20 Mata Uang Emerging Market “Keroyok” Dolar AS

SINGAPURA – Mata uang emerging market menguat paling tinggi lebih dari seminggu, karena meredanya ketegangan di Ukraina. Meredanya tensi tersebut, mendorong permintaan investor untuk aset berimbal hasil lebih tinggi.

Rubel Rusia menguat untuk pertama kalinya dalam tujuh hari terakhir, karena Interfax melaporkan bahwa pasukan Rusia di perbatasan Ukraina telah kembali ke basis mereka. Yen Jepang jatuh terhadap 31 mata uang utama, karena Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama, mengeluarkan sanksi terhadap individu dan perusahaan Rusia.

USDEuro menguat karena Gubernur Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengatakan kepada anggota parlemen Jerman pelonggaran kuantitatif tidak akan dihentikan dalam waktu dekat. Pound naik ke level tertinggi empat tahun.

“Itu bukan sebagai risiko negatif seperti yang biasa kita hadapi. Hari masih panjang, karena Kami belum melihat Rusia merespons apapun, situasi masih jauh dari kata tenang di Ukraina,” jelas kepala analis valuta asing Deutsche Bank AG, Alan Ruskin, seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (29/4/2014).

Index Bloomberg mencatat, dari 20 mata uang di pasar berkembang utama naik 0,2 persen menjadi 92,0324 per USD, lompatan terbesar sejak penutupan 17 April.  Yen jatuh untuk pertama kalinya dalam lima hari terakhir terhadap dolar AS, yen turun 0,3 persen menjadi 102,49 per USD.

Sementara yen Jepang terhadap mata uang patokan Eropa, turun 0,5 persen menjadi 141,96 per euro. Sedangkan euro menguat terhadap dolar AS sebesar 0,1 persen menjadi USD1,3851 per euro.

The Bloomberg Dollar Spot Index, yang melacak mata uang AS terhadap 10 mata uang utama, sedikit berubah pada 1.010,89 setelah jatuh ke 1.009,17, terendah sejak 17 April. Pengusaha di AS diperkirakan menambah 215.000 pekerja bulan ini, terbesar sejak November

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *