Harga Komoditas Diyakini Menguat akibat Faktor Permintaan

Analisa Trading – Sebagian besar komoditas utama dunia diperjualbelikan dengan memakai satuan Dollar. Oleh karena itulah saat nilai tukar USD menguat, investor kerap alergi membeli produk-produk hasil bumi semacam minyak atau emas karena harga jualnya menjadi lebih mahal di pasaran, terutama bagi pemodal yang mata uang utamanya bukan Dollar.

19minyak

Di tengah tren penguatan Dollar terhadap sebagian mata uang dunia, harga-harga komoditas ikut berkurang karena kehilangan pembeli. Namun demikian, masih banyak pihak yang optimis kalau faktor kenaikan Dollar tidak akan terus berdampak negatif terhadap kinerja komoditas. Faktor korelasi antara permintaan dan persediaan barang akan lebih berpengaruh ketimbang Dollar semata.

Menurut Ahli Strategi Komoditas ANZ Bank, Daniel Hynes, tren penguatan Dollar tidak akan berpengaruh besar lagi terhadap pergerakan harga komoditas dalam 6 sampai 12 bulan ke depan. Efek penguatan kurs bisa diimbangi oleh peningkatan jumlah permintaan produk komoditas dari beberapa negara besar. “Alasan fundamental tidak bisa diabaikan begitu saja. Faktor permintaan dan persediaan dapat mengurangi korelasi nehatif antara kurs Dollar dan harga komoditas,” ujarnya. Hynes menilai respon harga masing-masing komoditas di pasar akan sangat berbeda-beda terhadap pergerakan Dollar. Permintaan komoditas fisik yang besar akan menutupi pengaruh Dollar, terutama untuk produk-produk logam mulia. Sedangkan untuk minyak mentah, korelasinya dengan Dollar akan tetap negatif. Kontrak minyak Nymex WTI saat ini terpantau naik sekitar 18 sen ke level $56.65 per barel.

sumber: monexnews.com

Rupiah Terus Melemah, Dolar Tembus Rp 12.235

uang dollar

AnalisaTrading -Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berlanjut. Faktor global dan politik dalam negeri menjadi perhatian para pelaku pasar.

Mengutip data Reuters, Rabu (9/10/2014), dolar AS saat ini diperdagangkan di posisi Rp 12.235. Ini merupakan posisi dolar AS terkuat sejak 27 Desember 2013, yang kala itu Rp 12.260.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan tekanan rupiah kali ini. Pertama, investor cemas dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang tidak sebaik perkiraan sebelumnya.

“Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi ke bawah perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini dari 3,4% menjadi 3,3%. Pertumbuhan ekonomi Jerman dan Prancis diperkirakan tumbuh lebih buruk dari ekspektasi sebelumnya,” sebut riset Batavia Prosperindo Sekuritas.

Selain itu, pelaku pasar juga menyoroti perkembangan politik nasional. Koalisi Indonesia Hebat, pendukung presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi), lagi-lagi kalah dalam ‘pertarungan’ di parlemen. Kali ini, Koalisi Indonesia Hebat gagal mengusung pilihannya sebagai pimpinan MPR.

“Koalisi Merah Putih memenangkan pemilihan paket pimpinan MPR dengan suara 347, sementara Koalisi Indonesia Hebat dengan 330 suara. Suara DPD yang tidak solid mendukung Koalisi Indonesia Hebat mendorong kemenangan Koalisi Merah Putih,” tulis riset Batavia Prosperindo Sekuritas.

Ini merupakan kemenangan Koalisi Merah Putih yang kesekian kalinya di parlemen. Sebelumnya, koalisi pengusung Prabowo Subianto di pemilihan presiden 2014 ini unggul dalam isu UU MD3, UU Pilkada, dan pemilihan pimpinan DPR.

Posisi Koalisi Merah Putih yang begitu dominan di parlemen dikhawatirkan memperlemah jalannya pemerintahan Jokowi nantinya. Kebijakan-kebijakan penting, misalnya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bisa terganjal.  (D)

“Kalau sekedar checks and balances tidak ada masalah. Tapi yang dikhawatirkan kebijakan-kebijakan pemerintahan Pak Jokowi terjegal di DPR. Misalnya rencana kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) bersubsidi,” kata David Sumual, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Euro Masih Stabil Terhadap Dolar

AnalisaTrading-Euro masih berada di posisi stabil  dan belum banyak bergerak terhadap dolar pada perdagangan sesi Asia hari ini, Selasa (13/5), jelang rilis data sentimen ekonomi Jerman dan Zona Euro.

Euro diambil 1,3755 $ dekat dari $ 1,3745 hit pada pekan lalu setelah jatuh 1,2 persen sejak kepala ECB Mario Draghi mengatakan bank siap untuk mengambil tindakan bulan depan untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi .

“Pelonggaran mungkin tidak berakhir pada bulan Juni. Uptrend euro sejak musim panas lalu kemungkinan telah berakhir,” kata Daisuke Uno, kepala strategi pada Sumitomo Mitsui Bank.

Uno sendiri juga mencatat bahwa euro telah melanggar bawah saluran dukungan yang menghubungkan Juli 2013 rendah dari $ 1,2755 dan rendah Februari $ 1,3482 .

Namun, disinflasi tren harga zona euro mendukung euro terhadap mata uang dengan inflasi yang lebih tinggi, sehingga euro kemungkinan akan didukung sekitar $ 1,35 untuk saat ini.

Sterling juga kembali menguat terhadap dolar, setelah naik ke $ 1,6869 dari satu minggu rendah $ 1,6832 hit di minggu lalu. (FR)

Rupiah Lebih Kokoh di Akhir Pekan

Dibanding dengan sesi kemarin, nilai tukar Rupiah hari ini cenderung lebih kuat saat terpantau di pasar spot antar bank pada perdagangan akhir pekan (Jumat, 25/4).

Rp

Rupiah mengambil kesempatan dari melemahnya dollar AS (USD) yang tertekan oleh penguatan yen Jepang terkait memanasnya lagi situasi di Ukraina. Eskalasi ketegangan politik di kawasan itu menyebabkan investor mencari aset aman seperti safe-haven yen dan logam mulia emas, sehingga sontak USD mengalami tekanan. Selain itu, faktor geopolitik tersebut juga turut menyusutkan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi AS.

Dan secara umum hari ini USD terus terkikis terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Padahal sebelumnya, dolar AS sempat rally setelah data ekonomi durable goodsAS bulan Maret muncul di atas ekspektasi. Indeks dollar (USD=), yang menjadi patokan nilai dollar terhadap enam mata uang utama di seluruh dunia, tercatat turun di bawah batasana angka 80.0 atau ke level 79.75.

Menjelang jam 15.00 WIB, kurs Rupiah mampu parkir di kisaran Rp.11570 setelah rally hingga Rp.11555 dengan titik terlemahnya berada di level Rp.11610, platform Reuters. Level ini lebih kuat bila dibanding dengan harga penutupan sesi kemarin (24/4) di level Rp.11605 dan hanya mampu menguat ke level Rp.11590Namun demikian penguatan mata uang Garuda ini kembali terbatas lantaran kebutuhan dollar dalam negeri untuk kalangan pengusaha maupun ekspatriat mengalami peningkatan. Maklum saja karena mereka sebagian besar harus menggunakan dollar untuk memenuhi kewajibannya maupun repatriasi.