Kuartal Pertama, Selamat Sempurna Bukukan Laba Bersih Rp 83,11 Miliar

Analisa Trading-Emiten produsen suku cadang kendaraan bermotor, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) per 31 Maret 2014, meraih laba bersih menjadi Rp 83,11 miliar, bandingkan dengan laba bersih pada tiga bulan pertama tahun lalu Rp 51,2 miliar.  Pada periode tersebut, perseroan berhasil membukukan penjualan neto sebesar Rp 628,09 miliar dari Rp 499,61 miliar. Peningkatan ini didorong oleh mulai membaiknya pasar ekspor dunia dan adanya laba selisih kurs.

Selain itu, sepanjang kuartal pertama tahun ini, produsen radiator dan oil filter ini telah menghabiskan dana belanja modal sebesar Rp 45 miliar untuk pembelian mesin produksi dan peningkatan aset. Perseroan sudah mencapai angka produksi radiator sebanyak 180 ribu unit dan 15 juta unit untuk produksi filter. Untuk diketahui, dalam pertumbuhannya itu perseroan tidak mengejar kuantitas dari jumlah produksi melainkan angka penjualan yang lebih baik. (FR)

Berpotensi Koreksi, Ini Alasan MITI Pecah Sahamnya,

Analisa Trading-PT Mitra Investindo Tbk (MITI) tengah berencana untuk menerbitkan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue. Aksi korporasi ini dilakukan setelah rencana penggabungan nilai nominal saham atau reverse stock split 1:4 disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLSB), Rabu (30/4) lalu.

MITI akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 641.614.000 saham biasa atas nama kelas B atau 50% dari total modal ditempatkan atau disetor penuh dengan nilai nominal Rp 20. Harga pelaksanaan rights issue ditetapkan sebesar Rp 230 per saham. Diperkirakan jumlah dana yang diperoleh dapat mencapai Rp 147,57 miliar. Adapun setiap satu saham lama berhak atas satu HMETD.

Dana dari rights issue akan digunakan untuk akuisisi yang diperkirakan mencapai US$ 11 juta. Seperti diketahui, MITI telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (CSPA) dengan Interra Resources Limited dan Goldwater. MITI akan membeli 90% saham Goldwater milik Interra. Oleh karena itu jika saham baru MITI tidak terserap, maka Interra akan menjadi pembeli siaga yang menyerap sisa saham baru yang ditawarkan.

Kegiatan yang dilakukan oleh MITI merupakan transaksi material karena nilai akuisisi tersebut mencapai 147,5% dari ekuitas perseroan. Selain itu, masuknya MITI ke bisnis migas dipandang sebagai strategi diversifikasi usaha untuk mempertahankan kinerja keuangannya. Seperti diketahui, produsen batu granit ini memang tercatat mengalami kemerosotan laba lantaran cadangan batu granit dan produksinya terus menurun.

Hal lain yang harus dipahami bahwa sesungguhnya penggabungan saham (reverse stock split) merupakan salah satu aksi yang dilakukan emiten dimana hal tersebut berkebalikan dengan stock split, yaitu dengan cara menggabungkan nilai nominal saham menjadi nominal yang lebih besar sesuai dengan rasio reverse stock split yang telah ditentukan, dimana perubahan nilai nominal tersebut hanya mengakibatkan pengurangan jumlah lembar saham, tetapi tidak mengubah jumlah modal ditempatkan dan modal disetor (Paid in Capital). Dengan kata lain aksi reverse stock split (penggabungan saham) secara fundamental tidak akan mengurangi atau menambah nilai investasi atau modal dari pemegang saham / investor.

Adapun tujuan perusahaan melakukan aksi penggabungan saham (reverse stock split) adalah untuk membentuk harga saham menjadi lebih tinggi dari sebelumnya (bukan menaikkan harga saham), mensejajarkan harga saham dengan saham-saham emiten sejenisnya atau yang dianggap memiliki karakteristik yang sama, menaikkan posisi saham dari saham yang masuk kategori papan pengembangan ke papan utama dan membentuk harga saham yang lebih wajar.

Pasca diumumkannya rencana ini, dari lantai bursa siang ini (5/5) tercatat bahwa saham MITI berhasil dibuka positif meski hingga kini terlihat bahwa penguatan tersebut masih terbatas. Saat ini saham MITI berada pada level 55 basis poin atau naik 5,77% dari saat penutupan akhir pekan lalu dengan jumlah saham yang berhasil ditransaksikan lebih dari 17.000 lot saham.

Terlihat memang posisi saham MITI saat ini masih cukup rendah, dengan demikian sedikit terjawab mengapa manajemen memutuskan untuk melakukan reverse stock split.

Secara teknikal, terlihat bahwa indikator RSI berada pada level 20% dimana saham ini terlihat masih cenderung mengalami pelemahan. Level resistence berada pada 77 sedangkan support pada 46 poin. (VN)

RILIS INFLASI DAN NERACA PERDAGANGAN POSITIF, IHSG BERPELUANG MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencoba bangkit dan dalam dua hari perdagangan mampu mengalami kenaikan, meski tipis.

Berdasarkan pantauan Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, dalam tiga tahun terakhir jelang perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) yang setiap tahunnya dirayakan pada 1 Mei IHSG selalu mengalami penguatan.

“Laju IHSG jelang perayaan tersebut dalam historikal tiga tahun terakhir hingga 2014 ini selalu dalam kondisi menghijau,” kata Reza di Jakarta, Jumat (2/5/2014).

Lebih lanjut, Reza menyebutkan kemungkinan laju IHSG turut terbawa penguatan yang  terjadi pada bursa saham AS dan Eropa sehari sebelumnya serta kembali terapresiasinya rupiah, namun juga tidak dapat menguat banyak karena laju bursa saham Asia jelang perayaan tersebut variatif cenderung melemah dan masih ada nett sell-nya asing.

bursa

“Untungnya, aksi beli pada saham-saham konsumer dan pertambangan dapat mengangkat IHSG kembali ke landasan hijau,” jelasnya.

Sepanjang perdagangan Rabu, IHSG menyentuh level 4.846,23 (level tertingginya) di awal sesi satu dan menyentuh level 4.827,48 (level terendahnya) jelang preclosing dan berakhir di level 4.840,15. Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell (jual bersih) dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy (beli bersih).

Pada perdagangan Jumat hari ini, IHSG diperkirakan aka

n berada pada rentang support (level bawah) 4.815-4.830 dan resistance (level atas) 4.850-4.868. Hammer di atas lower bollinger band (LBB ). MACD masih menurun dengan histogram negatif yang memendek. RSI, Stochastic, dan William’s %R mencoba berbalik naik. Laju IHSG dapat bertahan di kisaran target resistance (4.826-4.834), namun juga membentuk utanggap 4.823-4.827 sehingga membutuhkan sentimen positif kembali agar tidak melemah menutup utang gaptersebut.
“Laju IHSG berpotensi menguat tipis jika respon dari rilis inflasi dan neraca perdagangan dapat positif dan masih adanya kenaikan volume beli di tengah ‘hari kejepit’ pasca-libur hari buruh,” tukasnya.

 

SCG CATATKAN 17% KENAIKAN PENDAPATAN PENJUALAN DI Q1/2014

SCG mencatatkan kinerja positif pada kuartal pertama di tahun fiskal 2014. Keuntungan perusahaan naik 5% q-o-q berkat pertumbuhan musiman pada bisnis semen dan bahan bangunan serta pulihnya bisnis kertas. Sementara, pendapatan penjualan tumbuh 17% akibat pertumbuhan penjualan dari seluruh unit bisnis SCG.

 Presiden dan CEO SCG Kan Trakulhoon mengumumkan laporan keuangan konsolidasi (unreviewed) dari SCG dan anak usahanya untuk Q1/2014, yang mencatatkan keuntungan sebesar Rp

3,041 triliun (US$ 257 juta), mengalami perlambatan sebesar 5% akibat menurunnya pendapatan pada bisnis kimia. Pendapatan penjualan tumbuh 11% dibandingkan tahun lalu menjadi Rp 44,183 triliun (US$ 3,728 juta), berkat pertumbuhan di seluruh unit bisnis.

Di ASEAN (Selain Thailand), SCG mencatakan

kinerja positif dengan pertumbuhan pendapatan penjualan pada Q1/2014 sebesar 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar Rp 3,725 triliun (US$ 314 juta), yang merupakan 9% dari total pendapatan penjualan SCG.

semen ciam group

Pada Q1/2014, SCG  mencatatkan pendapatan dari ekspor sebesar Rp 11,396 triliun (US$ 1,006 juta), tumbuh 12% dibandingkan tahun sebelumnya. SCG berharap ekspor akan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, proporsi ekspor SCG tercatat 27%, tumbuh 2% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu.

Per 31 Maret 2014, SCG memiliki total aset sebesar Rp 159,561 triliun (US$ 14,084 juta), sementara total aset SCG di ASEAN sebesar Rp 25,516 triliun (US$ 2,252 juta), yang merupakan 16% dari total aset konsolidasi SCG.

Perusahaan baru-baru ini mengumumkan investasi senilai lebih dari Rp 4,192 triliun (US$ 370 juta) yang dialokasikan pada pabrik semen di Laos, investasi pada bisnis kertas Glassine, dan melakukan joint venture dengan Florim untuk memperkuat lini bisnis keramik high-end di pasar global.

 

Kan mengatakan, “Untuk menjadi pemimpin bisnis berkelanjutan di ASEAN, SCG akan terus berekspansi di ASEAN. Baru-baru ini, Dewan Direksi SCG telah menyetujui total investasi sebesar Rp 3,493 triliun (US$ 308 juta) untuk membangun pabrik semen pertama di Laos. Dengan kapasitas sebesar 1.8 juta ton per tahun, pabrik ini diharapkan akan memulai operasinya di awal tahun 2017. Pabrik ini akan membuka jalan untuk keberlanjutan lewat teknologi produksi semen yang modern dan ramah lingkungan, mejadi panutan dalam penerapan bisnis berkelanjutan dan menetapkan standar baru bagi pembangunan pabrik.”

Untuk pengembangan produk inovatif dan HVA, Dewan Direksi SCG juga telah menyetujui investasi senilai total Rp 637 triliun (US$ 56 juta) yang digunakan unit bisnis SCG Paper untuk meningkatkan penggunaan mesin dan peralatan yang digunakan oleh Thai Paper Co., Ltd., untuk memproduksi kertas Glassine berkapasitas 60.000 ton per tahun. Jenis kertas ini merupakan kertas interleaving yang digunakan pada pelekat sensitif tekanan. Investasi ini telah mendorong SCG Paper sebagai perusahaan pertama di ASEAN yang memproduksi kertas Glassine untuk memenuhi kebutuan yang meningkat di pasar lokal dan regional. Proses produksi akan dimulai pada awal tahun 2016.

Di awal April, SCG Cement-Building Materials melakukan joint-venture dengan Florim Ceramiche S.p.A. (atau “Florim”), salah satu pemain keramik global yang terkemuka. Dengan total investasi senilai Rp 176 triliun (US$ 16 juta), SCG Cement-Building Materials memiliki 33% saham di Florim. Investasi pada pembangunan fasilitas untuk memproduksi keramik high-end yang berlokasi di Bologna (Italia bagian utara). Pabrik berkapasitas 5 sq.m. per tahun diharapkan memulai operasinya diawal tahun 2015.

Untuk prospek bisnis 2014, SCG diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan permintaan pada semen dan bahan bangunan di Thailand. Walau demikian, SCG tetap percaya pada stabilitas pasar regional. SCG meramalkan kenaikan dan pertumbuhan bisnis kimia secara bertahap, berkat peningkatan permintaan global yang telah seimbang dengan membaiknya ekonomi di Cina. Untuk bisnis kertas, perusahaan meramalkan ekspor yang lebih baik di ASEAN berkat permintaan dan pertumbuhan yang stabil. SCG percaya akan pertumbuhan ekonomi jangka panjang ASEAN dan akan terus berinvestasi di kawasan ini.

SCG di Indonesia

SCG Indonesia mencatakan total pendapatan sebesar Rp 1,183 triliun (US$ 100 juta) pada Q1/2014. Angka ini menunjukan pertumbuhan tetap dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan Q1/2014, SCG di Indonesia memiliki total aset sebesar Rp 12,687 triliun (US$ 1,120 juta), tumbuh sebesar 21% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan positif ini dihasilkan berkat investasi SCG di pabrik semen pertamanya di Sukabumi, PT Semen Jawa, saham baru di Chandra Asri Petrochemical dan investasi di bisnis kertas bergelombang (Corrugated paper) di Primacorr Mandiri yang baru saja diakusisi SCG.

Pembangunan pabrik Semen Jawa sedang berjalan sesuai rencana dan diperkirakan akan mulai beroperasi pada kuartal ketiga tahun 2015. Pembangunan telah dimulai sejak Oktober 2013 dan saat ini, proyek sedang dalam pekerjaan konstruksi. Semen Jawa akan menjadi pabrik Green & Clean SCG yang pertama di Indonesia.

SCG Catatkan 17% Kenaikan Pendapatan Penjualan di Q1/2014

Analisa Trading-SCG mencatatkan kinerja positif pada kuartal pertama di tahun fiskal 2014. Keuntungan perusahaan naik 5% q-o-q berkat pertumbuhan musiman pada bisnis semen dan bahan bangunan serta pulihnya bisnis kertas. Sementara, pendapatan penjualan tumbuh 17% akibat pertumbuhan penjualan dari seluruh unit bisnis SCG.

Presiden dan CEO SCG Kan Trakulhoon mengumumkan laporan keuangan konsolidasi (unreviewed) dari SCG dan anak usahanya untuk Q1/2014, yang mencatatkan keuntungan sebesar Rp 3,041 triliun (US$ 257 juta), mengalami perlambatan sebesar 5% akibat menurunnya pendapatan pada bisnis kimia. Pendapatan penjualan tumbuh 11% dibandingkan tahun lalu menjadi Rp 44,183 triliun (US$ 3,728 juta), berkat pertumbuhan di seluruh unit bisnis.

Di ASEAN (Selain Thailand), SCG mencatakan kinerja positif dengan pertumbuhan pendapatan penjualan pada Q1/2014 sebesar 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar Rp 3,725 triliun (US$ 314 juta), yang merupakan 9% dari total pendapatan penjualan SCG. (FR)

Pada Q1/2014, SCG mencatatkan pendapatan dari ekspor sebesar Rp 11,396 triliun (US$ 1,006 juta), tumbuh 12% dibandingkan tahun sebelumnya. SCG berharap ekspor akan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, proporsi ekspor SCG tercatat 27%, tumbuh 2% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu.

Per 31 Maret 2014, SCG memiliki total aset sebesar Rp 159,561 triliun (US$ 14,084 juta), sementara total aset SCG di ASEAN sebesar Rp 25,516 triliun (US$ 2,252 juta), yang merupakan 16% dari total aset konsolidasi SCG.

Perusahaan baru-baru ini mengumumkan investasi senilai lebih dari Rp 4,192 triliun (US$ 370 juta) yang dialokasikan pada pabrik semen di Laos, investasi pada bisnis kertas Glassine, dan melakukan joint venture dengan Florim untuk memperkuat lini bisnis keramik high-end di pasar global.

 

Kan mengatakan, “Untuk menjadi pemimpin bisnis berkelanjutan di ASEAN, SCG akan terus berekspansi di ASEAN. Baru-baru ini, Dewan Direksi SCG telah menyetujui total investasi sebesar Rp 3,493 triliun (US$ 308 juta) untuk membangun pabrik semen pertama di Laos. Dengan kapasitas sebesar 1.8 juta ton per tahun, pabrik ini diharapkan akan memulai operasinya di awal tahun 2017. Pabrik ini akan membuka jalan untuk keberlanjutan lewat teknologi produksi semen yang modern dan ramah lingkungan, mejadi panutan dalam penerapan bisnis berkelanjutan dan menetapkan standar baru bagi pembangunan pabrik.”

Untuk pengembangan produk inovatif dan HVA, Dewan Direksi SCG juga telah menyetujui investasi senilai total Rp 637 triliun (US$ 56 juta) yang digunakan unit bisnis SCG Paper untuk meningkatkan penggunaan mesin dan peralatan yang digunakan oleh Thai Paper Co., Ltd., untuk memproduksi kertas Glassine berkapasitas 60.000 ton per tahun. Jenis kertas ini merupakan kertas interleaving yang digunakan pada pelekat sensitif tekanan. Investasi ini telah mendorong SCG Paper sebagai perusahaan pertama di ASEAN yang memproduksi kertas Glassine untuk memenuhi kebutuan yang meningkat di pasar lokal dan regional. Proses produksi akan dimulai pada awal tahun 2016.

Di awal April, SCG Cement-Building Materials melakukan joint-venture dengan Florim Ceramiche S.p.A. (atau “Florim”), salah satu pemain keramik global yang terkemuka. Dengan total investasi senilai Rp 176 triliun (US$ 16 juta), SCG Cement-Building Materials memiliki 33% saham di Florim. Investasi pada pembangunan fasilitas untuk memproduksi keramik high-end yang berlokasi di Bologna (Italia bagian utara). Pabrik berkapasitas 5 sq.m. per tahun diharapkan memulai operasinya diawal tahun 2015.

Untuk prospek bisnis 2014, SCG diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan permintaan pada semen dan bahan bangunan di Thailand. Walau demikian, SCG tetap percaya pada stabilitas pasar regional. SCG meramalkan kenaikan dan pertumbuhan bisnis kimia secara bertahap, berkat peningkatan permintaan global yang telah seimbang dengan membaiknya ekonomi di Cina. Untuk bisnis kertas, perusahaan meramalkan ekspor yang lebih baik di ASEAN berkat permintaan dan pertumbuhan yang stabil. SCG percaya akan pertumbuhan ekonomi jangka panjang ASEAN dan akan terus berinvestasi di kawasan ini.

SCG di Indonesia

SCG Indonesia mencatakan total pendapatan sebesar Rp 1,183 triliun (US$ 100 juta) pada Q1/2014. Angka ini menunjukan pertumbuhan tetap dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan Q1/2014, SCG di Indonesia memiliki total aset sebesar Rp 12,687 triliun (US$ 1,120 juta), tumbuh sebesar 21% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan positif ini dihasilkan berkat investasi SCG di pabrik semen pertamanya di Sukabumi, PT Semen Jawa, saham baru di Chandra Asri Petrochemical dan investasi di bisnis kertas bergelombang (Corrugated paper) di Primacorr Mandiri yang baru saja diakusisi SCG.

Pembangunan pabrik Semen Jawa sedang berjalan sesuai rencana dan diperkirakan akan mulai beroperasi pada kuartal ketiga tahun 2015. Pembangunan telah dimulai sejak Oktober 2013 dan saat ini, proyek sedang dalam pekerjaan konstruksi. Semen Jawa akan menjadi pabrik Green & Clean SCG yang pertama di Indonesia.

Jelang Hari Buruh Internasional, IHSG Berakhir di Zona Positif

Analisa Trading-Bursa saham Indonesia pada penutupan perdagangan hari ini (30/4/2014), akhirnya mampu menguat tajam 14.91 poin ke level 4834.59 Sementara itu Indeks LQ45 menguat 0,27% ke level 814.25. IHSG hari ini menyentuh nilai tertinggi di level 4,846.23 dan terendah di level 4,827.48. Sementara investor asing hari ini catatkan net sell sebesar Rp 192.8 miliar.

Secara sektoral hingga penutupan hari ini, sektor pertambangan dan infrastruktur memimpin penguatan  IHSG dimana masing-masing sektor tercatat menguat sebesar 1.1% dan 0.7%. Sementara sektor agrikultur dan kebutuhan dasar terpantau mengalami pelemahan

Hari ini rupiah terpantau berada pada posisi 11550 per dollar AS. Mata uang lokal ini mengalami peningkatan sebesar 8 poin dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan kemarin yang ada di level 11558 per dollar.

Berikut posisi harga bursa-bursa di Asia sampai sore hari ini, Indeks Nikkei menguat 0.11% ke level 14304.11, Indeks Hang Seng melemah 1.42% ke level 22133.97,  Indeks Komposit Shanghai menguat 0.30% ke level 14304.11, dan KOSPI melemah 0.15% ke level 1961.79.

Saham-saham yang menguat dan masuk jajaran top gainers diantaranya EXCL naik 7.14%, MLPL naik 6.35%, ADRO naik 5.33%, dan MAPI naik 4.51. Sementara itu yang masuk jajaran top losers antara lain BDMN turun 4.88%, CTRP anjlok 4.61%, PTRO turun 3.51% dan TINS turun 2.91%

IHSG sepanjang hari ini bergerak pada zona hijau, kontribusi dari dana beli asing mendongkrak IHSG ditutup di area positif. Pada hari Kamis besok bursa lokal dan sebagian bursa global tutup untuk merayakan Hari Buruh. Dan untuk perdagangan hari Jumat diperkirakan IHSG akan bergerak pada  kisaran support Rp 4.800 hingga resistance Rp 4.900. (VN)

Permudah Akses, Reksa Dana Bakal Bisa Dibeli di Seven Eleven

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih terus menggodok peraturan yang menerapkan pembelian reksa dana bisa dilakukan di toko-toko ritel seperti Seven Eleven (Sevel). Peraturan ini dibentuk untuk menjaring banyak investor ritel untuk masuk ke pasar modal.

Deputi Pengawas Pasar Modal II OJK Noor Rachman menyebutkan, saat ini peraturan tersebut sudah sampai pada Focus Group Discussion (FGD). Ditargetkan, peraturannya bisa keluar tahun ini.

“Sekarang masih prosees rule making rule dan memohon tanggapan dari para pelaku pasar. Tahapannya sudah sampai FGD, mudah-mudahan tahun ini bisa selesai, masih antre aturannya,” kata dia saat Diskusi OJK Mengenai Perkembangan Pengawasan Pasar Modal, di Hotel Borobudur, Jakarta

saham

Noor menyebutkan, setelah aturan selesai kemungkinan produk-produk reksa dana bakal bisa dibeli di toko-toko ritel seperti Sevel.

“Memungkinkan bisa dijual ke ritel-ritel seperti di Sevel,” katanya.

Di tempat yang sama, pelaku pasar modal Legowo Kusumonegoro menyebutkan, investor di pasar modal jumlahnya masih sangat minim. Dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia hanya 50-60% atau sekitar 143 juta penduduk yang masuk kelas menengah dan dari angka itu hanya 500 ribu atau 0,3% yang sudah masuk pasar modal.

“Populasi kita 240-250 juta jiwa, dahsyat, itu pasar sangat besar, itu 50-60% atau 143 juta dianggap kelas menngah, kalau GDP per kapita sekitar US$ 4.000 per tahun kira-kira income Rp 3,5-4 juta sebulan. Dari 143 juta yang invest di pasar modal cuma 500 ribu atau 0,3% dari jumlah penduduk kelas menengah, ini bagaimana meningkatkan jumlah investor pasar modal?,” jelas Legowo.

Untuk itu, tambah dia, perlu adanya distribusi pasar yang baik agar bisa menyasar masyarakat daerah untuk bisa berinvestasi di pasar modal.

Sesi Perdagangan Asia, KOSPI Terpantau Naik

Analisa Trading-Perdagangan saham di bursa Korea Selatan Rabu(30/4), index utama telah diperdagangkan lebih tinggi mengikuti kenaikan yang terjadi di Wall Street malam tadi.

Berlangsungnya perdagangan di sesi Asia, index KOSPI(Korean Composite Price) telah mengalamai kenaikan sebesar 0.16% di level 1,967.86, setelah ditutup naik 6.64 poin atau sebesar 0.34% di sesi sebelumnya. (FR)

Kuartal Pertama PT Siloam International Hospitals Bukukan Pendapatan Rp751,24 Miliar

Analisa Trading-PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) berhasil membukukan pendapatan sebanyak Rp751,24 miliar sepanjang kuartal I/2014. Angka tersebut tumbuh 28,63% dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan interim yang dirilis, tercatat laba komprehensif perseroan malah turun 6,31% dari Rp26,14 miliar pada tahun lalu, menjadi Rp24,49 miliar. Hal tersebut disebabkan meningkatnya beban pokok perseroan sebanyak 27,37% dari Rp422,38 miliar menjadi Rp537,99 miliar.

Dari total pendapatan yang didapatkan perseroan, kontribusi terbesar berasal dari operasional rumah sakit Siloam Hospital Lippo Village yang mencapai Rp174,18 miliar atau mencapai 23,18% dari total pendapatan perseroan.

Dengan pendapatan di tiga bulan pertama tahun ini, perseroan telah merealisasikan 21,46% dari total target pendapatan di tahun ini yang mencapai Rp3,5 triliun.(FR)