Kondisi Perbankan Indonesia Terkini; NPL Tertinggi Pada Sektor Konstruksi

Analisa Trading – Baru-baru ini Bank Indonesia melaporkan stabilitas sistem keuangan yang berupa likuiditas dan juga risiko kredit perbankan. Dalam laporan tersebut BI menyatakan likuiditas dan risiko kredit perbankan masih terkendali hingga akhir tahun ini. Risiko likuiditas perbankan masih terjaga oleh aliran masuk uang kartal pasca lebaran dan mulai ekspansifnya keuangan Pemerintah.

Kondisi sistem keuangan kita menurut Bank Indonesia stabil terutama dari batas amannya posisi CAR dan NPL di industri perbankan. Bahkan dengan melakukan stress test berupa skenario pelambatan pertumbuhan kredit menjadi 17%, pembalikan modal dan kenaikan harga BBM, rasio likuiditas perbankan di 2014 diperkirakan juga masih di atas batas aman.

Namun perlu dicermati jika melihat dari risiko kredit perbankan, yang terjadi peningkatan NPL pada beberapa sektor seperti sektor konstruksi, pertambangan, perdagangan, dan jasa sosial. Dari 4 sektor tersebut jumlah NPL terbesar pada kenaikan terbesar pada sektor konstruksi tercatat sebesar 4,43% atau naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 4,24%. Dan untuk kenaikan bulanan terbesar ada pada  sektor pertambangan yang NPL tercatat sebesar 3,09% dibandingkan bulan sebelumnya 2,49%.

Menurut Alfred Pakasi, CEO Vibiz Consulting , kenaikan NPL pada 4 sektor tersebut  perlu jadi perhatian karena dalam pemerintahan baru yang mendekat ini sektor yang hendak digenjot antara lain adalah infrastruktur dengan aktivitas konstruksi akan masuk ke dalamnya. Jadi perlu didalami penyebab peningkatan NPL dalam sektor tersebut, supaya jangan menjadi penghambat program pembangunan berikutnya ini.

“Kalau sektor pertambangan ada peningkatan kredit bermasalah dapat dipahami itu sehubungan dengan kondisi ekonomi dan pasar global yang melemah. Akan tetapi, kalau sektor perdagangan meningkat kredit bermasalahnya, ini perlu lebih serius dianalisis. Masalahnya ini sektor yang harusnya dalam kondisi baik mengingat pertumbuhan ekonomi domestik dan populasi penduduk yang besar.” demikian menurut pendapat Alfred.

Secara industri sektor perdagangan ini tidak seharusnya mengalami peningkatan NPL.Ada masalah apa di sini? Apakah perbankan mulai kurang prudent dalam mengalokasikan kredit nya ke sektor ini? Apakah persaingan perbankan yang terlalu ketat menghambat di sini?

Hal lain perlu diwaspadai juga adalah dengan melambatnya pertumbuhan dana pihak ketiga. Sementara dewasa ini perbankan sedang mau gencarnya melepas kredit pasca periode ketidakpastian politik pada masa pemilu. Jangan nanti menjadi tidak sinkron antara target pembangunan kabinet baru yang ingin menancap gas dengan kondisi pasar keuangan yang tidak mendukung.

Selain itu BI juga melaporkan perkembangan dana pihak ketiga (DPK) perbankan bulan  Juli 2014 melambat menjadi 11,36% dari 13,63% di bulan sebelumnya. Namun BI beranggapan perlambatan pertumbuhan DPK ini diperkirakan hanya bersifat sementara sejalan dengan tingginya permintaan uang kartal di periode lebaran dan diperkirakan akan kembali meningkat hingga akhir tahun searah dengan ekspansi Pemerintah yang terus meningkat.

Dengan membaiknya kondisi likuiditas bulan Juli lalu, beberapa bank besar sudah menurunkan suku bunga simpanannya di bulan Agustus 2014. Kondisi ini diharapkan berlanjut hingga persaingan DPK yang sempat terjadi di beberapa periode sebelumnya semakin berkurang. (VN)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *