Harga Kopi Arabica Menjadi Murah Dengan Peningkatan Produksi

kopi

Analisatrading – Harga kopi arabica berjangka di bursa komoditas ICE Futures New York pada penutupan perdagangan Selasa dini hari (29/12) ditutup turun. Harga kopi menjadi lebih murah dengan adanya peningkatan produksi di negara-negara produsen.

Dengan berlangsungnya musim hujan cukup mendorong produksi tanaman kopi di Brazil, sebagai negara produsen dan eksportir terbesar di dunia. (VN)

Produksi Naik Bisa Dorong Ekspor Kopi Jateng Bertambah

Kondisi cuaca di Jawa Tengah sepanjang tahun ini diharapkan bisa stabil. Dengan stabilnya cuaca, dipastikan produksi kopi di wilayah ini ikut melonjak.
Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah, Moelyono Soesilo mengatakan dengan peningkatan produksi, diharapkan volume ekspor kopi Jawa Tengah turut bertambah.
Cuaca saat ini dinilai sangat sesuai untuk tanaman kopi. Sehingga ditargetkan produksi kopi Jawa Tengah akan melambung hingga 35 persen dibandingkan produksi tahun lalu.
“Tahun lalu petani kopi di Jawa Tengah bisa panen antara 8,5-9 juta karung dengan masing-masing karungnya berisi 60 kg, sedangkan tahun ini ditargetkan tercapai panen antara 11-11,5 juta karung,” kata Moelyono, Kamis (15/1/2015).
Kopi adalah komoditas yang sangat dipengaruhi cuaca. Hujan dengan intensitas sedang yang terjadi pada awal tahun menandakan musim tersebut sangat baik bagi tanaman kopi.
Berbeda dengan tahun lalu, di mana di awal tahun intensitas hujan sangat tinggi bahkan berakibat pada banjir di sejumlah daerah. Kondisi demikian ini tidak baik bagi tanaman kopi.
“Masa tanam kopi mulai dari proses keluarnya bunga hingga pemetikan membutuhkan waktu antara 9-10 bulan, jika selama masa tersebut cuaca tidak mendukung maka produksi akan merosot. Intesitas hujan yang tinggi bisa berakibat pada gugurnya bunga kopi, sehingga produksi kopi akan turun,” kata Moelyono.
Menurut dia, ketika produksi kopi turun, maka harga kopi pasti naik. Dengan produksi yang meningkat diharapkan harga dari komoditas tersebut bisa kembali seperti semula.
“Memang selama empat tahun ini produksi kopi di Jateng selalu mengalami fluktuasi mengikuti anomali cuaca yang terjadi. Jika pada tahun 2011 kami mengalami penurunan produksi, maka pada tahun 2012 dan 2013 ada peningkatan produksi, selanjutnya pada tahun 2014 produksi kembali menurun, harapan kami tahun ini bisa kembali meningkat,” kata Moelyono.