Tingginya Impor Logam Mengurangi Banyak Surplus Perdagangan Taiwan

Analisa Trading – Pendapatan negara Taiwan dari perdagangan luar negeri berkurang banyak pada bulan Juni lalu, hal ini disebabkan peningkatan ekspor lebih lambat dari yang diperkirakan  berdasarkan laporan  Kementerian Keuangan Taiwan. Berkurangnya pemasukan juga disebabkan meningkatnya impor sehingga menyebabkan surplus perdagangan di bulan Juni turun cukup signifikan.

Ekspor Taiwan pada bulan Juni hanya tumbuh 1,2 persen yoy menjadi  US $ 26,80 miliar, jumlah yang sedikit  dari perkiraan sebelumnya untuk kenaikan  1,4 persen dan juga lebih rendah dari ekspor bulan sebelumnya yang  telah naik 1,4 persen. Penurunan ekspor bulan Juni lalu disebabkan turunnya  ekspor plastik dan karet, namun terjadi peningkatan ekspor dari produk elektronik, logam-logam dasar dan barang dari karet, mesin-mesin dan bahan kimia meningkat.

Untuk impor Taiwan pada bulan Juni mengalami peningkatan  hingga 7,5 persen  mencapai US $ 24,91 miliar. Jumlah ini melebihi dari perkiraan ekonom untuk penurunan 0,5 persen  dan juga lebih dari penurunan 2,3 persen di bulan Mei. Impor logam dasar dan barang dari karet meningkat sebesar 17,7 persen, diikuti oleh impor produk elektronik, bahan kimia dan produk mineral dan hanya impor mesin yang turun 2,9 persen.

Taiwan Balance of Trade

Mengacu dari kedua transaksi perdagangan luar negeri tersebut membuat pemasukan  perdagangan Taiwan pada bulan Juni  turun 42,7 persen dari bulan yang sama tahun 2013 menjadi US $ 1,89 miliar.  Jumlah ini  kurang dari perkiraan sebelumnya untuk kenaikan surplus US $ 3,73 miliar dan juga lebih rendah dari surplus US $ 5,29 miliar yang tercatat pada bulan Mei. (VN)

Impor Mesin Dan Peralatan Mekanik Catatkan Nilai Terbesar

Analisa Trading – Dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik, nilai impor nonmigas terbesar pada periode bulan Mei 2014 adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanik dengan nilai US$2,05 miliar. Nilai ini turun 12,69 persen dibanding impor golongan barang yang sama April 2014.

BPS juga melaporkan bahwa negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Mei 2014 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$2,51 miliar (22,68 persen), Jepang US$1,26 miliar (11,36 persen) dan Singapura US$0,83 miliar (7,51 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 22,09 persen, sementara dari Uni Eropa 9,49 persen.

Sementara itu nilai impor golongan barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari–Mei 2014 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 1,14 persen, 5,84 persen, dan 7,20 persen .

Analis mengemukakan bahwa pada analisa kurs BI hari ini Dollar Amerika Serikat terpantau bergerak terangkat sekitar 3.02 % terhadap mata uang Rupiah pada perdagangan valas dari awal Mei hingga pekan ini. (FC)

Ekspor-impor China April tak terduga naik

Ekspor dan impor China secara tak terduga naik pada April 2014. Di mana, ekspor naik 0,9 persen dibanding tahun sebelumnya, ketika angka yang digelembungkan oleh faktur palsu.

Hal itu berdasarkan rilis data dari Badan Bea dan Cukai di Beijing seperti dikuti dari Bloomberg, Kamis (8/5/2014). Angka tersebut dibandingkan dengan estimasi median yang menyatakan penurunan 3 persen dalam survei Bloomberg News. Sementara, impor naik 0,8 persen, menyebabkan neraca perdagangan surplus hingga sebesar USD18,46 miliar.

eksporMembaiknya neraca perdagangan ini dapat memengaruhi kemungkinan pemerintah akan mengupayakan untuk pelonggaran kebijakan moneter atau pengurangan stimulus yang lebih besar daripada pembangunan rel kereta api dan keringanan pajak, setelah pertumbuhan ekonomi kuartal pertama paling lambat dalam enam periode.

China akan menerapkan langkah-langkah untuk menstabilkan situasi perdagangan luar negeri yang berat dan rumit di negara itu, menurut kabinet pekan lalu.

Ekspor Maret turun 6,6 persen dari tahun sebelumnya dan jatuh 18,1 persen pada Februari, sebagai penurunan terbesar sejak krisis keuangan global, berdasarkan data yang dirilis sebelumnya.

Perkiraan April dari 47 ekonom berkisar dari penurunan 7,5 persen hingga adanya kenaikan 3,6 persen. Impor dibandingkan dengan perkiraan median telah terjadi penurunan 2,1 persen dari analis yang disurvei oleh Bloomberg. Sementara surplus perdagangan diproyeksikan menjadi USD16,7 miliar.