Sektor Perbankan dan Farmasi Sokong Penguatan Bursa Jepang

bursa jepang

Analisatrading – Saham-saham defensif menjaga indeks bursa Jepang bertahan di zona hijau pada Selasa. Indeks Nikkei 225 ditutup naik 0,58% atau 108,88 poin ke level 18,982,23, sedangkan Tokyo Stock Price Index (Topix) naik 0,93% atau 14,17 poin ke level 1.543,39. Penguatan Nikkei dan Topix ditopang oleh saham-saham sektor defensif di tengah ketidakpastian prospek perekonomian ke depan.

Sektor perbankan memimpin penguatan didorong oleh Mitsubishi UFJ yang naik 1,13% dan Mizuho yang menguat 1,37%. Sektor farmasi juga menguat signfikan ditopang oleh Takeda Pharmaceutical yang naik 2,77% dan oleh Astellas yang menguat 1,7%. “Investor mencoba mencari tahu arah ekonomi global. Sektor defensif menjadi pilihan daripada sektor yang siklikal,” kata Nabuhiko Kuramochi dari Mizuho Securities kepada Bloomberg. (FR)

Nikkei Masih Menguat

AnalisaTrading-Bursa perdagangan Nikkei Jepang terpantau naik, Jumat (30/1).

Indeks Nikkei naik 0.7% ke level 17.724.62.

Selain itu, ketersediaan lowongan kerja di Jepang naik ke tingkat tertinggi lebih dari dua dekade ditopang dari tingkat pengangguran yang turun 3,4%, dari bulan sebellumnya 3,5%. Sementara pada perdagangan mata uang, dolar melemah terhadap Yen ke level 118.28 dari 118.34 (FR)

Defisit Perdagangan Jepang Menyusut Oleh Penurunan Impor Migas

Analisa Trading – Defisitnya  perdagangan Jepang yang sudah berlangsung selama 26 bulan kembali menyusut setelah bulan sebelumnya melonjak naik. Menyempitnya defisit perdagangan ini disebabkan turunnya aktivitas impor Jepang melebihi penurunan ekspor pada bulan Agustus lalu.

Dari laporan Kementrian Keuangan Jepang hari ini (18/9)  defisit perdagangan pada bulan Agutus lalu mencapai ¥ 948,5 miliar  ($ 8.800.000) yang merupakan koreksi penurunan dari bulan Juli yang mencapai ¥ 962,13 miliar. Dan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya defisit sedikit lebih rendah dari defisit ¥ 971.4 miliar.

Japan Balance of Trade
Ekspor negeri sakura ini dilaporkan  turun 1,3 persen dari tahun sebelumnya menjadi ¥ 5,71 triliun   (US $ 53300000000), sedangkan impor turun 1,5 persen menjadi ¥ 6,65 triliun  (US $ 62100000000). Turunnya impor Jepang mengurangi tagihan pembelian minyak mentah dan gas alam cair selama ini.

Pelemahan  nilai tukar yen Jepang sejauh ini masih belum bisa  untuk memacu meningkatnya ekspor, yang disebabkan melemahnya permintaan global pasca pertumbuhan ekonomi global yang melemah  meskipun pemulihan sedang terjadi di Amerika Serikat dan sebagian Eropa. Ekspor terbesar selama ini dari Tiongkok masih belum menunjukkan perbaikan pasca konflik geopolitik dengan negara tersebut.

Ekspor Jepang ke China turun 0,2 persen dari tahun sebelumnya menjadi 1,12 triliun yen (US $ 10400000000) sedangkan impor turun 5,3 persen menjadi 1,35 triliun yen (US $ 12600000000). Sedangkan ekspor ke AS turun 4,4 persen, karena pengiriman mobil yang  tersendat, mencapai 1 triliun yen ($ 9500000000), meskipun impor dari Amerika Serikat melonjak hampir 11 persen menjadi 637.100.000.000 ($ 5900000000). (VN)

PMI Manufaktur Jepang Melonjak Di Bulan Agustus

Analisa Trading – Sebuah data resmi yang dirilis pada hari Kamis(21/08) menunjukan bahwa PMI manufaktur Jepang untuk bulan Agustus telah alami peningkatan lebih dari perkiraan.

Menurut data yang telah dikumpulkan oleh Markit, PMI manufaktur Jepang telah alami peningkatan 52.4, dari 50.5 di bulan sebelumnya.

Analis telah memperkirakan PMI manufaktur Jepang untuk naik menjadi 51.7. (FC)

Kenaikan Pajak Beri Dampak Negatif, GDP Jepang Kuartal Kedua Anjlok

Analisa Trading – Ekonomi Jepang tercatat alami kontraksi terbesar sejak gempa tiga tahun lalu sebagai dampak dari konsumsi dan investasi yang anjlok setelah kenaikan pajak penjualan pada April lalu dimana kenaikan pajak itu dilakukan untuk membatasi beban utang negara yang saat ini menjadi yang terbesar di dunia. Sementara PDB Jepang juga menyusut menjadi sebesar 6,8 persen (yoy) di sepanjang kuartal kedua tahun ini:

Japan Gdp Growth Annualized

Namun demikian Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe masih mengharapkan terjadinya rebound yang lebih cepat dalam ekonomi Jepang, padahal tingkat output negara ini telah jatuh ke level terbesarnya sejak Maret 2011 lalu. Melihat hal ini, Menteri Ekonomi Jepang, Akira Amari mengatakan bahwa mereka akan mengambil tindakan fleksibel yang dirasa perlu diambil agar tidak membuat Jepang semakin terpuruk.

Kontraksi di sepanjang kuartal kedua lalu diikuti lonjakan pertumbuhan pada kuartal pertama ketika konsumen dan perusahaan berburu untuk melakukan pembelian barang sebelum pajak naik tanggal 1 April.

Data tambahan menunjukkan bahwa tingkat konsumsi rumah tangga anjlok pada laju tahunan 19,2 persen jika dibandingkan dari kuartal sebelumnya, sementara investasi swasta tenggelam 9,7 persen. Harga konsumen naik 3,6 persen pada Juni lalu dari tahun sebelumnya – sembilan kali kenaikan total pendapatan kas – dan harga pangan naik 5,1 persen.

Yang terjadi di Jepang saat ini adalah lesunya perdagangan sebagian besar disebabkan oleh jatuhnya volume impor sebagai akibat dari permintaan domestik yang lebih lemah, sementara kegiatan ekspor juga menunjukkan penurunan baru. Impor jatuh sebesar 20,5 persen sementara ekspor turun 1,8 persen.

Ekonomi Jepang diperkirakan akan tumbuh sebesar 2,9 persen (yoy) di sepanjang kuartal ketiga mendatang. Untuk mendongkrak perekonomian Jepang kedepannya, pemerintah berencana meningkatkan pajak penjualan menjadi 10 persen pada Oktober 2015 dari 8 persen sekarang. Abe akan memutuskan apakah akan melanjutkan dengan rencana pada akhir tahun, berdasarkan kekuatan ekonomi. (VN)

BoJ: Jepang Dapat Saksikan Berakhirnya Deflasi

Analisa Tarading – Gubernur Bank of Japan, Hiroshi Nakaso mengatakan pertumbuhan ekspor Jepang sedang berjalan lesu, akibat lambatnya pertumbuhan di negara berkembang, dan penurunan permintaan dari AS.

Penaklukan deflasi di Jepang yang sekarang terlihat bagaimanapun hanya setengah jalan ke arah pencapaian target stabilitas harga 2 persen, seperti yang dikatakan Nakaso dalam sebuah pidato kepada pemimpin bisnis di Shizuoka, Jepang Timur, hari ini Rabu (23/7)

BOJ tidak dapat menggunakan strategi yang sama digunakan untuk kembali pada tahun 2006 untuk mengakhiri stimulus, Saat ini sebutan program quantitative and quantitative easing (QQE) ialah neraca lebih besar dan penuh dengan utang dengan durasi yang lebih lama.

“Tapi kita sudah memiliki berbagai alat untuk menarik likuiditas,” katanya menambahkan, bahwa bagaimana menggunakan program dan dalam rangka itu tergantung pada ekonomi dan kondisi harga.

