PT Energi Mega Persada Serap Capek 20% dari USD280 Juta

Analisa Trading – PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menyatakan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) yang pada tahun ini sekira USD280 juta sudah terserap kurang lebih sebesar 20 persen.

Capex sekitar USD280 juta, itu menjadi fokus untuk pengembangan lapangan (development), selain itu buat bayar utang juga.

Direktur Utama ENRG usai RUPST di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta, menngatakan capex ini berasal dari cash flow perusahaan sekira 90 persen dan sisanya melakukan pinjaman tapi tetap melihat keuntungan perusahaan jika melakukan pinjaman.

Capex-nya lebih ke pengembangan blok ONWJ yang juga dioperatori oleh PT Pertamina (Persero), juga tidak ada rencana untuk akuisisi blok pada tahun ini.

Perusahaan hanya akan melakukan akuisisi blok migas jika blok tersebut mempunyai resources yang besar, blok yang sudah berproduksi maupun blok development serta dekat dengan market sehingga biaya transportasi akan murah. Belum akan akuisisi jika blok tersebut tidak produktif.

Sementara itu, untuk target produksi tahun ini ditargetkan sekira 51.500 barel oil equivalen per day (boepd) yang disumbangkan paling besar oleh blok ONWJ sekira 10 ribu boepd. Sedangkan untuk pendapatan diperkirakan akan naik 10 hingga 15 persen.

Saat ini target produksi per hari di atas target, 40 persen minyak, 60 persen gas,” ujarnya. (FC)

Subsidi Dipangkas, Ladang Energi Surya AS Terpukul

Departemen Energi Amerika Serikat (AS) telah menyatakan rencananya menutup bantuan dana untuk besaran energi surya yang digunakan industri ladang energi cahaya matahari guna mengurangi beban subsidi dalam anggaran negara. Rencana tersebut menuai kritik dari beberapa pihak di beberapa pedesaan AS.

Penggunaan energi surya untuk pengelolaan industri termasuk ladang energi surya memang selama ini telah disubsidi pemerintah AS. Skema baru pemberian subsidi kini tengah disiapkan untuk mengatasi dampak dari kebijakan tersebut.

“Kita perlu mengelola skema dukungan keuangan secara efektif dan bertanggung jawab. Itu berarti bahwa kita perlu memastikan pertumbuhan sektor energi surya dapat menyebar secara baik yakni dengan besaran nilai yang baik bagi konsumen dan memungkinkan kami untuk menawarkan dukungan yang efektif bagi sektor energi terbarukan secara keseluruhan,” tutur pihak Departemen Energi seperti dikutip dari CNBC, Senin (26/5/2014).

Sementara itu, Ahli Energi Terbarukan yang juga adalah anggota Asosiasi Perdagangan Energi Surya Ray Noble mengungkapkan, keadaan tersebut memberikan dampak terhadap persaingan sumber energi surya dan energi terbarukan lainnya seperti sumber energi angin.

Persaingan dengan energi angin telah membuat harga energi surya jatuh 30 persen dalam dua tahun terakhir. Ini berarti, harga energi surya sedang berada dalam track menjadi sumber energi rendah karbon termurah pada tahun 2018 nanti.

Langka pemerintah ini juga didasari pada proyeksi pertumbuhan penggunaan energi surya yang akan mengalami peningkatan hingga tahun 2017 nanti. “Penyebaran penggunaan sumber energi surya lebih cepat dari yang kami harapkan. Proyeksi kalangan industri menunjukan pada tahun 2017 bisa lebih besar dari pada ketersediaanya,” tandas pihak pemerintah