Perbedaan Arah Kebijakan Moneter Yang Mempengaruhi Pasar Minggu Ini

Perkembangan weekend kemarin menunjukkan kebangkitan kembali risiko geopolitik konflik Ukraina yang mendorong penguatan emas dan depresiasi lintas pekan Euro. Namun demikian, kebijakan moneter bank sentral masih akan bermain minggu ini, seiring dengan munculnya berbagai rilis fundamental yang akan mempengaruhi kebijakan, seperti CPI dan pengangguran, khususnya AS, Inggris, Zona Euro, dan Jepang. Berikut kami akan mengevaluasi untuk Anda, sejumlah poin penting yang telah muncul sejauh ini.

The Fed – Arah Kebijakan Makin Tidak Jelasjanet yellen - caricature
Publikasi notulen rapat kebijakan The Fed, FOMC, minggu lalu, menampilkan profil pejabat-pejabat The Fed yang cenderung dovish dan enggan menaikkan suku

bunga. Akibatnya, dollar melorot dalam berbagai pair. Namun demikian, pelaku pasar masih enggan men-short Dollar secara total karena The Fed tetap konsisten melakukan tapering stimulus bulanan-nya. Fluktuasi USD di chart mencerminkan perspektif ini.

Data-data AS yang dipublikasikan seminggu kedepan kemungkinan hanya akan berdampak sejenak, jika perubahan angka-nya tidak terlalu drastis. Yang perlu dicermati dan bisa merubah arah trend adalah pidato Janet Yellen hari Selasa dan Rabu malam. Terlepas dari sejumlah blunder yang telah dilakukan Yellen akhir-akhir ini, pasar masih menantikan kejelasan mengenai kapan suku bunga akan dinaikkan. Walaupun, ada juga kemungkinan USD akan terus beredar tak menentu jika Yellen bungkam mengenai masalah ini.
BoE – Perekonomian Melaju Kencang
Rapat komite kebijakan moneter Bank of England (BoE) minggu lalu memutuskan tingkat suku bunga dipertahankan pada 0,5%. Bunga tersebut telah diberlakukan sejak 5 Maret 2009, dan sekalipun BoE telah berulang kali menjanjikan akan menaikkan, tetapi sejauh ini masih berupa janji. Akibat dari membiarkan suku bunga terlalu rendah, masyarakat jadi beramai-ramai membeli barang dengan kredit, termasuk properti. Akhirnya, Inggris kini dihadapkan pada bahaya harga properti yang membumbung tinggi. Perlu diingat bahwa krisis Subprime Mortgage Amerika tahun 2008 dulu juga dipicu oleh booming sektor properti semacam ini.

Syukurnya, para Analis yang disurvei Bloomberg terbagi dua dalam menanggapi apakah pasar properti Inggris tersebut dalam bahaya; bulan lalu 73% mengatakan ya, sedangkan bulan ini hanya 58% yang berpikir demikian. Secara keseluruhan, opini analis akan perekonomian Inggris menunjukkan optimisme yang meningkat. Data ekonomi Inggris sejak awal tahun ini memang cukup memuaskan, dan dengan sendirinya membendung risiko pasar properti. Pengangguran, misalnya, berdasarkan hitungan terakhir tercatat 7,2%. Walau demikian, pejabat BoE menyatakan takkan menaikkan bunga hingga pengangguran menyentuh angka 7%.

Situasi ini menjadikan rilis CPI Inggris Selasa besok dan data pengangguran hari Rabu bisa jadi menggoyang atau memantapkan pergerakan GBP. Gubernur BoE, Mark Carney, memang telah mengisyaratkan kemungkinan kenaikan bunga sebelum pemilu Inggris bulan Mei, namun sebagian analis masih ragu. Dibutuhkan konsistensi perbaikan data-data fundamental sebelum BoE mengambil langkah itu.

ECB – No Action, More Gain
Analis dari BK Asset Management, Boris Schlossberg, mengatakan bahwa bank sentral Eropa menggali kuburnya sendiri dengan sikap pasif dan acuh-nya tentang resiko deflasi di zona Euro. Tak bisa dipungkiri bahwa inflasi di zona Euro maupun negara-negara didalamnya kian merosot dari waktu ke waktu, dan semakin lama ini dibiarkan, maka semakin sulit pula nantinya untuk memperbaiki problema ini. Jatuhnya pasar saham dan melonjaknya EUR/USD merupakan dua hal yang nantinya akan memperparah keadaan.

Sementara itu, weekend kemarin ditandai dengan sinyal stimulus dari gubernur ECB serta meningkatnya kembali tensi di Ukraina. Kedua hal itu membuat Euro dibuka melemah pada pembukaan trading awal pekan. Namun, selama tidak ada aksi konkrit dari ECB dalam menyikapi kemerosotan inflasi, maka besar kemungkinan EUR/USD akan kembali mendaki ke arah 1,4000. Semua pihak mengharapkan langkah konkrit, bukan jawboning semata.

BOJ – Ada Stimulus Lagi?
Langkah pemerintah Jepang meningkatkan pajak konsumsi mengacaukan perbaikan ekonomi yang sudah tercapai. Sesuai dugaan, perusahaan kecil cenderung menanggung pajak tersebut, bukannya membebankan pada konsumen. Kementrian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri sampai-sampai menerjunkan 474 petugas ke lapangan untuk memastikan penyimpangan itu tidak terjadi. Sementara itu, kenaikan harga barang di tingkat konsumen telah membuat masyarakat makin tertekan ditengah merosotnya gaji karyawan.

Intinya, bukannya mendorong pencapaian target inflasi 2%, kenaikan pajak ini malah dikhawatirkan menggagalkan target tersebut. Tapi tenang saja, Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda dalam pertemuan di Washington minggu lalu menegaskan bahwa BoJ siap bertindak jika pencapaian target terganggu. Ekonom dari Goldman Sachs mengatakan bahwa apabila data bulan April hingga Juni menunjukkan risiko gangguan tersebut, maka BoJ kemungkinan akan menambah stimulus moneter pada rapat kebijakan bulan Juli 2014.

Bagi Anda trader Yen, perhatikan pidato Kuroda minggu ini yang dijadwalkan pada Rabu siang dan Kamis pagi. Ia kemungkinan akan memberikan tafsiran kondisi ekonomi Jepang terkini yang bisa jadi dan bisa tidak mendorong BoJ untuk menambah stimulus.