Lagi, salah kaprah di bursa saham

Pertama, investor percaya, return rata-rata investasi saham tercermin dari pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Jika return portofolio saham di atas pertumbuhan IHSG, kinerja portofolio tersebut dikatakan bagus karena sukses mengalahkan pasar.

Pandangan ini salah, karena IHSG hanya menggambarkan komponen capital gain (kenaikan harga). Sementara itu, return investasi terdiri atas dividen dan capital gain. Karenanya, return acuan untuk kinerja pasar (atau rata-rata) seharusnya adalah perubahan IHSG + dividend yield yang besarnya sekitar 2%. Jika IHSG tahun lalu naik 22,3%, maka return patokan portofolio seharusnya adalah 24,3% (22,3%+2%).

Kedua, masih berkait dengan yang pertama. Untuk mengukur kinerja sebuah reksadana saham mengalahkan pasar atau tidak, kita dapat membandingkan return reksadana itu dengan perubahan IHSG periode yang sama. Jika IHSG tumbuh hingga 106,2% lima tahun terakhir, yaitu dari awal tahun 2010 hingga akhir tahun 2014, reksadana yang memberikan return lebih baik dari angka tersebut umumnya langsung menyebutkan diri mereka hebat, karena mengungguli pasar.

Bahkan ada yang hanya naik di atas rata-rata reksadana saham lain juga mengklaim mengalahkan pasar. Investor awam umumnya percaya .

Pandangan itu keliru karena return rata-rata reksadana saham lima tahun terakhir 84,2% dengan median 81,7%. Kinerja reksadana saham ternyata lebih dekat dengan pertumbuhan indeks LQ-45, yang hampir selalu di bawah IHSG tujuh tahun terakhir kecuali tahun lalu.

Ini lantaran di reksadana saham hampir pasti adalah saham-saham likuid dan kapitalisasi besar atau masuk LQ-45. Yang membedakan satu reksadana saham dengan yang lain hanya bobot saham LQ-45 itu dalam portofolio mereka.

Lima tahun terakhir indeks LQ-45 ternyata tumbuh jauh di bawah IHSG, hanya 80,3% berbanding 106,2%. Dengan menggunakan acuan 106%, hanya ssebelas dari 52 reksadana saham berumur lima tahun atau lebih yang benar-benar mengalahkan IHSG.

Jika dividend yield IHSG yang sebesar 2% setahun diperhitungkan, tersisa empat reksadana saja yang dapat menyebut lebih hebat dari pasar. Sisanya, sebanyak 48 reksadana saham dalam rupiah kalah dari kinerja pasar.

Ketiga, berhubungan dengan strategi investasi. Banyak yang menganggap, strategi aktif mampu mengalahkan yang pasif. Bukankah keuntungan harian yang hanya 0,5% menjadi 100% lebih setahun?

Para trader percaya jika keuntungan bulanan 3% menjadi 42,6% setahun dengan menggunakan konsep bunga majemuk. Masalahnya, siapa yang memastikan return harian 0,5% atau bulanan 3% itu? Untung belum pasti, tapi biaya transaksi tetap harus dibayar.

Dengan sering bertransaksi, Anda akan disukai banyak pihak. Mulai dari broker dan perusahaan sekuritas Anda hingga self-regulatory organization (SRO), seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Anda memperbesar keuntungan mereka, tapi belum tentu untuk diri Anda sendiri.

Salah kaprah ini juga menjelaskan mengapa hanya segelintir manajer investasi pengelola reksadana saham berkinerja bagus, sementara yang lain biasa-biasa saja dan melempem. Ini karena mereka menerapkan strategi aktif dengan mengandalkan analisis momentum dan teknikal. Akibat strategi dan pendekatan ini, mereka sering bertransaksi sehingga biaya transaksi besar.

