Aset Perseroan Berkembang, Bank Mandiri Raih Laba Bersih Rp 4,9 Triliun

Analisa Trading-Emiten perbankan milik negara,  PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba bersih sebesar Rp 4,9 trilun atau naik sebsear 20,1% pada kuarta pertama di 2014,  dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2013 yang hanya Rp 4,3 triliun.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pencapaian perseroan saat ini merupakan perkembangan yang menggembirkan karena kredit yang disalurkan terus meningkat dan semakin memperkuat perseroan dalam menjalankan perannya.   Kenaikan laba juga ditopang pertumbuhan fee based inconme mencapai Rp 3,5 triliun.  Selain pertumbuhan kredit, laju kenaikan laba juga ditopang pertumbuhaannya fee based income sehingga mencapai Rp 3,5 triliun pada maret 2013.

Di sisi lain,  kepercayaan masyarakt kepada perseroan  juga terus tumbuh yang ditunjukkan dengan naiknya penghimpunan dana pihak ketiga menjadi Rp 531,6 triliun pada Maret 2014 dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 467,0 triliun.

Disampaikan juga, perseroan  membukukan pertumbuhan kredit sebesar Rp 470,4 triliun atau naik sebesar 20,1% pada triwulan pertama 2014,  dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2013 yang hanya Rp 391,6 triliun. Pertumbuhan penyaluran kredit itu mendorong peningkatan aset yang mencapai Rp 729,5 triliun.

Menurut Budi, peningkatan aset juga mendorong pertumbuhan laba bersih yang mencapai Rp 4,9 triliun serta kredit Bank Manidir ke sektro produktif tumbuh 22,8% mencapai Rp 356,8 triliun.  Sektor produktif tumbuh 22,8% mencapai Rp 356,8 triliun dengan pertumbuhan kredit investasi sebesar 15,7% dan kredit modal kerja sebesar 27,5%.

Selain itu sektor listrik, gas, dan air mencatat akselarasi pertumbuhan sebesar Rp 34,1% sedangkan sektor perdagangan, restoran dan hotel sebesar 22,6%.  Perseroan  juga turut menyalurkan pembiayaan khusus dengan skema penjaminan pemerintah, yaitu melalu penyaluran Kredit usaha Rakyat (KUR).  Jumlah nasabaha KUR meningkat hingga 42,1% menjadi lebih dari 315 ribu nasabah dengan limit sebesar Rp 14,9 triliun. (FR)

Transaksi Pemakaian Flazz BCA Meningkat, BBCA Masih Tegar

Analisa Trading-Volume transaksi kartu Flazz yang diterbitkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat kenaikan signifikan. Hal itu karena didorong oleh kerjasama dengan Pemerintah Daerah DKI Jakarta untuk transaksi TransJakarta pada tahun 2013 lalu dan kerjasama dengan PT KAI Commuter Line Jabodetabek (PT KCJ) untuk tiket KRL Commuter Line.

Rata-rata pemakaian pada tahun lalu sekitar 40.000 hingga 50.000 transaksi per hari. Sekarang 60.000 hingga 70.000 transaksi per hari. Secara umum, masyarakat telah melihat dan memahami manfaat kemudahan transaksi dengan uang elektronik tersebut.

Strategi bisnis yang dilakukan BBCA ini memang terlihat brilian. Pasalnya, saat ini hampir sebagian besar masyarakat Jakarta mengandalkan 2 transportasi publik andalan untuk menghindari kemacetan, yaitu Kereta Commuter dan Trans Jakarta. Disamping itu dengan berbagai promo yang kerap diberikan oleh kartu Flazz BCA menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan tertentu untuk memiliki kartu tersebut.

Beredar kabar bahwa Bank Mandiri mengajak kerjasama BCA dalam hal pembayaran tol yang sudah lebih dulu diluncurkan Bank Mandiri. Namun terkait hal tersebut, pihak BCA menyampaikan bahwa mereka masih menunggu waktu perkembangan kerjasama lebih lanjut dengan pihak lain, terutama di sektor transportasi publik

Menyambut kabar tersebut pada perdagangan saham hari ini (29/4), terlihat bahwa saham BBCA berhasil dibuka menguat tercatat naik 300 poin dibanding dengan pentupan kemarin sore menjadi 10.900 basis poin pada pagi ini. Hingga kini terlihat bahwa saham BBCA terus menguat dan transaksi sahamnya cukup besar, tercatat sekitar 40.000 lot saham yang sudah diperdagangkan.

