Harga Jual-Beli Valas di BNI, BRI, Mandiri & BCA

Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) menguat 10 poin ke Rp11.515 per USD. Rupiah bergerak dalam kisaran Rp11.515-Rp11.520 per USD.

Berikut nilai tukar Rupiah di beberapa perbankan besar terhadap beberapa mata uang utama seperti dolar Amerika Serikat (USD), dolar Singapura (SGD), dan yen Jepang (JPY):

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada pukul 09.25 WIB

Dolar AS, dengan kurs beli sebesar Rp11.468 per USD, dan kurs jual sebesar Rp11.632 per USD.
Dolar Singapura, dengan kurs beli sebesar Rp9.108 per dolar Singapura, dan kurs jual sebesar Rp9.359 per dolar Singapura.
Yen Jepang, dengan kurs beli sebesar Rp111,21 per yen, dan kurs jual sebesar Rp115,10 per yen.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada pukul 09.44 WIB

Dolar AS, dengan kurs beli sebesar Rp11.410 per USD, dan kurs jual sebesar Rp11.610 per USD.kurs
Dolar Singapura, dengan kurs beli sebesar Rp9.083 per dolar Singapura, dan kurs jual sebesar Rp9.310 per dolar Singapura.
Yen Jepang dengan kurs beli sebesar Rp110,64 per yen, dan kurs jual sebesar Rp115,60 per yen.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada pukul 08.13 WIB

Dolar AS, dengan kurs beli sebesar Rp11.411 per USD, dan kurs jual sebesar Rp11.609 per USD.
Dolar Singapura, dengan kurs beli sebesar Rp8.902 per dolar Singapura, dan kurs jual sebesar Rp9.502 per dolar Singapura.
Yen Jepang, dengan kurs beli sebesar Rp109,91 per yen, dan kurs jual sebesar Rp115,41 per yen.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada pukul 07.21 WIB

Dolar AS, dengan kurs beli sebesar Rp11.495 per USD, dan kurs jual sebesar Rp11.545 per USD.
Dolar Singapura, dengan kurs beli sebesar Rp9.185 per dolar Singapura, dan kurs jual sebesar Rp9.235 per dolar Singapura.
Yen Jepang dengan kurs beli sebesar Rp111,20 per yen, dan kurs jual sebesar Rp114,20 per yen.

Pergerakan Matauang USD, GBP dan Euro Di Akhir dan Awal Bulan Berjalan

Kita sedang melihat penjualan dolar AS baik terhadap euro maupun sterling di dalam minggu yang akan penuh dengan volatilitas ini. Di akhir bulan kemungkinan akan bertambah trading dari institusi-institusi pada pertengahan minggu. Setelah itu kita akan melihat data inflasi di zona euro, bersamaan dengan data pasar tenaga kerja di AS pada akhir minggu.

Di background, kita masih terus mengawasi dengan ketat kejadian-kejadian di Ukraine, dimana ketegangan tetap tinggi.

Dolar AS sendiri ditradingkan 0.7% dibawah rata-rata setahun. Masih ada kepercayaan mendasar bahwa dolar AS masih memiliki ruang gerak untuk memulihkan diri. Di tahun-tahun belakangan ini, cukup berharga untuk dicatat bahwa bulan Mei telah terbukti menjadi bulan yang positip yang kuat bagi dolar AS, dolar indeks-nya rata-rata 3.5%   melihat empat tahun kebelakang.

er

Untuk saat i ini, agenda data sangat ringan, tetapi sebagaimana yang ditunjukkan oleh pergerakan harga di awal, arus data yang akan masuk diakhir bulan akan mendominasi pergerakan harga.

Konfirmasi dari minat Pfizer untuk Inggris juga ada dibelakang penjualan dolar AS terhadap Eropa, tetapi seperti biasanya, waktu, struktur dan ketidak pastian ada dibelakang arus uang untuk posisi beli memberikan ruang untuk volatilitas dimasa yang akan datang tergantung bagaimana deal nya mengalami kemajuan.

Poundsterling telah menunjukkan sedikit pergerakan sejak pertengahan April, siap menyentuh garis 1.68. Akankah GBP/USD akhirnya berhasil menembus garis batas? Banyak tergantung pada rilis GBP dan PMI.

Di AS, kita sudah melihat angka-angka yang simpang-siur, tetapi the Fed diperkirakan akan mengimplimentasikan taper atas QE berikutnya kemudian pada akhir dari minggu, yang akan bisa memberikan bantuan bagi dolar AS. Semua sangat tergantung pada data NFP yang sangat penting pada akhir dari minggu ini. Dengan demikian sentiment secara keseluruhan terhadap GBP/USD adalah netral terhadap data yang akan dirilis.

Ferli/ Senior Analyst Economic Research at Vibiz Research

Rekap Data Fundamental 28 April – 2 Mei 2014

Data fundamental penting AS minggu lalu dirilis mix. Durable Goods Orders inti bulan Maret naik 2.0%, jauh diatas perkiraan 0.6%, tetapi Jobless Claims membengkak 329,000, lebih besar dari prediksi 309,000 klaim. Data New Home Sales bulan Maret mengecewakan namun indeks sentimen UoM bulan April direvisi naik ke angka 84.1, lebih tinggi dari perkiraan 83.2. USD melemah versus EUR, JPY dan CHF tetapi menguat terhadap mata uang komoditi AUD dan CAD. Pelemahan CAD lebih disebabkan oleh harga minyak mentah yang turun minggu lalu.

AUD/USD melemah lebih dari 100 pip menyusul data CPI kwartal pertama tahun ini yang dibawah harapan pasar. Data ini menjadi cukup penting karena inflasi di Australia hanya diumumkan setiap 3 bulan (per kwartal). Minggu lalu AUD kembali bergerak dibawah level psikologis 0.9300 versus USD. Lain lagi dengan bank sentral Selandia Baru, tetangga Australia ini kembali menaikkan suku bunganya minggu lalu meskipun data inflasi (yang juga diumumkan per kwartal) turun. Alasan Graeme Wheeler, gubernur RBNZ adalah untuk mengantisipasi tekanan inflasi agar tidak mengganggu recovery ekonomi.

Retail Sales Inggris bulan Maret memang rebound, naik 0.1%. lebih tinggi dari perkiraan -0.4%. Dari pergerakan harga saat rilis data tersebut, GBP/USD sudah sempat naik, tetapi revisi data bulan Pebruari ke angka yang lebih rendah membuat GBP kembali stagnan dan berkutat di sekitar level 1.6800 versus USD. Dari kawasan Euro, indeks PMI Jerman dan kawasan (Manufacturing dan Services) yang diatas perkiraan membuat EUR/USD kembali menyentuh level 1.3850. Penguatan EUR tetap bertahan menyusul indeks Ifo Jerman yang lebih baik dari perkiraan. EUR/USD masih bergerak diatas level psikologis 1.3800.

Minggu lalu volatilitas pasar forex memang rendah dimana range trading pasangan mata uang utama EUR/USD, USD/JPY dan GBP/USD semuanya dibawah 100 pip. Selain pengaruh libur paskah, tidak banyak rilis data fundamental penting minggu lalu. Minggu ini akan berbeda. Analis menyebut minggu ini sebagai ‘crazy week’. Banyak data fundamental penting yang berdampak tinggi akan dirilis secara berurutan yaitu GDP Inggris, AS, dan Canada, CPI Jerman dan kawasan Euro, indeks PMI Inggris, China dan indeks ISM AS, suku bunga Bank of Japan (BoJ) dan suku bunga The Fed, tingkat pengangguran AS dan Jerman serta Non-Farm Payroll (NFP) AS. Selain itu ada pidato Janet Yellen dan gubernur Bank of Canada (BoC) Poloz serta konperensi pers Kuroda yang juga berdampak tinggi.

fundamental
Volatilitas pasar minggu ini diperkirakan tinggi. Berikut jadwal rilis data dan peristiwa berdampak dalam minggu ini:

Senin, 28 April 2014 :
Jam 06:50 WIB: data Retail Sales Jepang bulan Maret 2014 (y/y) (Berdampak medium pada JPY)
Jam 21:00 WIB: data Pending Home Sales AS bulan Maret 2014 (Berdampak tinggi pada USD)

Selasa, 29 April 2014 :
Hari libur bank-bank di Jepang (Showa Day)
Jam 05:45 WIB: data neraca perdagangan Selandia Baru bulan Maret 2014 (Berdampak tinggi pada NZD)
Jam 13:00 WIB: indeks GfK Consumer Climate Jerman bulan April 2014 (Berdampak medium pada EUR)
Jam 15:30 WIB: data Preliminary GDP Inggris kwartal pertama tahun 2014 (Berdampak tinggi pada GBP)
Jam 19:00 WIB: data Preliminary CPI Jerman bulan April 2014 (berdampak tinggi pada EUR)
Jam 21:00 WIB: indeks CB Consumer Confidence AS bulan April 2014 (Berdampak tinggi pada USD)

Rabu, 30 April 2014 :
Jam 02:30 WIB
: pidato gubernur Bank of Canada (BoC) Stephen Poloz (Berdampak tinggi pada CAD)
Jam 08:00 WIB: indeks ANZ Business Confidence Selandia Baru bulan April 2014 (Berdampak tinggi pada NZD)
Jam 10:00 WIB: pengumuman suku bunga Bank of Japan (BoJ) (Berdampak tinggi pada JPY)
Waktu tentative: konperensi pers BoJ yang dihadiri gubernur Haruhiko Kuroda (Berdampak tinggi pada JPY)
Jam 13:00 WIB: data Retail Sales Jerman bulan Maret 2014 (Berdampak medium pada EUR)
Jam 14:55 WIB: data Unemployment Change Jerman bulan April 2014 (Berdampak tinggi pada EUR)
Jam 16:00 WIB: data CPI Flash Estimate kawasan Euro bulan April 2014 (y/y) (Berdampak tinggi pada EUR)
Jam 19:15 WIB: data ADP Non-Farm Employment Change AS bulan April 2014 (Berdampak tinggi pada USD)
Jam 19:30 WIB
: data Advance GDP AS kwartal pertama tahun 2014 (Berdampak tinggi pada USD)
Jam 19:30 WIB: data GDP Canada bulan Pebruari 2014 (Berdampak tinggi pada CAD)

