Produksi Naik Bisa Dorong Ekspor Kopi Jateng Bertambah

Kondisi cuaca di Jawa Tengah sepanjang tahun ini diharapkan bisa stabil. Dengan stabilnya cuaca, dipastikan produksi kopi di wilayah ini ikut melonjak.
Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah, Moelyono Soesilo mengatakan dengan peningkatan produksi, diharapkan volume ekspor kopi Jawa Tengah turut bertambah.
Cuaca saat ini dinilai sangat sesuai untuk tanaman kopi. Sehingga ditargetkan produksi kopi Jawa Tengah akan melambung hingga 35 persen dibandingkan produksi tahun lalu.
“Tahun lalu petani kopi di Jawa Tengah bisa panen antara 8,5-9 juta karung dengan masing-masing karungnya berisi 60 kg, sedangkan tahun ini ditargetkan tercapai panen antara 11-11,5 juta karung,” kata Moelyono, Kamis (15/1/2015).
Kopi adalah komoditas yang sangat dipengaruhi cuaca. Hujan dengan intensitas sedang yang terjadi pada awal tahun menandakan musim tersebut sangat baik bagi tanaman kopi.
Berbeda dengan tahun lalu, di mana di awal tahun intensitas hujan sangat tinggi bahkan berakibat pada banjir di sejumlah daerah. Kondisi demikian ini tidak baik bagi tanaman kopi.
“Masa tanam kopi mulai dari proses keluarnya bunga hingga pemetikan membutuhkan waktu antara 9-10 bulan, jika selama masa tersebut cuaca tidak mendukung maka produksi akan merosot. Intesitas hujan yang tinggi bisa berakibat pada gugurnya bunga kopi, sehingga produksi kopi akan turun,” kata Moelyono.
Menurut dia, ketika produksi kopi turun, maka harga kopi pasti naik. Dengan produksi yang meningkat diharapkan harga dari komoditas tersebut bisa kembali seperti semula.
“Memang selama empat tahun ini produksi kopi di Jateng selalu mengalami fluktuasi mengikuti anomali cuaca yang terjadi. Jika pada tahun 2011 kami mengalami penurunan produksi, maka pada tahun 2012 dan 2013 ada peningkatan produksi, selanjutnya pada tahun 2014 produksi kembali menurun, harapan kami tahun ini bisa kembali meningkat,” kata Moelyono.
EKSPOR KARET SUMUT TURUN 4,06 PERSEN

Volume ekspor karet Sumatera Utara (Sumut) pada periode Januari-April 2014 mencapai 167,17 juta kilogram (kg) atau turun 4,06 persen dibanding periode yang sama 2013 akibat permintaan yang melemah.

“Pada Januari-April 2013, ekspor masih bisa 174,16 juta kg, sementara periode sama tahun ini hanya 167,17 juta kg lebih,” kata Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah di Medan, Minggu (25/5/2014).

Menurut dia, turunnya volume ekspor karet Sumut maerupakan dampak perekonoman yang masih lesu termasuk di negara pembeli utama yaitu Tiongkok.

Permintaan yang lemah juga membuat harga ekspor bertahan bahkan cenderung semakin rendah. Harga karet SIR 20 di bursa Singapura 21 Mei 2014 misalnya ditutup hanya 1,71 dolar AS per kg untuk pengapalan Juni 2014.

Bahkan untuk pengapalan Juli 2014 turun lagi atau hanya 1, 711 dolar AS per kg.

“Kalau volume turun terus, maka bisa jadi volume ekspor karet Sumut tahun ini di bawah realisasi 2013 yang sebesar 509,13 juta kg,” katanya.

Padahal pada 2013, saat harga juga masih rendah, volume ekspor masih naik 3,64 persen dibanding tahun 2012 yang 491,26 juta kg.

“Syukur di tengah harga dan permintaan yang melemah, Pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penaman Modal,” katanya.

Dia menegaskan Perpres itu menjaga dan akan semakin menyehatkan industri “crumb rubber” di tengah kesulitan karena ekspor menurun.

Edy menegaskan industri “crumb rubber” nasional secara teknologi dan permodalan bisa diusahakan 100 persen oleh pengusaha dalam negeri.

“Teknologi industri crumb rubber sangat sederhana, jadi memang tidak perlu ada alih teknologi dari asing. Jadi tidak perlu sangat tergantung dengan asing atau PMA sehingga Perpres itu memang tepat,” katanya.

Menurut Edy, saat ini dari 30 industri crumb rubber di Sumut, lima di antaranya PMA.

Petani karet Sumut, K Siregar menyebutkan sejak harga karet anjlok khususnya 2013 dan sepanjang 2014, petani semakin malas menderes getah.

“Bayangkan, harga getah sudah tinggal Rp5.000-an hingga paling mahal Rp6.000-an per kg. Padahal beras aja udah jauh di atas harga karet,” katanya.

Pedagang mengaku terpaksa menurunkan lagi harga beli getah ke petani karena harga bahan olah karet (Bokar) di pabrikan berkisar Rp15.000 hingga Rp17.000 per kg

Larangan Ekspor Mineral Tekan Pertumbuhan Ekonomi RI

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis besaran Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pada kuartal I tahun ini berada pada besaran 5,21 persen secara year on year (yoy).

Kepala BPS Suryamin menjelaskan, beberapa faktor tercatat menjadi faktor utama pelambatan angka pertumbuhan tersebut, salah satunya adalah penurunan yang signifikan dari sektor pertambangan yang juga berdampak terhadap sisi perdagangan nasional.

“Faktor pendorong pelambatan pertumbuhan salah satunya dari sektor pertambangan, karena adanya pelarangan ekspor bahan mineral yang belum di proses (mentah), begitu juga migas yang terus menurun,” tutur Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (5/5/2014).

Dia menjelaskan, kebijakan tersebut juga memberikan pengaruh terhadap sektor perdagangan nasional yang sumbangannya turun hingga 4,5 persen dari sumbangsih periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 6,5 persen

ekspor

“Ini juga dampak dari ekspor sektor tambang, dalam jangka panjang memang kebijakan itu baik. Penurunan ini juga besaran impor dan sektor bank yang juga ikut melambat,” terangnya.

Selain itu, pertumbuhan sektor tanaman bahan baku yang ikut melambat menjadi faktor utama lain yang mendorong pelambatan pertumbuhan ekonomi. Hal ini, jelas Suryamin, disebabkan oleh pergeseran tanam dan waktu panen para petani di beberapa daerah.

Meskipun demikian, dia juga menambahkan, penghambat pelambatan datang dari sisi konsumsi nasional yang naik akibat proses kampanye dalam rangkaian pesta demokrasi pemilihan umum (pemilu).

Dia menjelaskan, harga komoditas yang membaik khususnya untuk minyak kelapa sawit (CPO) dan karet, telah membantu pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini. “Untuk sektor bank memang melambat, tapi ada dorongan yang menghambat dari sektor keuangan untuk lembaga non-bank dan jasa perusahaan,” tukasnya