Besok, Freeport Kembali Ekspor Hasil Tambang

JAKARTA – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa PT Freeport Indonesia (PTFI) sudah diperbolehkan melakukan ekspor tambangnya. Hal ini setelah keluarnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 153/PMK.011/2014 terkait bea keluar (BK) ekspor mineral.

“Sudah enggak ada nunggu-nunggu. Orang besok sudah diekspor. Tanggal 6 besok itu pengapalan perdana,” ucap Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo di Kantornya, Jakarta, Selasa (5/8/2014).

Menurut Susilo, volume ekspor yang dilakukan Freeport adalah kriteria yang sudah ditentukan sesuai perjanjian dengan Pemerintah.

“Pokoknya bagi mereka yang mau ekspor, semua pelaku tambang selama memenuhi kriteria yang ditetapkan sudah boleh,” paparnya.

Dirinya pun berharap agar Freeport terus melakukan ekspor dalam bentuk yang besar, sehingga pendapatan pemerintah pun akan bertambah.

“Semakin banyak diekspor juga kita semakin, kan kita perlu revenue, dari mana duitnya coba,” tukasnya

Ekspor Otomotif Meningkat, Defisit Perdagangan AS Semakin Berkurang

Analisa Trading – Aktivitas perdagangan luar negeri  Amerika di bulan Mei mempunyai kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan bulan April yang merupakan perdagangan yang buruk. Hal ini terlihat dari sedikit meningkatnya ekspor yang disertai penurunan impor di bulan Mei, kondisi ekspor-impor tersebut masih menyebabkan terjadinya defisit namun berkurang banyak.

Defisit perdagangan Amerika Serikat yang dilaporkan Badan Statistik tercatat menurun di level -$44,392 juta pada bulan mei yang turun  5% jika dibandingkan dengan bulan April yaitu sebesar -$47,037 juta.

United States Balance of Trade

Berkurangnya defisit tersebut didukung dengan eksport yang meningkat dan berkurangnya  import, dan menurut data tersebut ekport naik ke harga $195.5 miliar di bulan Mei ,meningkat sebesar $ 2 miliar dari bulan april yaitu sebesar $193.5. Sedangkan untuk import menurun sebesar 0.3% dari bulan April yang sebesar $ 240.5 miliar  menjadi $239.8 miliar di bulan Mei.

Bertambahnya eksport ini banyak di kontribusi  oleh barang-barang dari sektor otomotif,seperti mobil,spare part dan mesin yang meningkat dari $ 12,717 juta di bulan April menjadi $13,494 juta di bulan Mei.

Sedangkan berkurangnya import terjadi pada barang-barang supply industri dan material yang tadinya pada bulan April sebesar $57,688 juta di  dan menurun menjadi $55,965 juta pada bulan Mei.

Kondisi ekonomi AS yang disinyalkan berkembang oleh data perdagangan ini membuat  kurs dolar  langsung meroket tajam membentuk gap, Harga penutupan (19.00 3/7/2014) menunjukan di level 80,060 dan ditutup pada jam 20.00 pada level 80,300. (VN)

Untitled

Departemen Keuangan Jepang telah merilis surplus anggaran pemerintah yang terendah sejak tahun 1985, kondisi tersebut disebabkan berkurangnya ekspor sehingga nyaris mengalami defisit. Dan jika pengiriman ke luar negeri terus menurun dari perkiraan bank sentral, maka pemulihan ekonomi dari negara terbesar ketiga di dunia ini dapat tertunda.

Pertumbuhan ekspor tahunan tertinggi  yaitu  18,6% pada bulan Oktober 2013 lalu namun tergelincir menjadi 1,8% di bulan Maret 2014 menurut data terbaru yang telah tersedia. Pengiriman ke seluruh Asia hanya naik setengah dari total, atau 1,4% pada bulan tersebut dan selain itu, volume ekspor turun 2,5% pada bulan Maret. ekspor

Melemahnya yen seharusnya meningkatkan penjualan luar negeri pada waktu naiknya pajak penjualan pada 1 April yang lalu. Kenaikan pajak tersebut mengakibatkan terjadinya penurunan tingkat konsumsi padahal kenaikan pajak  ini sebenarnya diciptakan untuk mengangkat eksport secara bertahap.

Dengan kondisi tersebut BOJ akan meninjau kebijakannya kembali dalam beberapa bulan mendatang, namun BOJ beranggapan kebijakan menaikkan pajak awal bulan lalu akan membawa Jepang keluar dari deflasi dari kondisi ekonomi yang sedang rapuh.

Sebagai informasi sebelumnya Jepang telah kembali mengalami pertumbuhan ketika adanya stimulus moneter besar-besaran yang dikeluarkan pada 13 bulan yang lalu ketika Haruhiko Kuroda mengambil alih kepemimpinan di BOJ. Pada awalnya tanda-tanda yang muncul sangat mendukung keputusan BOJ bahwa kenaikan pajak penjualan pada bulan lalu tidak akan menggagalkan pemulihan perekonomian yang sedang terjadi apalagi menyeret kembali Jepang kepada deflasi.

Bank Sentral memperkirakan pertumbuhan eksport akan semakin cepat dan  menjamin bahwa harga yang ada telah sesuai untuk mencapai target inflasi sebesar 2%. Selain itu juga BOJ tidak ragu untuk memberikan kebijakan kemudahan moneter jika ternyata terdapat hambatan atas pencapaian tujuan yang semula.