Pakar investasi sekelas Warren Buffett dan Benjamin Graham menyarankan agar para investor menghindari reksadana aktif dan hanya mengoleksi reksadana pasif, terutama reksadana indeks. Ini senada dengan hasil penelitian Barber dan Odean yang dipublikasikan di jurnal keuangan paling bergengsi, yaitu Journal of Finance dengan judul provokatif, yaitu Trading is Hazardous to Your Wealth (2000).

Pengamatan saya, tak banyak investor kita yang menyadari kalau strategi aktif apalagi ikut-ikutan pasar, berbahaya bagi kekayaan mereka.

Keempat, banyak investor domestik percaya, jika investor asing dengan dana besarnya menguasai sekitar 65% saham free-float mempunyai kemampuan analisa lebih baik. Sehingga akan memperoleh return lebih besar daripada investor dalam negeri. Terbukti, IHSG umumnya naik jika terjadi net buyasing dan sebaliknya.

Penelitian Dvorak dalam Journal of Finance (2005) berkesimpulan sebaliknya. Investor saham domestik yang nasabah sekuritas asing, memperoleh keuntungan lebih besar dan lebih unggul dalam informasi. Sejatinya, investor bermodal besar di bursa berkapitalisasi kecil seperti di BEI juga mengalami kesulitan, yaitu market impact.

Saham apapun yang dibeli akan naik dan yang dijual akan turun. Sementara itu,  investor dengan dana ngepas lebih fleksibel karena dapat keluar-masuk tanpa berdampak ke pasar

Jepang Lebih Pilih Investasi di RI daripada China

Bank Indonesia (BI) mencatat hingga akhir Mei 2014 arus modal yang masuk ke mencapai Rp130 triliun dan tersebar pada berbagai instrumen keuangan baik surat berharga maupun instrumen lainnya di pasar modal.

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah mengatakan, besarnya kepercayaan dunia terhadap perekonomian Indonesia juga tercermin dari derasnya aliran modal masuk sepanjang Januari-Mei 2014.

“Tren peningkatan kepercayaan pasar dan investor global terhadap perekonomian Indonesia merupakan potret atraktifnya perekonomian nasional dalam satu dekade terakhir,” seperti dilansir dari laman Setkab, Senin (16/6/2014).

“Stabilitas dan fundamental ekonomi nasional yang terus menunjukkan penguatan ini menjadi modal besar untuk mempercepat serta memperluas program-program pembangunan yang sedang berjalan saat ini,” tambah dia.

Firmanzah menilai, besarnya arus investasi yang berlangsung sejak awal 2012 hingga saat ini merupakan refleksi dari semakin besarnya kepercayaan investor terhadap perkembangan ekonomi nasional.

“Lonjakan realisasi investasi dalam beberapa tahun ini juga merupakan konfirmasi dari peringkat investment grade zone yang diberikan oleh S&P, Moodys, The Fitch, dan R&I beberapa waktu lalu,” katanya.

Menurut dia, Indonesia kini banyak dilirik investor global sebagai destinasi investasi yang menarik dengan pertimbangan stabilitas dan positifnya kinerja ekonomi nasional. Bahkan, Jepang untuk pertama kalinya menempatkan Indonesia sebagai destinasi investasi utama menggeser Tiongkok yang selama ini dijadikan tujuan utama investor Jepang.

Dalam rilis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada triwulan 1 -2014, realisasi investasi yang masuk mencapai Rp.106,6 triliun atau naik 14,6 persen dari periode yang sama tahun lalu. Realisasi investasi triwulan 1-2014 ini menjadi rekor tertinggi kinerja investasi triwulan dalam tiga tahun terakhir.

Strategi Berinvestasi Secara Cermat

NASIHAT investasi yang umum berlaku biasanya berbunyi: Teliti sebelum membeli. Nasihat ini  masih tetap berlaku sampai saat ini. Artinya, sebelum mengambil keputusan untuk menempatkan dana pada satu instrumen investasi, Anda harus sudah mempelajari peluang atau potensinya, tak terkecuali risiko yang melekat pada instrumen investasi yang dipilih.

Prinsip ini berlaku ketika seseorang membeli produk investasi di bidang keuangan seperti saham, reksa dana, maupun obligasi. Misalnya dalam hal membeli saham suatu perusahaan, hal yang perlu diteliti tentu saja berkaitan dengan jenis atau sektor usaha, prospek bisnis ke depan, kekuatan kinerjanya fundamental dalam beberapa tahun terakhir, tingkat likuiditas, pemegang saham, serta manajemen pengelola.

investasiKinerja fundamental maupun teknikal yang berkaitan dengan tingkat likuiditas akan cukup jelas tercermin di pasar. Seperti halnya prinsip jual beli, harga suatu saham ditentukan oleh besar kecilnya tingkat penawaran maupun permintaan (supply-demand). Semakin besar permintaan beli, tentu saja harga saham akan naik. Sebaliknya, jika yang terbanyak merupakan keinginan untuk menjual, maka harga saham tersebut akan turun.

Besar atau kecilnya permintaan jual atau beli ini sangat ditentukan oleh kekuatan kinerja keuangan, prospek bisnis, maupun rekam jejak perusahaan bersangkutan. Semakin bagus kinerja dan prospeknya, peluang untuk harga sahamnya naik semakin besar. Tetapi perlu diingat juga bahwa peluang naik juga ditentukan apakah saham tersebut sudah mencapai harga wajar atau belum. Harga wajar adalah harga saham yang mencerminkan kondisi keuangan dan prospeknya. Jika harga sahamnya masih tergolong murah dibandingkan dengan kinerja keuangannya, maka peluang naik untuk harga saham tersebut akan terbuka.

Jika Anda kesulitan membuat perhitungan untuk menemukan harga suatu saham apakah sudah tergolong mahal, murah, atau sudah mencapai kondisi riil, Anda bisa memanfaatkan hasil perhitungan para analis di perusahaan efek tempat Anda bertransaksi. Analisa fundamental mengerucut pada perhitungan nilai perusahaan dikaitkan dengan kondisi fundamental ekonomi, kondisi sektoral, dan kekuatan perusahaan. Melalui analisa fundamental, maka akan diperoleh harga wajar dari suatu saham. Informasi sederhana ini dapat pula diminta dari broker masing-masing investor, karena termasuk fasilitas standar yang disediakan broker.

Harga wajar suatu saham dapat tercermin di pasar dalam kondisi normal. Namun, harga di pasar bisa saja lebih tinggi karena ekspektasi berlebihan akan prospek saham bersangkutan. Tetapi harga suatu sahamnya bisa jadi terlalu murah, yang juga berarti ada peluang membeli, jika kondisi fundamental mendukung, dan prospeknya memang menjanjikan.

Perlu diingat bahwa harga suatu saham tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja fundamental karena  sentimen yang berkembang di pasar ikut mempengaruhi harga saham. Misalnya, karena sektor usaha dari emiten bersangkutan mendapat isu positif terkait kebijakan pemerintah yang mendukung, atau karena faktor politik yang kondusif.

Biasanya, setelah sentimen pasar mulai melemah, pasar akan bersikap realistis dan mulai mengevaluasi harga saham yang tercermin di pasar. Jika harga saham sudah terlalu mahal, maka ada risiko terkoreksi. Namun, jika Anda berinvestasi untuk jangka panjang, peluang harga saham untuk naik lagi tetap terbuka, terutama jika laporan keuangan kuartal, semester, atau laporan tahunan ternyata tumbuh positif.

Sebaliknya, harga saham akan terkoreksi, jika kinerja fundamental tidak tumbuh positif. Untuk keamanan investasi, seorang investor perlu mengutamakan analisis fundamental dan jangan terjebak pada tren transaksi yang tidak mengacu pada kekuatan fundamental maupun prospek saham bersangkutan

Tanda Pemulihan Perekonomian Mulai Terlihat, Iklim Investasi Jepang Dinilai Positif

pemerintah Jepang menyatakan bahwa saat ini perekonomian Jepang terutama dari sisi investasi sedang mengalami peningkatan. Perekonomian Jepang saat ini sedang berada pada tren pemulihan yang moderat, sementara beberapa indikator ekonomi yang terlihat melemah di kuartal pertama lalu merupakan reaksi atas tingginya permintaan sebelum sebelum kenaikan pajak konsumsi diberlakukan.

Bisnis investasi di Jepang saat ini memang tercatat meningkat, namun tetap output yang diperoleh lebih rendah dari bisnis di sektor industri. The Bank of Japan (BOJ) pada pekan ini meningkatkan penilaiannya terhadap segi belanja modal sebagai efek dari keuntungan perusahaan yang meningkat.

Pada indikator ekonomi lainnya, PMI Manufaktur Jepang untuk bulan Mei ini menunjukkan level tertingginya dalam 2 bulan terakhir yaitu pada 49,9, setelah sebelumnya pada April lalu tercatat pada 49,4.

Hal ini juga menunjukkan suatu indikasi positif atas perekonomian Jepang dimana sektor manufaktur mulai menunjukkan kestabilannya setelah terjadi penurunan tajam pada April lalu.

Meskipun memang tidak dapat dipastikan dengan tepat kapan perekonomian Jepang akan kembali pulih dan stabil. Namun optimisme pasar hingga saat ini masih memberikan aura positif terhadap pemulihan ekonomi negara tersebut, salah satunya adalah dengan rilis data beberapa indikator ekonomi Jepang yang berhasil menunjukkan hasil positif ditengah kontraksi ekonomi.

PM China Tekankan Komitmen Investasi di Afrika

ADDIS ABABA — Perdana Menteri China, Li Keqiang  berbicara mengenai hubungan China-Afrika di gedung markas besar Uni Afrika, yang dibiayai oleh China sebagai hadiah ke untuk benua itu.

Kebijakan China terhadap Afrika tahun depan akan memusatkan perhatian pada kerja sama industri, kerja sama keuangan, pengentasan kemiskinan, perlindungan lingkungan, kerja sama pada pertukaran kebudayaan, dan mendukung perdamaian dan stabilitas di benua Afrika.

Perdana Menteri Li mengatakan dia ingin memperluas perdagangan antara Afrika dan China. Li mengatakan perdagangan China dan Afrika harus berusaha mencapai 400 milyar per tahun, dan 100 milyar dolar investasi langsung China di Afrika pada tahun 2020. Dia mengatakan China akan berperan aktif dalam industrialisasi Afrika.

Ini merupakan kunjungan pertama Perdana Menteri Li ke benua Afrika sejak dia menjabat tahun lalu.

investPerdagangan China dengan Afrika mencapai 210 milyar dolar tahun lalu. Diperkirakan China juga telah memberikan lebih dari 75 milyar dolar dalam satu dasawarsa terakhir untuk proyek-proyek bantuan dan pembangunan.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry juga sedang melakukan perjalanan ke Afrika. Sementara Departemen Luar Negeri AS lebih memusatkan perhatian pada perdamaian dan stabilitas, lawatan China memusatkan perhatian pada mempererat kerjasama perdagangan.

Li mengatakan perdagangan dengan China tidak terkait politik. Menurut Li, tidak ada pihak yang ingin memaksakan keinginan terhadap satu sama lain atau ikut campur dalam urusan dalam negeri masing-masing.

Hari Selasa, Perdana Menteri Li akan bertemu dengan Presiden Ethiopia Mulatu Teshome. Setelah melawat ke Ethiopia dan Uni Afrika, Li akan mengunjungi Kenya, Nigeria dan Angola