Apa RI Mau Terus Menerus Impor BBM?

Indonesia diprediksi bakal terus melakukan importasi minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM) setiap tahunnya bahkan angkanya akan terus tumbuh. Hal ini tidak terlepas produksi dalam negeri yang cenderung menurun dan konsumsi BBM terus meningkat.

Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengakui pertumbuhan konsumsi BBM ini tak terlepas dari pertumbuhan ekonomi, sehingga kebutuhan akan energi sangat diperlukan.

“Indonesia butuh energi, karena pertumbuhan ekonomi. Tahun ini saja kebutuhan 1,6 juta barel per hari kita harus penuhi,” ucap Susilo di JCC Senayan, Jakarta (22/5/2014).

Dia menambahkan, produksi minyak dalam negeri yang rata-rata hanya 800 ribu bph dan yang mampu diolah menjadi BBM sekira 600 ribu bph, sehingga sisanya harus melakukan impor.

“Kebutuhan minyak mentah pun kurang, jadinya kita impor juga karena enggak punya kilang yang banyak untuk mengelola minyak menjadi BBM. Apa kita mau terus-terus impor BBM?” tegas Susilo.

Susilo memperkirakan, impor BBM akan meningkat hingga 1,7 juta bph dan ini akan menjadi tantangan pemerintah serta instansi terkait. Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, para pelaku industri hulu migas atau Kontraktor Kontrak kerjasama (KKKS) yang di kordinasikan oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) harus berusaha memenuhi kebutuhan tersebut.

“Pekerjaan SKK Migas itu sebenarnya mudah, cuma suruh tambah produksi tapi tantangannya itu yang berat. Tolong pastikan, untuk mencari cadangan baru dan energi baru seperti CBM maupun shale gas,” pungkasnya