Untitled

Departemen Keuangan Jepang telah merilis surplus anggaran pemerintah yang terendah sejak tahun 1985, kondisi tersebut disebabkan berkurangnya ekspor sehingga nyaris mengalami defisit. Dan jika pengiriman ke luar negeri terus menurun dari perkiraan bank sentral, maka pemulihan ekonomi dari negara terbesar ketiga di dunia ini dapat tertunda.

Pertumbuhan ekspor tahunan tertinggi  yaitu  18,6% pada bulan Oktober 2013 lalu namun tergelincir menjadi 1,8% di bulan Maret 2014 menurut data terbaru yang telah tersedia. Pengiriman ke seluruh Asia hanya naik setengah dari total, atau 1,4% pada bulan tersebut dan selain itu, volume ekspor turun 2,5% pada bulan Maret. ekspor

Melemahnya yen seharusnya meningkatkan penjualan luar negeri pada waktu naiknya pajak penjualan pada 1 April yang lalu. Kenaikan pajak tersebut mengakibatkan terjadinya penurunan tingkat konsumsi padahal kenaikan pajak  ini sebenarnya diciptakan untuk mengangkat eksport secara bertahap.

Dengan kondisi tersebut BOJ akan meninjau kebijakannya kembali dalam beberapa bulan mendatang, namun BOJ beranggapan kebijakan menaikkan pajak awal bulan lalu akan membawa Jepang keluar dari deflasi dari kondisi ekonomi yang sedang rapuh.

Sebagai informasi sebelumnya Jepang telah kembali mengalami pertumbuhan ketika adanya stimulus moneter besar-besaran yang dikeluarkan pada 13 bulan yang lalu ketika Haruhiko Kuroda mengambil alih kepemimpinan di BOJ. Pada awalnya tanda-tanda yang muncul sangat mendukung keputusan BOJ bahwa kenaikan pajak penjualan pada bulan lalu tidak akan menggagalkan pemulihan perekonomian yang sedang terjadi apalagi menyeret kembali Jepang kepada deflasi.

Bank Sentral memperkirakan pertumbuhan eksport akan semakin cepat dan  menjamin bahwa harga yang ada telah sesuai untuk mencapai target inflasi sebesar 2%. Selain itu juga BOJ tidak ragu untuk memberikan kebijakan kemudahan moneter jika ternyata terdapat hambatan atas pencapaian tujuan yang semula.

BOJ  akan menjaga kepercayaan di masa-masa pemulihan ekonomi ini dengan tidak menyuarakan bahwa adanya keraguan tentang skenario yang telah diambil. Itulah sebabnya BOJ perlu untuk berpegang teguh pada proyeksinya bahwa ekspor akan menjadi pulih.

Pemulihan eksport ini memang tidak akan secepat yang BOJ inginkan. BOJ menekankan bahwa menurunnya ekspor saja tidak akan merevisi kebijakan yang ada. Tetapi BOJ mengakui bahwa stimulus mungkin akan diberikan  jika ekonomi terkena double impact baik dari melemahnya eksport secara terus menerus dan juga gagalnya konsumsi rumah tangga pulih pasca kenaikan pajak penjualan.

BOJ haruslah melakukan sesuatu sesegera mungkin, paling tidak pada bulan Juli dengan memberikan stimulus seperti pembelian obligasi pemerintah dan asset lainnya. Bulan Juli adalah bulan yang tepat untuk mengevaluasi kembali kebijakan ini.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *