Larangan Ekspor Mineral Tekan Pertumbuhan Ekonomi RI

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis besaran Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pada kuartal I tahun ini berada pada besaran 5,21 persen secara year on year (yoy).

Kepala BPS Suryamin menjelaskan, beberapa faktor tercatat menjadi faktor utama pelambatan angka pertumbuhan tersebut, salah satunya adalah penurunan yang signifikan dari sektor pertambangan yang juga berdampak terhadap sisi perdagangan nasional.

“Faktor pendorong pelambatan pertumbuhan salah satunya dari sektor pertambangan, karena adanya pelarangan ekspor bahan mineral yang belum di proses (mentah), begitu juga migas yang terus menurun,” tutur Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (5/5/2014).

Dia menjelaskan, kebijakan tersebut juga memberikan pengaruh terhadap sektor perdagangan nasional yang sumbangannya turun hingga 4,5 persen dari sumbangsih periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 6,5 persen

ekspor

“Ini juga dampak dari ekspor sektor tambang, dalam jangka panjang memang kebijakan itu baik. Penurunan ini juga besaran impor dan sektor bank yang juga ikut melambat,” terangnya.

Selain itu, pertumbuhan sektor tanaman bahan baku yang ikut melambat menjadi faktor utama lain yang mendorong pelambatan pertumbuhan ekonomi. Hal ini, jelas Suryamin, disebabkan oleh pergeseran tanam dan waktu panen para petani di beberapa daerah.

Meskipun demikian, dia juga menambahkan, penghambat pelambatan datang dari sisi konsumsi nasional yang naik akibat proses kampanye dalam rangkaian pesta demokrasi pemilihan umum (pemilu).

Dia menjelaskan, harga komoditas yang membaik khususnya untuk minyak kelapa sawit (CPO) dan karet, telah membantu pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini. “Untuk sektor bank memang melambat, tapi ada dorongan yang menghambat dari sektor keuangan untuk lembaga non-bank dan jasa perusahaan,” tukasnya