Volatilitas Kembali, Berikut 5 Risiko Yang Perlu Diamati

Volatilitas pasar minggu ini diprediksi naik seiring dengan banyaknya rilis berita dari berbagai penjuru dunia. Akhir minggu lalu, konflik di Ukraina kembali menjadi perhatian karena minimnya berita fundamental dan rendahnya fluktuasi harga di pasar. Minggu ini, isu tersebut bisa jadi sedikit dikesampingkan pasar berhubung banyak publikasi data yang bisa jadi lebih relevan dan berdampak signifikan di pasar global.

Berikut ini merupakan lima titik pusat risiko yang secara fundamental diperkirakan akan mempengaruhi pergerakan harga minggu ini:

1. Aksi Bersenjata Separatis Pro-Rusia Di Ukraina

Pamor safe haven kembali mencuat setelah pejabat Amerika Serikat dan Eropa kembali terpancing untuk mengkritisi Rusia mengenai konflik di Ukraina. Rusia dianggap telah nyata melanggar perjanjian yang dibuat di Jenewa minggu lalu, dan sanksi baru atas Rusia sedang dipersiapkan. Sekelompok pengamat militer Eropa telah disandera oleh kelompok separatis bersenjata, dan selusin kantor penting diambil alih.

Masalah utama dalam konflik Ukraina, selain ambisi Rusia, adalah keengganan Amerika Serikat dan Eropa untuk mengambil tindakan tegas. Banyak yang berspekulasi bahwa mereka mengkhawatirkan efek samping sanksi ekonomi terhadap Rusia terhadap wilayah mereka sendiri dalam konteks perdagangan internasional. Namun, kondisi saat ini berada pada titik dimana pihak-pihak yang berkepentingan harus memutuskan di posisi mana mereka akan berdiri. Barat diharapkan tidak menutup mata atas aksi separatis pro-Rusia di Ukraina seperti yang diinginkan oleh propaganda Rusia. Oleh karena itu, sanksi yang lebih tegas terhadap Rusia mungkin sudah didepan mata, dan inilah yang menjadikan pasar prihatin.

kurs2. Pencapaian Target Ekonomi Inggris

Tiga data berdampak tinggi dari Inggris yang akan dipublikasikan minggu ini adalah data preliminary GDP, indeks PMI Manufaktur, dan PMI sektor Konstruksi. Ketiga data ini akan memberi penerangan mengenai seberapa mungkin atau tidak mungkin target pertumbuhan ekonomi Inggris tercapai, serta mengukur sentimen iklim bisnis Inggris.

Saat ini, posisi GBP/USD berada di level tertinggi sejak pembukaan awal tahun. Namun, sebelumnya, kami telah memaparkan bahwa ada sejumlah kerapuhan dalam ekonomi Inggris yang bisa jadi menumbangkan kejayaan GBP. Dalam konteks ini, data GDP dan PMI tersebut penting dalam mengkonfirmasikan langkah bank sentral Inggris selanjutnya. Angka-angka yang menguat tentunya akan meningkatkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan dinaikkan .

3. Penurunan Inflasi Zona Euro

Kelesuan data inflasi Zona Euro bukan lagi hal baru. Awal bulan ini, bank sentral Eropa mengatakan bahwa pertumbuhan masih berjalan moderat dan angka inflasi pasca Paskah akan meningkat. Hari Selasa dan Rabu besok kita akan melihat bukti dari optimisme ini.

Konsensus analis mengestimasikan peningkatan tipis inflasi Jerman dari 1% ke 1,3%, dan inflasi zona Euro ke 0,7% dari 0,5%. Berhubung pasar masih menantikan ECB untuk serius menyikapi inflasi, maka pergerakan Euro yang tak menentu dan amat fluktuatif bisa jadi terus berlanjut.

4. Spekulasi Suku Bunga The Fed

Seperti biasa, event yang paling mengundang volatilitas adalah event terkait bank sentral Amerika Serikat dan kebijakannya. Minggu ini ada sederetan publikasi penting dari negeri paman Sam, termasuk pengumuman suku bunga dan pidato gubernur bank sentral Amerika, Janet Yellen.

Tidak banyak yang bisa dikatakan lagi mengenai spekulasi suku bunga The Fed. Yang perlu diperhatikan adalah jika Yellen kembali mengecilkan prospek kenaikan suku bunga di tahun 2015, maka reversal di sejumlah pair major mungkin terjadi.

5. Depresi Ekonomi China

Tak kalah kritisnya adalah indeks PMI Manufaktur China yang akan rilis hari Kamis, beberapa jam sebelum pidato Yellen di Amerika Serikat. Sejak tahun 2013, indeks PMI Manufaktur China berada diambang kontraksi pada kisaran 50 koma sekian. Kelemahan PMI yang signifikan bisa mempengaruhi pergerakan AUD dan NZD, karena ekspor Australia dan New Zealand diserap oleh industri di China.

Perlu dicatat bahwa beberapa hari yang lalu pemerintah China sudah menjanjikan untuk segera melancarkan stimulus dengan menjual obligasi untuk mendanai proyek-proyek baru. China Daily melansir ada 80 proyek baru akan diluncurkan, termasuk pembangunan jalur kereta dan pelabuhan, proyek energi terbarukan, dan modernisasi industri migas dan kimia. Peluang ikut andil akan dibuka bagi perusahaan domestik dan asing di sejumlah sektor industri yang sebelumnya didominasi perusahaan yang dikontrol pemerintah. Prospek investasi baru ini diharapkan mampu membangkitkan gairah bisnis yang melesu dan mengangkat tekanan pada perekonomian China. Jika memang demikian, tentunya ini akan berpengaruh baik pula bagi perekonomian negara partner dagang China seperti Australia dan New Zealand.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *