwa saat Raja Abdullah masuk rumah sakit dua pekan lalu, Pangeran Salman di televisi membacakan pernyataan atas nama raja yang menyiratkan kebijakan tersebut akan diteruskan.

Goldman: Minyak Dapat Merosot Hingga $30

minyak

Analisatrading – Minyak masih berada di perdagangan dekat 6 tahun rendah, Selasa (27/1) dipicu dari peringatan OPEC tanpa investasi dalam proksi yang gagal untuk menggeser fokus pasar dari segera tanda-tanda banjir pasokan global.

West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari berada ke level $45.24 per barel di New York Mercantile Exchange. Kontrak turun 44 sen ke level $45,15 kemarin, penutupan terendah sejak Maret 2009. Volume semua berjangka yang diperdagangkan pada sekitar 72 persen di bawah rata-rata 100 hari.

Minyak Brent untuk pengiriman Maret naik 13 sen ke level $48.29 barel di London ICE Futures Eropa. Patokan minyak Eropa diperdagangkan pada sebuah premi $3.05 untuk WTI.

Minyak berjangka sedikit berubah di New York setelah jatuh 1 persen kemarin, persediaan minyak AS mungkin naik menjadi 402.1 juta barel di minggu lalu, minyak merosot hampir 50 persen di tengah kecepatan produksi minyak AS di lebih dari tiga dekade sementara organisasi negara pengekspor minyak menolak untuk mengurangi output. Bahkan dari analis Goldman, minyak dapat turun hingga serendah $30 per barel. (FC)

Harga Komoditas Diyakini Menguat akibat Faktor Permintaan

Analisa Trading – Sebagian besar komoditas utama dunia diperjualbelikan dengan memakai satuan Dollar. Oleh karena itulah saat nilai tukar USD menguat, investor kerap alergi membeli produk-produk hasil bumi semacam minyak atau emas karena harga jualnya menjadi lebih mahal di pasaran, terutama bagi pemodal yang mata uang utamanya bukan Dollar.

19minyak

Di tengah tren penguatan Dollar terhadap sebagian mata uang dunia, harga-harga komoditas ikut berkurang karena kehilangan pembeli. Namun demikian, masih banyak pihak yang optimis kalau faktor kenaikan Dollar tidak akan terus berdampak negatif terhadap kinerja komoditas. Faktor korelasi antara permintaan dan persediaan barang akan lebih berpengaruh ketimbang Dollar semata.

Menurut Ahli Strategi Komoditas ANZ Bank, Daniel Hynes, tren penguatan Dollar tidak akan berpengaruh besar lagi terhadap pergerakan harga komoditas dalam 6 sampai 12 bulan ke depan. Efek penguatan kurs bisa diimbangi oleh peningkatan jumlah permintaan produk komoditas dari beberapa negara besar. “Alasan fundamental tidak bisa diabaikan begitu saja. Faktor permintaan dan persediaan dapat mengurangi korelasi nehatif antara kurs Dollar dan harga komoditas,” ujarnya. Hynes menilai respon harga masing-masing komoditas di pasar akan sangat berbeda-beda terhadap pergerakan Dollar. Permintaan komoditas fisik yang besar akan menutupi pengaruh Dollar, terutama untuk produk-produk logam mulia. Sedangkan untuk minyak mentah, korelasinya dengan Dollar akan tetap negatif. Kontrak minyak Nymex WTI saat ini terpantau naik sekitar 18 sen ke level $56.65 per barel.

sumber: monexnews.com

Minyak Masih Lemah Seiring Rusia Ikuti Langkah OPEC

Analisa Trading – Minyak di New York di perdagangkan di dekat level terendah dalam lima tahun seiring Rusia menegaskan bahwa mereka akan tetap mempertahankan stabilitas produksi minyak mentah mereka pada tahun depan, mengikuti startegi OPEC untuk menahan diri dari pembatasan suplai untuk meredam surplus minyak global.

19minyak

Kontrak berjangka turun sebanyak 2.4% setelah kemarin tergelincir ke bawah $54 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei 2009. Menteri Energi Rusia, Alexander Novak mengatakan bahwa Output dari Rusia, yang merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia, akan sama dengan tahun ini di kisaran 10.6 juta barel perhari. Iran mengatakan bahwa mereka menawarkan diskon terbesar untuk pengiriman ke Asia dalam 14 tahun terakhir, mereka mengikuti langkah Arab Saudi yang melakukan pengurangan harga.

Minyak telah merosot sebesar 43% pada tahun ini seiring melonjaknya pengeboran minyak shale yang meningkatkan produksi minyak AS ke laju tercepat dalam tiga dekade di tengah melambatnya pertumbuhan permintaan global. Para anggota utama OPEC seperti Arab Saudi telah menolak seruan dari pada produsen yang lebih kecil yang termasuk Venezuela dan Ekuador untuk mengurangi kuota produksi untuk meredam penurunan harga.

“OPEC tidak akan membuat pergerakan, kecuali AS mengurangi terlebih dahulu produksinya, dan untuk saat ini tampaknya permainan ini kemungkinan akan terus berlanjut sampai tahun depan,” kata Kang Yoo Jin, analis komoditas di Woori Investment & Securities Co. di Seoul. “Seiring anjloknya harga minyak, tampaknya keputusan strategi dari negara-negara produsen yang termasuk OPEC dan Rusia akan tetap mempertahankan level output mereka tidak berubah.

