China Akan Restrukturisasi Industri Sebagai Pengganti Stimulus

Analisa Trading – China akan mempercepat pengembangan produksi yang berorientasi pada industri jasa dalam upayanya meningkatkan restrukturisasi industri dan menopang pertumbuhan ekonomi. Prioritas utama akan ditujukan pada pengembangan penelitian dan desain, layanan komersial, pemasaran dan layanan purna jual, serta akan didorong oleh pasar dan inovasi.

Langkah ini diharapkan akan menstimulasi permintaan domestik, meningkatkan lapangan kerja sosial dan meningkatkan mata pencaharian masyarakat, serta menstabilkan pertumbuhan ekonomi.

China tengah memanfaatkan potensi restrukturisasi industri untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi, ketimbang memberikan stimulus langsung pada investasi dan industri. Hal ini akan membantu meningkatkan kualitas pertumbuhan dan efisiensi dalam jangka panjang, katanya.

Pertumbuhan ekonomi China terus menyusut pada kuartal pertama, karena masih adanya tekanan depresiasi. Namun, industri jasa Negara tersebut berkembang pesat sebagai mesin baru yang mengimbangi perekonomian yang melambat.

Pada periode Januari-Maret, sektor tertier Cina naik 7,8 persen tahun ke tahun menjadi 6,29 triliun yuan ($ 1,02triliun), membuat naik 49 persen dari GDP negara itu pada kuartal pertama. Laju pertumbuhannya juga lebih cepat dari 3,5 persen pada pertanian dan 7,3 persen pada sektor industri.

Perbaikan akan dilakukan di bidang teknologi informasi dan layanan hemat energi, serta layanan logistik bagi produsen. Langkah tersebut akan membantu sektor ini untuk menaikkan nilai-nilainya, dan pengembangan dari sektor tertier secara integratif, sector pertanian dan industri.

Pemerintah pusat akan memudahkan akses pasar untuk menarik modal sosial untuk industri, mendorong perusahaan Cina untuk berinvestasi di luar negeri dan mengangkat pembatasan akses secara bertahap untuk perusahaan asing pada desain arsitektur, audit akuntansi dan logistik komersial.

Usaha penelitian dan desain, inspeksi dan sertifikasi, dan penghematan energi akan diizinkan mendapatkan keringanan pajak seperti yang telah dinikmati oleh perusahaan-perusahaan teknologi maju. Pajak pertambahan nilai akan dipromosikan ke seluruh sektor tertier dan kebijakan yang menguntungkan akan diperkenalkan untuk membangun lingkungan yang sehat bagi perusahaan dalam industri jasa yang berorientasi pada produksi.

Selain itu, negara ini akan terus mengembangkan industri jasa yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti kesehatan, perawatan lansia dan konsumsi informasi, dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan membangun mesin baru untuk pembangunan ekonomi dan sosial yang sehat.(VN)

China Panik Cadangan Devisanya Tembus USD3,95 Triliun

China berencana untuk mereduksi alias menurunkan surplus neraca perdagangannya. Pasalnya, cadangan devisa Negara Tirai Bambu ini terus bertambah, dan bisa memicu melesatnya inflasi.

Cadangan devisa China tercatat yang paling tinggi di dunia. Yakni, naik sampai USD130 miliae pada kuartal I-2014 menjadi USD3,95 triliun.

Bank sentral China telah berjanji untuk menjaga cadangan devisa dalam tingkat yang wajar. Caranya dengan mengurangi intervensi di pasar mata uang.

“Terus terang, cadangan devisa telah menjadi beban besar bagi kami, karena cadangan tersebut diterjemahkan ke dalam uang primer, yang dapat mempengaruhi inflasi,” kata Perdana Menteri China Li Keqiang dilansir dari CNBC, Selasa (13/5/2014).

Asian-Money-150x150Untuk itu, China akan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi surplus perdagangan dengan seluruh dunia.

“Dari sudut pandang China, kontrol makroekonomi bisa menghadapi tekanan yang luar biasa jika perdagangan secara keseluruhan tidak seimbang.”

Aksi pembelian valas yang dilakukan China secara teratur untuk mengintervensi nilai yuan agar tetap rendah menjadi momok menakutkan. Pasalnya, yuan yang terserap harus tetap disuntikan ke dalam sistem keuangan China. Jika ini terjadi, maka inflasi di negara tersebut akan meningkat

Ekspor-impor China April tak terduga naik

Ekspor dan impor China secara tak terduga naik pada April 2014. Di mana, ekspor naik 0,9 persen dibanding tahun sebelumnya, ketika angka yang digelembungkan oleh faktur palsu.

Hal itu berdasarkan rilis data dari Badan Bea dan Cukai di Beijing seperti dikuti dari Bloomberg, Kamis (8/5/2014). Angka tersebut dibandingkan dengan estimasi median yang menyatakan penurunan 3 persen dalam survei Bloomberg News. Sementara, impor naik 0,8 persen, menyebabkan neraca perdagangan surplus hingga sebesar USD18,46 miliar.

eksporMembaiknya neraca perdagangan ini dapat memengaruhi kemungkinan pemerintah akan mengupayakan untuk pelonggaran kebijakan moneter atau pengurangan stimulus yang lebih besar daripada pembangunan rel kereta api dan keringanan pajak, setelah pertumbuhan ekonomi kuartal pertama paling lambat dalam enam periode.

China akan menerapkan langkah-langkah untuk menstabilkan situasi perdagangan luar negeri yang berat dan rumit di negara itu, menurut kabinet pekan lalu.

Ekspor Maret turun 6,6 persen dari tahun sebelumnya dan jatuh 18,1 persen pada Februari, sebagai penurunan terbesar sejak krisis keuangan global, berdasarkan data yang dirilis sebelumnya.

Perkiraan April dari 47 ekonom berkisar dari penurunan 7,5 persen hingga adanya kenaikan 3,6 persen. Impor dibandingkan dengan perkiraan median telah terjadi penurunan 2,1 persen dari analis yang disurvei oleh Bloomberg. Sementara surplus perdagangan diproyeksikan menjadi USD16,7 miliar.

Ekonomi China Melambat, Harga Minyak Mentah RI Turun

Harga rata-rata minyak mentah Indonesia bulan April 2014 dibandingkan Maret 2014, cenderung mengalami penurunan terutama minyak mentah jenis direct burning. ICP April 2014 mencapai USD106,44 per barel, turun sebesar USD 0,46 per barel dari 106,90 per barel pada bulan Maret 2014.

Sedangkan harga Minas/SLC mencapai USD 111,05 per barel atau turun USD1,41 per barel dibanding USD 112,46 per barel pada bulan sebelumnya. Demikian seperti dikutip dari laman Kementerian ESDM, Kamis (8/5/2014).

Penurunan harga minyak mentah Indonesia tersebut terutama diakibatkan oleh penurunan permintaan minyak jenis direct burning untuk pembangkit listrik di Jepang dan cenderung turunnya permintaan minyak dari China akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Harga minyak mentah Indonesia ini, berbeda dengan perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada bulan April 2014 dibandingkan Maret 2014 yang secara umum mengalami kenaikan yaitu:

– WTI (Nymex) naik sebesar USD1,52 per barel dari USD100,51 per barel menjadi USD 102,03 per barel.

– Brent (ICE) naik sebesar USD 0,34 per barel dari USD 107,75 per barel menjadi USD108,09 per barel.

– Basket OPEC naik sebesar USD 0,13 per barel dari USD 104,15 per barel menjadi USD104,28 per barel.

minyakKenaikan harga minyak mentah utama di pasar internasional tersebut, diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA) bulan April 2014, pasokan  minyak mentah dunia di bulan Maret 2014 mengalami penurunan sebesar 1,2 juta barel per hari menjadi 91,78 juta barel per hari yang disebabkan penurunan pasokan minyak dari negara-negara OPEC.

Selain itu, berdasarkan laporan IEA dan OPEC bulan April 2014, proyeksi permintaan minyak mentah tahun 2014 hanya meningkat sekitar 0,01 juta barel per hari dibanding dengan proyeksi pada bulan sebelumnya.

“Adanya kekhawatiran pasar atas memanasnya kondisi politik di Ukraina dan adanya sanksi negara-negara Barat terhadap Rusia akibat bergabungnya Crimea dengan Federasi Rusia,” papar Tim Harga Minyak Indonesia.

Faktor lainnya adalah US Energy Information Administration (EIA) melaporkan stok mingguan gasoline AS pada bulan April 2014 mengalami penurunan sebesar 4 juta barel dibandingkan bulan sebelumnya dan berdasarkan laporan OPEC April 2014, pertumbuhan perekonomian Amerika Serikat terus membaik, ekonomi AS tahun 2014 diproyeksikan tumbuh 2,7 persen.

Untuk kawasan Asia Pasifik, kenaikan harga minyak mentah selain disebabkan oleh faktor-faktor tersebut, juga dipengaruhi oleh peningkatan permintaan minyak di India yang tumbuh 2,5 persen khususnya LPG dangasoline

Perbankan di Bursa Hang Seng Berjatuhan, Pasca PMI China

AnalisaTrading – Sejak awal perdagangan hingga sesi siang di hari Rabu (23/4), indeks Hang Seng terpantau masih bergerak di teritori negatif akibat sejumlah investor pesimis setelah rilis data manufaktur PMI China yang masih mencatat penyusutan.

Di lantai bursa Hong Kong, saham-saham berlabel perbankan sontak mengalami koreksi setelah data PMI China di rilis. Tercatat saham Agricultural Bank of China merosot 1.5% dan saham China Merchants Bank anjlok 1.2%. Sedangkan saham HSBC Holdings dan China Construction Bank juga ikut mengalami penurunan.

Sementara saham kelas berat China Mobile juga turut terkoreksi hingga (-2.4%) sekaligus menyeret turun saham-saham berbasis operator seluler lainnya. Dan saham China Unicom anjlok 1,8%, meskipun kabar menyebutkan pihaknya telah disadap terkait penawaran layanan telekomunikasi di dalam kendaraan untuk mobil Tesla yang khusus dijual di China.

Hingga sesi siang, indeks utama Hang Seng (.HSI) tercatat melemah (-0.72%) dan terkikis sebanyak (-164.79) poin pada kisaran 22565.89. Sedangkan indeks Hang Seng-fut juga melemah (-0.84%) atau -190 poin pada area 22547.

Happy Trading!