Saham-saham Pilihan Hari Ini

AnalisaTrading – Kepala Riset Woori Korindo Securities Reza Priyambada memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berada pada rentang support 5.349-5.368 dan resisten 5.382-5.389.

images

Hanging man mendekati area upper bollinger band (UBB). MACD masih tertahan kenaikannya dengan histogram positif yang mendatar. RSI, Stochastic, dan William’s %R juga masih tertahan kenaikannya. Laju IHSG mampu melampaui area target resisten (5.349-5.350) dan mampu bertahan di atas area target support (5.315-5.338).

“Sekali lagi IHSG mampu melampaui kekhawatiran kami dengan bertahan pada tren kenaikannya. Bahkan, kembali menimbulkan utang gap 5.346-5.352. Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya di mana meski kami masih mengharapkan adanya peluang bagi IHSG untuk melanjutkan penguatannya, namun dengan adanya utang gap tersebut mampu memunculkan peluang untuk dan menimbulkan potensi pembalikan arah,” jelasnya.

Ia berharap penguatan laju bursa saham global mampu mengimbangi potensi pembalikan arah sehingga IHSG masih berkesempatan untuk tetap berada di jalur hijaunya.

Berikut merupakan saham-saham pilihan untuk hari ini yang direkomendasikan Reza, antara lain

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 11.900-12.125 berpola spinning top di area UBB. RSI bergerak naik diikuti peningkatan volume beli, namun diikuti adanya utang gap 11.900-11.925. Trade sell jika 11.950 gagal bertahan;

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) 35.350-36.575 berpola hammer bertahan di area middle bollinger band (MBB). Stochastic bergerak naik diikuti peningkatan MFI. Trade buy selama bertahan di atas 36.300;

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) 3.860-4.120 berpola separating lines dekati UBB. Parabollic SAR bergerak naik diikuti peningkatan william’s %R. Trade buy selama bertahan di atas 4.035;

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 13.950-14.375 berpola shooting star sentuh UBB. Volume beli naik diiringi peningkatan momentum. Utang gap 13.950-13.975. Trade sell jika 14.000 gagal bertahan;

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) 1.095-1.145 berpola white marubozu bertahan di area MBB. MFI mulai bergerak naik diikuti peningkatan RoC. Trade buy selama bertahan di atas 1.105;

PT Kalbe Farma (Persero) Tbk KLBF 1.840-1.900 berpola separating lines bertahan di MBB. Mass index berbalik naik diiringi peningkatan stochastic. Trade buy selama bertahan di atas 1.860.

 

Sumber: wartaekonomi.com

Menkeu: Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen Paling Cepat Dicapai pada 2016

Analisa Trading – Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro menyatakan pertumbuhan ekonomi 7 persen, paling cepat dapat direalisasikan pada 2016.
menkeu
Menurut dia, dalam kondisi ekonomi global yang terintegrasi saat ini, ada dua syarat bagi negara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi. Pertama, kata Bambang, tidak ada mini krisis yang sifatnya global. Dia mengatakan, pada 2008 Indonesia juga ingin terus tumbuh tinggi. Namun, ada krisis menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat.

“Syarat kedua, karena kita terpengaruh global, maka kita harus perkuat fundamental ekonomi,” imbuh dia, Kamis (18/12/2014).

Selain itu, kapitalisasi modal perbankan perlu diperkuat dan dana pihak ketiga harus digenjot. Dengan begitu, negara tidak perlu mencari pembiayaan dari luar negeri untuk mendanai pembangunan. Di sisi lain, segala macam defisit neraca harus dikurangi.

“Kenapa paling cepat 2016? Karena kita tahu 2015 ini awal penerapan kebijakan ekonomi Amerika,” kata Bambang.

Dia menambahkan, jika reformasi struktural berjalan maka pertumbuhan ekonomi tahun depan masih optimis bisa dicapai di level 5,8 persen. Kemudian, jika 2015 berjalan mulus, belanja bisa menyerap tenaga kerja, dan investasi masuk dengan lancar, maka sangat dimungkinkan pertumbuhan ekonomi jauh lebih tinggi dari 2015.

“Kalau mau cepat (kerjanya), perkiraannya 2016. Kalaupun belum tercapai mudah-mudahan itu sudah dekat 7 persen,” pungkas Bambang.

 

sumber: bisniskeuangan.kompas.com

Industri Perbankan Membukukan Pencapaian Rp65,95 Triliun

Analisa Trading  – Industri perbankan membukukan laba pada Juli 2014 senilai Rp65,95 triliun, tumbuh 11,04% dari posisi Rp59,39 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia, yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menjelaskan peningkat laba tersebut disebabkan pertumbuhan penyaluran fungsi intermediasi.

Pada Juli 2014, total kredit industri perbankan mencapai Rp3.521 triliun, tumbuh 16,55% dari posisi Rp3.021 triliun secara year on year. Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada Juli 2014 mencapai Rp3.787 triliun, tumbuh 11,64% y-o-y.

Selain itu, laba juga ditopang oleh raihan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) pada Juli 2014 mencapai Rp154,96 triliun, tumbuh 15% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun rasio pembiayaan terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR) industri perbankan hingga Juli 2014 mencapai 92,19%.(FC)

Kondisi Perbankan Indonesia Terkini; NPL Tertinggi Pada Sektor Konstruksi

Analisa Trading – Baru-baru ini Bank Indonesia melaporkan stabilitas sistem keuangan yang berupa likuiditas dan juga risiko kredit perbankan. Dalam laporan tersebut BI menyatakan likuiditas dan risiko kredit perbankan masih terkendali hingga akhir tahun ini. Risiko likuiditas perbankan masih terjaga oleh aliran masuk uang kartal pasca lebaran dan mulai ekspansifnya keuangan Pemerintah.

Kondisi sistem keuangan kita menurut Bank Indonesia stabil terutama dari batas amannya posisi CAR dan NPL di industri perbankan. Bahkan dengan melakukan stress test berupa skenario pelambatan pertumbuhan kredit menjadi 17%, pembalikan modal dan kenaikan harga BBM, rasio likuiditas perbankan di 2014 diperkirakan juga masih di atas batas aman.

Namun perlu dicermati jika melihat dari risiko kredit perbankan, yang terjadi peningkatan NPL pada beberapa sektor seperti sektor konstruksi, pertambangan, perdagangan, dan jasa sosial. Dari 4 sektor tersebut jumlah NPL terbesar pada kenaikan terbesar pada sektor konstruksi tercatat sebesar 4,43% atau naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 4,24%. Dan untuk kenaikan bulanan terbesar ada pada  sektor pertambangan yang NPL tercatat sebesar 3,09% dibandingkan bulan sebelumnya 2,49%.

Menurut Alfred Pakasi, CEO Vibiz Consulting , kenaikan NPL pada 4 sektor tersebut  perlu jadi perhatian karena dalam pemerintahan baru yang mendekat ini sektor yang hendak digenjot antara lain adalah infrastruktur dengan aktivitas konstruksi akan masuk ke dalamnya. Jadi perlu didalami penyebab peningkatan NPL dalam sektor tersebut, supaya jangan menjadi penghambat program pembangunan berikutnya ini.

“Kalau sektor pertambangan ada peningkatan kredit bermasalah dapat dipahami itu sehubungan dengan kondisi ekonomi dan pasar global yang melemah. Akan tetapi, kalau sektor perdagangan meningkat kredit bermasalahnya, ini perlu lebih serius dianalisis. Masalahnya ini sektor yang harusnya dalam kondisi baik mengingat pertumbuhan ekonomi domestik dan populasi penduduk yang besar.” demikian menurut pendapat Alfred.

Secara industri sektor perdagangan ini tidak seharusnya mengalami peningkatan NPL.Ada masalah apa di sini? Apakah perbankan mulai kurang prudent dalam mengalokasikan kredit nya ke sektor ini? Apakah persaingan perbankan yang terlalu ketat menghambat di sini?

Hal lain perlu diwaspadai juga adalah dengan melambatnya pertumbuhan dana pihak ketiga. Sementara dewasa ini perbankan sedang mau gencarnya melepas kredit pasca periode ketidakpastian politik pada masa pemilu. Jangan nanti menjadi tidak sinkron antara target pembangunan kabinet baru yang ingin menancap gas dengan kondisi pasar keuangan yang tidak mendukung.

Selain itu BI juga melaporkan perkembangan dana pihak ketiga (DPK) perbankan bulan  Juli 2014 melambat menjadi 11,36% dari 13,63% di bulan sebelumnya. Namun BI beranggapan perlambatan pertumbuhan DPK ini diperkirakan hanya bersifat sementara sejalan dengan tingginya permintaan uang kartal di periode lebaran dan diperkirakan akan kembali meningkat hingga akhir tahun searah dengan ekspansi Pemerintah yang terus meningkat.

Dengan membaiknya kondisi likuiditas bulan Juli lalu, beberapa bank besar sudah menurunkan suku bunga simpanannya di bulan Agustus 2014. Kondisi ini diharapkan berlanjut hingga persaingan DPK yang sempat terjadi di beberapa periode sebelumnya semakin berkurang. (VN)

Indonesia – Filipina Kerjasama Kembangkan Rumput Laut

Analisa Trading – Indonesia dan Filipina membangun kerjasama strategis pengembangan budidaya rumput laut dari hulu hingga hilir. Langkah tersebut merupakan persiapan kedua negara untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Terkait kerjasama tersebut, Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis mengatakan bahwa sebelumnya telah melakukan komunikasi intensif dengan Seaweed Industry  Association  Of the Philippines (SIAP) dan Atase Perdagangan RI di Manila yang juga didukung oleh Gubernur Sulawesi Selatan sebagai daerah produsen dan eksportir terbesar rumput laut di Indonesia.

“Kami membahas tentang perlunya dibangun kerjasama strategis dengan Filipina yang telah berpengalaman jauh dibidang perdagangan, teknis budidaya, pasca panen dan penanganan rumput laut untuk  meningkatkan kualitas  serta investasi pengembangan industri yang  dituangkan ke  dalam  bentuk Nota Kesepahaman,” jelas Safari.

Dia menuturkan, permintaan kebutuhan rumput laut kering untuk  ekspor ke Filipina mencapai  40-50 ribu ton, oleh karena itu pihaknya meminta dukungan pemerintah dalam implementasi kerjasama antara kedua negara.

“Penandatanganan ini sangat penting bagi pelaku usaha dan petani rumput laut Indonesia sebagai bentuk perluasan pemasaran,” ungkap Safari Azis setelah menandatangani Nota Kesepahaman antara ARLI dengan SIAP di Filipina, Jum’at (12/9/2014).

Penandatanganan tersebut disaksikan langsung oleh Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi Wakil Ketua Komite Rumput Laut Indonesia (KRLI), Iskak “iin” Indrayani dan Koordinator ARLI Wilayah Indonesia Timur, Djusdil Akrim yang juga Direktur PT. Bantimurung Indah bersama anggota ARLI antara lain dari H. Fattah Maskur (PT. Rika Raihan Mandiri) dan Minche Wijaya (CV. Adi Tirta) dan Mursalim (Celebes Seaweed Group).dan para pelaku usaha rumput laut nasional, antara lain Wakil Ketua Komite Rumput Laut Indonesia (KRLI) Iskak Indrayani, Koordinator ARLI Wilayah Indonesia Timur Djusdil Akrim yang juga merupakan Direktur PT. Bantimurung Indah, anggota ARLI H. Fattah Maskur (PT. Rika Raihan Mandiri) dan Minche Wijaya (CV. Adi Tirta) serta Mursalim (Celebes Seaweed Group).

Setelah melakukan penandatanganan MoU, delegasi yang terdiri dari Pemerintah RI dan para pelaku usaha rumput laut akan melakukan kunjungan ke sentra industri pengolahan rumput laut di Manila. Safari mengatakan, kunjungan itu bertujuan untuk mendapatkan informasi yang konferehensif dalam proses pengolahan dan teknologi yang diterapkan untuk produk turunan rumput laut.

 

Sumber : Financeroll

Pengangguran Indonesia Menurun, Tenaga Kerja Di Sektor Pertanian Mengkhawatirkan

Analisa Trading – Pasca rilisnya data PDB Indonesia tempo hari. Menyusul kemudian laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia menurun. Rilis data BPS menunjukkan bahwa angka pengangguran per Februari 2014 berada pada level 7,7 persen atau melambat tipis 0,12 persen dari besaran pada periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Di sisi lain, BPS menyampaikan bahwa struktur ketenagakerjaan Indonesia per Februari 2014 kembali menunjukkan pergeseran dari sektor pertanian ke sektor sekunder lain, seperti industri pengolahan dan perdagangan.

Kepala BPS Suryamin menuturkan, jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu penduduk yang bekerja pada sektor pertanian mengalami penurunan, dari 41,11 juta orang pada Februari 2013 menjadi 40,83 juta orang pada Februari 2014. Meski demikian, laporan BPS juga mencatat, sektor pertanian masih menjadi lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja terbesar, dengan share sebesar 34,55 persen.

Catatan BPS juga menunjukkan, bahwa tenaga kerja yang bekerja di industri pengolahan meningkat dari 15 juta orang pada Februari 2013 menjadi 15,39 juta orang pada Februari 2014. Sementara itu, tenaga kerja di sektor konstruksi juga mengalami peningkatan dari 6,97 juta orang pada Februari 2013 menjadi 7,21 juta orang pada Februari 2014.