Secara teknikal, terlihat indikator MA 5 masih berada diatas BB tengah namun dengan pola menurun. Indikator RSI masih flat pada level 50% dan Stochastic sideways pada level 70%. Level resistence berada pada 11.355 dan level support berada pada 10.517 basis poin. Dengan melihat analisa teknikal tersebut, terlihat bahwa saham BBCA masih akan bertahan pada posisinya saat ini. (VN)

Ancaman Sanksi ke Rusia Lambungkan Saham Walstreet

Saham-saham di Wall Street sebagian besar berakhir lebih tinggi pada Selasa (29/4) pagi WIB, karena investor meresapi sanksi baru terhadap Rusia dan menunggu pekan yang sibuk dengan berita ekonomi dan laporan laba perusahaan.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 87,28 poin (0,53 persen) menjadi ditutup pada 16.448,74.

Indeks berbasis luas S&P 500 bertambah 6,03 poin (0,32 persen) menjadi berakhir pada 1.869,43, sedangkan indeks komposit teknologi Nasdaq merosot 1,16 poin (0,03 persen) menjadi ditutup pada 4.074,40.

Para analis mengatakan volume perdagangan yang ringan memulai minggu yang mencakup sebuah pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve pada Rabu (30/1) dan laporan pekerjaan bulanan pada Jumat (2/5).

Saham-saham sebagian besar pulih dari pingsan pada pertengahan sore hari, tetapi investor masih berhati-hati setelah AS dan Eropa menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia yang gagal menghentikan meningkatnya ketegangan di Ukraina.

“Beberapa berita ekonomi tidak buruk, tetapi ada banyak kekhawatiran,” kata Mace Blicksilver, direktur Marblehead Asset Management.

2

Selain Rusia, Blicksilver mengutip berlanjutnya pelemahan pada banyak saham teknologi terkemuka serta pengumuman Bank of America (BofA) yang menangguhkan pembayaran dividen dan program pembelian kembali sahamnya setelah menemukan kesalahan dalam menghitung kekuatan modal.

BofA merosot 6,3 persen setelah Federal Reserve memerintahkan penghentian rencananya untuk meningkatkan dividen dan pembelian kembali sahamnya. BofA mengatakan akan mengirimkan kembali data modalnya dan diharapkan mereka bisa memotong distribusinya.

Investor bereaksi antusias terhadap pengumuman Pfizer yang berharap untuk memperoleh raksasa obat AstraZeneca Inggris senilai sekitar 100 miliar dolar AS. AstraZeneca sejauh ini menolak kesepakatan, yang akan menggabungkan dua perusahaan obat itu dan memangkas tarif pajak Pfizer.

Anggota Dow Pfizer naik 4,2 persen sementara saham AstraZeneca yang diperdagangkan di pasar AS melesat 12,2 persen lebih tinggi.

General Electric naik 0,7 persen karena kepala eksekutif Jeffrey Immelt bertemu dengan Presiden Prancis Francois Hollande untuk mencoba mendapat persetujuan potensi kesepakatan untuk membeli bisnis energi Alstom. Pemerintah Prancis juga telah menyatakan keprihatinannya tentang kehilangan pekerjaan dan pengaruh perusahaan jika terjadi transaksi.

Beberapa saham teknologi trendi mengalami penurunan, termasuk Amazon jatuh 2,4 persen, Facebook merosot 2,7 persen dan Netflix melemah 2,4 persen.

Namun Apple naik 3,9 persen, bersama dengan komponen Dow Microsoft yang bertambah 2,4 persen serta IBM dan Procter & Gamble keduanya naik 1,9 persen.

Harga obligasi bervariasi. Imbal hasil pada obligasi 10-tahun pemerintah AS naik menjadi 2,68 persen dari 2,67 persen pada Jumat, sementara pada obligasi 30-tahun tetap stabil di 3,46 persen. Harga dan imbal hasil obligasi bergerak terbalik

Adira Finance Kembali Terbitkan Obligasi, Saham Masih Belum Diminati

Analisa Trading-Manajemen PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) menyampaikan rencana mereka untuk menerbitkan obligasi umum berkelanjutan II tahap III. Dari obligasi tersebut, manajemen menargetkan dana sebesar Rp1,5 triliun. Obligasi tersebut terdiri dari tiga seri dan diterbitkan tanpa wakaf.

Berikut rincian dari obligasi tersebut, seri A ditawarkan sebesar Rp687 miliar, dengan bunga obligasi sebesar 9,6 persen per tahun. Tenor obligasi ini, adalah 370 hari. Seri B, ditawarkan sebesar Rp363 miliar, dengan bunga obligasi sebesar 10,5 persen per tahun. Tenor obligasi ini, adalah tiga tahun, dan seri C ditawarkan sebesar Rp450 miliar, dengan bunga obligasi sebesar 10,75 persen, dengan tenor 60 bulan.

Obligasi ini, rencananya akan ditawarkan pada 9 Mei 2014 mendatang, dengan masa penjatahan 12 Mei 2014, dan dicatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 Mei 2014. Adapun dana tersebut akan digunakan Adira Financing untuk kegiatan pembiayaan kendaraan bermotor.

Dalam hal ini yang akan bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek, adalah PT Danareksa Sekuritas, PT DBS Vickers Securities Indonesia, PT Indo Premier Securities, dan PT Standard Chartered Securities. Sedangkan Wali amanat adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Menyambut kabar tersebut, dari bursa saham menjelang penutupan sesi I hari ini (28/4), terlihat bahwa saham ADMF tercatat pada posisi 9525 atau turun 0,78 persen dari saat pembukaannya tadi pagi. Hingga saat ini terlihat saham ADMF masih belum diminati investor, baru sekitar 25 lot saham yang berhasil diperdagangkan.

Dari segi teknikal, terlihat indikator MA 5 mulai bergerak menurun berusaha menembus garis BB tengah. Indikator RSI sideways di area 50% dan stochastic anjlok hampir menyentuh area 10%. Level resistence berada pada 9830 basis poin sedangkan level support berada pada 9357 basis poin.(VN)

Bursa Global Melemah, IHSG Tertahan di Jalur Merah

Analisa Trading-Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak datar di zona merah membuka perdagangan awal pekan. Sentimen negatif datang dari bursa global dan regional.  Membuka  perdagangan pre opening, IHSG menipis 1,807 poin (0,04%) ke level 4.895,836. Sedangkan Indeks unggulan LQ45 berkurang 0,470 poin (0,06%) ke level 829,005.

Pada awal perdagangan awal pekan, Senin (27/4), IHSG dibuka turun tipis 2,875 poin (0,06%) ke level 4.894,768. Indeks LQ45 dibuka melemah tipis 0,575 poin (0,07%) ke level 828,900.  Investor lakukan aksi tunggu terkait dengan laporan kinerja emiten di triwulan I-2014. Aksi beli selektif terjadi di saham-saham unggulan namun belum mampu bawa indeks ke zona hijau.

Tercatat hingga pukul 9.05 waktu JATS, IHSG terpangkas 2,914 poin (0,06%) ke level 4.894,729. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 0,692 poin (0,08%) ke level 828,823.  Akhir pekan lalu IHSG bergerak datar menyusul aksi wait and see investor. Pelaku pasar masih mencermati laporan kinerja emiten triwulan I-2014.

Sementara Wall Street jatuh cukup dalam menutup perdagangan akhir pekan. Saham Amazon dan Ford anjlok cukup dalam setelah melaporkan kinerja keuangan.  Bursa-bursa di Asia kompak membuka perdagangan akhir pekan dengan melemah. Anjloknya Wall Street akhir pekan lalu memberi sentimen negatif yang cukup kental.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak datar di zona merah membuka perdagangan awal pekan. Sentimen negatif datang dari bursa global dan regional.  Membuka  perdagangan pre opening, IHSG menipis 1,807 poin (0,04%) ke level 4.895,836. Sedangkan Indeks unggulan LQ45 berkurang 0,470 poin (0,06%) ke level 829,005.

Pada awal perdagangan awal pekan, Senin (27/4), IHSG dibuka turun tipis 2,875 poin (0,06%) ke level 4.894,768. Indeks LQ45 dibuka melemah tipis 0,575 poin (0,07%) ke level 828,900.  Investor lakukan aksi tunggu terkait dengan laporan kinerja emiten di triwulan I-2014. Aksi beli selektif terjadi di saham-saham unggulan namun belum mampu bawa indeks ke zona hijau.

Tercatat hingga pukul 9.05 waktu JATS, IHSG terpangkas 2,914 poin (0,06%) ke level 4.894,729. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 0,692 poin (0,08%) ke level 828,823.  Akhir pekan lalu IHSG bergerak datar menyusul aksi wait and see investor. Pelaku pasar masih mencermati laporan kinerja emiten triwulan I-2014.

Sementara Wall Street jatuh cukup dalam menutup perdagangan akhir pekan. Saham Amazon dan Ford anjlok cukup dalam setelah melaporkan kinerja keuangan.  Bursa-bursa di Asia kompak membuka perdagangan akhir pekan dengan melemah. Anjloknya Wall Street akhir pekan lalu memberi sentimen negatif yang cukup kental.

Sedangkan situasi di bursa-bursa regional pagi hari ini:  Indeks Nikkei 225 anjlok 170,35 poin (1,18%) ke level 14.258,91, Indeks Straits Times melemah 9,00 poin (0,28%) ke level 3,258.57, Indeks Hang Seng berkurang 61,24 poin (0,28%) ke level 22.162,29, dan Indeks Komposit Shanghai turun 5,57 poin (0,27%) ke level 2.030,95. (FR)

Cari Pinjaman Untuk Lunasi Utang, Saham EXCL Terkoreksi

Analisa Trading-PT  XL Axiata Tbk (EXCL) yang baru saja mengakuisisi PT Axis Telekom Indoneisa, kembali berupaya untuk mencari pinjaman perbankan. Hal ini dilakukan untuk melakukan refinancing utang sebesar Rp 1,7 triliun.

Diketahui di awal tahun ini EXCL menarik utang baru sebesar US$ 1 miliar untuk lancarkan akuisisi AXIS. Padahal tercatat di akhir tahun 2013, utang EXCL sudah mencapai Rp 24,79 triliun dengan nilai DER mencapai 1,63 kali. hal ini tentunya akan menggerus laba EXCL tahun 2013. apalagi utang dengan valuta asing sebesar US$ 1 miliar, tentunya memberi beban bunga dala mata uang asing. Sementara mayoritas pendapatan yang diperoleh EXCL menggunakan mata uang Rupiah.

Hal ini berpotensi menimbulkan terjadinya rugi kurs, apalagi nilai kurs rupiah terhadap dollar Ameika saat ini asih dalam keadaan yang fluktuatif. Sehingga diperkirakan, selama tanggungan utang EXCL belum berhasil ditekan, kinerja perseroan masih akan terus mengalami tekanan.

Bahkan saat ini muncul opsi penjualan aset yang akan dilakukan perseroan untuk menutupi besarnya nilai utang. Perseroan berupaya untuk menjual sebaanyak 7.000 unit menara yang dimiliki XL dan 1.600 menara yang dimiliki Axis. hal ini berpotensi mengurangi  kualitas layanan XL maupun Axis  sehingga pangsa pasar akan menurun. Jika tidak, perseroan akan menyewa sejumlah tower baru sehingga ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan.

Pihak manajemen melalui direktur utamanya, Hasnul Suhaimi juga mengakui bahwa penurunan laba EXCL paling tidak terjadi hingga 2 tahun kedepan. walaupun demikian perseroan yakin bahwa nilai pendapatan masih akan tumbuh belasan persen.

Untuk pergerakan harga saham, secara teknikal saham EXCL secara harian memang menunjukan potensi koreksi. Harga pada perdagangan kemarin dibuka dan di tutup di level yang sama di atas garis MA5. RSI dan Stochastic saat ini sudah berada di area jenuh beli dengan keciderungan menurun.  Diperkirakan posisi Rp 5.025 menjadi puncak tren bullish jangka pendek dan harga akan mulai menghadapi tekanan jual menuju  ke arah support Rp 4.800.  (VN)

DVLA Akan Bergabung Dengan PT Pradja Pharin Untuk Efisiensi

Analisa Trading- PT Darya-Varia Laboratoria Tbk. (DVLA) berencana menggabungkan diri dengan anak usaha PT Pradja Pharin (Prafa) sebagai upaya efisiensi dan strategi untuk menguatkan pondasi finansial perseroan.

Perseroan menjelaskan penggabungan tersebut bertujuan menciptakan perusahaan farmasi yang lebih terintegrasi karena selama ini keberadaan Prafa sebagai badan hukum yang terpisah menimbulkan biaya transaksi antarperusahaan yang menimbulkan beban administrasi tambahan.

Dengan penggabungan tersebut diharapkan menyederhanakan proses administrasi, mengintegrasikan fasilitas produksi dan menghilangkan transaksi antarperusahaan yang akan meningkatkan efisiensi biaya produksi dan biaya operasional secera keseluruhan.

Penggabungan perusahaan tersebut diharapkan akan menciptakan perusahaan yang lebih kuat dan mampu bersaing dengan pemain lainnya yang sebagian besar telah terintegrasi.

Rencana penggabungan yang diperkirakan efektif pada 30 Juni tersebut telah disetujui masing-masing dewan komisaris DVLA dan Prafa, tetapi belum memperoleh persetujuan dari pemegang saham. Untuk itu, perseroan berencana melaksanakan RUPSLB DVLA dan Prafa pada 3 Juni.

Sebagai akibat dari rencana penggabungan tersebut, Prafa akan berakhir secara hukum tanpa adanya likuidasi, sehingga seluruh aset dan kewajiban prafa akan beralih kepada Darya-Varia sebagai perusahaan penerima penggabungan.

Adapun, per 31 Desember 2013, total liabilitas Prafa naik 19% dari Rp49,1 miliar di tahun sebelumnya menjadi Rp58,47 miliar, total ekuitas naik 5,3% dari Rp149,34 miliar menjadi Rp157,31 miliar.

Sementara itu, penjualan bersih naik 9,3% dari Rp199,28 miliar menjadi Rp217,92 miliar, sedangkan laba tahun berjalan turun 12,3% dari Rp39,71 miliar menjadi 34,82 miliar.

Liabilitas DVLA naik 20,65% menjadi 229,24 miliar dari Rp190 miliar, total ekuitas tumbuh 8% dari Rp820,57 miliar menjadi 886,83 miliar. Penjualan naik 1% dari Rp1,01 triliun menjadi Rp1,02 triliun, sedangkan laba tahun berjalan turun 12,64% dari Rp136,1 miliar menjadi Rp118,89 miliar.

Dengan penggabungan tersebut, struktur permodalan dan kepemilikan saham DVLA tidak mengalami perubahan, yaitu tetap sebanyak 92,66% atau 1,03 miliar saham dipegang oleh Blue Sphere Singapore Pte. Ltd., dan sebanyak 7,34% dipegang oleh masyarakat.

Proses penggabungan tersebut dalam jangka pendek terdapat potensi peningkatan beban biaya operasional akibat penyesuaian fasilitas dan infrastruktur. Proses integrasi seperti teknologi dan sistem informasi kemungkinan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan.

Hingga akhir 2013, DVLA dan entitas anak mempunyai kapasitas produksi bersama sebanyak 1,05 miliar butir soft kapsul, 71,91 juta botol sirup, 1,22 juta tube salep,5,5 juta botol medicated tules, 215,65 juta sachet obat batuk, 18,04 juta tube inhaler, 9 juta botol balsem, 10 juta tablet dan 5 juta kapsul keras. (FR)

 

IHSG Naik 0,11%, ADRO Masuk 10 Penopang Utama

Analisa Trading – JAKARTA —  Indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 0,11% ke 4.898,62 pada akhir sesi I siang ini, Kamis (24/4/2014).

Dari 494 saham yang diperdagangkan sebanyak 144 saham bergerak positif. Siapa saja 10 emiten penopang utama IHSG siang ini? Berikut rinciannnya.

Berdasarkan kapitalisasi pasar saham terbesar:

s1

Berdasarkan presentase kenaikan saham terbesar:

s2

(MB)