Perdagangan Jagung Menaik

Analisa Trading – Perdagangan komoditas jagung pada hari Senin (5/1) menaik.

corn-in-a-field

Perdagangan jagung dibuka pada tingkat 395,6. Sampai pukul 16.40 WIB, perdagangan ini menyentuh posisi tertinggi 399 dan posisi terendah 394,4 pada grafik perdagangan.

Jagung berada pada angka 398,12 pada pukul 16.40 WIB. Komoditas ini mengalami kenaikan sebesar 1,73 poin atau 0,37%.

Sumber: financeroll.co.id

Emas Rebound, Investor Menilai Kebijakan The Fed

Analisa Trading – Harga emas sempat anjlok ke level rendah dua minggu sehingga memicu aksi pembelian, sehubungan dengan para investor yang masih melakukan penilaian terhadap keputusan para pejabat Federal Reserve malam tadi. Kata “waktu yang sesuai” atau “considerable time” memang sudah tak disebutkan. Namun, The Fed lebih memilih untuk menggunakan kata “bisa bersabar”, yang kemudian diartikan dovish oleh para pelaku pasar.

emas
Harga bulion untuk pengiriman segera mengalami kenaikan sebanyak 0.4 persen ke $1,194.48 per ons dan diperdagangkan pada $1,193.52 pada pukul 9:45 pagi waktu Singapura, demikian menurut data harga di Bloomberg. Logam mulia tersebut anjlok kemarin ke posisi $1,183.89, level terendah sejak tanggal 1 Desember dengan suku bunga acuan AS yang belum dinaikkan dari kisaran nol sejak bulan Desember 2008 bulan ini. Meski demikian, ekonomi AS tengah menuju ke arah pemulihan untuk pertama kalinya sejak tahun 2006.

Di sisi lain, emas berjangka untuk pengiriman Februari jatuh 0.1 persen ke posisi $1,193.70 per ons di Comex New York, setelah kemarin sempat merosot ke $1,182, level terendah sejak tanggal 1 Desember. Menurut Lv Jie, analis dari Cinda Futures Co. di Hangzhou, Tiongkok, ada kemungkinan minat beli berada di bawah level $1,200. Pernyataan The Fed masih cukup menguatkan Dolar AS sehingga emas bearish, demikian tutur Jie pada Bloomberg.

 

sumber: seputarforex.com

Harga Komoditas Diyakini Menguat akibat Faktor Permintaan

Analisa Trading – Sebagian besar komoditas utama dunia diperjualbelikan dengan memakai satuan Dollar. Oleh karena itulah saat nilai tukar USD menguat, investor kerap alergi membeli produk-produk hasil bumi semacam minyak atau emas karena harga jualnya menjadi lebih mahal di pasaran, terutama bagi pemodal yang mata uang utamanya bukan Dollar.

19minyak

Di tengah tren penguatan Dollar terhadap sebagian mata uang dunia, harga-harga komoditas ikut berkurang karena kehilangan pembeli. Namun demikian, masih banyak pihak yang optimis kalau faktor kenaikan Dollar tidak akan terus berdampak negatif terhadap kinerja komoditas. Faktor korelasi antara permintaan dan persediaan barang akan lebih berpengaruh ketimbang Dollar semata.

Menurut Ahli Strategi Komoditas ANZ Bank, Daniel Hynes, tren penguatan Dollar tidak akan berpengaruh besar lagi terhadap pergerakan harga komoditas dalam 6 sampai 12 bulan ke depan. Efek penguatan kurs bisa diimbangi oleh peningkatan jumlah permintaan produk komoditas dari beberapa negara besar. “Alasan fundamental tidak bisa diabaikan begitu saja. Faktor permintaan dan persediaan dapat mengurangi korelasi nehatif antara kurs Dollar dan harga komoditas,” ujarnya. Hynes menilai respon harga masing-masing komoditas di pasar akan sangat berbeda-beda terhadap pergerakan Dollar. Permintaan komoditas fisik yang besar akan menutupi pengaruh Dollar, terutama untuk produk-produk logam mulia. Sedangkan untuk minyak mentah, korelasinya dengan Dollar akan tetap negatif. Kontrak minyak Nymex WTI saat ini terpantau naik sekitar 18 sen ke level $56.65 per barel.

sumber: monexnews.com

Minyak Masih Lemah Seiring Rusia Ikuti Langkah OPEC

Analisa Trading – Minyak di New York di perdagangkan di dekat level terendah dalam lima tahun seiring Rusia menegaskan bahwa mereka akan tetap mempertahankan stabilitas produksi minyak mentah mereka pada tahun depan, mengikuti startegi OPEC untuk menahan diri dari pembatasan suplai untuk meredam surplus minyak global.

19minyak

Kontrak berjangka turun sebanyak 2.4% setelah kemarin tergelincir ke bawah $54 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei 2009. Menteri Energi Rusia, Alexander Novak mengatakan bahwa Output dari Rusia, yang merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia, akan sama dengan tahun ini di kisaran 10.6 juta barel perhari. Iran mengatakan bahwa mereka menawarkan diskon terbesar untuk pengiriman ke Asia dalam 14 tahun terakhir, mereka mengikuti langkah Arab Saudi yang melakukan pengurangan harga.

Minyak telah merosot sebesar 43% pada tahun ini seiring melonjaknya pengeboran minyak shale yang meningkatkan produksi minyak AS ke laju tercepat dalam tiga dekade di tengah melambatnya pertumbuhan permintaan global. Para anggota utama OPEC seperti Arab Saudi telah menolak seruan dari pada produsen yang lebih kecil yang termasuk Venezuela dan Ekuador untuk mengurangi kuota produksi untuk meredam penurunan harga.

“OPEC tidak akan membuat pergerakan, kecuali AS mengurangi terlebih dahulu produksinya, dan untuk saat ini tampaknya permainan ini kemungkinan akan terus berlanjut sampai tahun depan,” kata Kang Yoo Jin, analis komoditas di Woori Investment & Securities Co. di Seoul. “Seiring anjloknya harga minyak, tampaknya keputusan strategi dari negara-negara produsen yang termasuk OPEC dan Rusia akan tetap mempertahankan level output mereka tidak berubah.

Minyak WTI Januari tergelincir sebanyak $1.32 menjadi $54.61 per barel di dalam perdagangan elektronik di Nymex dan saat ini bergerak di kisaran $54.95 pada pukul 16.44 wib. Harga minyak saat ini berada di jalur penurunan tahunan terbesar sejak tahun 2008.

sumber: monexnews.com