IHSG 29 Desember Sesi 1 Masih di Zona Positif

IHSG

Analisatrading – Memasuki sesi 1 Selasa (29/12), IHSG bergerak di zona positif, naik 4,87 poin atau 0,11% pada 4562.22. Penguatan IHSG terdorong optimisme ekonomi Indonesia yang mengalahkan imbas negatif pelemahan bursa global akibat anjloknya harga minyak mentah.

Optimisme ekonomi Indonesia terlihat dari meningkatnya rencana investasi di Indonesia. Kepala BKPM Franky Sibarani menyatakan, rencana investasi baik dari PMA maupun PMDN mengalami kenaikan. Rencana investasi PMA periode 1 Januari-28 Desember 2015 sebesar Rp 1.136,36 triliun atau naik 18,06% dibandingkan rencana investasi PMA tahun 2014 sebesar Rp 962,5 triliun. Sedangkan, rencana investasi PMDN periode 1 Januari-28 Desember 2015 sebesar Rp 749,68 triliun atau naik hingga 123,32% dibandingkan rencana investasi PMDN tahun 2014 sebesar Rp 335,7 triliun.

Lagi, salah kaprah di bursa saham

Pertama, investor percaya, return rata-rata investasi saham tercermin dari pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Jika return portofolio saham di atas pertumbuhan IHSG, kinerja portofolio tersebut dikatakan bagus karena sukses mengalahkan pasar.

Pandangan ini salah, karena IHSG hanya menggambarkan komponen capital gain (kenaikan harga). Sementara itu, return investasi terdiri atas dividen dan capital gain. Karenanya, return acuan untuk kinerja pasar (atau rata-rata) seharusnya adalah perubahan IHSG + dividend yield yang besarnya sekitar 2%. Jika IHSG tahun lalu naik 22,3%, maka return patokan portofolio seharusnya adalah 24,3% (22,3%+2%).

Kedua, masih berkait dengan yang pertama. Untuk mengukur kinerja sebuah reksadana saham mengalahkan pasar atau tidak, kita dapat membandingkan return reksadana itu dengan perubahan IHSG periode yang sama. Jika IHSG tumbuh hingga 106,2% lima tahun terakhir, yaitu dari awal tahun 2010 hingga akhir tahun 2014, reksadana yang memberikan return lebih baik dari angka tersebut umumnya langsung menyebutkan diri mereka hebat, karena mengungguli pasar.

Bahkan ada yang hanya naik di atas rata-rata reksadana saham lain juga mengklaim mengalahkan pasar. Investor awam umumnya percaya .

Pandangan itu keliru karena return rata-rata reksadana saham lima tahun terakhir 84,2% dengan median 81,7%. Kinerja reksadana saham ternyata lebih dekat dengan pertumbuhan indeks LQ-45, yang hampir selalu di bawah IHSG tujuh tahun terakhir kecuali tahun lalu.

Ini lantaran di reksadana saham hampir pasti adalah saham-saham likuid dan kapitalisasi besar atau masuk LQ-45. Yang membedakan satu reksadana saham dengan yang lain hanya bobot saham LQ-45 itu dalam portofolio mereka.

Lima tahun terakhir indeks LQ-45 ternyata tumbuh jauh di bawah IHSG, hanya 80,3% berbanding 106,2%. Dengan menggunakan acuan 106%, hanya ssebelas dari 52 reksadana saham berumur lima tahun atau lebih yang benar-benar mengalahkan IHSG.

Jika dividend yield IHSG yang sebesar 2% setahun diperhitungkan, tersisa empat reksadana saja yang dapat menyebut lebih hebat dari pasar. Sisanya, sebanyak 48 reksadana saham dalam rupiah kalah dari kinerja pasar.

Ketiga, berhubungan dengan strategi investasi. Banyak yang menganggap, strategi aktif mampu mengalahkan yang pasif. Bukankah keuntungan harian yang hanya 0,5% menjadi 100% lebih setahun?

Para trader percaya jika keuntungan bulanan 3% menjadi 42,6% setahun dengan menggunakan konsep bunga majemuk. Masalahnya, siapa yang memastikan return harian 0,5% atau bulanan 3% itu? Untung belum pasti, tapi biaya transaksi tetap harus dibayar.

Dengan sering bertransaksi, Anda akan disukai banyak pihak. Mulai dari broker dan perusahaan sekuritas Anda hingga self-regulatory organization (SRO), seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Anda memperbesar keuntungan mereka, tapi belum tentu untuk diri Anda sendiri.

Salah kaprah ini juga menjelaskan mengapa hanya segelintir manajer investasi pengelola reksadana saham berkinerja bagus, sementara yang lain biasa-biasa saja dan melempem. Ini karena mereka menerapkan strategi aktif dengan mengandalkan analisis momentum dan teknikal. Akibat strategi dan pendekatan ini, mereka sering bertransaksi sehingga biaya transaksi besar.

Pakar investasi sekelas Warren Buffett dan Benjamin Graham menyarankan agar para investor menghindari reksadana aktif dan hanya mengoleksi reksadana pasif, terutama reksadana indeks. Ini senada dengan hasil penelitian Barber dan Odean yang dipublikasikan di jurnal keuangan paling bergengsi, yaitu Journal of Finance dengan judul provokatif, yaitu Trading is Hazardous to Your Wealth (2000).

Pengamatan saya, tak banyak investor kita yang menyadari kalau strategi aktif apalagi ikut-ikutan pasar, berbahaya bagi kekayaan mereka.

Keempat, banyak investor domestik percaya, jika investor asing dengan dana besarnya menguasai sekitar 65% saham free-float mempunyai kemampuan analisa lebih baik. Sehingga akan memperoleh return lebih besar daripada investor dalam negeri. Terbukti, IHSG umumnya naik jika terjadi net buyasing dan sebaliknya.

Penelitian Dvorak dalam Journal of Finance (2005) berkesimpulan sebaliknya. Investor saham domestik yang nasabah sekuritas asing, memperoleh keuntungan lebih besar dan lebih unggul dalam informasi. Sejatinya, investor bermodal besar di bursa berkapitalisasi kecil seperti di BEI juga mengalami kesulitan, yaitu market impact.

Saham apapun yang dibeli akan naik dan yang dijual akan turun. Sementara itu,  investor dengan dana ngepas lebih fleksibel karena dapat keluar-masuk tanpa berdampak ke pasar

Rekomendasi Saham Pilihan, Kamis 18 Desember 2014

Analisa Trading – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan hari Rabu (16/12/14) ditutup menguat dari penutupan hari sebelumnya. IHSG tercatat naik sebesar 0.19% ke level 5,035.65. Sedangkan indeks saham-saham unggulan LQ 45 tercatat naik 0.31% ke level 864.79. Sepanjang perdagangan IHSG sempat menyentuh level terendah 5,021.95  dan level tertinggi 5,059.73.
ASX 200 Ditutup Anjlok, Investor Kecewa Dengan Data Penjualan Australia
Prediksi

Analyst Vibiz Research Center memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam potensi penguatan oleh aksi bargain hunting seteleh pada awal pekan ini mengalami pelemahan akibat tertekan arus bursa global dan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak melemah. Keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga tampaknya belum berpengaruh pada pergerakan Rupiah. Diketahui, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,75 persen. Pasar menunggu intervensi otoritas moneter dalam mengendalikan nilai tukar rupiah.

sumber: vibiznews.com

Situasi Politik RI ‘Panas’ Bikin Pasar Saham Terus Anjlok

AnalisaTrading-Hari ini pasar saham Indonesia kembali mengalami koreksi tajam. Meski pagi tadi sempat naik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) siang ini anjlok lagi.

Aksi jual investor asing makin gencar hingga siang hari ini. Tercatat sudah Rp 200 miliar dana asing yang keluar dari lantai bursa.

Kemarin dana asing juga sudah kabur dari bursa sebesar Rp 1,4 triliun. IHSG juga mengalami koreksi terbesarnya tahun ini yaitu 2,7%.

“Yang menyebabkan penjualan dari investor asing selain dari faktor global juga dari faktor dalam negeri khususnya kekhawatiran presiden terpilih, Jokowi tidak dapat leluasa menjalankan kebijakannya apalagi yang berkaitan dengan kebijakan yang harus mendapat persetujuan dari DPR,” kata Daewoo Securities dalam hasil risetnya, Jumat (3/10/2014).

Posisi terendah IHSG hari ini ada di level 4.933,845. Sampai berita ini ditayangkan, IHSG masih terus bergerak ke bawah.

Hasil rapat paripurna kemarin DPR memutuskan Setya Novanto dari Partai Golkar sebagai Ketua DPR. Sementara empat wakilnya adalah Fadli Zon (Partai Gerindra), Agus Herman (Partai Demokrat), Fahri Hamzah (Partai Keadilan Sejahtera), dan Taufik Kurniawan (Partai Amanat Nasional).

Hal ini yang memicu kekhawatiran investor. Pelaku pasar memprediksi kebijakan dan program Presiden Terpilih Joko Widodo (Jokowi) akan dihadang oleh para anggota DPR yang mayoritas dikuasai Koalisi Merah Putih (KMP). (FD)

IHSG Bergerak Di Dua Zona, Sentimen Regional Masih Terasa

AnalisaTrading-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan pagi ini dibuka di zona merah. Pagi ini (24/9) indeks tercatat dibuka melemah 0,043% ke level 5.185.884. Sebanyak 58 saham menguat, 81 saham turun, dan sisanya saham stagnan. Adapun nilai transaksi mencapai Rp 150 miliar dengan volume 135 juta saham dan intensitas sebanyak 5690 kali.

Secara sektoral, pada pembukaan pagi hari ini, hampir semua sektor dibuka melemah dipimpin oleh aneka industri dan industri dasar masing-masing turun sebesar 0.83 dan 0.41 persen. Saham-saham yang menekan IHSG antara lain BBRI, LPKR, ASII, UNTR, TAXI dan WSKT. Sementara saham-saham yang menopang IHSG yakni TARA, SILO, BMRI, PGAS, KPIG, ANTM.

Diprediksikan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak dalam posisi terbatas. IHSG pada pergerakan hari ini diperkirakan akan bergerak di antara support 5100 hingga resistance 5200.

Dari dalam negeri, pergerakan IHSG telah menembus rekor baru dimana pada perdagangan IHSG berada dalam level psikologi di 5250, namun saat ini IHSG terpantau rawan terkoreksi lanjutan, terlihat dari akhir perdagangan hari Jumat lalu pelaku pasar banyak melakukan aksi jual dengan banyaknya sentimen negatif yang meliputi perdagangan dalam negeri. Salah satunya dengan rilis data-data BPS awal September.

Selain itu anjloknya nilai tukar rupiah memicu sentimen negatif. Namun perkembangan konstelasi politik dalam negeri dapat memberikan sedikit harapan kebijakan ekonomi Indonesia yang baru dalam jangka panjang. Saham-saham yang kiranya menarik untuk dicermati pada perdagangan hari ini antara lain saham LSIP, MPPA, TBIG, RALS dan PGAS. (VN)

Saham Unggulan Naik, IHSG Bergerak Positif

AnalisaTrading-Pada perdagangan  sesi pertama perdagangan Selasa (9/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 2,425 poin (0,046%) ke posisi 5.248,908.  Penguatan indeks mendapat dukungan dari mayoritas indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Antara lain, indeks saham unggulan LQ45 yang naik 0,705 poin (0,079%) ke 893,4; IDX30 naik 0,38 poin (0,085%) ke 455,124.

Begitu juga dengan MBX yang naik 0,92 poin (0,06%) ke 1.507,087. Akan tetapi, indeks DBX justru alami koreksi 0,513 poin (0,06%) ke posisi 747,8. Sementara itu, indeks saham-saham syariah yang tergabung dalam JII menguat 0,36 poin (0,05%) ke posisi 708,3.  Sebanyak 83 saham dibuka menguat, 74 saham stagnan, dan 30 saham dibuka turun. Nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp 297,1 miliar dan Rp 34,4 miliar di pasar negosiasi.

Selain itu, investor asing mencatatkan pembelian senilai Rp 30,5 miliar dan penjualan saham senilai Rp 45,3 miliar. Alhasil, investor asing mencatatkan penjualan saham bersih (net foreign sell) sebesar Rp 14,7 miliar. (FR)

Aksi Jual Menekan, IHSG Terkoreksi

AnalisaTrading- Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkena koreksi tipis setelah kemarin cetak rekor tertinggi. Minimnya sentimen positif membuat IHSG sulit bergerak ke atas.  Pada perdagangan pre opening, IHSG naik tipis 1,154 poin (0,02%) ke level 5.225,289. Sedangkan Indeks LQ45 menguat tipis 0,289 poin (0,03%) ke level 890,020.

Pada awal perdagangan, Kamis (4/9), IHSG bertambah 1,205 poin (0,02%) ke level 5.222,930. Indeks LQ45 tumbuh 0,578 poin (0,06%) ke level 889,153.  Investor belum berani mengambil risiko di tengah situasi pasar global dan regional yang bervariasi. Indeks bergerak datar dalam rentang yang tipis.

Tercatat hingga pukul 9.05 waktu JATS, IHSG menipis 2,786 poin (0,05%) ke level 5.221,349. Sementara Indeks LQ45 berkurang 0,982 poin (0,11%) ke level 888,749.  Kemarin IHSG  tumbuh 22 poin didorong aksi beli investor di saham-saham unggulan. Dana asing masuk lagi ke lantai bursa setelah kemarin sempat keluar.

Selain itu, IHSG juga mencetak rekor tertinggi pada penutupan perdagangan kemarin. Rekor IHSG sebelumnya diraih pada penutupan perdagangan Senin 20 mei 2013 di level 5214,976 setelah naik 69,293 (1,35%).  Sementara saham-saham di Wall Street rata-rata berakhir negatif mengikuti pelemahan saham Apple yang menyeret Nasdaq ke zona merah. Investor juga menahan diri dalam bertransaksi jelang pertemuan European Central Bank (ECB).

Bursa regional pagi ini bergerak mixed merespons gerak bursa global yang kurang kondusif. Bursa saham Hong Kong dan Tiongkok masih bisa menanjak di zona hijau.  Berikut situasi di bursa-bursa di Asia pagi hari ini:  Indeks Nikkei 225 melemah 31,50 poin (0,20%) ke level 15.696,85, Indeks Hang Seng melonjak 568,93 poin (2,30%) ke level 25.317,95, Indeks Komposit Shanghai menanjak 22,58 poin (1,00%) ke level 2.288,63, dan  Indeks Straits Times turun 9,99 poin (0,30%) ke level 3.338,78. (FR)

Lanjutkan Penguatan, IHSG Melaju di Jalur Hijau

AnalisaTrading-Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan penguatan yang sudah terjadi sejak awal pekan ini. Secara perlahan Indeks memantap posisi di level 5.200.  Membuka perdagangan preopening, IHSG naik tipis 4,537 poin (0,09%) ke level 5.206,123. Sedangkan Indeks LQ45 menguat tipis 1,137 poin (0,13%) ke level 886,665.

Pada awal perdagangan, Rabu (3/9), IHSG dibuka bertambah 7,493 poin (0,14%) ke level 5.209,079. Indeks LQ45 dibuka tumbuh 1,559 poin (0,18%) ke level 887,087.  Saham-saham unggulan kembali menjadi sasaran aksi beli. Namun sayang masih ada juga yang terkena aksi jual, seperti saham-saham konsumer.  Hingga pukul 9.05 waktu JATS, IHSG melaju 13,524 poin (0,26%) ke level 5.215,110. Sementara Indeks LQ45 menanjak 2,683 poin (0,30%) ke level 882,211.

Selain itu, kemarin IHSG berhasil mendarat di level 5.200 setelah mempertahankan momentum penguatan sejak pagi tadi. Aksi beli di saham unggulan membawa indeks naik 23 poin.  Wall Street berakhir mixed, menjauhi posisi rekor yang sebelumnya pernah diraih bulan lalu. Turunnya harga minyak dunia membuat saham-saham energi terkoreksi.

Sedangkan bursa-bursa regional rata-rata bergerak positif pagi hari ini, hanya bursa Singapura yang melemah tipis. Meski minim sentimen positif, bursa di Asia masih bisa menguat.  Berikut situasi di bursa-bursa Asia pagi hari ini:  Indeks Nikkei 225 menguat 129,83 poin (0,83%) ke level 15.798,43, Indeks Hang Seng naik tipis 17,99 poin (0,07%) ke level 24.767,01, Indeks Komposit Shanghai bertambah 3,17 poin (0,14%) ke level 2.269,22, dan  Indeks Straits Times menipis 0,17 poin (0,01%) ke level 3,328.13. (FR)

IHSG Dibuka Lanjutkan Rally Ditopang Emiten Infrastruktur

AnalisaTrading-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan pagi ini dibuka di zona hijau. Pagi ini (3/9) indeks tercatat dibuka menguat 0,14% ke 5.208.65. Sebanyak 48 saham menguat,30 saham turun, dan sisanya saham stagnan. Adapun nilai transaksi mencapai Rp 64 miliar dengan volume 50 juta saham dan intensitas sebanyak 1.142 kali.

Secara sektoral, pada pembukaan pagi hari ini, semua 8 sektor dibuka melemah dipimpin oleh sektor infrastruktur dan agri yang masing-masing naik sebesar 0.44 dan 0.36 persen. Saham-saham yang menopang IHSG antara lain TLKM, DILD, BMTR, BMRI,

Diprediksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak dalam posisi menguat terbatas. IHSG pada pergerakan hari ini diperkirakan akan bergerak di antara support 5130 hingga resistance 5230.

Dari dalam negeri, pergerakan IHSG rawan terkoreksi lanjutan, terlihat dari akhir perdagangan hari Jumat lalu pelaku pasar banyak melakukan aksi jual dengan banyaknya sentimen negatif yang meliputi perdagangan dalam negeri. Salah satunya dengan rilis data-data BPS awal September. Selain itu anjloknya nilai tukar rupiah memicu sentimen negatif. Namun perkembangan konstelasi politik dalam negeri dapat memberikan sedikit harapan kebijakan ekonomi Indonesia yang baru dalam jangka panjang. Saham-saham yang kiranya menarik untuk dicermati pada perdagangan hari ini antara lain saham INCO, SILO, MPPA dan WSKT. (VN)

IHSG Dibuka Lanjutkan Penguatan Meski Tipis

AnalisaTrading-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan pagi ini dibuka di zona hijau. Pagi ini (2/9) indeks tercatat dibuka menguat 0,03% ke 5.179,33. Sebanyak 48 saham menguat, 30 saham turun, dan sisanya saham stagnan.. Adapun nilai transaksi mencapai Rp 64 miliar dengan volume 50juta saham dan intensitas sebanyak 1.530 kali.

Secara sektoral, pada pembukaan pagi hari ini, semua 8 sektor dibuka melemah dipimpin oleh sektor keuangan dan konsumer yang masing-masing naik sebesar 1.1 dan 0.92 persen. Saham-saham yang menopang IHSG antara lain BBCA TARA, HRUM, INDF, ASII dan BBNI. Sementara saham-saham yang menekan IHSG yakni BBRI, LPPF, LSIP dan PWON.

Diprediksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak dalam posisi menguat terbatas. IHSG pada pergerakan hari ini diperkirakan akan bergerak di antara support 5130 hingga resistance 5230.

Dari dalam negeri, pergerakan IHSG rawan terkoreksi lanjutan, terlihat dari akhir perdagangan hari Jumat lalu pelaku pasar banyak melakukan aksi jual dengan banyaknya sentimen negatif yang meliputi perdagangan dalam negeri. Salah satunya dengan rilis data-data BPS awal September. Selain itu anjloknya nilai tukar rupiah memicu sentimen negatif. Namun perkembangan konstelasi politik dalam negeri dapat memberikan sedikit harapan kebijakan ekonomi Indonesia yang baru dalam jangka panjang.

Saham-saham yang kiranya menarik untuk dicermati pada perdagangan hari ini antara lain saham TBIG, SILO, MPPA, ITMG dan WSKT. (VN)