BI DORONG PERBAIKAN DEFISIT TRANSAKSI BERJALAN JELANG MEA

Bank Indonesia (BI) terus mendorong upaya perbaikan defisit neraca transaksi berjalan ke arah yang lebih positif jelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan respons kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah dan juga BI sejauh ini sudah mampu mengarahkan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih seimbang, namun menurut hasil tersebut belum cukup.

“Defisit neraca transaksi berjalan ini sudah terjadi sejak triwulan IV 2011. Padahal, sebelumnya kita surplus. Kita harus menyamakan visi. Kita sudah lakukan upaya yang cukup baik, tapi itu belum cukup. Kalau dahulu kita pernah surplus, seharusnya kita bisa surplus lagi,” ujar Agus saat peluncuran Market Code of Conduct di Gedung BI, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Agus menuturkan seharusnya upaya perbaikan defisit transaksi berjalan telah dilakukan sejak Bank Sentral Amerika The Fed masih memasok uang murah (quantitative easing) ke negara-negara berkembang.

“Ketika masa quantitative easing kita lupa perbaikan defisit dengan perbaikan infrastruktur serta upaya lainnya. Walaupun saat ini defisi transaksi berjalan sudah membaik, tapi belum cukup. Oleh karena itu, reformasi struktural tidak bisa ditunda lagi,” ujarnya.

Gubernur BI menambahkan pemerintah bersama Bank Indonesia perlu terus mencermati berbagai risiko dari perekonomian global, terutama risiko yang bersumber dari normalisasi kebijakan Fed dan risiko perlambatan ekonomi Tiongkok. Selain itu, risiko geopolitik dan juga meningkatnya utang luar negeri swasta di negara-negara berkembang termasuk Indonesia patut menjadi perhatian.

“Pada 2015, MEA juga sudah mulai efektif. Kita masih punya waktu beberapa bulan untuk mempersiapkannya,” tuturnya.

Defisit transaksi berjalan sendiri pada triwulan I 2014 diperkirakan 2,06 persen dari PDB atau menurun dari defisit pada triwulan IV 2013 sebesar 2,12 persen dari PDB. Penurunan defisit transaksi berjalan dipengaruhi oleh kontraksi impor nonmigas sejalan dengan moderasi pertumbuhan ekonomi, meskipun ekspor juga mencatat kontraksi.

Sementara itu, pada triwulan II dan III 2014 defisit transaksi berjalan diperkirakan untuk meningkat sesuai pola musiman, antara lain akibat peningkatan impor menjelang puasa dan hari raya serta repatriasi pendapatan dan pembayaran bunga, meski secara keseluruhan defisit transaksi berjalan 2014 diperkirakan tetap dapat ditekan di bawah 3,0% dari PDB