Defisit Perdagangan Jepang Makin Besar

Tokyo – Pertumbuhan ekspor Jepang melemah mendorong defisit perdagangan makin melebar pada Maret 2014. Hal ini menambah tantangan perekonomian setelah menaikkan pajak penjualan pada 1 April bagi perdana menteri Jepang Shinzo Abe.

Berdasarkan pengumuman Departeman Keuangan Jepang, ekspor naik 1,8% dibandingkan perkiraan 27 ekonom yang disurvei Bloomberg sebesar 6,5%. Sementara itu, impor melonjak 18,1% sehingga mendorong defisit perdagangan semakin lebar.

Defisit perdagangan Jepang mencapai 1,45 triliun yen atau sekitar US$ 14,1 miliar. Jumlah ini lebih besar dari proyeksi ekonom sekitar 1,08 triliun.

Penurunan volume ekspor ini terbesar sejak Juni 2013. Hal ini menunjukkan permintaan global kurang mendukung ekonomi pada kuartal I 2014. Selain itu, pengeluaran besar menjelang kenaikan pajak juga mendorong impor semakin melonjak terutama biaya energi karena yen melemah dan shutdown nuklir.

“Meskipun yen terus melemah, kinerja eksportir Jepang cukup lemah dibandingkan seperti Korea dan Taiwan. Neraca perdagangan akan terus memburuk kecuali pemerintah memutuskan untuk memulai kembali pembangkit listrik tenaga nuklir,” ujar Junko Nishioka, Ekonom Royal Bank of Scotland Group Plc, seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (21/4/2014).

Sementara itu, Ekonom Senior Sumitomo Mitsui Asset Management Co Hiroaki Muto mengatakan, permintaan besar menjelang kenaikan pajak dapat mendorong perusahaan untuk mengalihkan pengiriman ke pasar domestik bukan ke luar negeri.

Muto menambahkan, defisit perdagangan Jepang dapat terus setidaknya selama tiga tahun melihat tingginya biaya energi dan mengurangi potensi untuk ekspor.

Happy Trading!