Tenaga kerja di sektor perdagangan juga mengalami peningkatan, dari 25,36 juta pada Februari 2013 menjadi 25,81 juta orang pada Februari 2014. Sektor perdagangan ini adalah penyerap terbesar kedua tenaga kerja dengan share sebesar 21,84 persen.

Berdasarkan paparan data diatas sungguh sangat disayangkan sektor pertanian yang penting yang merupakan modal terbesar Indonesia justru mulai ditinggalkan. Hal ini tidak lepas dari kegagalan pembangunan pertanian yang selama ini dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia yang dirasa membawa dampak yang sangat besar bagi rendahnya tingkat kesejahteraan petani Indonesia.

Banyak petani yang menjual lahan pertanian mereka atau mengalihfungsikan lahan pertanian mereka. Penjualan lahan pertanian dan alih fungsi lahan pertanian selain disebabkan oleh rendahnya pendapatan dari usaha tani  juga disebabkan oleh kenyataan semakin sedikitnya orang yang tertarik untuk terjun di sektor pertanian. Banyak anak muda yang enggan untuk menekuni usaha pertanian karena selain penghasilan tidak memadai juga karena sektor pertanian tidak memiliki prestos sosial.

Fenomena ini terjadi merata hampir di seluruh pelosok negeri yang terkenal sebagai negeri yang subur makmur ini. Apabila fenomena ini tidak segera diatasi maka tidak aneh apabila di masa yang akan datang tidak akan ada lagi rakyat Indonesia yang terjun di sector pertanian.

Untuk membangkitkan kembali sektor pertanian di negara yang kaya akan sumber daya alam ini maka peran pemerintah sangat dibutuhkan terutama dalam hal penyediaan teknologi canggih untuk membantu tingkat produksi agar sektor ini dapat bersaing dengan emerging countries lainnya sehingga tingkat penyerapan tenaga kerjanya juga dapat berjalan optimal. (VN)

Happy Trading!

Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia menurun

Pendanaan ke Sektor Infrastruktur Ditingkatkan Guna “Mempercantik” Indonesia di Mata Investor

Analisa Trading – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) berencana untuk menaikkan setidaknya sebesar 60 persen pendanaan untuk pembangunan jalan, pembangkit listrik dan pelabuhan udara di dalam negeri (5/5). Perusahaan BUMN ini akan meningkatkan pinjaman ke sektor infrastruktur menjadi lebih dari 4 triliun rupiah tahun ini dari 2.5 triliun rupiah di tahun 2013 lalu.

Kementerian Keuangan Indonesia mendirikan perusahaan ini pada tahun 2010 untuk menyediakan pendaan jangka panjang dan membantu penciptaan proyek-proyek transportasi dan pembangkit listrik di seluruh daerah di Indonesia. Masih jeleknya infrastruktur di dalam negeri merupakan salah satu tantangan paling besar untuk mengembangkan potensi investasi di Indonesia.

PMA mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi 9.8 persen pada kuartal pertama tahun 2014 ini, dari 25.4 persen kenaikan di kuartal keempat. Asing telah membeli 2.9 miliar dollar saham di dalam negeri sepanjang tahun ini di tengah optimisme bahwa presiden terpilih pada pilpres tanggal 9 Juli mendatang akan ramah kepada investor asing.

IIF memiliki permodalan sebesar 1.8 triliun rupiah dan melakukan pembiayaan untuk pembangunan jalan, pembangkit listrik tenaga air, bandara dan pelabuhan dengan pinjaman sampai dengan 7 tahun. Perusahaan membatasi pembiayaan hanya maksimum 35 persen dari total pembiayaan masing-masing proyek.

Pada bulan Desember lalu pemerintah telah mengumumkan kebijakan baru yang memungkinkan pihak asing untuk memiliki saham sebesar 49 persen dari bandara dan 100 persen kepemilikan pembangkit listrik yang dibangun di bawah skema kemitraan publik-swasta.

Pemerintahan di bawah presiden SBY menciptakan skema kemitraan yang dikenal sebagai public-private partnership (PP) ini untuk mengembangkan infrastruktur dan menutupi kurangnya pembiayaan. Akan tetapi sampai saat ini masih menemui berbagai hambatan. Lambatnya implementasi PPP sebagian besar disebabkan oleh ketidaksiapan pemerintah dalam hal alokasi risko antara pemerintah dan investor. Diharapkan dengan peraturan baru tersebut skema ini bisa lebih dikembangkan dan sukses. (VN)

Happy Trading !