Korsel Izinkan Perusahaan Umum Jalankan Perbankan Online

SEOUL–Komisi Jasa Keuangan Korea Selatan (FSC) mengizinkan institusi nonkeuangan untuk menjalankan layanan perbankan online sebagai upaya mendorong pemilik laman bisnis, seperti Samsung dan Naver untuk ikut mengembangkan bisnis keuangan.

Topik kepemilikan jasa perbankan online kini jadi salah satu agenda utama dalam diskusi internal FSC. Padahal sebelumnya, perusahaan nonkeuangan dilarang memiliki lebih dari empat persen saham di bank komersial.

”Kepemilikan layanan internet banking  jadi salah satu isu utama yang akan kami bahas untuk menentukan aturannya,” kata Direktur FSC, Jeon Yo-seop, seperti dikutip Korea Times, Rabu (28/1).

Jeon mengatakan, aturan akan diterbitkan setelah dengar pendapat dari industri pada April mendatang. FSC sendiri akan mengumumkan modelinternet banking nasional pada Juni mendatang.

Pengamat mengatakan, dengan perubahan regulasi itu, konglomerat nasional seperti Samsung, Hyundai dan LG akan bisa memiliki layanan internet banking sendiri. Sementara operator laman seperti Naver dan Daum Kakao akan menembus pasar dengan cepat menggunakan platform mereka.

”Sebelumnya kami dilarang untuk masuk industri keuangan. Dengan perubahan aturan, kami bisa saja mempertimbangkan untuk bergabung dalam bisnis ini,” kata juru bicara Naver, Lee Seung-jin.

Agar transaksi online lebih mudah, FSC tidak akan memaksa perusahaan keuangan untuk sistem identifikasi tersertifikasi lagi. Perusahaan akan dibolehkan menggunakan sistem identifikasi nasabah sendiri.

Pemerintah juga akan mendorong pengumpulan dana masyarakat melalui internet untuk pembiayaan perusahaan ventura.

Manipulasi forex, lima bank dijatuhi denda

British High Street Banks As Libor Charges Mount

Analisa Trading – Lagi, bank kakap terbukti memanipulasi transaksi. Kredibilitas bank global kembali tercoreng setelah regulator membuktikan terjadinya praktik manipulasi transaksi pasar uang (forex). Ada lima bank jumbo yang terjerat kasus manipulasi transaksi forex. Mereka adalah UBS, HSBC, Citigroup, Royal Bank of Scotland (RBS) dan JP Morgan. Detailnya, UBS, HSBC, dan Citigroup bersalah karena lalai mencegah praktik manipulasi transaksi forex.

Sementara, RBS dan JP Morganbersalah karena melakukan praktik curang dalam menentukan harga acuan (benchmark) mata uang. Dus, regulator mewajibkan lima bank itu membayar denda senilai US$ 3,4 miliar. Denda miliaran dollar ini wajib dibayarkan bank kepada Otoritas Keuangan Inggris (FCA), Komisi Perdagangan Komoditas (CFTC) dan Regulator Keuangan Swiss (FINMA). Putusan denda ini merupakan hasil dari penyelidikan gabungan otoritas selama setahun terakhir.

“Rekor denda ini menandai bahwa bank harus bertanggung jawab untuk memastikan tidak terjadinya manipulasi transaksi,” ujar CEO FCA,  Martin Wheatley, Rabu (12/11). Dari lima bank tersebut, UBS menderita denda paling besar. UBS harus membayar US$ 661 juta ke FCA dan CFTC. Secara terpisah, FINMA mewajibkan UBS membayar CHF 134 juta karena menemukan trader UBS memanipulasi transaksi logam mulia.

Belum usai

Kredibilitas bank masih jadi taruhan. Pasalnya, regulator masih terus mencari bukti baru. Barclays dikabarkan menjadi target selanjutnya. Bank asal Inggris ini masih masih di bawah penyelidikan FCA. “Denda ini bukan akhir dari cerita,” tandas Wheatley. Asal tahu saja, denda US$ 3,4 miliar dijatuhkan regulator atas penyelidikan pada transaksi forex periode 1 Januari 2008 hingga 15 Oktober 2013.

CFTC menyatakan, manipulasi dilakukan trader pada periode tahun 2009 hingga tahun2012. Temuan regulator, para trader memanipulasi transaksi lewat chat room. Trader menggunakan kode khusus untuk menginformasikan nama klien. Sejumlah chat room yang dipakai diantaranya, “the players”, “the 3 musketeers” dan “1 team, 1 dream”.

Seusai menjatuhkan denda, regulator tengah mengkaji ulang aturan di pasar forex. Sebagai gambaran, transaksi pasar forex dunia mencapai US$ 5,3 triliun per hari. Sebanyak 40% dari total transaksi terjadi di pasar London. Praktik manipulasi tak pernah sepi. Maret 2014, lima bank juga dituduh memanipulasi harga emas London.

Sumber : kontan.co.id

Penjabaran Dari Pertemuan Bank Sentral Australia Untuk Bulan September

Analisa Trading – Sebuah data resmi yang dirilis pada hari Selasa(16/09) menunjukan bahwa dewan memutuskan untuk meninggalkan suku bunga stabil pada 2.5% di bulan September.

Kebijakan moneter yang akomodatif telah mendukung permintaan di beberapa sektor ekonomi, tetapi kebijakan juga perlu menyadari risiko terhadap pertumbuhan di masa depan yang bisa menemani lebih lanjut build-up besar dalam harga aset, terutama jika itu dikaitkan dengan peningkatan leverage. Anggota menilai bahwa sikap kebijakan moneter saat terus sesuai dan berkontribusi terhadap pertumbuhan dan inflasi hasil yang berkelanjutan konsisten dengan target selama periode ke depan. Anggota menilai bahwa program studi yang paling bijaksana adalah mungkin periode stabilitas suku bunga.

Prospek mitra dagang utama Australia sedikit berubah dari pertemuan sebelumnya, dengan pertumbuhan yang diharapkan untuk naik sedikit diatas rata-rata, harga komoditi tetap pada tingkat historis tinggi, meskipun harga bijih besi telah menurun selama 1 bulan lalu. Kondisi keuangan global tetap sangat akomodatif, dengan suku bunga jangka panjang jatuh lebih sementara volatilitas dan risiko menyebar tersisa pada tingkat rendah.

Di dalam negeri, pertumbuhan PDB diperkirakan melambat pada kuartal Juni menyusul tenaga mesin yang kuat pada kuartal Maret. Ekspor menurun dan meskipun investasi pertambangan diperkirakan telah sedikit berubah pada kuartal Juni. Pada saat yang sama, langkah-langkah dari kondisi bisnis membaik dan ada bukti yang menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi bisnis non-pertambangan akan memberikan performa yang baik selama 1 kuartal.

Sementara kondisi pasar tenaga kerja tetap tenang, dengan data terbaru menunjukkan tingkat kapasitas cadangan. Pertumbuhan upah telah tetap rendah dan tidak tertutup kemungkinan untuk stabil sebelum tingkat pengangguran menurun secara berkelanjutan.

Anggota mencatat bahwa setting arus kebijakan moneter akomodatif. Suku bunga tetap sangat rendah dan menurun sedikit bagi peminjam karena tingkat uang itu berubah. Investor terus mencari keuntungan yang lebih tinggi dalam menanggapi tingkat rendah pada instrumen yang aman dan menerima risiko lebih dalam. Pertumbuhan kredit telah meningkat, termasuk untuk bisnis. Pertumbuhan kredit untuk perumahan investor yang meningkat sekitar 10% per tahun. Harga rumah yang terus meningkat di kota-kota besar dan anggota menganggap bahwa risiko yang terkait dengan tren ini dijamin observasi ketat yang sedang berlangsung. Di sisi lain, nilai tukar tetap di atas perkiraan sebagian besar nilai fundamentalnya, terutama mengingat penurunan harga komoditas utama dan, secara keseluruhan. (FC)

Bank Mandiri Mengimbau Nasabah Mengganti PIN ATM & Kartu Kredit Secara Berkala

Analisa Trading – PT Bank Mandiri Tbk. mengimbau kepada para nasabah agar mengganti pin ATM ataupun kartu kredit secara berkala.

Retail Chief Risk Officer Bank Mandiri mengatakan hal tersebut ditujukan untuk menghindari penarikan ilegal yang marak terjadi saat ini.

Jadi dihimbau agar nasabah mengganti pinnya secara berkala, misal seminggu atau sebulan sekali.

ATM

Pasalnya, ada jeda waktu yang terjadi antara pencurian data dengan penarikan uang yang dilakukan sindikat pembobol rekening tersebut.

Jeda waktu tersebut dibutuhkan pelaku untuk mengolah data yang dicurinya menjadi ATM atau kartu kredit palsu.

Jadi kalau diganti pinnya meskipun ATM palsunya sudah ada, tidak akan bisa transaksi.

Lebih lanjut dia menyampaikan teknologi magnetic stripe yang diterapkan pada alat pembayaran produk bank memang rentan terhadap pencurian data.

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah teknologi yang lebih mumpuni yakni chip. Chip diklaim dapat meminimalisir pencurian data, dibandingkan magnetic stripe.

Saat ini kalau pakai chip bisa dikatakan sulit karena belum ada teknologi yang mampu untuk hal tersebut.

sumber: gainscope.co.id

2.000 Rekening Diblokir Mengantisipasi Pembobolan Dana Nasabah

Analisa Trading – PT Bank Mandiri Tbk. tengah memblokir sekitar 2.000 rekening nasabah, sebagai tindakan preventif untuk mencegah terjadinya pembobolan dana di perseroan.

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Nixon Napitupulu mengatakan untuk mengantisipasi adanya tindakan kejahatan yang muncul di bank, maka perseroan melakukan pencegahan dengan memblokir rekening nasabah yang diduga terindikasi.

Tindakan ini kami lakukan guna melindungi kepentingan nasabah dari penyalahgunaan oleh pihak yang tidak diinginkan.

Nixon menghimbau kepada nasabah, agar datang ke cabang Bank Mandiri terdekat guna menukarkan kartu debit yang dimiliki, jika muncul kecurigaan atau terjadi penarikan dana yang tidak diketahui dari rekening nasabah.

Selain itu, dia juga menyarankan kepada nasabah untuk mengganti kartu debit, dan pergantian kartu tersebut tak akan dikenakan biaya tambahan atau gratis.

Nixon mengungkapkan rekening yang diblokir sekitar 2.000 rekening dan kini perseroan masih menghitung jumlah kerugian, sesuai dengan laporan dari nasabah.

PT Bank Sahabat Sampoerna Masih Menunda Mendirikan Unit Usaha Syariah

Analisa Trading – PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) menunda rencana pendirian unit usaha syariah (UUS) yang telah digadang-gadang sejak 2012.

Kepala Divisi Corporate Affairs Bank Sampoerna mengatakan penundaan tersebut dilakukan karena masih ada beberapa hal yang perlu dibereskan dan dimatangkan lagi.

Manajemen perseroan telah memasukkan rencana pendirian UUS tersebut dalam rencana bisnis bank (RBB) 2014 meskipun di situ disebutkan bahwa rencana tersebut baru dalam tahap persiapan.

Manajemen juga telah menyampaikan business plan berisi strategi pengembangan bisnis unit usaha syariah tersebut kepada OJK. Akan tetapi, rupanya regulator belum dapat diyakinkan dengan seluruh strategi yang disampaikan.

Ada beberapa hal yang perlu disamakan persepsinya dengan regulator sehingga sementara mundur dulu.

Di antara faktor terpenting yang menyebabkan tertundanya rencana tersebut adalah faktor permodalan.

Saat ini, kondisi permodalan Bank Sampoerna belum memungkinkan untuk mendirikan UUS yang dapat diproyeksikan dapat spin off dalam rentang waktu pendek.

Hingga Desember 2013, Bank Sampoerna masih masuk ke dalam kategori BUKU 1 dengan modal inti sebesar Rp420 miliar. (FC)