DOLAR MELEMAH TERHADAP YEN KARENA “YIELD” AS TURUN

New York – Kurs dolar AS pulih terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Selasa (Rabu pagi WIB, 21/5/2014), tetapi melemah terhadap yen Jepang karena imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS terus merosot.

Bank sentral Jepang, Bank of Japan (BoJ), memulai pertemuan kebijakan moneter dua hari pada Selasa dan diperkirakan mempertahankan skala stimulus moneter saat ini, sementara beberapa analis berspekulasi bank sentral dapat memperluas langkah-langkah pelonggaran pada Juli.

BoJ mulai membeli sekitar tujuh triliun yen (sekitar 70 miliar dolar AS) surat utang pemerintah per bulan sejak April 2013.

Kurs dolar terhadap yen pada Selasa menurun ke tingkat terendah dalam lebih dari tiga bulan karena imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang menjadi acuan, turun 0,04 persen menjadi 2,51 persen dan permintaan untuk aset-aset AS menyusut.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,3698 dolar dari 1,3717 dolar pada sesi sebelumnya dan pound Inggris naik menjadi 1,6840 dolar dari 1,6819 dolar. Dolar Australia merosot ke 0,9256 dolar dari 0,9329 dolar.

Dolar dibeli 101,27 yen Jepang, lebih rendah dari 101,32 yen pada sesi sebelumnya. Dolar bergerak naik menjadi 0,8923 franc Swiss dari 0,8918 franc Swiss dan menguat menjadi 1,0895 dolar Kanada dari 1,0871 dolar Kanada

Dolar AS Terpuruk, Berharap Peningkatan Suku Bunga

SINGAPURA – Dolar Amerika Serikat (AS) masih mengalami pelemahan, menyusul penurunan mingguan terhadap mata uang utama. Investor menanti keputusan Gubernur the Federal Reserve Janet Yellen Chair, di tengah spekulasi bank sentral AS akan

mempertahankan suku bunga mendekati nol persen.

Para pedagang melihat adanya peluang Komite Pasar Terbuka Federal akan menaikkan suku bunga pinjaman pada Desember. Dolar AS sedikit menguat pada akhir pekan kemarin, setelah data pemerintah menunjukkan tingkat pengangguran jatuh pada April.

“Saya berharap data tetap relatif lemah dalam waktu dekat. Atmosfer yang ada sudah tidak lagi menunjukkan tren bullish, sampai anda melihat adanya sinyal kenaikan suku bunga dari FOMC, saya tidak yakin dolar AS akan menguat,” jelas managing director Rochford Capital, Thomas Averill, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (5/4/2014).

nilai dolar turunThe Bloomberg Dollar Spot Index, yang memantau dolar AS terhadap 10 mata uang utama, berada di 1.007,39, turun 0,3 persen dari pekan lalu di kisaran 1.007,72.

Dolar AS sedikit berubah pada USD102,09 per yen Jepang dan USD1,3866 terhadap euro. Sementara euro terhadap yen, berada di 141,55 per euro dari 141,77 per euro.

Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan bahwa para pekerja naik 288.000 pada April, terbesar sejak Januari 2012. Pengangguran turun menjadi 6,3 persen, tingkat terendah sejak September 2008.

Yellen mengatakan pada 16 April bahwa kenaikan upah tetap dengan kecepatan yang lambat dengan sedikit tanda-tanda percepatan. Dia akan berbicara pada kongres pada 7 Mei.

Efek FOMC Berlanjut, Dolar Melemah

Analisa Trading-Sesi siang di perdagangan hari Kamis, (1/5) dollar AS terpantau masih tertekan hampir terhadap semua mata uang utama dunia.

Anjloknya nilai dolar  terutama setelah the Fed di akhir pertemuannya mensinyalkan akan mempertahankan suku bunga di kisaran terendahnya untuk jangka waktu yang cukup lama setelah program stimulus berakhir.

Indeks dolar menambahkan sekitar 0,1 persen menjadi 79,519 , setelah tergelincir 0,4 persen kemarin. Terhadap mata uang Eropa, dolar hari ini melemah ke kisaran 1.3874 setelah semalam terpuruk hingga 1.3876.

Pound Inggris, dolar terlihat pada area 1.6882 setelah semalam melemah di 1.6900. Mata uang yen, dolar AS sempat ke level 102.1. (FR)