Minyak WTI Januari tergelincir sebanyak $1.32 menjadi $54.61 per barel di dalam perdagangan elektronik di Nymex dan saat ini bergerak di kisaran $54.95 pada pukul 16.44 wib. Harga minyak saat ini berada di jalur penurunan tahunan terbesar sejak tahun 2008.

sumber: monexnews.com

Harga Minyak Terpantau Turun

Analisa Trading – Perdagangan bursa komoditi minyak mentah di hari Jumat(26/9), harga minyak telah diperdagangkan lebih rendah ketika politik dan ketidakpastian ekonomi masih tetap memberikan dukungan.

Selama berlangsungnya perdagangan di sesi Eropa, minyak West Texas Intermediate pengiriman November telah diperdagangkan lebih rendah 0.02% di level $92.51 per barel pada perdagangan elektronik di New York Mercanitle Exchange.

Sedangkan untuk minyak premium Eropa, Brent Oil pengiriman November telah diperdagangkan lebih rendah 0.10% di level $96.90 per barel di ICE Future Europe exchange yang berbasis di London.

Harga minyak mentah diperdagangkan dekat posisi terendah meskipun data AS yang relatif kokoh, karena kekhawatiran ekonomi global ini telah mengirim penurunan permintaan minyak.

Sementara itu, berita Rusia dapat mempertimbangkan proposal yang memungkinkan Moskow untuk menyita aset asing sehingga menghantui investor di seluruh dunia.

 

Sumber : Financeroll

Pasokan dari Irak Dinilai Aman, Harga Minyak WTI Melemah

Analisa Trading – Pada perdagangan elektronik di Asia hari ini harga minyak mentah terpantau mengalami penurunan (24/6). Harga minyak mentah Brent melemah untuk tiga hari berturut-turut sedangkan harga minyak mentah WTI melempem di tengah spekulasi bahwa produksi minyak mentah Irak tidak akan terganggu oleh pemberontakan yang terjadi di negara tersebut.

Para pemberontak di Irak telah mengambilalih penyulingan minyak Baiji di utara negara tersebut dan mulai bergerak ke perbatasan Yordania. Akan tetapi kawasan selatan yang merupakan rumah produksi minyak mentah yang lebih besar tampaknya tidak terganggu.

Dari Amerika Serikat laporan pasokan minyak mentah yang akan diumumkan besok malam tampaknya akan kembali menunjukkan terjadinya penurunan untuk empat minggu berturut-turut.

Harga minyak mentah WTI untuk kontrak Agustus mengalami penurunan sebesar 92 sen dan ditransaksikan pada posisi 105.25 dollar per barel hari ini. Sementara itu harga minyak mentah Brent terpantau anjlok sebesar 50 sen dan ditransaksikan di level 113.62 dollar per barel. Premium harga minyak mentah Brent terhadap WTI melebar menjadi 8.11 dollar dari 7.95 dollar pada perdagangan kemarin.

Analis memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak mentah jenis WTI berjangka  akan mengalami pelemahan yang cukup signifikan untuk perdagangan hari ini. Hari ini harga komoditas berjangka tersebut akan mengalami pergerakan pada kisaran 104 – 106 dollar per barel. (VN)

Harga Minyak WTI di Pasar Asia Masih Bergerak Ragu Tunggu Data Sektor Tenaga Kerja AS

Analisa Trading – Pergerakan harga minyak mentah pada sesi perdagangan elektronik di Asia hari ini masih cenderung sideways (6/6). Harga minyak bergerak di kisaran positif dan negatif jelang rilis data NFP dan tingkat pengangguran di Amerika Serikat malam nanti. Data ini akan menjadi indikator kekuatan ekonomi riil di negara tersebut. Harga minyak Brent di London juga tampak masih bergerak terbatas.

Harga minyak mentah berjangka hanya mengalami perubahan tipis di Nymex. Minyak WTI tersebut diperkirakan akan mengalami penurunan mingguan untuk dua kali berturut-turut. Untuk hari ini pasar akan menantikan rilis data NFP bulan Mei yang diperkirakan akan menunjukkan peningkatan sebesar 214 ribu. Sedangkan tingkat pengangguran di bulan Mei diperkirakan berada di level 6.4 persen.

OPEC diperkirakan akan memotong ekspornya di tengah turunnya permintaan di Asia. Untuk hari ini harga minyak mentah WTI untuk kontrak penyerahan bulan Juli terpantau mengalami pergerakan yang menguat tipis saja. Harga naik 6 sen dan saat ini berada di level 102.54 dollar per barel. Sepanjang minggu ini harga telah mengalami penurunan sebesar 0.3 persen.

Harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman bulan Juli juga tampak naik tipis. Harga minyak tersebut menguat sebesar 11 sen menjadi 108.90 dollar per barel. Premium harga Brent terhadap WTI menyusut menjadi 6.45 dollar.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak mentah jenis WTI pada perdagangan hari ini akan cenderung melanjutkan pergerakan yang menguat terbatas. Harga komoditas  ini akan mengalami pergerakan pada kisaran 102.20 – 102.80 dollar AS. (VN)

Rekomendasi Minyak dan Emas 29 Mei 2014

Analisa Trading – Minyak dan Emas pada hari ini diprediksi akan mulai berada dalam trend melemah setelah menguat pada perdagangan pekan lalu. Prediksi pelemahan pada kedua komoditas cukup kuat baik melalui landasan fundamental maupun teknikal dengan pergerakan range normal pada hari ini diperkirakan akan memiliki level support pada kisaran  101,5 dan level resistance pada kisaran  104,6 untuk komoditas Minyak dan 1249-1268 pada harga emas..

Dari sisi fundamental, laporan mingguan persediaan minyak AS  diprediksi masih akan menjadi sentimen pada pergerakan harga minyak mentah.

Sedangkan pada komoditas emas, data Consumer Consumer Confidence Index AS  diperkirakan akan menjadi sentimen kuat. Namun, indikator teknikal berpotensi mengakibatkan rebound pada harga emas. (VN)