Hasil Stress Test BI, Perbankan RI Masih Kuat

 

Hasil stress test Bank Indonesia (BI) pada Juni 2014 menunjukkan sistem keuangan Indonesia memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi risiko kredit dan risiko pasar (suku bunga, nilai tukar dan harga SBN). Stress test ini menggunakan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada posisi Juni 2014.

“Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia tetap terjaga, baik dari dilihat dari sisi perbankan, korporasi maupun rumah tangga,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah yang dikutip dari laman resmi BI, Senin (12/1/2015).

Dari sisi perbankan, hasil stress test dengan menggunakan data neraca dan kinerja bank posisi Oktober 2014, menunjukkan bahwa dari sisi permodalan, perbankan Indonesia masih cukup kuat meskipun terjadi penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, koreksi harga Surat Berharga Negara (SBN) dengan skenario terburuk, yaitu penurunan harga SBN sebesar 20 persen menunjukkan penurunan Capital Adequacy Ratio (CAR) hanya sebesar 142 bps sehingga permodalan masih cukup memadai untuk mengantisipasi risiko kerugian terkait penurunan harga SBN.

 

Stress test secara terintegrasi dengan kombinasi risiko pasar dan risiko kredit, juga menunjukkan CAR industri perbankan maupun per kelompok BUKU masih cukup kuat di atas 8 persen. Dari sisi korporasi, penguatan dolar AS akan berdampak pada peningkatan kewajiban valas korporasi terutama bagi korporasi yang memiliki Utang Luar Negeri (ULN) relatif tinggi.

Peningkatan kewajiban valas korporasi yang tidak diikuti dengan peningkatan aset valas berpotensi menggerus permodalan korporasi. Terkait dengan hal tersebut, berdasarkan hasil stress test ketahanan korporasi swasta nonbank yang memiliki ULN menunjukkan bahwa dari 91 korporasi yang memiliki ULN dan posisi Net Foreign Liabilities (NFL) dengan data per triwulan II 2014 diperkirakan terdapat 7 korporasi atau 8,77 persen dari total korporasi yang di-observasi berpotensi insolvent (equity negatif) apabila nilai tukar Rupiah melemah sampai dengan kurs Rp15.500 per USD.

“Pengujian dengan skenario Rp15.500 per USD tolong jangan diartikan bahwa angka tersebut adalah level tolerasi BI. Kami juga menguji dengan berbagai variasi angka. Intinya, kami tidak menetapkan level tertentu dalam stabilitasi nilai tukar rupiah”, jelas Halim Alamsyah

Tak hanya itu, sisi Rumah Tangga (RT) juga menunjukkan tingkat leverage RT masih berada pada level yang aman. Dalam hal ini, utang RT masih dapat ditutup oleh pendapatan dan asetnya. Hal ini ditunjukkan dengan porsi pengeluaran untuk cicilan pinjaman (Debt Service Ratio/DSR) masih lebih rendah dibandingkan dengan persyaratan yang ditetapkan bank bagi calon debitur yang umumnya ditetapkan sekitar 30 persen dari penghasilan. Meskipun tingkat DSR RT relatif rendah, namun terdapat potensi risiko yang patut diwaspadai terutama pada kelompok RT berpenghasilan rendah.

“Meskipun hasil stress test menunjukkan hasil yang positif, BI senantiasa akan menjaga ketersediaan likuiditas di pasar keuangan dan mengedepankan stabilitas nilai tukar untuk mengeliminir dampak rambatannya terhadap SSK. BI juga akan terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan supervisory action dan mempercepat pendalaman pasar keuangan, termasuk penyempurnaan pasar repo untuk menjaga ketersediaan likuiditas melalui pasar uang yang lebih efisien.”, pungkas Halim.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *