Harga emas yang dijual PT Aneka Tambang Tbk (Antam) awal pekan naik Rp6.000 per gram. Emas yang dijual perusahaan pelat merah tersebut dibanderol Rp543.000 per gram.

Melansir situs Logammulia, Senin (12/1/2015), harga beli kembali (buy back) juga mengalami kenaikan Rp6.000 per gram menjadi Rp493.000.

Sementara harga emas 2 gram dibanderol Rp1.086.000 atau Rp543.000 per gram. Emas ukuran 2,5 gram dijual Rp1.347.500 per bar, dengan harga per gram Rp539.000. Emas 3 gram dihargai Rp1.611.000 per bar, dengan harga per gram Rp537.000.

Emas ukuran 4 gram dijual Rp2.136.000 per bar, dengan harga per gram Rp534.000. Emas 5 gram dibanderol Rp2.670.000 per bar atau Rp534.000 per gram. Emas 10 gram dijual Rp5.290.000 per bar atau Rp529.000 per gram. Emas 25 gram dijual Rp13.150.000 atau Rp526.000 per gram. Emas 50 gram Rp26.250.000 per bar atau Rp525.000 per gram.

Sementara emas ukuran 1 kilogram (kg) dibanderol Rp52.450.000 per bar atau Rp524.500 per gram. Emas 2,5 kg Rp131.000.000 atau Rp524 juta per gram. Lalu emas ukuran 5 kg dijual Rp261.800.000 atau Rp523.600 per gram.

 

Emas Rebound, Investor Menilai Kebijakan The Fed

Analisa Trading – Harga emas sempat anjlok ke level rendah dua minggu sehingga memicu aksi pembelian, sehubungan dengan para investor yang masih melakukan penilaian terhadap keputusan para pejabat Federal Reserve malam tadi. Kata “waktu yang sesuai” atau “considerable time” memang sudah tak disebutkan. Namun, The Fed lebih memilih untuk menggunakan kata “bisa bersabar”, yang kemudian diartikan dovish oleh para pelaku pasar.

emas
Harga bulion untuk pengiriman segera mengalami kenaikan sebanyak 0.4 persen ke $1,194.48 per ons dan diperdagangkan pada $1,193.52 pada pukul 9:45 pagi waktu Singapura, demikian menurut data harga di Bloomberg. Logam mulia tersebut anjlok kemarin ke posisi $1,183.89, level terendah sejak tanggal 1 Desember dengan suku bunga acuan AS yang belum dinaikkan dari kisaran nol sejak bulan Desember 2008 bulan ini. Meski demikian, ekonomi AS tengah menuju ke arah pemulihan untuk pertama kalinya sejak tahun 2006.

Di sisi lain, emas berjangka untuk pengiriman Februari jatuh 0.1 persen ke posisi $1,193.70 per ons di Comex New York, setelah kemarin sempat merosot ke $1,182, level terendah sejak tanggal 1 Desember. Menurut Lv Jie, analis dari Cinda Futures Co. di Hangzhou, Tiongkok, ada kemungkinan minat beli berada di bawah level $1,200. Pernyataan The Fed masih cukup menguatkan Dolar AS sehingga emas bearish, demikian tutur Jie pada Bloomberg.

 

sumber: seputarforex.com

Harga Emas Naik Dibayangi Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga AS

Analisa Trading – Harga emas dunia sedikit naik pada Selasa (rabu) pagi ini, masuk kembali ke posisi di bawah US$ 1.200 per ounce dipicu pelemahan dolar AS dan kekhawatiran pedagang jika Federal Reserve AS akan mengubah kebijakan tentang kenaikan suku bunga.
emas
Melansir laman Reuters, harga spot emas naik 0,1 persen menjadi US$ 1.193,86 per ounce, dengan sesi rendah pada US$ 1.188,41 per ounce. Hal ini terjadi setelah emas sempat rally lebih dari 1 persen ke sesi tinggi US$ 1.221,40 ketika pedagang AS masih tidur, usai Rusia mengumumkan kenaikan suku bunga yang agresif.

Emas berjangka AS untuk pengiriman Februari turun US$ 13,40 per ounce, atau 1,1 persen, untuk menetap di US$ 1.194,30 per ounce.

“Pedagang emas takut Fed mengubah kuda di tengah jalan dengan mengambil frase waktu yang cukup sebelum kenaikan suku bunga,” kata George Gero, Ahli Strategi Logam Mulia untuk RBC di New York.

Investor menunggu untuk melihat apakah pertemuan terakhir Federal Reserve 2014 pada hari Selasa dan Rabu menghasilkan hal beda.

Ekonomi AS telah menguat sejak pertemuan terakhir The Fed pada Oktober, ketika menegaskan bahwa suku bunga acuan tidak akan naik untuk waktu yang cukup.

Para pejabat harus memutuskan apakah akan mengganti frase bahwa meskipun di bawah target inflasi AS dan pelemahan ekonomi di Eropa dan Asia.

Harga minyak juga terus mempengaruhi pasar emas. Minyak mentah berjangka AS sedikit berubah setelah sebelumnya jatuh di bawah $ 54 per barel, terendah dalam lebih dari lima tahun. Dolar AS mencakar tanah kembali setelah sebelumnya jatuh terhadap euro.

Karena reli (emas), rubel telah pulih beberapa, dan hal-hal tampaknya telah stabil sedikit,” jelas Simon Weeks, Kepala Logam Mulia di Bank of Nova Scotia.

Emas Di Awal Perdagangan Senin Pagi Terpantau Anjlok

Analisa Trading – Pada perdagangan di bursa komoditi Senin pagi, emas berjangka terpantau menurun karena para pelaku pasar mengharapkan lanjutan dari menguatnya dolar AS pada kenaikan suku bunga AS dari The Fed.

Pada perdagangan di Comex, emas berjangka untuk pengiriman Desember diperdagangkan turun 0,08% di level $1,217.80 per troy ounce.

Pada pekan lalu, emas berjangka berakhir mendekati level terendah dalam tahun ini karena dolar AS membukukan minggu kemenangan berturut-turut dalam 11 sesi, memukul permintaan investor untuk logam mulia.

Dolar AS yang menguat biasanya membebani pada bursa komoditi terutama emas, karena mengimbangi daya tarik logam sebagai aset alternatif dan membuat komoditi yang dihargakan dalam dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Dolar didorong setelah Departemen Perdagangan melaporkan bahwa produk domestik bruto AS direvisi naik menjadi 4,6% dalam tiga bulan hingga Juni dari perkiraan sebelumnya 4,2%. Tingkat ekspansi tercepat sejak kuartal keempat tahun 2011.

Sementara itu pada perdagangan di Comex,  untuk pengiriman Desember turun 0,45% di level $17,545 per ounce dan tembaga untuk pengiriman Desember diperdagangkan datar di levle $3,038 per pon (FC)

Waspada, Emas Masih Akan Anjlok Lebih Dalam

Analisa Trading – Setelah Harga emas menurun dan mengikis kenaikan harga emas sepanjang tahun ini, diperkirakan harga emas masih akan menurun kembali.

Ketidak pastian di Ukraina dan Timur Tengah memang masih menjadi dukungan bagi naiknya harga emas, namun daya tarik ini memudar dan berbalik dengan jatuhnya harga emas terlebih dengan menguatnta Dolar AS akibat sentiment domestik.

Pada semester pertama tahun ini, harga emas bisa dikatakan mengalami kenaikan, mengalahkan kenaikan komoditi lainnya. Kini, Emas nampaknya akan mengukir sejarah baru dengan mencatat penurunan untuk pertama kalinya dalam kuartal terkini. Permintaan akan logam mulia sebagai asset pengaman investasi mengalami penurunan seiring dengan harapan baru akan pertumbuhan ekonomi AS yang kian membaik. Terbukti, Dolar AS mengalami penguatan dan indek saham Standard & Poor’s 500 mencatat rekor tertinggi dalam bulan ini.

Sinyalemen The Fed yang akan menaikkan suku bunga lebih dini dari perkiraan , membuat harga emas terpuruk. Aksi jual melanda bursa emas dan jumlah kepemilikan ETF Emas menurun pada posisi terendah sejak 2009. Banyak para manajer investasi yang sudah memangkas posisi beli mereka dalam lima minggu ini. Emas memang sangat responsive terhadap pertumbuhan AS kini sebagai momentum jangka pendek ini, dibandingkan mempertimbangkan inflasi jangka panjang.

Kondisi ekonomi AS yang menjanjikan ini membuat harga emas berjangka anjlok 0.5 persen ke $1,212.90 per ons,  di lantai bursa Comex – New York. Mengakhiri kenaikan harga emas di tahun ini.

Proyeksi terkini, menunjukkan harga emas masih akan menurun di kuartal ketiga 2015, bahkan akan jatuh sebesar lebih dari 5 persen. Para pialang dan investor yang pada Juni dan Juli kemarin sudah yakin akan kenaikan harga emas kembali, mungkin bisa berpikir kembali akan resiko dari potensi penurunan harga emas saat ini.

Setelah 12 tahun lamanya harga emas menguat, sejak 2013 harga emas jatuh. Terkoreksi 28 persen di 2013, harga emas di tahun 2014 ini diperkirakan akan berakhir menurun. Harga emas di penghujung tahun ini diperkirakan pada kisaran $1,050 – $1,150.

Goncangan-goncangan masih akan berlangsung, namun belum akan mengalami ekskalasi lebih jauh. Setidaknya harga emas masih akan melanjutkan penurunan lebih lanjut.Sejak Juni silam, harga emas mengalami penurunan sebesar 8.6% dan ketika The Fed memutuskan untuk mengurangi besaran dana belanja obligasi, Tapering sehingga menyisakan hanya sebesar $15 milyar sebulan, maka harga emas makin merosot.

Pasar maskin berharap dengan sinyalemen The Fed akan mengakhiri kebijakan kuantitatif jilid tiga ini pada Oktober nanti, setelah kondisi ekonomi AS menunjukkan pemulihan yang berarti. Tidak tanggung-tanggung, the Fed bahkan telah mentargetkan kenaikan suku bunga pada akhir 2015 akan sebesar 1.375 persen.

Keputusan ini membuat proyeksi inflasi AS mengendur. Setidaknya dengan mengukur pada Obligasi Lima Tahun, yang kini berada pada posisi terendah bunganya sejak Juni 2013. Investor menggunakan parameter ini untuk mengukur dampak inflasi dari kebijakan suku bunga The Fed yang kini menerapkan suku bunga utama mendekati nol persen. Pada akhirnya, apa yang mendorong pergerakan harga emas dalam minggu-minggu ini adalah kembali pada masalah suku bunga AS. (Lukman Hqeem)

Sumber : Financeroll

Bertahan, Harga Emas Antam Tetap di Posisi Rp 524.000 per Gram

Analisa Trading – Untuk perdagangan hari ini, harga emas batangan Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) masih belum berubah dibandingkan perdagangan kemarin. Namun harga pembelian kembali (buyback) justru turun.

Merujuk situs resmi Logam Mulia Antam, Kamis (25/9), harga emas Antam tercatat Rp 524.000 per gram. Sama dengan perdagangan hari sebelumnya. Sementara harga buyback emas Logam Mulia Antam justru turun dari Rp 469.000 per gram menjadi Rp 466.000 per gram.

Adapun daftar harga emas Antam hari ini:  500 gram Rp 242.300.000, 250 gram Rp 121.250.000, 100 gram Rp 48.550.000, 50 gram Rp 24.300.000, 25 gram Rp 12.175.000, 10 gram Rp 4.900.000, 5 gram Rp 2.475.000, dan 1 gram Rp 524.000.

Tercatat harga emas LLG pada penutupan perdagangan Rabu 24 September terpantau ditutup melemah dini hari tadi. Pelemahan harga emas LLG pada penutupan dini hari tadi dipicu oleh data penjualan rumah baru Amerika Serikat yang naik hingga ke level 6 tahun tertinggi. Rilis data penjualan rumah baru Amerika Serikat yang melejit ke 6 tahun tertinggi, terpantau memicu turunnya harga emas LLG. Data penjualan rumah Amerika Serikat yang menunjukan peninkgatan signifikan dari level 1,9% ke level 18% atau 427.000 ke 504.000 memicu optimisme akan bangkitnya perekonomian Amerika Serikat. Dampak dari hal tersebut, minat terhadap investasi safe haven pun meredup.

Selain sentimen data penjualan rumah baru Amerika Serikat yang melejit, harga emas LLG juga tertekan oleh kembali menguatnya nilai Dollar Amerika Serikat di pasar valuta asing ke level 4 tahun tertinggi. Dampak dari peningkatan nilai Dollar Amerika Serikat tersebut, selain daya beli investor yang melemah, peralihan pola investasi pun turut menyupport runtuhnya harga emas.  Dampak dari rentetan sentimen negatif tersebut, pada penutupan dini hari tadi harga emas LLG ditutup melemah. Harga emas LLG ditutup turun 0,52% ke tingkat harga USD 1.223,35/t oz atau melemah USD 6,30/t oz.

Sedangkan  dari perdagangan emas berjangka di bursa Comex, harga emas juga ditutup melemah pada penutupan dini hari tadi. Harga emas berjangka Comex untuk kontrak Desember 2014 ditutup turun 0,21% ke tingkat harga USD 1.219,5/t oz atau melemah USD 2,5/t oz. (FC)

Emas Lanjut Menurun Dalam Sesi Pagi Asia

Analisa Trading  – Pada perdagangan logam di hari Kamis(18/09)bursa komoditi emas telah jatuh lebih dalam pada sesi pagi Asia, ketika prospek kenaikan suku bunga the Fed tahun 2015 lanjut membebani investor.

Selama berlangsungnya perdagangan, di Nymex, emas untuk pengiriman Desember telah diperdagangkan melemah 0.49% di level $1.218.00 per troy ons.

The Fed sebelumnya mengatakan bahwa mereka meninggalkan suku bunga acuan tidak berubah pada 0.00-0.25% dan menambahkan kemungkinan akan menutup program obligasi membeli bulanan pada bulan Oktober.

The Fed membeli $ 25 miliar dalam utang Treasury dan sekuritas berbasis mortgage per bulan untuk merangsang ekonomi, alat kebijakan moneter yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif yang bertujuan untuk menekan suku bunga jangka panjang.

The Fed memutuskan sebelumnya untuk memangkas hingga $ 15 miliar dan kemungkinan akan menutupnya pada pertemuan 28-29 Oktober ini.

Namun, The Fed menambahkan tidak akan terburu-buru untuk menaikkan suku bunga karena  masih menghadapi guncangan dalam pasar tenaga kerja. bahasa dovish yang lain akan mendukung logam mulia.

Emas tetap jatuh, karena investor bertaruh bahwa suku bunga masih tetap di jalur untuk naik pada tahun 2015.

Perak untuk pengiriman Desember telah diperdagangkan 0.23% lebih rendah di level $.18.494 per troy ons, dan tembaga untuk pengiriman Desember telah diperdagangkan flat di level $3.135 per pon. (FC)

Siang Ini, Harga Emas dan Perak Rebound

Analisa Trading – Perdagangan komoditi logam mulia di hari Senin(15/9), harga emas dan perak alami rebound ketika sempat alami penurunan di awal sesi perdagangan pagi ini, ditengah berkurangnya pada prospek permintaan untuk logam mulia setelah adanya harapan bahwa The Fed akan segera menaikan tingkat suku bunga di awal tahun 2015 mendatang.

Selama berlangsungnya perdagangan di sesi Asia, emas berjangka pengiriman Desember telah diperdagangkan lebih tinggi 0.19% di level $1.233.90 per troy ounce di divisi Comex, New York Mercantile Exchange, dengan level $1,226.40 untuk sesi terendah harian dan $1.235.50 untuk sesi tertinggi harian.

Sedangkan untuk perak berjangka pengiriman Desember telah diperdagangkan lebih tinggi 0.19% di level $18.642 per troy ounce, dengan menyentuh level $18.557 untuk sesi terendah harian dan $18.693 untuk sesi tertinggi harian.

Pada pekan ini, para pelaku pasar emas akan dihadapkan dengan hasil pertemuan kebijakan The Fed pada Kamis nanti. Sementara itu, perkiraan semakin dekatnya waktu kenaikan suku bunga yang dilakukan Bank Sentral AS juga telah mendorong pelemah bagi harga emas, dimana hal tersebut akan memberikan penguatan bagi dolar AS, mengingat bahwa pergerakan emas cenderung berlawanan terhadap greenback.

Sementara itu, perhatian para pelaku pasar hari ini tengah tertuju kepada hasil data ekonomi AS yang dijadwalkan akan dirilis malam nanti. Serangkaian data tersebut meliputi sebuah laporan index manufaktur di wilayah New York, Kapasitas Utilitas, dan hasil produksi industri AS.

AS Obral Sanksi, Emas Belum Bangkit

Analisa Trading – Presiden Barack Obama menegaskan akan melakukan serangan udara ke lokasi ISIS yang telah menyebar dari Suriah ke Irak. AS akan bergabung dengan Uni Eropa untuk mengenakan sanksi yang lebih banyak kepada Rusia atas dukungan Moskow ke gerakan separatis di Ukraina.

FINANCEROLL – Sikap AS yang demikian ini mendorong harga minyak mentah naik dalam perdagangan tengah minggu dan membuat Indek saham S&P 500 turun sebesar 0.5 persen pada perdagangan Kamis (11/09). Harga komoditi minyak WTI naik $92.98 per barel atau naik 1.3 percent, berbalik dari penurunan sebelumnya sebesar 1.4 persen setelah AS mengumumkan sanksi baru bagi Rusia, Negara eksportir terbesar energy di dunia. Harga minyak AS turun 0.3 persen sejak 5 September yang merupakan penurunan ketujuh kalinya dalam delapan minggu ini. Harga minyak Brent tidak berubah di $98.09 per barel.

Para politisi AS di Gedung Perwakilan Rakyat dan Senat memberikan dukungan bagi langkah Washington yang akan memberikan bantuan latihan dan persenjataan bagi para pejuang-pejuang Suriah untuk memerangi ISIS. Obama telah meminta kewenangan tersebut kepada Konggres pada 10 September kemarin. Langkah AS ini adalah membantu para pejuang melawan ekstrimis Suni yang kini menyebar dari Suriah hingga ke pedalaman Irak dengan gerakan terornya.

AS juga memperdalam dan memperluas sanksi kepada sektor-sektor keuangan, industry pertahanan dan energy Rusia, sebagaimana dikatakan Presiden Obama pada Rabu (10/09) di Gedung Putih. Mengkomentari langkah AS ini, Menteri Keuangan Rusia Sergei Lavrov menyatakan AS melihat Ukraina sebagai medan untuk pertempuran geopolitik. Uni Eropa juga menyatakan akan memberikan sanksi lebih dengan melarang perusahaan-perusahaan energy dan pertahanan yang dimiliki oleh Rusia untuk menambah modal kerja di 12 negara anggota Uni Eropa.

Data Ekonomi Yang Perlu Diantisipasi

Korea Selatan akan meninjau kebijakan suku bunga pada hari ini dan Jepang akan memaparkan laporan produksi industrinya, Cina akan menerbitkan produksi pabrikannya dan penjualan ritel pada hari esok. Cina diperkirakan akan menerbitkan kebijakan baru untuk menopang dan mencapai target pertumbuhan ekonominya. Inflasi Cina berada pada posisi terendahnya dalam empat bulan ini. Hal ini bisa menjadi landasan untuk mengendurkan kebijakan moneternya. Angka produksi industry Eropa juga akan dikabarkan hari ini seiring dengan pengumuman angka penjualan ritel AS. Pihak The Federal Reserve akan meninjau kebijakan suku bunganya pada minggu depan.

Para pelaku pasar memang sidikit hati-hati dengan kondisi valuasi pasar yang naik saat ini. Pasar Saham Asia memang berjuang memanfaatkan momentum pertumbuhannya, sementara Cina masih mengalami perlambatan. Secara keseluruhan, pasar uang Asia memang mulai melambat pula.

Cina akan menyampaikan data suplai uang dan kredit pada hari Jumat (12/09) serta laporan penjualan ritel dan produksi industrinya besok. Data-data ekonomi yang terbit sebelumnya telah menunjukkan pertumbuhan harga konsumen melambat lebih lambat dari perkiraan di bulan Agustus. Sementara harga produsen menurun pula sebesar 1.2 persen, lebih besar angkanya dari perkiraan awal sebesar 1.1 persen.

Implikasi Terhadap Pasar Uang

Berbagai sanksi yang dijanjikan baik oleh AS atau Uni Eropa telah membawa dampak bagi pasar uang global. Yen Jepang berubah sedikit terhadap Dolar AS dengan diperdagangkan pada level 107.17 per dolar setelah melemah 0.2 persen di hari sebelumnya yang merupakan penurunan dalam empat sesi perdagangan secara beruntun. Sepanjang minggu ini, mata uang Jepang tersebut telah melemah sebesar 2 persen. Mengarahkan kinerja minggu ini menjadi yang paling merugi sejak Juli 2013 serta menjadi mata uang yang paling buruk diantara 10 mata uang besar lainnya setelah Dolar Australia. Yen sempat diperdagangkan pada 107.22, yang merupakan level terlemahnya sejak 22 September 2008.

Poundsterling menguat ke $1.6277 yang merupakan posisi terkuat GBPUSD sejak 5 September silam. Jajak pendapat yang dilakukan oleh YouGov Plc atas pembaca Times dan Sun menunjukkan dukungan bagi pemisahan Skotlandia dari Inggris Raya sebesar 48 persen sementara 52 persen masih menginginkan status quo, tidak termasuk pemilih yang belum menentukan pilihannya. Jumlah ini mengalami kenaikan tiga persen bagi pihak yang tidak menginginkan pemisahan saat YouGov melaksanakan jajak pendapat pada Sunday Times.

Bursa Saham Menurun, Komoditi Turun Kecuali Minyak

Bursa saham di Asia mengalami penurunan diawal perdagangan akhir pekan ini. Ini merupakan penurunan yang bisa mengarahkan pada jatuhnya pasar dalam empat setengah tahun ini. Harga komoditi gandum dan emas mengalami penurunan sementara harga minyak mentah naik dan bangkit dari keterpurukan pada harga termurahnya dalam delapan bulan ini. Sentimen penggerak pasar adalah spekulasi akan sanksi-sanksi baru yang dikenakan atas Rusia.

Indek MSCI Asia Pasifik, turun 0.1 persen pada Jumat (12/09) sebagai penurunan yang ketujuh dan bisa membuat kinerja minggu ini turun 1.6 persen. Indek S&P ASX juga turun 0.5 persen. Indek Seoul sendiri masih mampu naik 0.3 persen dan Indek Jepang masih fluktuasi. Bursa saham berjangka AS, Indek Standard & Poor’s 500 hanya berubah sedikit setelah pasar saham berakhir naik 0.1 persen. Sejak Januari 2010, Indek MSCI Asia Pasifik sebenarnya tidak pernah turun lebih dari tujuh hari secara beruntun.

Indek saham utama Jepang, Topix naik 0.2 persen setelah sebelumnya turun 0.1 persen. Indek ini dalam sepekan telah mencatat kenaikan sebesar 1.5 persen yang merupakan kenaikan beruntun dalam dua minggu ini.

Indek saham Hang Seng mengalami penurun sebesar 0.1 persenm dimana Indek HSI turun 2.3 persen selama seminggu ini. Minggu ini merupakan yang paling buruk kinerjanya sejak April silam.

Selain Minyak, Komoditi Turun

Harga komoditi gandum mendekati harga termurahnya sejak 2010 dan emas juga turun pada harga termurahnya dalam tujuh bulan ini. Komoditi minyak WTI mengalami kenaikan dalam dua hari ini, naik sebesar 0.2 persen. Komoditi gandum untuk kontrak pengiriman bulan Desember turun 0.5 persen ke $5.07 per bushel, sempat ke harga $5.03, harga termurahnya sejak Juli 2010. Jatuhnya harga gandum ini menyusul perkiraan pemerintah AS akan ledakan penen dan invetaris global atas komiditi kedelai hingga jagung. Kedelai untuk kontrak berjangka bulan November mengalami penurunan sebesar 0.2 persen atau turun 4.1 persen dalam lima pekan secara beruntun.

Harga emas terpelanting 0.2 persen ke $1,238.21 per ons dalam tiga hari penurunannya ini. Logam ini telah kehilangan 2.4 persen selama sepekan bahkan ke harga termurahnya di $1,235.06, harga termurahnya sejak 23 Januari silam. Perak, platinum dan paladium rata-rata turun 0.1 persen

Emas, perak dan minyak masih sulit bangkit

Analisa Trading – Pada grafik harian emas membentuk pola candle three black crows dengan RSI menurun, stochastic menurun dan volume cenderung increase menggambarkan bearish continuations dari emas telah didukung penuh oleh pasar dengan berhasil break low bar daily sebelumnya. Untuk pergerakan hari ini apabila emas masih tertahan dibawah level 1250.80 maka ada kecenderungan emas akan bearish kembali dengan perkiraan harga tes break level 1243.65 dengan target bawah berikutnya mengincar 1240.90. Namun sebaliknya jika sukses meraih lagi 1250.65 kemungkinan recovery emas akan melebar ke area 1257.60.

Pergerakan minyak pada grafik harian membentuk pola candledelliberations dengan RSI menurun, stochastic menurun dan volume cenderung increase menggambarkan bearish continuations dari minyak telah didukung penuh oleh pasar dengan sukses break low bar daily sebelumnya. Untuk selanjutnya apabila melihat pola seperti ini ada kemungkinan minyak bisa bearish lagi dengan perkiraan harga retrace back ke 89.32.

Pada grafik harian perak membentuk pola candle morning doji dengan RSI menurun, stochastic menurun dan volume cenderung decrease menggambarkan pola konsolidasi dari perak dimana kekuatan di pasar antara pihak buyer dan seller relative berimbang. Untuk pergerakan hari ini apabila perak gagal menembus kembali 19.01, ada kemungkinan perak tergelincir lagi dengan perkiraan harga mengarah ke area 18.70.

Sumber : Financeroll