BOJ  akan menjaga kepercayaan di masa-masa pemulihan ekonomi ini dengan tidak menyuarakan bahwa adanya keraguan tentang skenario yang telah diambil. Itulah sebabnya BOJ perlu untuk berpegang teguh pada proyeksinya bahwa ekspor akan menjadi pulih.

Pemulihan eksport ini memang tidak akan secepat yang BOJ inginkan. BOJ menekankan bahwa menurunnya ekspor saja tidak akan merevisi kebijakan yang ada. Tetapi BOJ mengakui bahwa stimulus mungkin akan diberikan  jika ekonomi terkena double impact baik dari melemahnya eksport secara terus menerus dan juga gagalnya konsumsi rumah tangga pulih pasca kenaikan pajak penjualan.

BOJ haruslah melakukan sesuatu sesegera mungkin, paling tidak pada bulan Juli dengan memberikan stimulus seperti pembelian obligasi pemerintah dan asset lainnya. Bulan Juli adalah bulan yang tepat untuk mengevaluasi kembali kebijakan ini.

Ekspor Jerman Menurun Di Bulan Maret

Analisa Trading – Nilai ekspor Jerman menurun pada bulan Maret dan surplus perdagangan di negara tersebut berada di bawah estimasi, hal tersebut semakin menambahkan serangkaian pelemahan indikator ekonomi untuk bulan ini.

Ekspor Jerman turun 1,8 % di bulan Maret, sementara impor turun 0,9 % dari bulan Februari, seperti yang dirilis dari data kantor statistik federal. Untuk diketahui data tersebut disesuaikan dengan musim dan hari kerja.

Pada bulan Februari, ekspor turun 1,3 % pada bulan ini, sementara impor naik hanya 0,4 %.

Surplus perdagangan negara itu disesuaikan datang di EUR14.8 miliar pada bulan Maret, di bawah ekspektasi analis sebesar EUR16.9 miliar.

Surplus perdagangan disesuaikan adalah EUR16.4 miliar pada Maret, naik dari EUR16.2 miliar pada Februari .

Meskipun ekonomi Jerman agak lemah namun data perdagangan dan ekspektasi produksi industri turun 0,5 % pada bulan Maret, dan ekspektasi pada bulan- bulan berikutnya naik 0,2 %. (FC)

Happy Trading!

Ekspor-impor China April tak terduga naik

Ekspor dan impor China secara tak terduga naik pada April 2014. Di mana, ekspor naik 0,9 persen dibanding tahun sebelumnya, ketika angka yang digelembungkan oleh faktur palsu.

Hal itu berdasarkan rilis data dari Badan Bea dan Cukai di Beijing seperti dikuti dari Bloomberg, Kamis (8/5/2014). Angka tersebut dibandingkan dengan estimasi median yang menyatakan penurunan 3 persen dalam survei Bloomberg News. Sementara, impor naik 0,8 persen, menyebabkan neraca perdagangan surplus hingga sebesar USD18,46 miliar.

eksporMembaiknya neraca perdagangan ini dapat memengaruhi kemungkinan pemerintah akan mengupayakan untuk pelonggaran kebijakan moneter atau pengurangan stimulus yang lebih besar daripada pembangunan rel kereta api dan keringanan pajak, setelah pertumbuhan ekonomi kuartal pertama paling lambat dalam enam periode.

China akan menerapkan langkah-langkah untuk menstabilkan situasi perdagangan luar negeri yang berat dan rumit di negara itu, menurut kabinet pekan lalu.

Ekspor Maret turun 6,6 persen dari tahun sebelumnya dan jatuh 18,1 persen pada Februari, sebagai penurunan terbesar sejak krisis keuangan global, berdasarkan data yang dirilis sebelumnya.

Perkiraan April dari 47 ekonom berkisar dari penurunan 7,5 persen hingga adanya kenaikan 3,6 persen. Impor dibandingkan dengan perkiraan median telah terjadi penurunan 2,1 persen dari analis yang disurvei oleh Bloomberg. Sementara surplus perdagangan diproyeksikan menjadi USD16,7 miliar.

Ekspor Nonmigas Ke Uni Eropa Lainnya Dilaporkan Turun

Analisa Trading – Perkembangan ekspor nonmigas ke negara tujuan Uni Eropa Lainnya menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terkini menunjukkan pelemahan yang ditunjukkan dengan adanya penurunan pada nilai ekspor ke negara tersebut. Nilai pada bulan Februari dilaporkan hanya mencapai nilai 945 juta Dollar AS .

Sementara itu pada bulan sebelumnya ekspor nonmigas ke negara tersebut dapat mencapai nilai 1006.9 juta Dollar AS. Dengan demikian kinerja ekspor nonmigas pada periode tersebut mengalami penurunan sebesar -61.9 juta Dollar AS, atau amblas sebesar -6.14 %.

Laporan terkini dari Badan Pusat Statistik juga menunjukkan bahwa ekspor nonmigas dari awal tahun ini sampai bulan Februari secara total mencapai nilai 1951.9 juta Dollar AS. Data tersebut menunjukkan adanya penurunan sebesar -14.3 juta Dollar AS atau turun sekitar -0.72 %, dimana pada periode yang sama tahun lalu mencapai nilai 1966.2 juta Dollar AS.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting mengemukakan bahwa pada analisa kurs BI hari ini Euro terpantau bergerak turun sekitar -3.59 % terhadap mata uang Rupiah pada perdagangan valas dari awal Februari sampai dengan pekan ini. (VN)

Happy Trading !