NPL Bank BII Masih Dibawah Standar, Saham Berusaha Kuat

AnalisaTrading-Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) berencana untuk menerbitkan sukuk mudharabah berkelanjutan 1 dan juga obligasi subordinasi berkelanjutan 2 tahun 2014 dengan total nilai Rp 4 triliun. Rencananya, penerbitan obligasi dan juga sukuk ini akan dilakukan dalam beberapa tahapan.

Pada tahap pertama, BNII akan menerbitkan obligasi subordinansi senilai Rp 1,5 triliun dan sukuk sebesar Rp 300 miliar. Rencananya, obligasi subordninansi akan diterbitkan akan digunakan untuk melakukan ekspansi bisnis dan sukuk mudharabah yang diterbitkan akan digunakan untuk menampah penyaluran pembiayaan kepada nasabah.

Jangka waktu jatuh tempo untuk obligasi subordinansi adalah tujuh tahun sementara sukuk mudharabah memiliki waktu jatuh tempo tiga tahun. Beberapa lembaga pemeringkat surat utang seperti Fitch dan Pefindo memberikan ranking yang baik atau investment grade untuk sukuk dan obligasi BNII.

Untuk obligasi subordinansi, Fitch memberikan rating AA sementara Pefindo memberikan rating AA+. Untuk sukuk mudharabah, baik Fitch dan Pefindo memberikan rating AAA. Adapun jadwal sementara untuk masa penawaran awal akan dilakukan pada 19-25 Juni 2014, sedangkan perkiraan tanggal efektif pada 30 Juni 2014, perkiraan masa penawaran umum pada 2-3 Juli 2014 dan akan dicatatkan di bursa pada 10 Juli 2014.

Untuk penerbitan obligasi dan sukuk, BNII telah menunjuk beberapa penjamin yaitu PT HSBC Securities Indonesia, PT Indopremier Securities, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Maybank Kim Eng Securities, sementara untuk wali amanatnya adalah PT Bank Mandiri Tbk.

Secara historis, kinerja keuangan BNII tergolong baik namun tidak terlalu menonjol dibandingkan bank-bank lainnya. Dari laporan triwulan pertama tahun 2014 terlihat bahwa tingkat penyaluran dana dari BNII tergolong tinggi untuk bank konvensional.

Dari laporan keuangan triwulan pertama 2014, LDR BNII bernilai 88,91% atau masih di bawah batas maksimal yang direkomendasikan BI, yaitu 92%. Penyaluran dana yang tidak mecapai batas maksimal ditujukan untuk menghindari risiko likuidtas dan juga potensi bank run.

 Dilihat dari tingkat kesehatan bank, BNII juga tergolong baik karna CAR BNII selalu berada di kisaran 12-13% dalam satu tahun terakhir atau diatas batas internasional, yaitu 8%. Dengan rasio CAR yang diatas standar, maka BNII akan memiliki kestabilan yang lebih baik dan memiliki cadangan modal yang cukup kuat.

Dari kualitas manajemen kredit terlihat bahwa NPL gross bernilai 2% atau dibawah  standar yang ditentukan oleh Bank Indonesia, yaitu 5%. Dari tingkat efisiensi, terlihat bahwa BNII mengalami penurunan efisiensi yang tercermin dari BOPO yang naik dari 89% pada triwulan 1 tahun 2013 menjadi 94% pada triwulan 1 tahun 2014. Penurunan efisiensi ini disebabkan oleh kenaikan beban bunga valuta asing dan juga kerugian akibat penurunan nilai aset keuangan berupa surat berharga.

Dari perdagangan saham BNII di bursa hari ini, saham BNII dibuka pada harga Rp 293 per lembar yang kemudian ditutup sama dengan harga perdagangan sebelumnya dengan volume perdagangan sebanyak 380 ribu lembar saham dengan pergerakan harga saham bergerak diantara Rp.291 – Rp.296 per lembar.