Kamis, 1 Mei 2014 :
Hari libur bank-bank di Swiss, Jerman, Italia, dan Perancis (Hari buruh internasional)
Jam 01:00 WIB: pengumuman suku bunga The Fed dan FOMC Statement (Berdampak tinggi pada USD)
Jam 08:00 WIB
: indeks Manufacturing PMI China bulan April 2014 (Berdampak tinggi pada AUD, CAD dan NZD)
Jam 15:30 WIB: indeks Manufacturing PMI Inggris bulan April 2014 (Berdampak tinggi pada GBP)
Jam 19:30 WIB: pidato ketua The Fed Janet Yellen (Berdampak tinggi pada USD)
Jam 19:30 WIB:
 data jumlah klaim tunjangan pengangguran AS per 26 April 2014 (Berdampak tinggi pada USD)
Jam 21:00 WIB: indeks ISM Manufacturing PMI AS bulan April 2014 (Berdampak tinggi pada USD)

Jum’at, 2 Mei 2014 :
Jam 08:30 WIB: data PPI Australia kwartal pertama tahun 2014 (Berdampak tinggi pada AUD)
Jam 15:30 WIB
: indeks Construction PMI Inggris bulan April 2014 (Berdampak tinggi pada GBP)
Jam 19:30 WIB: data Non-Farm Payrolls AS bulan April 2014 (Berdampak tinggi pada USD)
Jam 19:30 WIB: data tingkat pengangguran AS bulan April 2014 (Berdampak tinggi pada USD)

DOLLAR MENGUAT DI PASAR ASIA

Dolar Amerika Serikat berjaya. Awal pekan ini dolar berhasil menumbangkan hampir seluruh mata uang di kawasan Asia Pasifik.

Rupiah sendiri senasib dengan kawan-kawan regionalnya, melemah 0,20% menjadi Rp11.446,3 per dolar AS di Bloomberg Dollar Index pada penutupan pasar

USD

Sementara pantauan Financeroll saat berita ini dibuat nilai rupiah berada pada posisi 11.430,00 atau menguat 0,11 persen.

Hingga petang kemarin, Ringgit Malaysia menjadi yang terparah dengan depresiasi sebesar 0,30% menjadi 3,25 ringgit per dolar AS.

Analis dari PT SoeGee Futures menilai, meski punya kecenderungan menguat pergerakannya tak akan banyak. Menjelang FOMC (Fed Market Open Committee) pergerakan terbatas. Masih ada yang libur paskah.

Pekan ini pergerakan dolar bakal banyak ditentukan oleh hasil rilis data perekonomian AS, terutama data tentang pemesanan barang tahan lama atau durable goods order.

Belakangan data perekonomian AS memang membaik dan membuat pasar berspekulasi seputar kebijakan pengetatan stimulus moneter AS.

Namun FOMC yang melakukan meeting kali ini tak akan banyak mempengaruhi pergerakan dolar. Pasalnya sebagian besar pelaku pasar sudah mengantisipasi hasil dari rapat para petinggi the Fed tersebut, yaitu konsistensi the Fed dalam mengetatkan stimulus moneter untuk AS.

Sebagai catatan, FOMC di bulan April adalah pertemuan ketiga tahun ini dan akan digelar pada 29-30 April mendatang. Kecuali ada kejutan dari hasil rapat tersebut greenback tak akan bergerak terlalu signifikan.

Di sisi lain Kepala Riset PT Monex Investindo Futures mengatakan penguatan dolar juga ditopang ketegangan yang meningkat antara Rusia versus Ukraina.

Munculnya gerakan separatisme di beberapa kota Ukraina pascalepasnya Crimea membuat tensi di Eropa Timur itu memanas.

Analis menandai, setiap kali ada ketegangan politik dolar selalu menguat mengingat pasar masih menganggapnya sebagai salah satu safe haven.

Di sisi lain sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik memang tengah menghadapi berbagai situasi dalam negeri yang kurang menguntungkan bagi mata uang domestik.

Jepang misalnya, hingga petang kemarin yen tercatat melemah 0,15% terhadap dolar menjadi 102,58 yen per dolar AS.

Defisit neraca perdagangan Jepang tercatat melebar menjadi 1,45 triliun yen atau sekitar US$14,1 miliar sepanjang Maret.

Angka ini naik dari bulan sebelumnya, yaitu 802,5 miliar yen dan melampaui ekspektasi analis yang memprediksi defisit hanya mencapai 1,1 triliun yen.

Sementara itu sejumlah negara seperti Indonesia dan India sedang berada dalam proses pergantian kepemimpinan melalui pemilihan umum.

Kemarin, rupee India melemah 0,29% menjadi 60,46 per dolar. Adapun yuan China terdepresiasi 0,05% ke level 6,22 per dolar AS.