European Central Bank (ECB)

Bank sentral negara-negara mata uang utama perlu diketahui para trader forex karena kebijakannya sangat mempengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang negara tersebut. Jika kebijakan bank sentral suatu negara mendukung penguatan mata uangnya maka akan banyak investor yang tertarik untuk membeli mata uang negara tersebut dan sebaliknya. Bank sentral negara mata uang utama yang paling muda adalah milik negara-negara Uni Eropa yaitu European Central Bank (ECB), dengan anggota negara-negara Uni Eropa yang menggunakan mata uang Euro atau lazim disebut dengan kawasan Euro (Euro Zone).

Untuk mengetahui pengaruh bank sentral dalam pasar forex, pertama kita perlu tahu tugas utama bank sentral tersebut dan besaran ekonomi yang dianggap penting, kedua: mengetahui jadwal meetingnya sebagai antisipasi dalam rencana trading kita, dan ketiga: mengetahui tindakan apa saja yang biasanya dilakukan bank sentral sehingga bisa mempengaruhi nilai tukar mata uang negara tersebut.

Latar belakang ECB
Aspek yang unik dari kawasan Euro adalah bahwa negara-negara anggota tersebut sepakat untuk mengelola kebijakan moneternya dengan membentuk sebuah bank sentral. Kawasan Euro saat ini terdiri atas 18 negara dimana Latvia masuk sebagai anggota sejak 1 Januari 2014. Berikut map kawasan Euro dimana tidak semua negara yang tergabung dalam Uni Eropa menjadi bagian dari ECB.

kawasan euro

Tugas ECB
ECB adalah bank sentral yang mempunyai satu tugas yaitu menjaga tingkat inflasi. Oleh karena itu ketika data Consumer Price Index (CPI) kawasan tidak seperti yang diharapkan seperti terjadi pada Oktober 2013 maka para pelaku pasar mulai menjual Euro dengan asumsi ECB akan mengambil tindakan yang akan berakibat pada melemahnya nilai tukar Euro.
Berikut data inflasi kawasan Euro antara tahun 2006 hingga 2014 dan ekspektasi untuk tahun 2015:

inflasi euro

Pada tahun 2006 tingkat inflasi kawasan berkisar antara 2.0%. Dalam keterangan pada website ECB tertulis bahwa fokus bank sentral adalah kestabilan harga, yang sangat dipengaruhi oleh tingkat inflasi. Target inflasi yang diharapkan ECB dalam jangka menengah adalah sekitar 2.0%. Jika tingkat inflasi kawasan ternyata jauh lebih rendah atau jauh lebih tinggi dari angka target maka ECB akan bertindak dengan mengambil kebijakan moneter tertentu. Seperti yang terjadi pada tahun 2009 hingga 2011 ketika inflasi naik, ECB dengan presidennya Jean Claude Trichet waktu itu menaikkan tingkat suku bunga hingga membuat nilai tukar mata uang Euro menguat.

Namun demikian ECB harus kembali menurunkan suku bunganya ketika terjadi krisis hutang yang dialami sebagian anggotanya. Krisis hutang kawasan mulai terjadi pada akhir tahun 2008 yang menimpa Yunani, Spanyol, Portugal, Irlandia dan Italia. Yield bond negara-negara tersebut sangat rendah untuk kembali memperpanjang hutangnya sehingga ECB mesti turun tangan memberikan bantuan dana (bail out).

Kenaikan suku bunga membuat Euro menguat seperti tampak pada chart EUR/USD diatas, dan ketika terjadi tekanan ekonomi global dimana nilai tukar mata uang yang kuat tidak menguntungkan sektor perdagangan (terutama ekspor), maka ECB kembali menurunkan tingkat suku bunganya sehingga EUR kembali melemah.

Selain itu ECB juga pernah menaikkan stock mata uang Euro-nya sebagai cadangan devisa bank sentral negara-negara lain seperti tampak pada gambar chart diatas yang mengakibatkan naiknya nilai tukar EUR terhadap USD. Untuk menjaga agar mata uang Euro tidak terlalu mahal, tampaknya saat ini ECB membuat patokan nilai tukar EUR/USD maksimal pada level 1.4000, dan jika melebihi nilai tersebut maka ECB akan bertindak untuk memperlemah EUR agar tetap kompetitif.