Investasi Pembangunan Smelter Di Indonesia Akan Mencapai $ 18 Miliar

Analisa Trading – Larangan pemerintah Indonesia terhadap ekspor bijih besi pada awal tahun ini telah memacu investasi dalam negeri sebanyak $ 18 miliar untuk pembangunan pabrik pengolahan sampai dengan tahun 2017, kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sebagian besar investor dari Tiongkok berencana setidaknya akan membangun 64 fasilitas untuk memproses nikel, bauksit dan logam lainnya, R. Sukhyar, direktur jenderal mineral dan batubara, mengatakan dalam sebuah wawancara. Sampai akhir tahun 2014 nanti, diperkirakan nilai investasi akan mencapai $ 4.9 miliar.

Harga nikel yang digunakan untuk membuat stainless steel telah mengalami penguatan sebanyak 56 persen tahun ini, naik menjadi $ 21.625 per metrik ton pada bulan Mei. Sementara di bursa berjangka LME (London Metal Exchange) nikel diperdagangkan 0,4 persen lebih tinggi yaitu di harga $ 18.820 per ton, naik untuk hari ketiga. Harga akan tetap di atas $ 18.000 pada tahun ini, kata Sukhyar.

Jumlah smelter nikel yang akan dibangun para adalah sebanyak 30 yang akan memproses sekitar 20 juta ton bijih besi dan diperkirakan target produksi ini akan dicapai saat smelter mulai berfungsi di tahun 2017, kata Sukhyar. Sebelum larangan tersebut, bijih mentah dikirimkan langsung ke China untuk membuat nikel pig iron.

Kelebihan pasokan dibandingkan permintaan akan sebesar 97.100 ton pada tahun 2015, menurut Morgan Stanley, sementara Goldman Sachs Group Inc melihat ada defisit sebesar 200.000 ton di tahun yang sama. Larangan ekspor bijih besi mentah telah mengurangi hasil produksi tambang-tambang di Indonesia sebesar 8,9 persen dari target produksi tahun 2015, demikian pernyataan Morgan Stanley dalam sebuah laporan tertanggal 8 Juli. (VN)

Morgan Stanley Pangkas Proyeksi Harga Bijih Besi Global Tahun 2014

Analisa Trading – Morgan Stanley menurunkan proyeksi harga bijih besi untuk tahun 2014 ini dan memperkirakan penurunan harga lebih lanjut pada tahun 2015 yang disebabkan surplus pasokan di Tiongkok tumbuh lebih cepat dari yang diharapkan dan turunnya tingkat dukungan biaya pada produsen di negeri tersebut.

Harga bijih besi diperkirakan  rata-rata $ 105 per ton tahun ini yang lebih kecil dari perkiraan $ 118 pada bulan Mei lalu dan $ 135 pada tahun 2013. Dan untuk tahun 2015 harga bijih besi diprediksi rata-rata $ 90 per ton yang turun dari 21 persen dari perkiraan sebelumnya.

Selain Morgan Stanley, instansi lainnya Goldman Sachs Group Inc memprediksi proyeksi harga biji besi tahun ini lebih besar dari prediksi Morgan Stanley. Tahun ini Goldman Sachs memprediksi harga bijih besi rata-rata $ 109. Dan proyeksi harga tersebut lebih kecil dengan proyeksi UBS AG yang memperkirakan harga bijih besi tersebut sebesar $ 111.

Bijih besi, bahan baku yang digunakan untuk membuat baja, jatuh di bawah $ 100 per bulan lalu untuk pertama kalinya sejak 2012 yang dipicu perusahaan tambang besar di dunia yaitu  BHP Billiton Ltd (BHP) dan  Rio Tinto Group di Australia meningkatkan outputnya.

Mengenai pasokan bijih besi global, Goldman Sachs memperkirakan surplus pasokan akan meningkat menjadi 72 juta ton tahun ini dan 175 juta ton pada 2015 dari tahun lalu yang hanya  14 juta ton. Sedangkan UBS melihat lebih dari itu yang memprediksi  74 juta ton pada 2014 dan 177 juta ton tahun depan.

Sebagai informasi untuk pasokan bijih besi di Tiongkok telah turun 0,3 persen menjadi 106.500.000 ton pada pekan yang berakhir 6 Juni dari rekor 106.860.000 seminggu sebelumnya, menurut Beijing Informasi Antaike Development Co dan diprediksi persediaan akan meningkat  31 persen tahun ini. Untuk harga bijih besi terkini khususnya untuk kontrak berjangka bulan Juli di Bursa Efek Singapura turun 1,3 persen menjadi $ 91,51. (VN)

Harga Bijih Besi Mengalami Penurunan Terpanjang, Surplus Global Meningkat

Analisa Trading – Harga bijih besi mengalami penurunan terpanjang dalam sepanjang sejarah karena meningkatnya pasokan dari Australia dan Brasil yang memicu surplus global. Fortescue Metals Group Ltd ( FMG ) mengatakan mungkin ada terjadi kerugian lebih lanjut, dengan risiko harga akan melemah terus menuju ke level terendah sejak 2009.

 

Bijih besi dengan konten 62 persen dikirim ke Tianjin  di harga $ 95,70 per ton kering kemarin, 9,2 persen lebih rendah pada bulan ini, menurut data dari Indeks Steel Ltd. Harga bahan baku dalam pembuatan baja ini , telah turun ke level terendah 20 bulannya, yang telah menurun setiap bulan sejak Desember tahun lalu.

 

Penambang bijih besi terbesar termasuk BHP Billiton Ltd dan Rio Tinto Group (RIO) yang menaikkan hasil produksinya, memacu  meningkatnya surplus global. Perlambatan pertumbuhan dan kondisi kredit yang ketat di Cina telah membatasi ekspansi permintaan dari pengguna terbesar di dunia ini.

 

Penurunan harga ini memvalidasi perkiraan dari Goldman Sachs Group Inc yang dikeluarkan pada bulan November tahun lalu, yang mengatakan bahwa komoditas akan mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2014.( VN)

Harga Bijih Besi Semakin Murah, Permintaan Tiongkok Membebaninya

Analisa Trading – Harga bijih besi telah jatuh lebih lanjut karena kekhawatiran atas permintaan baja melemah di China yang terus membebani harga  komoditas tersebut.

Bijih besi mentah untuk pengiriman langsung ke pelabuhan Tianjin di China diperdagangkan pada $ US96.80 per ton, jumlah ini turun dari $ US98.10 di sesi sebelumnya .

Pekan lalu harga bijih besi jatuh ke $ US100 per ton untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun dan saat ini masih ada  di titik terendah sejak September 2012 ketika saat itu diperdagangkan pada $ US96.10 per ton.

Eksportir bijih besi Australia  yang  termurah di dunia  masih memiliki ruang bagi eksportir besar atas dasar harga tersebut namun  beberapa perusahaan yang lebih kecil mungkin harus mempertimbangkan kembali rencana ekspansi jika harga terus melorot.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting melihat tahun ini  menjadi tahun yang volatile bagi harga komoditas tersebut yang  jatuh lebih dari 25 persen sejak 2 Januari. Pada bulan Maret saja  harga bijih besi pernah jatuh ke posisi terendah  dalam empat tahun kei $ US104.70 per ton, lalu bangkit kembali  ke $ US119.40 pada awal April.

Analis juga melihat jika komoditas ini harganya jatuh hingga akhir semester pertama tahun ini, semester berikutnya akan kembali dalam trend yang melemah bahkan dikhawatirkan menyentuh harga kisaran  $ US 80 – 90  per ton . (VN)