Raja Baru, Kebijakan Minyak Saudi Tidak Berubah

Perubahan takhta di Riyadh kemungkinan besar tidak akan mengubah kebijakan perminyakan Arab Saudi, menurut para pakar. Kerajaan itu telah menegaskan posisi jangka panjang mereka, yakni menekan harga minyak dan mempertahankan pangsa besar di pasar global.

Setelah Raja Abdullah mangkat, seperti yang diumumkan Jumat, Arab Saudi tampaknya akan tetap mempertahankan tingkat produksi minyak mentah, meski pasokan minyak global kini membanjir. Harga minyak dunia telah terperosok lebih dari 55% sejak Juni lalu.

Ketika daerah Timur Tengah masih diliputi gejolak dan ketidakpastian, Arab Saudi mempertahankan diri dengan mengeksploitasi keunggulannya: cadangan minyak raksasa dan produksi berongkos rendah, kata Sarah Emerson dari ESAI Energy, Amerika Serikat.

“Mereka harus memastikan ada pangsa yang cukup, bukan hanya untuk besok, tetapi sampai 2040, 2060, dan seterusnya,” ujar Emerson. Strategi Arab Saudi itu merupakan reaksi terhadap lonjakan produksi minyak Amerika Serikat (AS), dan status quo baru tersebut tidak akan berubah di bawah raja baru, tambahnya.

Meski demikian, dalam jangka pendek pelaku pasar mungkin sedikit gelisah terkait pengangkatan putra mahkota Pangeran Salman sebagai Raja Arab Saudi. Gejolak di pasar minyak global pun mungkin terjadi.

Kontrak berjangka minyak mentah di pasar Asia naik pada Jumat pagi ke level $47,10 per barel, setelah harga di New York Mercantile Exchange pada Kamis ditutup pada $46,31 per barel. Di bursa ICE Futures London, minyak mentah Brent naik 84 sen ke $49,36 per barel.

Strategi perminyakan Arab Saudi mendapat sokongan dari menteri perminyakan Ali al-Naimi, yang memiliki kekuasaan besar. Pelaku pasar dan pemodal akan mengawasi kemungkinan pergantian jajaran di kementerian perminyakan.

Arab Saudi mengendalikan lebih dari 15% cadangan minyak dunia. Kerajaan itu bersaing dengan Rusia dan AS untuk memperebutkan gelar produsen minyak terbesar dunia. Setelah harga minyak mulai tergelincir dari level tiga digit pada akhir Juni, pelaku pasar memperkirakan Arab Saudi akan memangkas produksi untuk mempertahankan harga minyak, seperti yang pernah terjadi tahun 1980-an. Namun pada November, Organisasi Negara Pengekspor Minyak atau OPEC memutuskan untuk tidak mengubah level produksi.

Kebijakan OPEC itu tampaknya tak akan berubah dalam waktu dekat, kata Amy Myers Jaffe, pengamat energi di University of California Davis. Ia mencatat bahwa saat Raja Abdullah masuk rumah sakit dua pekan lalu, Pangeran Salman di televisi membacakan pernyataan atas nama raja yang menyiratkan kebijakan tersebut akan diteruskan.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *