Ekspor Beras Dari Thailand Terganggu Karena Ketidakhadiran Buruh Migran Pelabuhan Paska Kudeta

Analisa Trading – Harga beras di Thailand, eksportir terbesar kedua di dunia, kemungkinan akan memperpanjang kenaikannya karena keterlambatan pengiriman yang disebabkan ketidakhadiran pekerja migran yang melarikan diri setelah kudeta militer, kata Asosiasi Eksportir Beras Thailand.

Sebanyak 70 persen dari pekerja yang terlibat dalam proses bongkar muat biji-bijian dari gudang pindah ke kapal telah meninggalkan negara itu, Chookiat Ophaswongse, presiden kehormatan asosiasi, mengatakan melalui telepon dari Bangkok kemarin. Itu bisa menunda pengiriman sebanyak tiga minggu, katanya.

Lebih dari 200.000 pekerja dari negara-negara tetangga meninggalkan Thailand sejak militer merebut kekuasaan pada 22 Mei dikarenakan kekhawatiran akan tindakan keras terhadap tenaga kerja ilegal, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi. Militer membantah isu tersebut. Harga beras Thailand telah meningkat ke level tertinggi tiga bulan.

Dewan Nasional Ketentraman dan Ketertiban, karena junta diketahui, bertujuan untuk memecahkan masalah pekerja ilegal, Marsekal Udara Prajin Juntong, kepala urusan ekonomi, mengatakan pada 17 Juni. Dewan mengharapkan tenaga kerja migran akan kembali ke Thailand karena permintaan tinggi, katanya.

Bongkar muat yang dapat dilakukan pada saat ini adalah sekitar 300 ton per hari dibandingkan dengan 1.500 ton normal. Kepala urusan ekonomi Dewan Nasional Ketentraman dan Ketertiban, Marsekal Udara Prajin Juntong, mengharapkan para tenaga kerja migaran dapat kembali ke Thailand setelah adanya jaminan dari junta militer bahwa tidak akan ada tindakan kekerasan yang akan diambil.

Negara ini memiliki populasi pekerja migran dari 2,23 juta, termasuk 1,82 juta orang yang memasuki negara itu secara ilegal, menurut Departemen Tenaga Kerja. Dari jumlah itu, 1,74 juta berasal dari Myanmar, 395.000 dari Kamboja dan 96.000 dari Laos. (VN)