16 Investor “Pamer Kekuatan” di BEI

JAKARTA¬†– PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar acara bertajuk ” “Institusional Investor Day” 2014. Acara ini menghadirkan 16 perusahaan yang sudah tercatat di bursa (emiten).

Acara ini akan dilangsungkan selama dua hari, mulai hari ini tanggal 7 hingga 8 Mei 2014 bertempat di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.idx

Seperti dikutip dalam undangan resmi BEI, Jakarta, Rabu (7/5/2014) acara ini akan dibuka oleh Direksi BEI mulai pukul 09.45 WIB dan ditutup hingga pukul 16.00 WIB. Nantinya, para emiten ini secara bergantian akan memberikan prospek bisnis ke depan dan kinerja perusahaan hingga kuartal I-2014

Berikut emiten yang akan datang pada acara Para emiten ini secara bergantian akan memberikan pemaparan kinerja dan prospek bisnisnya ke depan. Acara akan dibuka oleh Direksi BEI.

Berikut emiten yang akan hadir dalam acara Institusional Investor Day pada hari pertama:

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR).
PT Ciputra Development Tbk (CTRA).
PT Nusantara Infrastructure Tbk (META).
PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
PT BW Plantation Tbk (BWPT).
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT).
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).

Sementara itu, pada hari kedua (Kamis 8 Mei 2014) :

PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK).
PT Unilever Tbk (UNVR).
PT Adaro Energy Tbk (ADRO).
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).
PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN).
PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT).
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN)

KETIDAKPASTIAN POLITIK MENURUNKAN NILAI RATA-RATA TRANSAKSI SAHAM

Pengamat pasar modal Indonesia Budi Hikmat menilai bahwa rata-rata transaksi saham harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang cenderung menurun dikarenakan ketidakpastian politik di dalam negeri.

“Nilai transaksi turun diakibatkan ketidakpastian politik. Sekarang ada euforia politik dan investor menunggu,” ujar Budi Hikmat yang juga Direktur PT Bahana TCW Investment di Jakarta

bursaDalam data perdagangan saham BEI, rata-tata transaksi saham harian sepanjang tahun ini sekitar Rp6,152 triliun, sementara pada 2013 sebesar Rp6,53 triliun.

Kendati demikian, Budi Hikmat meyakini bahwa pelaksanaan Pemilu Presiden akan berjalan aman sehingga Indonesia hanya perlu memperbaiki kinerja ekonomi makro.

“Neraca transaksi berjalan kita masih defisit, artinya kita kurang kreatif,” ucapnya.

Ia mengharapkan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah tetap stabil, karena kondisi itu dapat mempengaruhi psikologis investor global terhadap Indonesia.

Apalagi, lanjut dia, menjelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Indonesia harus memperbaiki kinerja neraca keuangan, termasuk volatilitas nilai tukar.

“Sekarang Bursa yang lebih baik di ASEAN itu Filipina karena mata uangnya menguat. Sementara rupiah masih cenderung melemah. Kenapa? karena banyak permasalahan yang belum bisa diurai. Kurs kita menakutkan bagi investor global,” katanya.

Budi Hikmat juga mengatakan bahwa untuk melihat pergerakan saham beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni likuiditas, laba emiten, valuasi yang mengacu kepada perbandingan antara harga dan nilai saham, suku bunga, dan sentimen.

Sementara itu, Wakil Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Rahmat Waluyanto mengatakan bahwa imbal hasil pasar modal domestik cukup menjanjikan bagi investor global seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Ia menambahkan bahwa OJK bersama dengan institusi terkait akan terus berupaya mendorong pertumbuhan investor domestik agar proporsinya seimbang.

“Saat ini sekitar 60 persen investor di pasar saham domestik merupakan asing. Sementara itu, di pasar obligasi negara tercatat 33 persen, tapi kita juga tetap memberlakukan kebijakan ‘market friendly’ kepada pihak asing,” katanya