BOJ telah meninggalkan kebijakan tidak berubah sejak melepaskan intens stimulus pada bulan April tahun lalu, ketika berjanji untuk menarik kronis negara Jepang dalam deflasi

Beberapa analis, memperingatkan bahwa jika inflasi mempercepat menuju 2 persen sebagai proyek BoJ, hal tersebut dapat meningkatkan spekulasi bank sentral akan pembelian aset yang bagus. (FC)

Persediaan Uang M2 Jepang Turun Sesuai Dengan Harapan

Analisa Trading – Sebuah data resmi yang dirilis pada hari Rabu(09/09)menunjukan bahwa persediaan uang M2 Jepang turun di bulan Juni.

Menurut laporan dari Bank Sentral Jepang, persediaan uang M2 Jepang telah turun dalam penyesuaian musiman menjadi 3.0%, dari 3.3%.

Analis telah memperkirakan persediaan uang M2 Jepang untuk turun menjadi 3.0%.

Paska dirilisnya data tersebut, USDJPY diperdagangkan menguat 0.03% di level 101.62. (FC)

Penjualan Ritel Jepang Menurun Tajam, Effect Kenaikan Pajak Bersifat Sementara

Analisa Trading – Penjualan ritel di Jepang mengalami kontraksi 4,4 persen pada setahun di bulan April, demikian  Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri mengatakan pada hari Kamis (29/5). Penurunan ini merupakan penurunan tercepat yang pernah terjadi setelah peristiwa gempa bumi dna tsunami pada Maret 2011.

jepang2

Hal ini sebenarnya jauh dari perkiraan yaitu 3,3 persen setelah lonjakan 11,0 persen pada bulan sebelumnya yang terjadi sebagai response para konsumen atas diberlakukannya kenaikan pajak penjualan pada awal April. Setelah kenaikan pajak penjualan maka penjualan ritel pun turun dengan tajam.

Penjualan dari pengecer besar turun 6,8 persen pada setahun ke ¥ 1,467 triliun – melampaui ekspektasi sebelumnya di 7,1 persen menyusul lonjakan 16,1 persen bulan sebelumnya.

Penjualan komersial turun 3,9 persen pada setahun ke ¥ 36,821 triliun, setelah melompat 8,5 persen pada bulan sebelumnya.

Grosir penjualan merosot 3,7 persen setahun menjadi 25,810 triliun yen – turun tajam dari lompatan 7,5 persen pada bulan sebelumnya.

Pada basis bulanan, penjualan ritel anjlok 13,7 persen – sedangkan perkiraan sebelumnya adalah 11,7 persen setelah sebelumnya terjadi kenaikan 6,4 persen pada bulan Maret (prediksi awal 6,3 persen).

Namun demikian, pejabat bank sentral mengatakan bahwa dampak negatif dari kenaikan pajak akan bersifat sementara dan bahwa perekonomian akan terus berkembang. Ada beberapa tanda-tanda positif bulan ini yang menunjukkan bahwa ekonomi terbesar ketiga di dunia ini akan dapat mengatasi dampak kenaikan pajak. (VN)

Tanda Pemulihan Perekonomian Mulai Terlihat, Iklim Investasi Jepang Dinilai Positif

pemerintah Jepang menyatakan bahwa saat ini perekonomian Jepang terutama dari sisi investasi sedang mengalami peningkatan. Perekonomian Jepang saat ini sedang berada pada tren pemulihan yang moderat, sementara beberapa indikator ekonomi yang terlihat melemah di kuartal pertama lalu merupakan reaksi atas tingginya permintaan sebelum sebelum kenaikan pajak konsumsi diberlakukan.

Bisnis investasi di Jepang saat ini memang tercatat meningkat, namun tetap output yang diperoleh lebih rendah dari bisnis di sektor industri. The Bank of Japan (BOJ) pada pekan ini meningkatkan penilaiannya terhadap segi belanja modal sebagai efek dari keuntungan perusahaan yang meningkat.

Pada indikator ekonomi lainnya, PMI Manufaktur Jepang untuk bulan Mei ini menunjukkan level tertingginya dalam 2 bulan terakhir yaitu pada 49,9, setelah sebelumnya pada April lalu tercatat pada 49,4.

Hal ini juga menunjukkan suatu indikasi positif atas perekonomian Jepang dimana sektor manufaktur mulai menunjukkan kestabilannya setelah terjadi penurunan tajam pada April lalu.

Meskipun memang tidak dapat dipastikan dengan tepat kapan perekonomian Jepang akan kembali pulih dan stabil. Namun optimisme pasar hingga saat ini masih memberikan aura positif terhadap pemulihan ekonomi negara tersebut, salah satunya adalah dengan rilis data beberapa indikator ekonomi Jepang yang berhasil menunjukkan hasil positif ditengah kontraksi ekonomi.

Untitled

Departemen Keuangan Jepang telah merilis surplus anggaran pemerintah yang terendah sejak tahun 1985, kondisi tersebut disebabkan berkurangnya ekspor sehingga nyaris mengalami defisit. Dan jika pengiriman ke luar negeri terus menurun dari perkiraan bank sentral, maka pemulihan ekonomi dari negara terbesar ketiga di dunia ini dapat tertunda.

Pertumbuhan ekspor tahunan tertinggi  yaitu  18,6% pada bulan Oktober 2013 lalu namun tergelincir menjadi 1,8% di bulan Maret 2014 menurut data terbaru yang telah tersedia. Pengiriman ke seluruh Asia hanya naik setengah dari total, atau 1,4% pada bulan tersebut dan selain itu, volume ekspor turun 2,5% pada bulan Maret. ekspor

Melemahnya yen seharusnya meningkatkan penjualan luar negeri pada waktu naiknya pajak penjualan pada 1 April yang lalu. Kenaikan pajak tersebut mengakibatkan terjadinya penurunan tingkat konsumsi padahal kenaikan pajak  ini sebenarnya diciptakan untuk mengangkat eksport secara bertahap.

Dengan kondisi tersebut BOJ akan meninjau kebijakannya kembali dalam beberapa bulan mendatang, namun BOJ beranggapan kebijakan menaikkan pajak awal bulan lalu akan membawa Jepang keluar dari deflasi dari kondisi ekonomi yang sedang rapuh.

Sebagai informasi sebelumnya Jepang telah kembali mengalami pertumbuhan ketika adanya stimulus moneter besar-besaran yang dikeluarkan pada 13 bulan yang lalu ketika Haruhiko Kuroda mengambil alih kepemimpinan di BOJ. Pada awalnya tanda-tanda yang muncul sangat mendukung keputusan BOJ bahwa kenaikan pajak penjualan pada bulan lalu tidak akan menggagalkan pemulihan perekonomian yang sedang terjadi apalagi menyeret kembali Jepang kepada deflasi.

Bank Sentral memperkirakan pertumbuhan eksport akan semakin cepat dan  menjamin bahwa harga yang ada telah sesuai untuk mencapai target inflasi sebesar 2%. Selain itu juga BOJ tidak ragu untuk memberikan kebijakan kemudahan moneter jika ternyata terdapat hambatan atas pencapaian tujuan yang semula.

BOJ  akan menjaga kepercayaan di masa-masa pemulihan ekonomi ini dengan tidak menyuarakan bahwa adanya keraguan tentang skenario yang telah diambil. Itulah sebabnya BOJ perlu untuk berpegang teguh pada proyeksinya bahwa ekspor akan menjadi pulih.

Pemulihan eksport ini memang tidak akan secepat yang BOJ inginkan. BOJ menekankan bahwa menurunnya ekspor saja tidak akan merevisi kebijakan yang ada. Tetapi BOJ mengakui bahwa stimulus mungkin akan diberikan  jika ekonomi terkena double impact baik dari melemahnya eksport secara terus menerus dan juga gagalnya konsumsi rumah tangga pulih pasca kenaikan pajak penjualan.

BOJ haruslah melakukan sesuatu sesegera mungkin, paling tidak pada bulan Juli dengan memberikan stimulus seperti pembelian obligasi pemerintah dan asset lainnya. Bulan Juli adalah bulan yang tepat untuk mengevaluasi kembali kebijakan ini.